
"Ril tadi ada telfon di ponselmu. Tak sengaja diangkat oleh Myli. Dan saat aku ingin menyapa dan memberi tahu kalau kau sedang bicara dengan papa, malah ditutup begitu saja. Siapa itu Ika?" Alea memandang Aril dengan tatapan penuh selidik.
Aril langsung meraih ponselnya dan melihat panggilan yang masuk ternyata benar dari Ika. Aril tidak menjawab pertanyaan dari Alea, fokusnya sudah teralihkan pada ponselnya.
Aril terlihat gelisah saat panggilan telfonnya tidak dijawab. Alea yang melihatnya jadi bingung.
"Siapa Ika itu? Kenapa Aril begitu gelisah saat tahu tadi yang menelfon adalah Ika." ucap Alea dalam hati.
Aril terus mencoba menelfon Ika, namun tetap tak ada jawaban. Myli yang merasa diabaikan oleh Aril mulai merajuk.
"Ayah.." panggilan Myli tidak dihiraukan Aril.
"Ayaaah..." panggil Myli lagi yang sudah merajuk. Aril baru sadar dengan panggilan Myli.
"Iya sayang." jawab Aril kemudian meletakan ponselnya.
"Ili malah tama ayah. Ayah tuekin Ili." Myli sudah menampakan wajah cemberutnya. Aril jadi gemas melihatnya.
"Uhh, maafin ayah ya. Ayah nggak bermaksud buat cuekin Myli. Ayo kita main lagi." bujuk Aril dengan meraih tubuh gembul Myli dan sesekali menciumi pipinya. Myli kembali tersenyum kemudian mau bermain lagi.
Alea yang melihat interaksi mereka berdua hanya tersenyum saja tanpa ingin ikut masuk ke dalam keakraban keduanya.
"Sayang, ayah pergi dulu ya. Ayah masih harus bekerja." ujar Aril saat sudah hampir dua jam berada di rumah Tuan Malik.
"Iya ayah. Ayah temangat keljanya." ucap Myli yang selalu menurut perkataan Aril.
Aril menciumi wajah Myli kemudian beranjak dari tempat duduknya. Aril juga berpamitan kepada Alea juga Tuan Malik.
Setelah keluar dari halaman rumah Tuan Malik, menggunakan mobilnya Aril langsung menancapkan gasnya menuju perusahaan tempat Ika bekerja. Aril khawatir karena sedari tadi telfonnya tidak dijawabnya.
Tak sampai tiga puluh menit, Aril sudah berada di sebrang jalan di depan perusahaan tempat Ika bekerja. Aril masih terus mencoba menghubungi Ika, namun belum juga dijawab sekalipun.
"Ka, kemana sih kamu? Kenapa nggak diangkat telfon aku?" gerutu Aril yang masih mencoba terus untuk menelfon Ika.
Aril melihat jam tangannya, terlihat kalau sudah jam empat. Itu artinya sebentar lagi jam pulang kantor. Aril terus mengamati jalan keluar dari perusahaan itu, matanya jeli melihat setiap karyawan yang keluar. Mencari sosok Ika diantaranya.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya orang yang dicari terlihat juga. Baru juga Aril mau turun dari mobilnyaa tapi Ika sudah menyetop taksi untuk dinaiki.
Aril segera memutar balik arah mobil dan mengikuti taksi yang ditumpangi Ika. Jalan itu tentinya menuju tempat kos Ika. Saat sudah sampai di depan kos, Ika segera turun dari taksi setelah membayar ongkos tentunya.
__ADS_1
Aril juga segera turun dari mobilnya, diraihnya ponsel mencoba untuk menelfon Ika. Dan iya Ika berhenti untuk melihat siapa yang menelfonnya. Setelah melihat nama Aril, Ika kembai memasukan ponselnya ke dalam tas. Tanpa peduli dering ponsel yang terus berbunyi.
Aril tahu telfonnya ternyata dari tadi tidak diangkat bukan karena sibuk, melainkan memang sengaja diabaikan. Aril segera mencekal tangan Ika sebelum tubuh Ika melewati gerbang tempat kosnya.
Ika terkejut ada tangan yang menahannya untuk masuk. Ika segera berbalik, tambah terkejut karena yang memegang tangannya adalah Aril.
"Mas Aril..!" ucap Ika dengan nada kesal.
"Kenapa telfonku tidak diangkat?" tanya Aril dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Haruskah aku jawab??" tanya Ika sinis.
Aril nampak menghela nafasnya pelan.
"Harus!! Kenapa kau mengabaikan telfonku? Kau tahu betapa khawatirnya aku?" Aril mencoba berbicara dengan lembut.
"Mas Aril tidak sepatutnya mengkhawatirkan aku. Aku bukan siapa siapanya mas Aril. Yang harus mas Aril pedulikan adalah anak dan istrinya mas Aril bukan aku..!!" Ika memberikan penekanan pada ucapannya yang bukan siapa siapa.
"Anak dan istri??" Aril tak mengerti. Bukankah dia pernah bilang kalau dirinya jomblo.
"Mas Aril sudah menikah dan punya anak kan?" Ika semakin kesal.
"Aku belum menikah.!!" tegas Aril.
"Ha ha ha..jadi kamu cemburu??" Aril menanggapi Ika dengan gelak tawa.
"Siapa yang cemburu??" Ika menyangkal, tapi dia sendiri belum merasa kalau dirinya sedang cemburu.
Aril tanpa permisi langsung menarik Ika ke mobilnya. Menyuruh Ika untuk masuk ke mobil dengan sedikit pemaksaan pada awalnya. Dan Ika hanya bisa pasrah saja.
"Mas Aril mau bawa aku kemana?" tanya Ika setelah mobil melaju.
"Ayo makan, aku sudah lapar." Aril masih mencoba menahan tawanya kala mengingat tingkah Ika yang sudah cemburu padanya.
Ika tampak menghela nafasnya pelan dan mengalihkan pandangannya ke siai kiri jalan. Dalam hatinya terus saja menggerutu.
"Ayo turun, kita makan disini saja ya. Rasa pecak ikan masnya enak lo. Mas sudah peenah coba makan disini." terang Aril dengan semangat. Tempat makan itu hanya warung tenda yang berada di pinggir jalan.
Aril menggandeng Ika untuk masuk ke dalam warung tenda tersebut.
__ADS_1
"Baru buka ya pak?" tanya Aril pada sang penjual.
"Ah iya mas. Silakan duduk dulu. Mau makan apa mas?" tanya si penjual mendekat ke Aril.
"Kamu mau apa Ka?" Aril melihat ke Ika.
"Terserah!!" ucap Ika sedikit ketus.
"Pecak ikan mas saja pak dua. Sama es teh manisnya dua." ucap Aril ke penjualnya.
"Tunggu sebentar ya mas, saya siapkan dulu." Si penjual kamudian ke tempat memasaknya, mulai membuat pesanan yang diminta Aril.
"Jadi kamu beneran cemburu." Aril menatap Ika.
"Siapa yang cemburu?? Aku tidak cemburu." tukas Ika.
"Kalau tidak cemburu, kenapa kamu mengabaikan telfonku? Ayo jawab." Aril mendesak jawaban dari Ika.
"Karena...karena mas Aril bohong kan. Mas Aril bilang mas jomblo, tapi sudah punya anak. Itu artinya mas punya istrikan. Tidak mungkin kalau anak itu tidak punya Ibu."
"Iya, aku memang sudah punya anak. Tapi aku tidak beristri." jawab Aril singkat, ingin tahu reaksi Ika setelah dia jujur kalau sudah punya anak bagaimana.
Ika tampak terkejut, mendengar pengakuan Aril.
"Jadi mas Aril duda anak satu.?" tanya Ika dengan wajah terkejutnya.
"Aku bukan duda." jawab Aril singkat lagi. Dan jawabannya semakin membuat Ika bingung dan berprasangka buruk.
"Jadi mas Aril punya anak diluar nikah??" Ika berkata dengan sedikit berteriak karena terlalu terkejut mendengar pernyataan Aril.
"Ha ha ha ha.." Aril tak mampu menahan tawanya lagi.
"Mas Aril kenapa ketawa lagi. Ini bukan lelucon tahu." Ika kesal.
"Jauhkan pikiran burukmu itu. Aku belum pernah menikah, juga aku tidak punya anak diluar nikah." jelas Aril.
"Terus anak itu?"
"Itu anak mantan pacarku dulu."
__ADS_1
"Tuhkan, hamil diluar nikah kan." sela Ika.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️