Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Bimo


__ADS_3

"Dua tahun yang lalu...


Flashback Ika


"Dek, kakak mau jalan jalan nih pakai si joker mau ikut nggak?" tawar Bimo pada Ika yang hanya melongokan sedikit badannya di pintu kamar Ika. Joker adalah motor vespa kesayangan Bimo.


"Nggak, malas ah. Hari ini mumpung aku libur kuliah juga gak kerja di cafe jadi aku mau tiduran saja di rumah." tolak Ika.


Bimo menghampiri adiknya yang sedang santai duduk di sofa yang berada di dekat ranjang. Dan ikut duduk di samping adiknya.


"Dek, kamu tuh kurang apa sih? Papa itu pengusaha, kakak juga kerja mengurus perusahaan papa. Uang papa dan kakak juga sudah banyak. Buat apa lagi kamu kerja dek. Kerjanya jadi pelayan cafe lagi, itukan pekerjaan kasar." oceh Bimo.


"Kak, aku tuh kerja cuma buat cari pengalaman juga. Cari teman yang bisa terima aku apa adanya diriku bukan karena ada apanya aku yang terahir dari keluarga yang kaya seperti ini. Aku lelah kak, selalu mempunyai teman yang manis di depan nyatanya selalu pahit di belakang." jelas Ika.


"Ok ok, terserah kamu. Yang penting kamu bahagia kakak juga akan bahagia. Kakak selalu sayang kamu." Bimo mengecup kening Ika.


"Kakak pergi dulu ya. Yakin nih nggak mau ikut??" tawar Bimo untuk kedua kalinya.


"Iya yakin. Sudah sana pergi." usir Ika pada kakaknya.


"Hah, ya sudah. Bye.." Bimo melenggang keluar dari kamar Ika.


Ika termenung sendirian di kamar. Memikirkan memang benar apa kata kakaknya. Dirinya seharusnya tak perlu bekerja, tapi dia ingin sekali merasakan hidup sebagai orang biasa.


Dua jam berlalu, tak ada kabar dari Bimo yang belum juga pulang membuat Ika khawatir. Ika kemudian menelfon kakaknya itu.


Tuut...tuut...suara telfonnya yang masih brlum tersambung. Hingga terdengar suara bip bip. Telfonnya tak diangkat oleh kakaknya. Ika mengulangi lagi.


Tuut..


"Halo dek.."


"Kakak dimana kenapa belum juga pulang?" tanya Ika khawatir.

__ADS_1


"Kakak masih di jalan dek. Ini juga mau pulang. Harus berhenti dulu karena kamu telfon."


"Ya sudah, kak aku titip belikan es buah yang ada di depan komplek ya."


"...."


"Kak??!! Kok diam.." Masih belum ada jawaban dari kakaknya.


"Kak Bimo!!!" Ika sampai berteriak.


"Dek, kuping kakak sampai sakit dengar suara kamu." keluh Bimo.


"Kakak tai dengar tidak kalau aku minta beliin es buah depan komplek."


"Iya dengar, sebentar dek. Kakak mau ngecek itu ada mobil kayaknya baru saja kecelakaan. Ini sepi banget nggak ada orang lewat takutnya di dalamnya masih ada orang. Kakak mau tolongin dulu."


"Hati hati kak." Belum selesai kalimat itu diucapkan, panggilan telfon itu sudah terputus.


"Itulah percakapan terakhir aku dengan kakakku. Aku juga tidak tahu siapa itu yang kecelakaan. Yang aku tahu hanya tempat terakhir yang kakakku singgahi sebelum hilang yaitu cafe Glory di jalan Bb."


Alea berinisiatif mencari di maps menggunakan ponselnya. Posisi cafe yang di maksud Ika memang tidak jauh dari jalan tempat kecelakaannya dulu. Alea jadi teringat. Kejadian itu singkat sekali, jalanan tempatnya kecelakaan saat itu juga sepi hingga dia meninggalkan Deni sendirian. Kemungkinan Bimo lewat jalan itu, dan kecelakaan yang dilihatnya juga adalah mobilnya. Karena waktu itu jalan besar sedang ada kemacetan parah kan karena ada kecelakaan.


"Lalu apa yang terjadi?" Alea masih penasaran.


"Kakak menghilang, kami hampir putus asa untuk mencarinya. Bahkan jejaknya saja tidak ada. Motor yang dipakai terakhir jugatidak ada bak hilang di telan bumi. Aku selalu meyakinkan papa untuk tetap mencari kakak. Entah dalam keadaan apapun kakakku haruslah ditemukan. Kami sangat menyayanginya."


"Hingga hampir enam bulan sejak kakakku menghilang, aku tetap mencarinya di setiap jalan. Dan aku melihat seseorang yang berjalan tertatih di pinggir jalan. Pakaiannya lusuh tampak seperti gelandangan. Aku kasihan melihatnya, lalu aku turun dari mobil dan menghampirinya."


"Orang itu seorang lelaki, dia meminta tolong padaku dan memohon untuk menyelamatkannya. Ku lihat tubuhnya yang tidak tertutup pakaian terlihat jelas sekali penuh luka. Ada luka yang sudah kering atau pun luka baru. Aku iba, dengan segera aku membawa orang itu ke salah satu rumah sakit. Aku yakin jika orang itu adalah korban kekerasan jadi aku memberikan penjagaan padanya selama dirumah sakit."


"Mbak Al, aku mohon rahasiakan ini dari kak Bimo. Karena kak Bimo yang sekarang ini adalah orang yang ku selamatkan waktu itu. Dia sangat berbeda dengan kakakku, namun wajahnya saja yang mirip. Pertama kali aku melihatnya setelah beberapa hari di rawat dirumah sakit, aku kira memang itu kak Bimo. Tetapi mamaku yang melahirkan tentu sangat tahu anaknya sendiri. Mama melihat tidak ada tanda lahir yang dimiliki kak Bimoku pada kak Bimo yang sekarang ada disisi kami. Kulit kakakku sedikit gelap, sedang kak Bimo yang sekarang memiliki kulit yang putih bersih." jelas Ika dengan panjang lebar.


Alea mengingat dengan postur tubuh Bimo dan Deni sangatlah mirip. Hanya wajahnya yang berbeda.

__ADS_1


"Ya Allah, mungkinkah Bimo itu Deni suamiku. Sejak melihatnya, aku merasa ada yang lain. Jantungku selalu berdegub kencang bila didekatnya bahkan hanya mengingat wajahnya saja. Bahkan waktu itu aku sempat berfikir kalau dia adalah Deni, karena kehangatan yang ku rasakan sama saat bersama Deni dulu. Ya Allah, jika memang dia adalah suamiku, aku mohon mudahkanlah jalanku menuju kebenaran." doa Alea dalam hati.


"Terima kasih Ika, kamu mau menceritakan ini semua padaku. Lalu kenapa harus dirahasiakan dari Bimo? Apa masalahnya?" Alea ingin tahu penyebabnya.


"Kata dokter, kesehatan otak kak Bimo masihlah belum stabil. Yang membuat keadaannya membaik adalah adanya keluarga disisinya. Jika dia tahu yang sebenarnya kalau dia bukanlah keluarga kami, kami takut dia kembali terpuruk. Dokter menduga kak Bimo adalah korban penculikan dan kekerasan. Dan di masa penculikan itu, kak Bimo diberikan obat berbahaya hingga membuatnya kehilangan ingatannya. Bahkan dokter tak mampu membantu kak Bimo agar bisa mengingat kehidupannya dahulu. Dan hanya keajaibanlah yang bisa menyembuhkannya." terang Ika.


"Lalu pencarian kakakmu yang asli bagaimana?"


"Entahlah mbak Al, sampai sekarang belum ada kemajuan sama sekali. Aku sudah mulai putus asa, ini sudah dua tahun lebih." Ika berubah jasi sedih.


Alea merengkuh Ika dalam pelukannya. Alea mengambil langkah yang mungkin bisa disebut nekat. Alea hanya mengikuti nalurinya saja. Dia mengambil sehelai rambut Ika yang jatuh di punggung Ika kemudian menyimpannya.


"Yang sabar ya." Alea mengusap punggung Ika, mencoba memberi kekuatan agar Ika selalu tabah menghadapi cobaan hidupnya.


"Oh iya, Myli cerita dia kangen sama kamu. Jika kamu sempat mainlah ke rumahku. Ini alamat rumahku." Alea melepas pelukannya kemudian mengambil kartu namanya di dompet, seraya menyimpan rambut Ika yang diambilnya tadi.


"Iya mbak,aku juga kangen dengan Myli. Kapan kapan aku mampir ya."


"Ajaklah Bimo juga." pinta Alea. Hanya alasan Myli lah yang bisa membuat Ika dan Bimo bisa datang ke rumahnya. Karena tak dapat dipungkiri kalau Alea merindukan Bimo. Entahlah Alea pun bingung dengan perasaannya sendiri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Apa iniii,, aku juga ikut bingung😂😂😂😂


Jangan bosan bosan ya, baca cerita aku dan selalu tunggu up aku.


jangan lupa like komen atau suka suka kalian ajalah, aku nggak mau ngatur👍👍👍👍


😍😍😍😍buat yang sudah like aku sangat berterima kasih sama kalian. Aku selalu senang kalau ada yang baca ceritaku setiap hari. Walau masih minim nggak sampai ribuan ataupun ratusan tapi aku bangga ada yang mau baca cerita yang ditulis oleh seorang pemula ini..


Oke guys...lanjuut besok ya.. Sabar sebentar lagi akan terungkap.


love you readers setiaku 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2