
"Bagaimana keadaan penumpang mobil tadi? Apakah sudah dalam perjalanan ke rumah sakit?" tanya Aril.
"..."
"Apa..!!!" Aril sampai berteriak.
Mendengar kabar yang sangat mengejutkan baginya. Aril sangat menyesal menuruti permintaannya.
"Sorry Den, harusnya gue nggak nurutin mau lo. Setidaknya gue harus ngeluarin lo dulu dari qmobil itu. Bukannya ninggalin lo begitu saja." sesal Aril.
Ternyata yang di dapatnya adalah kabar buruk. Mobil yang ditumpangi Deni dan Alea tadi meledak dan terbakar tepat saat polisi sampai di lokasi kejadian. Dengan Deni yang masih berada di dalamnya.
Itu sudah jelas karena ada jasad lelaki yang hangus di dalam mobil itu. Dan jasadnya sebentar lagi akan dibawa ke rumah sakit.
"Bagaimana gue nanti jelasin ke Alea soal lo.." Aril frustasi.
Kenapa musibah tak hentinya datang menerpa kehidupan Alea. Selalu saja membahayakan nyawanya.
"Al, aku minta maaf. Nggak bisa nyelametin Deni. Kamu harus berjuang di dalam sana, bersama anak kamu. Kalian harus hidup."
Seluruh keluarga Deni dan Alea sudah sampai di rumah sakit. Mereka segera menuju ke ruang operasi. Mereka melihat Aril yang terduduk di lantai.
"Aril, bagaimana Alea dan Deni?" tanya Tuan Malik.
"Alea masih di ruang operasi Tuan. Tetapi Deni, maaf Tuan." Aril menunduk tak kuat memberi kabar buruk itu.
"Apa yang terjadi?" sekarang istri Tuan Malik yang bertanya.
"Maaf Tuan Nyonya, saya tidak berhasil menyelamatkan Deni. Tubuhnya ikut terbakar di mobil yang meledak sesaat sebelum tim penyelamat datang untuk evakuasi. Sedangkan saya harus segera membawa Alea karena kondisinya yang sangat parah. Maafkan saya, karena tak bisa berfikir jernih. Saya menuruti permintaan Deni untuk meninggalkannya dan segera membawa Alea ke rumah sakit." jelas Aril dengan sedikit terbata, ikut merasakan sedih atas kematian Deni.
"Pa, Deni nggak mungkin meninggal kan pa? Tidak mungkin Deni pergi lebih dullu dari kita." Mamanya Deni histeris, mendengar penjelasan dari Aril. Hingga syok yang membuatnya pingsan.
Tuan Malik segera membawa istrinya untuk mendapat perawatan dokter.
"Ril, saya minta tolong untuk mengurus semuanya. Biar kami yang menunggui Alea disini." ucap Tuan Aran.
"Baik Tuan, saya permisi."
Aril pergi menemui Tuan Malik. Membiacarakan tentang pemakaman Deni. Apakah akan dilanjutkan malam itu juga atau menunggu esok hari.
Tuan Malik meminta Aril mengurus apa saja yang diperlukan, dia memutuskan untuk melakukan pemakaman esok hari saja. Agar kondisi istrinya juga lebih baik.
Aril kemudian pergi. Mengurus semua hal. Bahkan saat mobil jenazah yang membawa jenazah Deni, Aril tak sanggup untuk melihatnya.
__ADS_1
Aril pergi menemui Tuan Aran.
"Maaf Tuan, saya mengganggu. Saya tak sanggup melihat keadaan jenazah Deni. Polisi meminta untuk memberi keterangan tentang Deni yang terakhir dilihat. Untuk memaatikan kalau itu benar jenazah Deni." ucap Aril.
"Baiklah saya akan kesana. Tolong kamu temani istri saya disini dulu."
"Baik Tuan."
Aril melihat mama Alea yang duduk termenung di kursi tunggu di depan ruang operasi. Sesekali mengusap air matanya yang meleleh ke pipi. Mama Alea menangis tanpa suara.
Mama Alea kembali dibayangi kejadian masa lalu. Yang selalu saja membuat keadaan Alea dalam bahaya.
Aril dan mama Alea terperanjat saat mendengar suara tangisan bayi. Mereka bersyukur, bayinya bisa lahir selamat. Tak lama kemudian salah seorang perawat keluar dengan membawa bayi yang sudah berselimut di gendongannya.
"Tuan Nyonya, bayinya lahir dengan selamat dan sehat. Jenis kelaminnya perempuan. Namun karena berat badannya yang masih kurang jadi harus di lakukan perawatan intensif." ucap perawat itu.
"Iya sus, bagaimana keadaan anak saya sus?" tanya mama Alea.
"Masih ditangani oleh dokter, Nyonya. Mohon bersabar ya."
Perawat kemudian membawa bayi tersebut ke ruang bayi. Bersamaan dengan itu, datang seorang pria paruh baya menghampiri Aril.
"Permisi, mas Aril?" tanya pria itu.
"Saya adalah pengacara keluarga Tuan Malik, saya diminta untuk membantu mas Aril mengurus hal hal yang diperlukan. Dan saya juga ada perlu bicara berdua dengan anda."
"Oh begitu, tunggu sebentar ya Pak. Tunggu Tuan Aran kembali kesini. Tidak mungkin saya meninggalkan Nyonya sendiri disini."
"Baiklah, saya akan menunggu disini."
Tak berapa lama, Tuan Aran sudah kembali.
"Bagaimana Tuan?" Aril.
"Polisi dapat memastikan itu adalah jenazah Deni karena sedikit pakaian yang tersisa itu persis dengan pakaian yang dipakai Deni terakhir keluar rumah tadi siang. Dan juga cincin nikahnya menunjukan kalau itu benar Deni." jelas Tuan Aran.
"Baiklah, permisi Tuan. Saya harus pergi." pamit Aril.
"Tuan Aran, saya ikut berduka atas kejadian ini." ucap pengacara itu.
"Terima kasih Pak Doni." jawab Tuan Aran yang memang sudah kenal dengan pengacara keluarga besannya itu karena beberapa kali sempat bertemu.
"Saya permisi. Masih banyak hal yang harus saya urus." pamit pengacara itu kemudian pergi menyusul Aril.
__ADS_1
Aril dan Pak Doni duduk berdua di lobi rumah sakit.
"Hal apa yang ingin anda sampaikan pak?" tanya Aril to the point.
"Saya hanya ingin menyerahkan surat peninggalan dari mas Deni. Silahkan anda baca."
"Untuk saya? Apa tidak salah pak?"
"Tidak, sebenarnya seluruh keluarga belum tahu keadaan mas Deni sesungguhnya. Sebelum kecelakaan ini pun mas Deni sedang sakit parah namun menyembunyikan keadaannya karena tak ingin membuat keluarga bersedih. Apalagi menurut dokter tak ada obat yang bisa menyembuhkan sakitnya." jelas pak Doni.
Aril segera membuka surat dari Deni.
*Aril, mungkin saat kau membaca surat ini, aku pasti sudah tiada. Karena aku percayakan surat ini pada pengacaraku untuk memberikan ini padamu setelah kematianku.
Aku ingin kau menjadi ayah dari anakku. Ku mohon gantikan diriku yang tak bisa menjaga Alea lagi. Hanya dirimu yang bisa aku percaya untuk menjaga Alea. Cintailah dia. Dan buatlah dia jatuh cinta lagi padamu. Jadikan dia istrimu.
Terima kasih
Deni*
Begitulah isi surat Deni. Aril merasa ini kepuusan yang berat. Hatinya saja belum sembuh akan luka kehilangan Keyla. Dan sekarang, Deni malah memintanya untuk mencintai Alea lagi.
"Saya hanya ingin menyampaikan surat itu, tetapi nanti saat semua sudah sedikit membaik kondisinya. Saya akan meminta seluruh keluarga berkumpul untuk mendengar saya menyampaikan pesan terakhir dari mas Deni. Dan pada saat itu, anda harus ikut datang juga." ucap Pak Doni.
"Baik pak, terima kasih. Nanti hubungi saja saya." jawab Aril.
"Baik mas Aril, saya permisi. Saya ingin menemui Tuan Malik juga."
"Iya Pak, silahkan."
Pak Doni menuju ruangan yang dipakai untuk merawat istri Tuan Malik. Sampai di depan ruang rawat itu, Pak Doni mengetuk pintunya dan langsung masuk.
"Selamat malam Tuan." sapa Pak Doni ketika dirrinya sudah masuk.
☘️☘️☘️☘️
😭😭 Deni harus pergi.
Aril harus buat keputusan nih, menuruti keinginan terakhir Deni atau menolaknya..
Lanjut yuk episode selanjutnya.
love you readers setiaku...😊😊😊😘😘😘🤗🤗
__ADS_1