Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Membuat keputusan.


__ADS_3

Alea tengah membersihkan diri di kamar mandi. Den setelah dua puluh menit dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe.


Dia meraih ponselnya, mengirim pesan pada Deni mengajaknya bertemu. Untuk membicarakan masalah kemarin.


Deni yang menerima pesan itu, langsung menyetujuinya. Dia sudah berbesar hati jika nanti Alea lebih memilih Aril dari pada dirinya.


Alea dan Deni janjian di cafe DN.


Sudah jam sebelas siang, sesuai janji mereka berdua kini telah duduk bersama di cafe DN.


"Den, kamu kemarin kenapa balik lagi ke rumahku?" tanya Alea membuka pembicaraan.


"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu." jawab Deni jujur.


"Terus kenapa kamu pulang sebelum menemuiku?"tanya Alea lagi.


Sesaat hening, kemudian Deni mulai bicara.


" Alea." panggil Deni.


"Hmm." jawab Alea.


"Kemarin aku langsung balik pulang karena aku melihat kalian berbicara. Aku sedikit banyak mendengar penjelasannya. Sebenarnya dua hari lalu dia menemuiku, dan menanyakan kamu. Tapi aku tak memberi tahu tentang apapun tentang kamu. Aku juga lihat, seharian kemarin dia mengikuti kita." jelas Deni.


"Kamu sudah tau, kenapa tidak memberi tahuku?"


"Aku tak ingin melihatmu bersedih. Kalaupun kamu harus tahu keberadaan dia disini, dia sendirilah yang harus menunjukkan dirinya padamu. Dan tak ku sangka kemarin dia benar menemuimu." ucap Deni sedikit melemah.


"Jikalau kamu ingin kembali padanya, aku akan berusaha ikhlas Al. Demi kebahagiaanmu akan ku lakukan semuanya. Apalagi Dia tidak benar benar bersalah, dia dipaksa ayahnya kan."


"Apa benar kamu ingin melihat ku bahagia? Bahkan merelakan cintamu selama ini?" tanya Alea tak percaya dengan ketulusan cinta Deni.


"Iya, aku hanya ingin melihat mu bahagia, walau bahagiamu tidak bersamaku." ucap Deni menyakinkan Alea.


Alea tersenyum lega, ternyata pilihannya memang tidak salah. Laki laki yang dipilihnya benar sangat mencintainya.


"Benar kamu ingin ku bahagia dengan meninggalkan aku?" tanya Alea. Deni mengangguk saja dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.


"Tapi kalau kamu meninggalkanku aku tak akan pernah bahagia, Den."


"Kenapa begitu?" Deni tak mengerti maksud Alea.


"Apa kamu tidak ingat alasanku menerima lamaranmu besok dan menerima menikah denganmu nantinya. Aku mencintaimu. Dan sekarang aku jatuh cinta lagi padamu karena melihat kesungguhanmu mencintaiku. Apa sekarang kau masih mau meninggalkan aku?" ungkapan Alea membuat Deni bahagia sampai tidak tau harus berkata apa. Deni langsung beranjak dari duduknya dan menarik Alea dalam pelukannya. Sungguh dia merasa sangat bahagia.


"Al, aku janji tidak akan menyia-nyiakan cinta mu. Sungguh terima kasih kamu telah membuka hatimu untuk ku." ucap Deni masih memeluk Alea.

__ADS_1


Alea juga merasa bahagia, dan membalas pelukan Deni lebih erat.


"Al, lalu bagaimana dengan dia?" tanya Deni.


"Lihatlah dirimu ini, masih bisa bisanya memikirkan perasaan orang lain. Dia sudah melihat semuanya, pasti dia akan pergi dan takkan menunjukkan wajahnya lagi di depan kita." jawab Alea enteng.


"Maksud kamu?" Deni masih tak mengerti.


"Tadi aku juga mengirim pesan padanya juga untuk datang kesini. Aku melihatnya datang tadi. Dan lihat sekarang dia tidak ada disini. Dia pasti sudah tau keputusanku saat melihat kita tadi." lanjut Alea.


"Ya sudah, ayo pergi aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." ajak Deni.


"Kemana?" tanya Alea.


"Rahasia, nanti juga kamu tahu." kata Deni penuh misteri.


Deni mengajak Alea naik mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Cukup lama hampir dua jam perjalanan, kini sedang menyusuri jalan setapak. Deni berhentikan mobilnya dan mengajak Alea turun. Terlihat dari jalan ini di kejauhan ada sebuah danau. Deni mengajak Alea ke danau itu.


"Wah indah sekali, udaranya juga sejuk. Aku suka Den." ucap Alea.


"Suka? Aku bahkan belum menunjukan apa yang aku ingin tunjukan ke kamu." kata Deni.


"Bukannya danau ini?" tanya Alea.


Deni menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Deni meraih tubuh Alea dan memeluknya dari belakang. Tangan Deni di angkat satu menunjuk ke sesuatu.


"Rumah?" tanya Alea.


"Iya, itu rumah masa depan kita. Sebenarnya aku ingin mengajakmu kesini setelah menikah. Tapi melihat kamu sudah benar yakin menikah denganku jadi apa salahnya menunjukannya sekarang." jelas Deni.


"Rumah itu tampak indah dari sini. Apa kita bisa kesana, untuk melihatnya?" tanya Alea.


"Nanti saja setelah kita lamaran, tempatnya masih kotor. Karena lama tak ditempati. Aku nanti akan menyuruh seorang untuk membersihkannya."


"Baiklah, memang dulu siapa yang nempati rumah itu?"


"Dulu saat aku masih kecil sering dibawa papa dan mama menginap dirumah itu. Sengaja rumah itu dibangun karena aku suka lingkungan yang tenang. Jadi saat libur sekolah kami sekeluarga menginap disana. Rumah itu tak terjamah lagi sejak aku kelas tiga SMA."jelas Deni.


"Ya sudah, ayo kita pulang. Nanti keburu malam sampai rumahnya." lanjut Deni.


Alea mengangguk saja dan mengikuti Deni.


Dan benar saja, hampir jam tujuh mereka baru sampai di rumah Alea.


Mama Alea menyambut di pintu.

__ADS_1


"Kalian darimana saja sampai malam begini. Ayo masuk dulu Den."


"Iya tante."


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah Alea.


"Langsung ke meja makan saja yuk, kalian belum makan kan."


"Iya nih ma, aku lapar banget. Keterlaluan emang nih anak ngajak jalan tapi nggak dikasih makan." jawab Alea.


"Mana ada, jangan percaya tante. Tadi aku udah ngajak makan tapi dia nolak." kata Deni gugup dan memelototi Alea yang cengengesan.


"Sudah sudah. Kalian ini sebentar lagi tunangan dan menikah masih saja suka berdebat dan usil." mama Alea mencoba menengahi.


"Nggak pa pa tante, kalau nggak begitu malah aneh." jawab Deni.


Alea nyelonong duluan ke meja makan. Mamanya geleng geleng melihat tingkah putri tunggalnya itu.


"Malam pa." Alea menyapa papanya yang sudah duduk duluan diruang makan.


"Malam sayang, dari mana saja kalian sampai malam begini baru pulang." kata papa Alea.


"Sekali kali jalan jalan pa, pusing mikir kuliah terus." jawab Alea ikut duduk disamping papanya.


Mama Alea dan Deni juga ikut duduk. Deni duduk di sebelah Alea sedang mama Alea di sebelah papa Alea.


"Malam om." sapa Deni.


"Malem Deni. Mari kita makan."


Mereka memulai acara makannya. Tak ada percakapan, mereka makan dengan tenang.


Setelah acara makan, Deni pamit untuk pulang.


"Om tante, saya pamit pulang dulu."


"Iya, hati hati kamu dijalan." jawab papa Alea.


"Al, aku pulang ya." pamit Deni pada Alea. Alea mencebikkan bibirnya.


"Ya iya lah pulang. Udah kenyang tuh perut." ucap Alea. Deni heran pada Alea, dari tadi ingin membuat dia kesal terus. Deni meraih tangan Alea, dia tarik Alea sampai keluar rumah. Deni mendorong Alea hingga menyandar di mobil Deni. Deni mengunci pergerakan Alea dengan meletakkan tangannya di kanan dan kiri badan Alea.


"Dari tadi kenapa sih?" tanya Deni.


"Kenapa apanya?" Alea balik tanya.

__ADS_1


"Kamu gak jelas banget sih." Deni mulai kesal. Sedangkan Alea sedang berusaha menahan tawanya. Tapi melihat wajah masam Deni, Alea tak tahan lagi. Dia tertawa di depan Deni. Deni sadar kalau memang Alea sejak tadi hanya usil padanya.


Deni punya ide untuk membalas ulah Alea itu. Agar dia juga langsung berhenti tertawa.


__ADS_2