
Alea memandang lekat lelaki yang kelak akan jadi suaminya itu. Hingga suara Deni menyadarkan dia dari lamunannya.
"Alea sayang, aku tahu aku tampan tidak usah sampai segitunya nglihatin akunya. Bagaimana penampilanku ini sudah cocok dengan gaun yang kamu pakai nanti?" Alea yang mendengar kata sayang jadi merona malu.
"Iya cocok banget. Pilihan tepat." jawab Alea cepat kemudian memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan malu malunya.
"Ya sudah, aku bayar ini dulu." ucap Deni melangkah ke kasir.
Setelah membayar, Deni mengajak Alea ke toko perhiasan.
Deni menyuruh Alea memilih sesuai seleranya saja. Deni memang tak pandai urusan memilih perhiasan.
"Mbak tolong tunjukkan cincin yang bisa digunakan untuk bertunangan." ucap Deni pada salah satu pegawai toko itu.
"Ini tuan, silahkan dipilih." ucap pegawai itu sambil menyodorkan beberapa kotak perhiasan.
"Sayang, pilihlah yang kamu suka." ucap Deni yang membuat pipi Alea kembali bersemu merah karena malu di panggil sayang.
Alea melihat sebuah cincin putih sederhana dengan satu permata bertengger di atasnya. Dia memilih itu, dan untuk pasangan cincin itu juga tak kalah cantik walau bentuknya sederhana.
"Aku pilih ini saja, ini cantik sekali." ucap Alea. Deni melihat cincin yang dipilih oleh Alea. Tak disangkanya kalau yang dipilih Alea akan sesederhana ini padahal ada banyak yang lebih mewah dari yang dipilihnya.
"Baiklah, ini bagus. Kami pilih yang ini. Mbak apa juga bisa pesan cincin kawin disini?" tanya Deni menyerahkan cincin pilihanya untuk dibungkus.
"Tentu tuan, mau pesan yang seperti apa?" tanya pegawai itu.
"Aku belum memikirkan modelnya, tapi aku ingin yang ada ukiran nama kami di dalamnya." kata Deni.
"Lebih baik aku minta kontak kalian saja untuk nanti konfirmasi modelnya." lanjut Deni.
"Baik tuan, ini cincinnya dan ini kartu nama kami." ucap pegawai itu.
Deni menerima cincinnya dan memberikan kartu atmnya untuk membayar cincin itu.
"Al, kita pulang atau kamu masih mau jalan jalan?" tanya Deni saat berjalan keluar toko.
"Aku ngikut aja." jawab Alea.
Aril pov.
Aku mengamati Deni dan temannya itu. Mereka terlihat mesra karena sedari tadi selalu bergandengan tangan.
Oh ternyata Deni mengajaknya makan. Aku duduk tak jauh dari tempat mereka duduk. Agar bisa mendengar percakapan mereka. Siapa tahu mereka akan membicarakan Susan. Lamat lamat ku dengar Deni memanggil wanita itu dengan sebutan Al. Aku tidak merasa mengenal nama wanita itu. Tapi kenapa wajahnya sedikit familiar ya.
__ADS_1
Ku fokuskan lagi telingaku untuk mendengarkan obrolan mereka. Betapa terkejutnya aku, mereka nenyebut namaku.
"Apa maksudnya pengkhianatanku pada wanita itu, aku saja tidak pernah mengenal wanita yang bernama Al. Dan apalagi ini mereka mau menikah. Hanya satu orang yang pernah aku khianati dan itu adalah Susan. Apa wanita itu adalah Susan. Tapi kenapa Deni memanggil namanya Al." batinku.
Aku merasa juga sekarang aku harus menyelidiki wanita itu. Kalau benar dia Susan aku harus segera menemuinya.
Aku terus mengikuti mereka, ternyata mereka membeli baju dan cincin pertunangan. Tak lama mereka berjalan memutari mall ini. Akhirnya mereka pulang juga.
Aku akan menemui wanita itu nanti setelah Deni pulang.
"Pak saya ingin bertemu Al, saya teman kuliahnya ingin meminjam buku." kataku pada penjaga rumah itu.
"Oh teman nona Alea, silahkan masuk saja. Beliau baru saja pulang." kata penjaga itu sopan.
"Apa nona? Berarti tidak mungkin wanita itu adalah Susan. Susan tidak mungkin sekaya ini." bicaraku dalam hati. Aku melangkah masuk ke halaman rumah besar itu. Aku memencet bel di samping pintu. Dan sesaat kemudian ada seorang wanita paruh baya membukakan pintunya.
"Iya, tuan mencari siapa?"
"Eh, saya teman Alea, saya ingin meminjam buku kuliah." ucapku berbohong membuat alasan agar bisa masuk.
"Silahkan masuk tuan." kata bibi itu.
Aku mengikutinya sampai diruang tamu dia mempersilakan aku duduk.
"Tuan silahkan duduk dulu, saya panggilkan nona Alea."
Tak lama, Alea datang.
"Siapa ya?" tanya Alea.
Saat aku mengangkat wajahku yang menunduk tadi, aku sungguh tak percaya dengan apa yang aku lihat. Tak ku sangka Alea yang datang ini adalah Susanku. penampilannya yang tadi aku lihat saat diluar sungguh berbeda dengan sekarang. Sekarang dia yang berpenampilan sederhana tanpa make up adalah Susan ku.
"Susan, akhirnya kita bertemu. Aku sangat merindukanmu." ungkapku dan langsung berdiri ingin memeluknya. Namun dia segera menepis tanganku yang ingin meraihnya.
"Maafkan aku atas semua kesalahanku. Aku tahu kamu sudah tahu tentang pengkhianatanku. Biarkan aku menjelaskan semuanya dulu. Aku mohon." kataku.
"Jelaskan." jawab Susan singkat kemudian duduk jauh dari tempatku.
Aku mulai menjelaskan semuanya, terlihat matanya yang sudah berkaca kaca ingin menangis. Tapi ku lihat dia menahannya.
Setelah panjang lebar aku menjelaskan, dia tak merespon apapun. Dia malah pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apapun padaku.
Kemudian tak berapa lama bibi yang tadi menyambutku, memintaku untuk segera keluar dari rumah ini. Dia mengusirku secara halus.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk pulang, memikirkan hubunganku yang sungguh rumit ini.
...
Alea pov.
" Nona, ada teman kuliah nona datang katanya ingin meminjam buku kuliah." kata bi Minah.
"Siapa bi?" tanya ku.
"Maaf nona bibi lupa tanya. Dia laki laki nona."
"Baiklah, sebentar saya akan turun."
"Permisi nona."
"Iya."
Aku segera selesaikan menghapus riasanku dan berganti baju. Setelah itu aku turun.
Sesaat ku lihat sosok yang tidak begitu ku kenal duduk di ruang tamu.
"Siapa ya?" tanya ku.
Betapa terkejutnya aku, orang yang berdiri di hadapanku adalah orang yang selama ini aku tunggu dengan sia sia karena dia telah mengkhianatiku. Sungguh mulutku terkunci, padahal dalam hati aku ingin sekali marah, menghujatnya untuk meluapkan kekecewaanku padanya. Tapi apa daya, tubuhku seperti membeku.
Ku lihat dia mendekat untuk meraihku, tapi segera aku menepisnya.
Dia meminta maaf dan ingin menjelaskan semua yang telah terjadi.
"Jelaskan." kataku dengan dingin dan duduk di kursi yang jauh darinya.
Setelah ku dengar penjelasannya, aku tak sengaja melihat seseorang di pintu masuk rumahku. Dia terlihat sangat sedih. Aku ingin memanggilnya, tapi dia keburu lari keluar. Dan ku dengar lamat lamat suara motornya menjauh. Aku kembali fokus mendengarkan penjelasan orang yang ada didepanku kini. Setelah selesai, entahlah aku juga tak merasa senang atau apapun terhadapnya. Dalam fikiranku hanya seseorang yang meninggalkan rumah ini tadi dengan raut muka sedih.
Aku meninggalkan laki laki itu tanpa berkata apapun. Setelah sampai kamar aku segera menghubungi bi Minah untuk menyuruh laki laki tadi pergi secara halus.
Sungguh, aku merasa kacau hari ini.
☘️☘️☘️☘️
tinggalkan jejak kalian ya like komen vote juga boleh..
jika ingin membaca saja pun boleh.. dengan senang hati..
tambahkan juga ke rak buku favoritmu ya..
__ADS_1
lanjutkan ke episode selanjutnya..
love you readers setiiaku...😊😊😊🤗🤗🤗🤗