
"Oh iya pa, bagaimana keadaan Aril dan Keyla temanku?"
Tuan Malik bingung harus berkata jujur atau tidak, dia tak ingin menantunya itu syok jika mendapat berita buruk.
"Mereka masih dalam penanganan, jangan khawatir ya." tuan Malik memilih untuk menyembunyikannya dulu. Alea hanya mengangguk saja.
"Sayang, kamu makan ya. Mama suapin." ucap mama Deni karena melihat makanan yang diberikan dari pihak rumah sakit belum disentuh oleh Alea sedikit pun.
"Nanti saja ya ma, Alea nggak selera." Alea menolak dengan halus.
"Ayo dong sayang, untuk anak kamu. Lagi pula kalau kamu cepat sehat, kamu jadi bisa nungguin Deni."
Alea akhirnya menyetujui permintaan mertuanya. Alea menerima suapan dari mamanya Deni. Walau terlihat tenang, hati Alea tak berhenti memikirkan kondisi suaminya, dan juga teman temannya.
Mereka terluka karena berusaha menyelamatkan dirinya. Alea merasa sangat bodoh, bisa bisanya dia tertipu hanya dengan telfon tidak jelas. Jika saja Alea lebih tenang dan memastikan kondisi suaminya pasti kejadian ini tidak akan terjadi.
Ya Alea menyesal, sangat menyesal. Merutuki kebodohannya yang mudah tertipu.
"Bee, aku harap kamu baik baik saja. Aku mohon jangan pergi ninggalin aku." ucap Alea dalam hati, tak terasa lelehan air mata mengalir dari sudut matanya.
"Sayang, kenapa nangis lagi?" tanya mama Deni.
"Aku ingin menemani suamiku ma. Antar aku kesana ya ma. Aku mohon." Alea meminta pada mama mertuanya dengan tatapan memohon.
"Tapi Al, kondisi kamu masih lemah." tolak mertuanya.
"Please ma." pinta Alea dengan sangat memohon.
Mertuanya menghela nafas pelan.
"Baiklah, mama bilang ke suster dulu ya."
"Iya ma." jawab Alea senang bisa segera melihat kondisi suaminya.
Mertua Alea mencari suster untuk membawakan kursi roda. Agar Alea tak perlu berjalan.
Tak lama seorang suster datang membawa kursi roda. Alea segera dibantu untuk duduk di kursi roda.
"Sudah suster biar saya saja yang dorong." ucap mama Deni ingin mendorong kursi roda Alea sendiri.
"Baik nyonya." jawab susternya kemudian pergi.
Mama Deni mendorong kursi roda Alea perlahan menuju ruang operasi. Sampai di depan ruang operasi, terlihat papa Deni yang terlihat sangat cemas.
__ADS_1
"Pa, bagaimana keadaan Deni?" tanya Alea lemah.
"Masih belum ada kabar dari dokter, kamu kenapa kesini nak?" tuan Malik juga khawatir dengan menantunya.
"Tidak apa apa pa, aku bisa lebih tenang kalau ada disini."
"Bee, kamu harus berjuang, demi anak kita." ucap Alea dalam hati.
"Alea sayang, putriku." teriak mama Alea yang baru datang dari luar kota.
Ingatan masa lalu tentang kejadian buruk yang selalu menimpa putri tercinta kembali terbayang dalam pikiran mama Alea.
"Mama." Alea juga menyambut kedatangan orang tuanya.
"Sayang. Kamu baik baik saja?" tanya papa Alea.
"Aku baik pa, ma. Jangan khawatir, suamiku selalu bisa menjagaku dengan baik." tangis Alea kembali pecah mengingat pengorbanan yang dilakukan suaminya untuk menyelamatkan dirinya.
"Ssstt sudah jangan menangis lagi, kasihan cucu papa dengar mommynya nangis." tuan Aran mencoba menenangkan putrinya.
Alea menghela nafas pelan, mencoba untuk kembali menenangkan hatinya. Lantunan doa tak henti dia panjatkan dalam hati untuk keselamatan sang suami.
Terlihat lampu ruang operasi mati, tandanya proses operasi sudah selesai. Salah seorang dokter keluar.
"Operasi mengeluarkan peluru dari tubuh tuan Deni berjalan lancar. Namun kondisinya masih kritis, dan membutuhkan perawatan intensif. Kami akan pindahkan tuan Deni ke ruang ICU." jawab dokter itu.
"Pa, anak kita pa." isak mama Deni.
"Sudah tenanglah anak kita kuat, dia akan berjuang demi anaknya." jawab papa Deni.
Deni segera dipindahkan ke ruang ICU. Sudah diperbolehkan untuk dijenguk walau hanya boleh satu orang saja.
Seluruh keluarga meminta Alea yang masuk pertama, karena semua tahu Alea yang lebih berhak.
"Bee, kamu harus cepat sembuh. Kamu harus berjuang demi anak kita. Aku sayang kamu bee, aku nggak mau kehilangan kamu." ucap Alea dengan terus mencium punggung tangan Deni.
"Masih banyak yang harus kita lakukan bersama, kamu bilang kamu ingin membuat rumah untuk keluarga kecil kita. Dan juga kamu yang ingin memberi nama untuk anak kita kan." Alea menahan tangisannya.
"Bee, aku keluar dulu ya, mama pasti juga ingin melihatmu. Nanti aku akan kembali kesini." ucap Alea kemudian pergi keluar dari ruang ICU.
Alea berhenti di pintu saat mendengar kabar yang sangat mengejutkan baginya.
"Pa, apa yang papa katakan benar? Apa yang aku dengar barusan berita tentang Keyla itu benar?" ucap Alea tak percaya.
__ADS_1
Semua hanya diam, karena tahu Keyla adalah sahabat Alea dari cerita mama Alea tadi.
"Maafkan papa sayang, kalau papa datang lebih cepat pasti nyawa sahabatmu bisa tertolong."
"Tidak, ini tidak boleh.Hiks hiks Apa yang harus aku katakan pada Aril, karena menyelamatkan aku dia harus kehilangan kekasihnya untuk selamanya. Pa, aku harus apa? Semua ini salahku. Karena aku, banyak orang terluka. Bahkan suamiku ikut menjadi korbannya..hiks hiks, semuanya salahku, semua karena diriku..hiks hiks." Alea menangis menyalahkan dirinya sendiri.
"Sayang, semua bukan salahmu. Ini semua bukan salah kamu. Dengar papa, tidak ada yang menginginkan semua ini terjadi kan. Ini semua sudah kehendak Allah. Ini cobaan untuk kita. Kamu harus kuat demi anak yang ada di kandunganmu." ucap tuan Aran mencoba untuk menenangkan putrinya. Apalagi setelah mengingatkan Alea dengan bayinya, Alea jadi sedikit lebih tenang.
Keluarga Subroto sudah sampai di rumah sakit. Mendapat kabar buruk tentang putrinya satu satunya pasti lah membuat mereka syok. Namun mereka mencoba untuk ikhlas menerimanya.
"Tuan Rezwan, maafkan aku tak bisa menyelamatkan putrimu. Aku sungguh menyesal." ucap papa Deni, ternyata papanya Keyla adalah salah satu teman bisnisnya.
"Ini sudah takdirnya tuan. Jangan menyalahkan dirimu. Aku ingin melihat putriku." ucap papa Keyla mencoba tegar, kemudian menuju ke ruang jenazah.
Setelah melihat putrinya yang sudah terbujur kaku, tuan Rezwan bersama istrinya kembali menemui Keluarga Alea dan Deni.
"Tuan Malik, kami permisi. Kami akan segera mempersiapkan pemakamannya."
"Terima kasih tuan, kami tak tahu harus bagaimana membalas jasa Keyla." ucap tuan Aran.
"Sama sama tuan, kami pergi dulu." jawab tuan Rezwan.
"Om tante, maafkan aku. Semua terjadi karena diriku. Maaf..maaf..hiks hiks." Alea tak mampu menunjukan wajahnya, meras bersalah.
"Nak, kamu yang bernama Alea?" tanya mamanya Keyla.
"Iya tante." jawab Alea dengan masih menunduk.
Mama Keyla memegang kedua pipi Alea, menuntun Alea untuk menunjukan wajahnya.
"Sebelum Keyla mengenal kamu, om dan tante hanya tahu kalau kamu menantu dari keluarga Sanjaya. Namun setelah om dan tante mengenalmu dari cerita Keyla yang sudah menganggapmu sahabat bahkan saudara. Jadi sudah wajar jika dirinya juga ingin menyelamatkan kamu. Kamu jangan pernah merasa bersalah." ucap mama Keyla berbesar hati. Mama Keyla memeluk erat Alea.
"Pa, sebaiknya kita beri tahu Aril." kata mama Keyla setelah melepas pelukannya pada Alea.
Tuan Rezwan kemudian menuju ruang rawat Aril.
☘️☘️☘️☘️
Lanjutt yuk ke episode selanjutnya.
like komen di tunggu.. vote bleh juga
love you readers setiaku..😊😊😊😘😘😘
__ADS_1