
Dalam perjalanan kembali ke rumah, keduanya sama sama terdiam.
Alea yang bingung, bagaimana caranya nanti menjelaskan pada suaminya. Dia tak ingin menyembunyikan apapun dari suaminya. Dia juga tak ingin membuat suaminya nanti salah paham akan dirinya juga Aril.
Aril juga sedang merutuki dirinya sendiri di hatinya. Bagaimana bisa dia malah terbawa nafsu.
"Ingat Ril, dia itu istri orang. Istri bosmu pula. Jangan bodoh. Mau kamu masuk ke sarang macan. Bisa mati kamu kalau suaminya tahu kamu menciumnya tadi bahkan sempat bernafsu." rutuk Aril dalam hati.
Hampir petang Alea baru sampai dirumah.
Suaminya menyambutnya.
"Honey, kamu baik baik saja?"
"Aku baik baik saja." jawab Alea setenang mungkin.
Aril kemudian pamit pulang, karena juga sudah petang. Deni mengiyakan dan menyuruh Alea segera ke kamar untuk segera membersihkan diri.
Sebelum Aril pergi, Deni menyerahkan sebuah sapu tangan. Aril bertanya untuk apa, namun Deni tak menjawab hanya menunjuk ke bibirnya kemudian pergi menyusul Alea ke kamar.
Aril yang bingung kenapa dengan bibirnya, segera mengeluarkan ponselnya. Dia berkaca melalui ponsel.
"Astaga.." decak Aril melihat bibirnya.
Dibibirnya terlihat jelas warna lipstik yang menempel. Aril merutuki kebodohannya lagi. Kenapa dia bisa lupa untuk membersihkan bekas lipstik Alea saat menciumnya tadi.
Aril segera menghapus dengan kasar noda lipstik di bibirnya sambil terus menggerutu. Aril mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sambil memikirkan, bagaimana jika aksinya tadi ketahuan oleh bosnya. Bagaimana cara menjelaskannya.
"Akhh. Masalah besar. Bisa dihajar habis habisan aku."
Alea sudah selesai mandi. Dia memutuskan untuk menceritakan semuanya pada suaminya.
"Bee, sini deh." Alea menepuk kasur di sampingnya agar Deni ikut duduk bersandar di ranjang.
"Ada apa?" Deni mendekat menuruti kemauan istrinya.
"Kamu dengar aku cerita dulu. Jangan komentar kalau aku belum selesai."
"Memang cerita apa?"
"Tadi waktu aku ijin pergi sama Aril waktu aku pura puar sedih biar dia bisa menghiburku dan dia juga melupakan kesdihannya."
"Iya lalu.?"
Kemudian Alea menceritakan panjang kali lebar. Tidak ada yang ditutupi.
"Jangan marah." ucap Alea di akhir ceritanya.
"Nggak kok. Aku malah harus berterima kasih padanya." ucap Deni sambil mengusap puncak kepala Alea.
__ADS_1
"Kenapa aku malah merasa suamiku aneh ya. Tidak biasanya juga dia tidak marah seperti ini. Dia kan posesif sekali, kenapa ini sama sekali tidak menunjukan keposesifannya." gumam Alea dalam hati.
"Sudah ayo makan malam, pasti anak daddy sudah lapar." ucap Deni sambil mengelus perut Alea.
"Hm bee, bukan cuma anaknya ibunya juga lapar." jawab Alea.
Alea dan Deni ke ruang makan, ikut bergabung bersama orang tuanya.
...
Seperti kemarin, Aril datang pagi untuk menjemput Deni.
Alea bersikap biasa saja ketika berhadapan dengan Aril, karena suaminya juga bersikap biasa saja. Tapi berbeda dengan Aril, dia nampak canggung. Padahal Deni juga bersikap biasa saja.
Dalam perjalanan menuju kantor pun, Deni masih tidak menunjukan ingin bertanya atau ingin mengetahui tentang kejadian kemarin. Dia malah selalu menampilkan senyum. Aril sampai bergidik karena melihat bosnya itu terus tersenyum.
Sampai di kantor, Aril segera menjelaskan segala jadwal Deni hari ini. Di akhir penjelasannya, Aril ingin bicara serius dengan bosnya itu.
"Tuan, saya ingin memberitahukan anda tentang hal yang penting." Aril memasang wajah yang serius. Namun masih tampak sedikit kecemasan di wajahnya.
"Apa itu?" tanya Deni dengan nada tegasnya.
"Tentang kegiatan kemarin saya bersama nyonya Alea. Ma...maafkan saya tuan, saya sudah lancang. Saya melakukan itu semua karena saya mengkhawatirkan kesehatan nyonya Alea." jelas Aril sedikit gugup.
"Melakukan apa?" tanya Deni pura puar tidak tahu.
"Saya sudah memeluk dan bahkan mencium nyonya Alea." Aril menghentikan bicaranya, karena melihat bosnya itu berdiri dari kursinya dan mendekat ke arahnya.
"Ampun tuan, maafkan saya. Saya tidak punya cara lain untuk membuat nyonya Alea kembali hangat. Kalau saya terlambat saya takut akan terjadi hal buruk pada nyonya Alea. Apalagi tempat kemarin sangat jauh dari klinik kesehatan." kata Aril masih menunduk takut.
Aril merasakan tepukan di bahunya.
"Terima kasih, sudah menjaga Alea dengan baik. Tindakanmu sudah benar. Berkat dirimu istriku keadaanya baik baik saja kan." Deni mengucapkan itu dengan tersenyum ke arah Aril.
Aril yang mendengar ucapan Deni langsung melihat ekspresi Deni yang menurutnya aneh.
"Kenapa Deni aneh? biasanya juga kalau ada yang mendekati atau hanya memperhatikan istrinya dia akan langsung cemburu. Dan apa ini, aku bahkan menciumnya dan dia sama sekali tidak marah. Malah tersenyum seperti itu. Apa bosku sedang kerasukan jin baik hati?"
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku masih normal. Aku sudah mendengar cerita lengkap versi istriku kemarin. Menurutku, kau sama sekali tidak bersalah. Jadi karena sudah menyelamatkan istriku. Kau akan ku beri bonus bulan ini."
"Benar tuan?" tanya Aril tak percaya.
"Iya, kembalilah bekerja." perintah Deni.
Aril segera menunduk hormat kemudian kembali ke meja kerjanya yang berada di depan ruangan Deni.
"Suami aneh, biasanya dia posesif. Ini malah sama sekali tidak marah. Tapi beruntunglah aku, aku tak dihajarnya malah dapat bonus juga." gumam Aril pelan saat sudah duduk di kursinya.
Saat makan siang, Deni mengajak Aril makan siang bersama di cafe dekat kantor. Mereka mengobrol layaknya teman karena permintaan Deni.
__ADS_1
Saat sedang makan, Aril melihat ada yang aneh dengan Deni. Sesekali dia seperti menahan sakit, namun saat ditanya Aril kenapa. Deni mengatakan kalau dirinya baik baik saja.
Usai makan siang, keduanya kembali bekerja. Sampai sore jam empat Deni mengajak pulang.
Dalam perjalanan pulang, Aril melihat ada yang tidak beres dengan bosnya itu. Aril mengamatinya dari spion. Dia tampak tak bersemangat, sesekali dia menutup mata sambil mengusap dadanya.
"Ril, ke rumah sakit ku sekarang. Aku lupa kemarin buat janji dengan staf rumah sakit untuk memeriksa laporan keuangan." ucap Deni.
"Baik."
Setelah sampai rumah sakit, Aril diperintah langsung pulang saja. Karena jarak rumah Aril lebih dekat ketimbang ke rumahnya. Aril mengangguk mengerti kemudian langsung pulang.
Setelah tiga puluh menit, Aril sampai di rumah.
"Mobil kamu kenapa nak? Dan ini mobil siapa yang kamu bawa pulang?" tanya bunda Aril.
"Mobil bosnya Aril bun, tadi dia masih ada urusan di dekat sini. Jadi aku langsung disuruh pulang saja daripada balik ke rumah bos untuk berganti mobil." jelas Aril.
"Oh begitu. Cepatlah mandi, setelah itu kita makan ya."
"Iya bun. Aril ke kamar dulu ya." jawab Aril kemudian berlalu ke kamarnya.
Saat Aril tengah makan malam bersama orang tuanya, ponselnya berdering tanda aa panggilan masuk. Memaksa dirinya untuk menghentikan makannya.
Aril bangkit dari kursi, dan sedikit menjauh dari meja makan.
"Halo."
"Ril, kalian ada dimana? Kenapa jam segini belum pulang?"
Ternyata yang menelfon adalah Alea.
"Kami tadi berpisah di rumah sakit. Deni bilang kalau masih ada urusan di rumah sakit. Ada laporan tentang rumah sakit yang harus diperiksanya. Dan karena sudah lewat jam kerja juga dia memintaku untuk langsung pulang saja karena rumahku lebih dekat dari pada harus ke rumahmu."
"Baiklah, aku akan mencoba menghubungi rumah sakit, karena ponsel suamiku tidak aktif."
"Iya Al."
Alea memutuskan panggilannya.
"Laporan apa yang diperiksa bos hingga butuh waktu berjam jam. Semoga bos baik baik saja." gumam Aril lalu kembali melanjutkan makannya.
☘️☘️☘️☘️
Kemana ya si bos Deni..
Alea nyariin tuuuhh. Kangen..😁😁
Lanjut yuk ke episode selanjutnya..😊😊🤗🤗🤗
__ADS_1
😘😘😘