
"Ha ha ha ha.." Aril tak mampu menahan tawanya lagi.
"Mas Aril kenapa ketawa lagi. Ini bukan lelucon tahu." Ika kesal.
"Jauhkan pikiran burukmu itu. Aku belum pernah menikah, juga aku tidak punya anak diluar nikah." jelas Aril.
"Terus anak itu?"
"Itu anak mantan pacarku dulu."
"Tuhkan, hamil diluar nikah kan." sela Ika.
"Aku belum selesai bicara Ika." seru Aril dengan gemas mencubit hidung Ika.
"Ihhh sakit tahu mas." keluh Ika sambil mengelus hidungnya.
"Makanya kalau orang lagi bicara jangan dipotong dulu. Dengar, anak itu memang anak mantan pacarku dulu. Dia sudah menikah dengan sahabatnya sendiri. Jadi jelaskan itu bukan hamil diluar nikah juga bukan anak kandungku. Aku sudah menganggap anak itu seperti anakku sendiri."
"Kok bisa dia panggil mas Aril ayah. Padahal jelas kan kalau anak itu punya ayah sendiri." Ika masih penasaran.
"Jadi waktu kandungannya berumur hampir sembilan bulan. Dia mengalami kecelakaan mobil bersama suaminya. Waktu itu aku juga yang menyelamatkannya, namun sayang karena aku tak berfikir panjang. Aku menuruti permintaan suaminya untuk meninggalkannya dan segera membawa istrinya ke rumah sakit." Aril sedikit sesak di dada mengingat kecelakaan itu.
"Sewaktu sampai dirumah sakit aku mendapat kabar kalau si suami tak tertolong dan ikut terbakar dalam mobil naas itu. Dan sang istri koma, beruntung si bayi berhasil di selamatkan. Aku yang memberi nama anak itu yaitu Myli."
"Myli Princessa Sanjaya. Itulah nama panjangnya."
"Sanjaya?? Bukannya itu nama perusahaan tempat mas Aril kerja?" tebak Ika.
"Ya, kamu benar. Myli adalah cucu dari Tuan Malik, pemilik dari Sanjaya Corps. Karena putranya yang bernama Deni meninggal dalam kecelakaan itu, aku bahkan diminta menikahi menantunya yang dalam keadaan koma tersebut. Dia bernama Alea. Alea adalah putri dari Tuan Aran Wijaya. Kamu pasti juga pernah mendengar Perusahaan Wijaya Grup kan."
"Terus? Mas Aril setuju?"
"Tidak, aku menolak selain karena aku sudah menganggap Alea seperti adikku sendiri. Aku tidak mungkin mengambil keputusan akan hidup seseorang tanpa persetujuan darinya. Namun karena itu adalah wasiat dari Deni, aku selalu didesak untuk menikahi Alea yang masih dalam keadaan koma. Aku terus mengelak, karena hatiku juga masih terpaut pada almarhum Keyla. Kekasihku yang meninggal beberapa bulan sebelum kecelakaan itu terjadi."
"Karena tidak adanya kedua orang tua disisi Myli. Kakek buyutnya meminta aku untuk menjadi sosok ayah bagi anak itu. Dan aku dengan senang hati menerimanya. Karena aku merasa sangat bersalah tak bisa menyelamatkan ayahnya. Dan sejak bayi, aku selalu meluangkan waktuku setiap hari untuk mengurus bayi kecil itu sampai sekarang. Walau Alea sudah sadar dari komanya setelah dua tahun lamanya dia tertidur."
"Oh begitu. Jadi karena sekarang Alea sudah sadar apakah wasiat dari suaminya itu akan mas Aril penuhi?" tanya Ika yang semakin penasaran.
"Tidak, karena Alea meyakini kalau Deni masih hidup. Dan juga aku sudah menyukai seorang gadis." Aril menatap Ika dengan intens.
"Hem, begitu ya." sahut Ika lemah.
__ADS_1
"Permisi, ini mas pesanannya. Pacarnya ya mas? Biasanya sendiri kalau kesini." tanya si penjualnya.
"Belum pak. Doakan saja." jawab Aril sambil tersenyum ramah.
"Wah..semoga berjodoh ya mas." sahut si penjual.
"Amiinn." Aril mengamini.
Ika yang mendengarnya terbengong. Bingung dengan maksud Aril.
"Belum? Doakan saja? Terus mengamini semoga berjodoh. Apa gadis yang disukai mas Aril itu aku?" ucap Ika dalam hati.
Ika langsung merubah mimik mukanya yang tadinya cemberut menjadi sedikit mengulas senyum di bibirnya. Ika senang sekali, kalau memang yang disukai oleh Aril adalah dirinya.
"Ayo cepat dimakan. Aku sudah sangat lapar." ajak Aril yang sudah memulai untuk makan.
"Iya mas." Ika sedikit gugup menjawab Aril, dia ikut melahap makanannya dengan tenang.
Setelah menghabiskan makanannya, Aril mengantarkan Ika kembali ke kosan. Sebelum Ika benar benar masuk ke dalam kosan, suara Aril menghentikannya.
"Ka, setelah ini kalau aku telfon atau chat di jawab ya." teriak Aril dari dalam mobil.
Aril melajukan mobilnya kembali saat tubuh Ika sudah menghilang dari pandangannya. Aril merasa senang mengetahui Ika cemburu padanya. Aril menjadi lebih yakin akan perasaannya sekarang. Aril hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Ika.
....
Keesokan harinya, setelah satu minggu menunggu proses tes DNA. Hari ini hasilnya telah keluar.
Seluruh keluarga Sanjaya dan Wijaya berkumpul di rumah sakit, dan Aril juga berada disana. Sementara semua menunggu di sebuah ruangan, menanti dokter mengambil hasil tesnya di laboratorium.
"Ril.." panggil Alea pelan karena keduanya duduk berdampingan.
"Hm?" Aril menoleh ke Alea.
"Kalau boleh tahu, siapa Ika yang menelfonmu kemarin?" tanya Alea hati hati takut Aril tersinggung, karena kemarin anaknya sudah lancang mengangkat telfon itu.
"Dia temanku. Kenapa?"
"Emm, apa kamu menyukainya? Sepertinya kemarin kamu gelisah sekali waktu kamu telfon balik tapi tak di jawab." Alea makin penasaran.
"Iya, aku menyukainya. Dan kemarin dia sepertinya cemburu mendengar suaramu dan Myli." Aril tersenyum mengingat kecemburuan Ika.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak sengaja." Alea merasa bersalah.
"Tidak peelu minta maaf, malah aku mau berterima kasih. Berkat dirimu aku jadi tahu kalau dia cemburu, itu artinya dia juga menyukaiku kan. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk mengatakannya."
"Aku ikut bahagia, semoga kamu berjodoh ya dengan Ika."Alea mengatakannya dengan tulus.
"Terima kasih."
"Oh iya, kapan kenalin ke aku?" tanya Alea.
"Kapan kapan ya, aku kenalin sama kamu dan Myli juga."
Tak lama kemudian Dokter sudah masuk ke ruangan tersebut.
"Selamat siang semuanya." sapa Dokter tersebut.
"Siang Dokter." jawab semuanya bergantian.
Dokter sudah memegang sebuah amplop putih. Diyakini oleh semuanya bahwa itulah hasil tes DNA yang sudah ditunggu selama seminggu ini.
"Apa itu surat hasil tes DNAnya Dok?" tanya Tuan Malik yang sudah tidak sabar melihat hasilnya.
"Iya Tuan, anda benar ini hasilnya. Ini silakan anda baca." Dokter menyerahkan surat tersebut kepada Tuan Malik.
Saat Tuan Malik akan membuka suratnya, Alea menyela.
"Pa, bolehkah aku yang membukanya?" Alea beetanya dengan penuh harap.
"Boleh, ini." Tuan Malik menyerahkan surat itu kepada Alea.
Alea sampai gemetar tangannya saat menerima amplop itu. Perlahan tangannya bergerak untuk membuka amplop itu. Setelah suratnya sudah berada dalam genggaman, Alea menarik nafas dalam dalam. Mempersiapkan diri untuk mulai membaca isi surat itu.
Mata Alea bergerak ke kanan dan ke kiri, membaca setiap kata yang ada di surat itu. Dan mulai menetes air mata, kala membaca kata yang berada di akhir surat itu. Yang menyatakan bahwa....
☘️☘️☘️☘️☘️
Terima kasih yang sudah selalu setia membaca karyaku..🙏🙏🙏
Tinggalkan jejak kalian ya, like komen atau..berilah aku bunga kalian👌👌👌
Bye,,lanjuut!!!
__ADS_1