
Saat akan memasuki kamar, ponselnya berdering. Dari nadanya jelas pemiliknya tahu kalau itu ada sebuah panggilan masuk.
"Halo." jawab si pemilik ponsel.
"...."
"Bukan Pa, hanya teman."
"..."
"Dia tidak tahu Pa. Aku sudah kenal dia lama."
"..."
"Iya nanti week end aku pulang. Bye Pa.."
"..."
Gadis itu masuk ke kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Setelah seharian bekerja, membuat tubuhnya cukup lelah.
....
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Aril langsung pergi ke penjara yang berada di kota S. Sesuai dengan perintah dari Tuan Malik, Aril ingin menemui Diana.
Sebenarnya Aril agak curiga saat kemarin sipir penjara mengatakan kalau Diana di pindahkan. Tidak ada alasan apapun yang mendasari kepindahan itu. Namun Aril tak begitu menghiraukan itu. Yang terpenting segera mencari tahu kondisi Diana dan segera mencari informasi tentang kecelakan Deni. Apakah berhubungan dengan dirinya atau tidak.
Setelah tiga jam perjalanan, Aril sampai juga di depan lapas kota S. Aril segera meminta ijin untuk menemui Diana.
Seorang sipir memeriksa catatannya.
"Maaf Tuan, nara pidana atas nama Diana yang anda maksud kapan masuk ke penjara? Dan atas kasus apa?" tanya sipir itu.
"Dia pindahan dari lapas kota Y sekitar dua tahun yang lalu. Atas kasus penganiayaan dan pembunuhan berencana." jawab Aril.
"Setelah saya periksa, tidak ada orang yang anda maksud Tuan. Mungkin tidak dipindahkan ke lapas ini...!" jawab sipir itu kemudian menutup bukunya.
"Anda yakin pak, tidak mungkin tidak ada. Jelas sekali kemarin saya mendatangi lapas di kota saya kalau orang itu dipindahkan kemari. Coba anda periksa sekali lagi pak." Aril memohon.
"Baiklah akan saya periksa sekali lagi." sipir itu membuka kembali bukunya, dilihatnya lagi dengan seksama catatan daftar nama napi yang masuk dua tahun yang lalu. Namun tetap saja tak menemukan nama Diana.
"Tidak ada tuan. Saya sudah teliti sekali membacanya. Tetap tidak ada nama Diana." ucap sipir itu sembari membereskan buku bukunya.
"Ya sudah pak, terima kasih. Saya permisi." Aril pergi meninggalkan lapas itu, dengan perasaan yang tidak enak. Dia punya firasat tidak baik atas menghilangnya Diana.
Kemana wanita gila itu. Apa kepindahan Diana itu kamuflase untuk melarikan diri. Kalau itu benar bararti penjahat yang mendukung Diana bukanlah penjahat biasa." gumam Aril yang sudah duduk di kursi mobilnya.
__ADS_1
Aril memutuskan untuk membicarakan hal ini langsung dengan Tuan Malik. Dalam perjalanan juga Aril telah menghubungi Nino, untuk menghandle semua pekerjaannya dulu di kantor.
Sudah lewat jam makan siang, Aril singgah di sebuah rumah makan terlebih dahulu. Perutnya sudah sangat lapar.
Setelah makan, Aril kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Tuan Malik. Tak sampai satu jam, Aril sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Tuan Malik.
Aril langsung masuk, karena tahu kalau Tuan Malik berada di rumah. Terdengar ada gelak tawa anak kecil, Aril tersenyum mendengarnya. Arill kemudian mempercepat langkahnya.
"Selamat siang." ucap Aril mengejutkan semua yang ada di ruang keluarga itu.
"Ayaah.." teriak Myli langsung berlari ke arah Aril. Aril langsung menyambutnya dengan menggendong Myli.
"Ayah, Ili lindu tama ayah." Mylk mengecup pipi Aril kemudian memeluk leher Aril dwngan erat.
"Ayah juga rindu sama Myli, maaf ya ayah sibuk beberapa hari ini. Jadi nggak bisa jenguk Myli." Aril mengusap rambut Myli dengan sayang.
"Duduk Ril." titah Tuan Malik.
Saat duduk terasa tidak nyaman dengan ponsel yang mengganjal di saku celananya, apalagi dengan Myli yang duduk di pangkuannya. Aril mengeluarkan ponselnya dan meletakan di meja.
"Myli, ayah mau bicara dulu ya sama kakek. Myli main dulu sama Mommy, oke?" ucap Aril memberi pengertian.
"Iya ayah." Myli langsung turun dari pangkuannya dan kembali ke pelukan sang ibu.
"Baik Tuan."
Aril mengikuti langkah Tuan Malik menuju ruang kerja Tuan Malik yang berada di lantai dua rumahnya.
Setelah masuk ke ruangan itu, Aril menutup rapat pintunya. Kemudian ikut duduk bersama Tuan Malik.
"Ada informasi penting apa Ril?" tanya Tuan Malik to the point.
"Masalah Diana Tuan, saya sudah mengeceknya di lapas kota S. Ternyata Diana tidak pernah masuk ke lapas itu. Padahal jelas sekali di catatan di lapas sebelumnya kalau ada kepindahan Diana ke lapas kota S. Saya curiga ini adalah perbuatan si penjahat yang membantu Diana waktu dulu mau membunuh Alea. Dan kalau memang benar begitu, berarti penjahat ini bukanlah penjahat biasa. Karena bisa mengelabui polisi dengan surat palsu kepindahan Diana dengan mudahnya." jelas Aril.
"Jadi maksud kamu, Diana saat ini sedang berkeliaran.?!" Tuan Malik sedikit terkejut.
"Iya Tuan. Jadi mungkin saja kecelakaan yang terjadi pada Deni dan Alea dua tahun lalu, adalah perbuatan Diana." jawab Aril.
"Revan juga belum memberi kabar tentang penyelidikannya perihal mobil yang mungkin terlibat dengan kecelakaan itu." Tuan Malik menghela nafasnya pelan.
"Oh iya, besok hasil tes DNA akan keluar. Besok ikutlah ke rumah sakit untuk melihat hasilnya." lanjut Tuan Malik.
"Iya Tuan. Semoga hasilnya sesuai dengan harapan kita. Bahwa itu bukanlah Deni." jawab Aril.
"Ya, semoga saja." ucap Tuan Malik pasrah.
__ADS_1
....
Di ruang keluarga, Myli sedang main sendirian karena Alea sedang pergi ke dapur untuk menyiapkan cemilan untuk Myli.
Ponsel Aril yang tertinggal di meja berdering. Myli yang berada di dekat ponsel itu pun berinisiatif untuk mengangkat telfon yang masuk ke ponsel Aril.
"Halo." ucap Myli terlebih dahulu.
Belum juga mendapat jawaban dari sebrang, Myli sudah ditegur oleh Alea.
"Sayang, kamu lagi ngapain dengan ponselnya ayah?" tanya Alea.
"Ada telpon mom." Myli menyerahkan ponsel Aril ke mommynya.
Alea mengeryit, melihat panggilan itu atas nama Ika.
"Halo." Alea ingin menyapa si pemanggil. Namun belum juga mendapa jawaban, panggilan sudah terputus.
"Siapa Ika." gumam Alea. Kemudian meletakan kembali ponsel Aril di meja.
Tak lama kemudian Aril datang bersama Tuan Malik. Dan ikut bergabung lagi dengan Alea dan Myli.
"Lagi main apa sayang?" Aril ikut duduk Myli di karpet.
"Ili main puzzel yah. Baru dibeliin tama kakek."
"Memang Myli bisa menyusunnya?" Aril menggoda Myli.
"Hm, Ili kan anak pintal." jawab Myli dengan pedenya.
Alea tersenyum melihat interaksi antara Myli dan Aril. Dia jadi berandai jika Deni masih berada disampingnya, pasti akan jauh lebih bahagia hidupnya.
Alea teringat dengan ponsel Aril.
"Ril tadi ada telfon di ponselmu. Tak sengaja diangkat oleh Myli. Dan saat aku ingin menyapa dan memberi tahu kalau kau sedang bicara dengan papa, malah ditutup begitu saja. Siapa itu Ika?" Alea memandang Aril denga tatapan penuh selidik.
Aril langsung meraih ponselnya dan melihat panggilan yang masuk ternyata benar dari Ika. Aril tidak menjawab pertanyaan dari Alea, fokusnya sudah teralihkan pada ponselnya.
Aril terlihat gelisah saat panggilan telfonnya tidak dijawab. Alea yang melihatnya jadi bingung.
"Siapa Ika itu? Kenapa Aril begitu gelisah saat tahu tadi yang menelfon adalah Ika." ucap Alea dalam hati.
☘️☘️☘️☘️☘️
?????Lanjuut yuk ke part selanjutnya.
__ADS_1