Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
extra 4


__ADS_3

Alea telah dipindahkan ke ruang perawatan. Deni meletakkan putranya di tempat tidur yang sudah disediakan khusus untuk bayi. Deni mengamati wajah Alea yang begitu tenang saat tertidur. Tentu saja Alea sangat lelah setelah berjuang untuk melahirkan buah hatinya yang sangat tampan itu. Tadi bahkan saat mama dari Deni melihat cucunya, teringat dengan wajah Deni ketika masih bayi dulu. Terkihat sangat mirip katanya.


Karena waktu sudah sore menjelang malam, maka Alea diminta untuk menginap saja di rumah sakit walaupun sebenarnya tidak ada masalah apapun jika pulabg. Kondisi kesehatan Alea dan bayinya sangatlah baik dan sehat. Suasana sungguh tenang, karena seluruh anggota keluarga yang tadinya datang saat mendengar kabar kalau Alea telah melahirkan, diminta pulangseluruhnya oleh Deni. Tadi bahkan Myli smpat merengek karena ingin menemani mommynya. Namun setelah dijelaskan, Myli akhirnya mengerti. Toh hanya semalam saja Alea di rumah sakit. Besok pagi pagi rencananya Akea dan bayinya akan diijinkan pulang.


Deni memberikan ide pada Myli untuk menyiapkan penyambutan adik kecilnya besok saat sampai rumah. Tentu saja Myli sangat senang, dan antusias sekali. Myli langsung mengajak nenek dan kakeknya pulang.


Tak henti hentinya Deni mengucap syukur kepada Tuhan. Karena telah mempermudah persalinan istrinya. Deni sesekali mengalihkan pandangannya ke box bayi, takut kalau kalau putranya itu bangun.


"Bee.." panggil Alea.


"Iya sayang.. butuh sesuatu? Atau kamu lapar?" tanya Deni sigap.


"Iya bee, aku lapar."


Deni beranjak dari duduknya, dia mengambil kotak makanan yang dibawakan oleh mamanya tadi.


"Mas, semuanya pada kemana? Kok sepi sih?" tanya Alea saat melihat keadaan kamarnya yang sepi. Padahal tadi sewaktu dia akan tidur masih ramai.


"Aku minta pulang. Kasihan Myli kalau terlalu lama disini. Disini kan banyak orang sakit. Lagi pula kita sudah pulang besok." jawab Deni sambil menyiapkan makanan.


Deni mulai menyuapi Alea, Alea menerimanya dengan senang hati.


"Kamu sudah makan?" Alea khawatir suaminya itu kelaparan karena terus mengurusnya.


"Sudah, tadi saat kamu tidur aku sudah makan lebih dulu."jawab Deni kemudian membereskan bekas makan Alea.


"Selamat malam.." sapa seorang yang menyembulkan kepalanya di pintu.


"Malam. Masuk saja." jawab Alea. Ternyata itu adalah Ika dan Aril.


"Mbak Al, selamat ya." Ika langsung memeluk Alea.


"Terima kasih."


"Selamat buat kalian." ucap Aril tulus, yang sebenarnya juga menginginkan kebahagiaan yang sama akan segera datang padanya.


"Iya terima kasih." jawab Alea.


Ika langsung menghampiri bayi Alea yang masih tertidur lelap di box bayi. Karena gemas dengan pipi bayi Alea yang gembul Ika jadi tak sadar telah menguyel pipi bayi itu dengan jemarinya.

__ADS_1


"Ooeeek..oooekk.."


Terdengar langsung tangisan bayi yang cempreng, langsung menggemparkan seisi kamar.


"Dek, kamu apain debaynya. Langsung nangis kencang gitu sih." cerca Deni segera menghampiri putranya dan segera mengangkatnya.


"Hehe, pis kak. Abis gemes sih. Nggak sadar nih tangan nyvbit pipinya yang gembul." Ika tertawa tanpa dosa.


"Bee, sudah bawa sini." Alea mengulurkan kedua tangannya. Baru tangannya akan membuka kancing bajunya setelah menempatkan bayinya di pangkuannya. Namun terhenti.


"Ril!!" Alea menatap tajam Aril.


"Apa?" Aril seolah tak mengerti maksud tatapan Alea. Alea memutar bola matanya malas mendengarnya.


"Sayang, kamu keluar dulu. Mbak Al mau ngasih asi ke bayinya. Kamu mau lihat??" bisik Ika setelahnya memberi tatapan yang tajam juga.


"Ah iya, sorry. Aku keluar." Aril segera keluar dari ruangan itu.


"Al, aku keluar juga ya," ucap Deni yang tak ingin melihat benda yang membuatnya panas dingin tengah dinikmati putra kecilnya.


Di luar ruang rawat Alea.


"Bagaimana kabar papa sama mama?" tanya Deni yang dimaksudkan adalah tuan Zian juga istrinya.


"Syukurlah. Aku sedikit tenang sekarang."


"Kapan kalian akan menyusul untuk memberi mama dan papa cucu?" lanjut Deni.


"Doakan saja secepatnya. Kami tak menunda kehamilan. Mungkin memang belum waktunya. Lagi pula pernikahan kami juga belum lama kan." jawab Aril.


...


Keesokan harinya, Alea sedang dibantu oleh Deni bersiap untuk pulang. Awalnya Deni meminta untuk dibawakan kursi roda agar istrinya tak terlalu lelah berjalan. Takut Alea masih lemah. Namun Alea menolaknya. Dia mengatakan pada suaminya yang tercinta itu bahwa kondisinya sudah sangat sehat.


Apalagi kemarin dokter mengatakan kalau tak ada jahitan ketika pasca melahirkan. Jadi tak ada lagi yang terasa menyakitkan. Deni menyerah, dia membiarkan Alea berjalan sendiri, namun tak membiarkan bayinya juga digendong olwh Alea. Baru setelah masuk ke mobil, Deni menyerahkan bayinya ke pangkuan Alea.


Sesampainya di rumah..


"Selamat datang adik kecilku.." teriak Myli yang begitu bersemangat melihat kedatangan daddy mommy juga adiknya.

__ADS_1


"Myli, jangan teriak sayang. Kasihan adiknya kalau nanti kaget terus nangis gimana?" nasihat omanya.


"Maaf oma, Myli terlalu senang."


Deni dan Alea tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah putrinya itu.


Sebentar sebentar bayi kecil itu berpindah dari tangan kakek nenek juga opa omanya.


"Andai kakek masih hidup, dia pasti juga akan tertawa senang melihat anak kita lahir." gumam Alea yang teringat dengan kakek Sanjaya.


"Kakek pasti juga bahagia disana. Walau tak bisa berkumpul bersama kita disini." Deni menenangkan Alea dengan mengecup puncak kepalanya.


Tak lama kemudian, bayi Alea menangis. Sepertinya lapar. Alea beranjak, mengajak putranya ke kamar untuk disusui.


Sedang yang lain terus berbincang dan bercanda dengan Myli di ruang keluarga.


...


Beberapa hari kemudian, di kediaman Wijaya dilangsungkan acara tasyakuran kelahiran anak kedua Deni dan Alea. Semua anggota keluarga Wijaya, Sanjaya juga Prayoga berkumpul. Termasuk juga dengan orang tua Aril.


Beberapa rekan bisnis juga datang memenuhi undangan keluarga Wijaya dan Sanjaya. Anak kedua Deni dan Alea diberikan nama Satria Bima Sanjaya.


Saat mendengar nama itu, Tuan Zian dan istrinya merasa ingin menangis. Teringat akan nama putra mereka, Bimo Satria Prayoga.


Alea mendekati tuan Zian juga istrinya.


"Papa Zian, mama Salsa. Aku dan mas Deni sepakat memberi nama anak kami Satria Bima, untuk mengenang putra papa dan mama. Kami berharap, kalian juga akan menyayangi anak kami seperti cucu kandung kalian." ucap Alea.


"Terima kasih sayang..mama akan sangat menyayanginya." jawab mama Salsa sembari mengecup kening bayi Alea yang berada dalam gendongan Alea.


Semua orang menikmati makanan yang tersaji. Ika dengan semangat ingin mengambil makanan yang sejak tadi terlihat menggiurkan dimatanya. Setelah mengambil makanan itu, Ika kembali duduk bersama Aril. Namun saat akan memakannya, Ika mwncium bau tak sedap yang membuatnya sangat ingin muntah.


Ika berlari ke toilet, sambil menutupi mulutnya agar tak muntah di hadapan para tamu. Pasti akan sangat memalukan. Aril yang melihatnya juga dengan sigap mengikuti langkah Ika. Takut terjadi sesuatu.


Sesampainya di toilet, Ika langsung muntah di closet. Aril langsung memijat perlahan tengkuk istrinya itu.


"Sayang, kau baik baik saja?"


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


terima kasih buat yang selalu mendukungku...


love you readers setiaku..🤗🤗😍😍😍😘😘😘😘


__ADS_2