Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Aku akan kembali.


__ADS_3

Deni mengajak Alea belajar bersama. Mereka belajar dengan serius karena besok mereka akan ujian.


"Al, sudah lelah. Aku sudahan sajalah." kata Deni sambil merapikan bukunya.


"Baiklah aku juga." Alea ikut merapikan bukunya.


Deni mengambil ponselnya, dia membuka akun sosmednya.


"Al, hadap sini." Alea melihat Deni yang mengajaknya berselfie.



Kemudian Deni mengepost fotonya, dengan caption " Belajar bersama My Angel "


Setelah itu, Deni mengajak Alea pergi jalan jalan naik motornya.


"Mau kemana?" tanya Alea.


"Cari bakso yuk, mau?"


"Boleh."


Deni segera melajukan motornya menuju warung bakso favorit mereka. Letaknya tidak begitu jauh hanya sepuluh menit dari rumah Deni. Setelah sampai mereka segera memesan bakso favorit mereka. Tak berapa lama, pesanan mereka telah datang. Dan tak menunggu lama mereka langsung menyantapnya.


..Di suatu cafe, di jepang.


Aril mendapat kiriman foto dari ayahnya. Aril melihat foto itu langsung membulatkan matanya, karena foto itu terlihat Susan dan Deni yang sedang bersama berbelanja, pergi ke kampus, hingga yang terakhir sedang makan bersama. Aril kemudian menelfon ayahnya.


" Apa maksud Ayah mengirim foto ini?" tanya Aril tanpa basa basi.


"Itulah kekasih gadis itu. Bahkan mereka tinggal bersama, dasar gadis murahan." ucap ayah Aril.


"Ayah, aku mengenal pemuda itu, jadi jangan harap aku percaya kata kata ayah." kata Aril kemudian memutuskan sambungan telefonnya.


Aril memang tak percaya ayahnya, tapi sebenarnya dia juga penasaran bagaimana hubungan antara Deni dan Susan. Apalagi kemungkinan Susan bisa saja berpaling darinya setelah mengetahui hubungan nya dengan Keyla.


Aril kemudian membuka akun sosmednya, melihat akun Deni. Terkejutnya dia melihat postingan terakhir Deni, yaitu foto Susan dan Deni. Susan terlihat bahagia.


Aril menutup sosmednya, kemudian menyusuri galeri foto di ponselnya. Jarinya berhenti pada satu foto. Air bening meluncur begitu saja dari matanya.




"Senyummu ini, kapan aku bisa melihatnya lagi. Aku sangat merindukanmu. Aku mohon tunggulah aku kembali dan menjelaskan semuanya padamu. Susan, maafkan aku . Aku telah mengkhianatimu. Maafkan aku." ucap Aril masih dengan menatap foto Susan di ponselnya.

__ADS_1


Aril dikejutkan oleh seorang teman yang juga dari Indonesia. Dan juga tetanggaan di rumah sewanya. Namanya Fiko.


" Kenapa lo? Kusem amat tuh muka." kata Fiko.


" Ah lo, ngagetin gue aja. Biasalah bapak gue ngomporin gue lagi." jelas Aril, memang selama di jepang Fikolah yang jadi teman baiknya. Dia selalu curhat dengan Fiko. Walau kadang kalau kasih nasehat suka asal.


" Emang bilang apalagi bapak lo?" tanya Fiko lagi.


" Ni liat aja." ucap Aril menyerahkan ponselnya.


"Wah bener bener nih bapak lo, nguntitin cewek lo. Masak sampe segininya."


"Tapi emang semua itu bener, mereka emang lagi deket. Tadi gue liat sosmed cowok itu. Dan gue liat postingan terbaru dan itu foto mereka berdua, keliatan mesra lagi. Harapan gue buat bersatu lagi dengan Susan mungkin sudah nggak ada lagi."


"Sabar dulu Ril, mungkin mereka cuma temenan." kata Fiko mencoba menenangkan.


"Kalau mereka temenan sih emang udah lama bahkan sebelum jadi cewek gue. Tapi gue juga yang salah kenapa gue bisa khianati dia. Mungkin aja dia udah tau semuanya. Soalnya sudah sebulan ini gue gak bisa hubungin dia. Akun sosmed dan nomer gue udah di blokir. Bingung gue." jelas Aril.


"Minggu depan kan liburan, kita balik aja gimana? Kita cari cewek lo, lo jelasin deh semuanya."


"Tapi kalau gue pulang pasti bakal dikurung gue."


"Ya lo pinter dikit napa. Lo jangan pulang ke rumah lah, ke rumah gue aja. Lo juga rahasiain kepulangan lo."


"Ok deh, thanks. Lo emang temen gue ter the best." ucap Aril.


Aril tersenyum mendengar penuturan temannya itu.


...Suasana di rumah Opa Deni.


Di balkon kamar Deni, Deni sedang duduk santai sambil membaca buku. Sedangkan Alea juga berada di balkon sedang memainkan ponselnya. Alea melihat ke arah Deni.


"Makin hari kenapa dirinya terlihat semakin tampan? Aku semakin mengaguminya. Dan apa ini jantung? Kau selalu bekerja keras saat dia ada di dekat ku. Bisakah kau bekerja seperti biasa saja. Karna kau, aku semakin canggung kalau dekat dia." batin Alea.


"sttt..sttt.." Alea berusaha mengusik Deni.


Deni menengok ke Alea, dengan isyarat muka menanyakan ada apa. Alea kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke arah Deni. Deni mengerti dan berpose.



"Untuk apa kau memotretku?" tanya deni mendekat ke pagar balkon.


"Iseng saja.." jawab Alea.


Deni kemudian masuk ke kamarnya. Tak mempedulikan Alea yang masih melihatnya.

__ADS_1


Alea masih berdiri di dekat pagar balkon melihat taman depan. Tiba tiba dia merasakan sebuah tangan merangkul pinggangnya dari belakang.


"Kamu lagi ngapain?" tanya seorang itu ternyata Deni.


"Lihat pemandangan aja. Lepas Den." jawab Alea.


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa minta dilepas? Aku suka dengan posisi seperti ini."


"Tapi aku takut ada yang melihat. Nanti disangka kita berbuat macam macam."


"Nggak akan ada yang lihat." tegas Deni.


"Nanti ibu aku datang." Alea beralasan agar Deni melepas pelukannya.


"Tidak akan, Ibu sedang belanja. Dan pintu kamarmu sudah aku kunci. Jadi tenanglah." pinta Deni.


Alea sudah tak berkutik lagi, pasrah dengan Deni yang masih memeluknya dari belakang. Deni menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Alea. Alea merasa senam jantungnya masih berlanjut. Bahkan lebih cepat kala mendapat ciuman pada lehernya. Merasakan sensasi yang aneh namun nikmat.


"Al, aku ingin kita menikah." ucap Deni yang membuat Alea terperangah kaget melupakan apa yang tengah dirasakannya.


"Kan sudah aku bilang aku mau lulus S1 dulu. Kenapa sekarang tiba tiba?" tanya Alea.


"Aku takut kehilanganmu. Kalau kuliah aku tidak akan menghalangimu, mau setinggi apapun akan aku dukung."


"Kalau menikah, pasti akan hamil, aku tidak mau kuliahku terganggu karena hamil."


"Kita bisa menunda kehamilan kalau kita menikah. Tapi kalau kita belum menikah juga aku tidak bisa jamin. Aku selalu tergoda saat melihatmu."


Alea menundukkan kepalanya berfikir apa lagi alasan yang tepat. Tapi tak menemukan satu alasan pun. Tapi keputusan dia mengajak menikah secepatnya benar juga. Alea takut kalau berdekatan dengan Deni tidak bisa menahan hasrat masing masing dan bisa saja kebablasan. Alea jadi ingat saat pertama kali berciuman dengan Deni waktu itu.


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Setelah aku pindah ke rumah Papaku, bicarakanlah tentang keinginanmu ini. Kalau Papa setuju, aku juga setuju."


"Baiklah." kata Deni sambil melepaskan pelukannya.


"Ayo turun, kita nonton bareng dibawah drama kesukaan kamu." lanjut Deni. Alea mengangguk saja mengikuti langkah Deni.


☘️☘️☘️☘️


Tinggalkan jejak kalian yaa..like komen..vote juga...terserah kalian saja aku akan membalasnya...


yang sudah baca novelku terima kasih banyak..

__ADS_1


terus baca kelanjutannya ya...😊😊😊🤗🤗🤗


love you Readers setiaku..


__ADS_2