
"Tapi Ka, kamu masih butuh waktu buat pemulihan. Luka kamu masih belum kering betul sayang." Aril mencoba untuk menasihati.
"Mas, aku bosan disini."Ika memberi tatapan memohon.
Akhirnya Aril mengalah,
"Iya sudah, tapi di rumah pun harus tetap di rawat dokter. Karena kesehatanmu belum pulih benar."
Ika mengangguk senang. Setidaknya sudah tidak akan mencium bau rumah sakit lagi. Ika benar benar bosan terus berbaring di ranjang rumah sakit. Kalau dirumah nanti pasti akan banyak bertemu orang, tidak ada aturan jam besuk. Dia tak akan merasa kesepian lagi nanti pikirnya.
"Aku bicara dengan dokter kamu ya. Tapi jika nanti bisa membahayakan kesehatan kamu jika pulang sekarang, kamu harus mau untuk menunda kepulanganmu."
"Iya mas. Terima kasih ya."
"Sama sama. Aku pergi dulu."
Aril meninggalkan kamar rawat Ika. Baru beberapa langkah dari pintu, Aril melihat Alea datang.
"Ril, mau kemana?"
"Mau ke ruang dokter. Ika merengek meminta pulang. Bosan katanya."
"Ya kamu turuti saja. Mungkin itu bisa membantunya untuk melupakan kesedihannya. Kan bagus juga buat kesehatannya."
"Kamu benar, masuklah. Aku titip Ika sebentar."
"Siipp." Alea mengacungkan jempolnya lalu melangkah masuk ke ruang rawat Ika.
Aril bergegas ke ruangan dokter.
__ADS_1
"Siang Ka.." sapa Alea.
"Eh mbak Al datang lagi. Sendirian?" Ika melihat tak ada yang ikut masuk di belakang Alea.
"Iya, kakakmu sibuk di kantor."
"Terus Myli sama Bima mana?"
"Anak anak lagi di rumah opa omanya. Tadi pagi di jemput, paling nanti malam aku jemput pulang."
"Ka..." panggil Alea ragu ragu.
"Iya mbak."
"Kamu jangan pernah merasa kalau kamu sendiri ya. Aku tahu gimana rasanya kehilangan. Suatu hari nanti di dalam sini akan tumbuh lagi bayi mungil yang lucu." Alea mengusap perut Ika.
"Terima kasih mbak. Aku sudah berusaha buat ikhlasin semuanya. Mungkin karena memang dari awal aku yang belum siap menjadi orang tua. Namun aku memaksakan diri untuk siap karena melihat mas Aril yang sudah berharap sekali mempunyai anak." Sesal Ika.
"Iya mbak. Amin. Semoga bisa cepat bisa hamil lagi." Jawab Ika sambil tersenyum.
"Oh iya mbak. Kalau aku sudah diperbolehkan pulang, boleh ya Myli menginap di rumah beberapa hari?" Pinta Ika.
"Eh, nanti ngrepotin kalian malah. Myli ini lagi aktif aktifnya, dia juga lagi seneng banget ngejar adiknya yang lagi merangkak."
"Ya mbak Al sama kak Bimo nginep aja di rumah papa. Papa sama mama pasti seneng banget kalau kalian menginap. Sudah lama kan kalian tak menginap."
"Iya sih. Aku bicarakan dulu ya sama kakakmu."
"Yes, kan rame kalau begitu nanti di rumah." Ika kembali tersenyum.
__ADS_1
Alea senang melihat Ika yang sudah tak memikirkan kesedihannya tentang bayinya. Apapun akan coba Alea lakukan demi kesembuhan mental juga fisik Ika. Alea sudah menganggapnya seperti adik kandungnya. Alea sangat menyayangi Ika.
"Tapi benar juga, Myli pasti seneng banget bisa main terus sama bundanya." ujar Alea.
Keduanya masih terus mengobrol sampai Aril datang.
"Gimana mas?" tanya Ika saat melihat suaminya datang.
"Iya kamu boleh pulang. Saran dokter, kamu masih harus bed rest di rumah. Tadi aku udah urus administrasinya. Tinggal tunggu dokter datang kesini untuk memastikan kondisi kamu. Baru setelah itu kita pulang ya." jelas Aril.
"Al, terima kasih ya udah di temenin Ikanya. kalau kamu mau pulang nggak pa pa." ucap Aril pada Alea.
Alea melotot langsung menepuk keras lengan Aril.
"Kurang ajar...aku malah diusir. Aku masih mau disini. Nungguin sampai Ika pulang. Dirumah nggak ada siapa siapa juga."
"Nyusul aja ke kantor Deni."
"Ngotot banget sih ngusir aku." Alea cemberut.
"mas, apaan sih." tegur Ika yang tak enak pada Alea.
Aril terkekeh.
"Elah, cuma bercanda. Lucu tau mukanya kalau cemberut gitu. Pengen aku ikat pakai karet mulutmu itu biar kayak badut ancol..ha ha..ha"
"Ihh, nggak ada persamaan lain apa. Dari dulu kalau aku cemberut di katainnya kayak badut ancol mulu. Emang gimana sih badut ancol. Pasti masih cantikan aku lah." narsis Alea sambil mengibaskan sebagian rambutnya ke belakang.
Ika tak bisa menahan senyumnya. Melihat obrolan yang sebetulnya tak berfaedah ini, tapi menghibur hatinya. Selalu begitu kalau mereka berdua ketemu, kadang saling cela, saling goda, kadang bertengkar juga.
__ADS_1
Ika yang sudah tahu masa lalu Alea dan Aril yang pernah pacaran, tak membuatnya cemburu ketika melihat kedekatan keduanya saat ini. Karena ia tahu di hati Aril hanya ada dirinya.