
Sampai dirumah, Alea disambut dengan bahgia oleh seluruh anggota keluarga. Tak ketinggalan juga keluarga Ika dan juga Aril. Selain untuk penyambutan Alea yang kembali dari rumah sakit juga untuk merayakan kehamilan kedua Alea.
"Terima kasih semuanya sudah mau datang menyambutku." Ucap Alea dengan haru.
"Sayang selamat ya atas kehamilan kamu. Semoga selalu diberi kesehatan sampai kelahirannya." Ucap mama mertuanya.
"Amin, terima kasih ma." Jawab Alea.
Kemudian satu per satu orang memberikan ucapan selamat juga sepenggal doa untuk kesehatan juga kelancaran dalam masa kehamilan Alea nanti.
Semuanya telah duduk di ruang makan. Semua makan dengan senang, obrolan ringan dengan berbagai topik menghiasi makan siang mereka.
Alea masih setia duduk di kursi roda dengan didorong Bimo. Tentu saja itu semua keinginan Bimo, dan Alea lagi lagi tak bisa membantahnya apalagi keluarga mendukung Bimo. Alea hanya bisa mendengus kesal saat semuanya jadi over protektif kepadanya.
Bahkan saat masih ingin mengobrol dengan yang lain, Bimo memaksa Alea untuk segera istirahat. Alea pasrah saja.
Sesampainya di kamar, Alea langsung berdiri dan berbaring di ranjang. Tanpa peduli pada suaminya, yang baru akan mengangkatnya ke ranjang. Alea tidur membelakangi suaminya yang masih setia berdiri di samping ranjang.
"Sayang, aku keluar sebentar ya." Bimo menatap punggung Alea yang hanya diam, padahal dia tahu kalau Alea tidak tidur.
Bimo keluar kamar, duduk di dekat mamanya sendiri.
"Ma, ibu hamil memang gitu ya. Gampang marah?" Tanya Bimo.
"Iya, maklumi saja. Nanti kalau ngidam, minta makan aneh aneh juga di waktu yang nggak tepat pun. Usahakan untuk menurutinya ya. Jangan pernah marahin dia. Cukup nasihati baik baik jika dia melakukan hal yang salah. Intinya selalu bersikap lembut. Ok." Nasihat mamanya.
"Iya ma, apa dulu waktu hamil Myli juga seperti itu?"
"Dulu, dia hanya manja sama kamu. Terkadang malah minta makannya disuapin sama kamu. Mama nggak tahu detailnya kan kalian tinggalnya disini. Jarang nginep di rumah mama sewaktu Alea hamil."
"Aku jadi ingin ingatanku kembali ma. Aku ingin mengingat masa masa saat kami bersama dulu." Keluh Bimo sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Jangan terlalu bersedih. Kalau Allah mengijinkan semua ingatanmu akan kembali. Lagi pula, tanpa kamu mengingat kami di masa lalu. Kami tetap bahagia dengan adanya kamu disini. Kamu masih tetap anak kesayangan mama dan papa." Ucap mamanya sambil mengelus rambut anak lelakinya itu.
__ADS_1
Bimo bangun, menegak es sirup miliknya hingga tandas. Lalu pamit ingin ikut Alea istirahat.
"Semuanya, aku pamit ingin istirahat juga." Ucap Bimo beranjak dari duduknya.
"Kak, ini masih siang lho." Tegur Ika.
Bimo awalnya mengernyit tak mengerti namun setelah difikir sejenak dia mengerti maksud Ika.
"Emang kenapa?" Lalu Bimo menatap Aril.
"Ril, cepetan dihalalin. Udah kepengen tuh.." celetuk Bimo yang mengundang tawa semuanya.
"Uhuk uhuk.." Aril tersedak minumannya mendengar ucapan Bimo. Dia bukannya tak mau segera menikah. Namun Ika masih saja mau menundanya dulu.
"Kakak!!" Kesal Ika, lalu melempar kacang ke arah Bimo. Bimo hanya menjulurkan lidahnya, melenggang pergi.
"Benar yang kakakmu katakan. Kapan kamu siap menikah?" Tanaya Tuan Zian.
"Pa, masalah perusahaan masih belum clear. Nanti ya, setelah semuanya selesai aku pasti siap." elak Ika.
"Tuan tidak perlu mendesak Ika. Jika dirinya siap, kami akan segera menikah." Jawab Aril, menghindari semua orang memberi petuah pada Ika. Aril takut Ika merasa tak nyaman.
....
Bimo di dalam kamar mendekati Alea, ikut berbaring di sampingnya. Alea ternyata sudah terlelap. Posisi tubuhnya di miringkan lalu meraih tubuh Alea direngkuh dalam dekapannya. Tubuh Bimo yang memang agak lelah karena selalu siaga menjaga Alea saat dirumah sakit.
Satu jam berlalu, Alea dan Bimo masih asik dalam mimpinya.
"Mom, dad. Bangun!!" Teriak Myli yang sudah kangen dengan keduanya. Karena pada saat Alea datang tadi siang, Myli sedang tidur siang.
Alea mengerjab matanya, lamat lamat dia mendengar suara Myli. Bahunya digoyang oleh tangan mungil, Alea segera menoleh dan segera bersandar di kepala ranjang.
"Myli, anak mommy sayang." Alea merentangkan tangannya. Myli tersenyum lalu memeluk mommynya dengan erat.
__ADS_1
Bimo merasa terusik dengan suara juga gerakan di atas ranjang. Mulai terbangun dari tidurnya.
"Daddy!!" Teriak Myli saat melihat daddynya juga mulai membuka matanya.
Myli akan melompat ke arah Bimo, segera Bimo mencegahnya.
"Stop sayang. Nanti kena perutnya mommy." Myli kembali duduk, urung mendekati Bimo.
"Pelan pelan sayang, lewat sini." Bimo menunjuk arah kakinya. Myli menurut, bergerak pelan lalu melewati kaki mommynya dengan merangkak.
"Myli mau dengar kabar bahagia?" Tanya Bimo saat Myli sudah duduk di pangkuannya.
"Apa dad?"
"Didalam sini, ada calon adik untuk Myli." Tunjuk Bimo ke perut Alea.
"Benarkah? Kenapa harus disimpan diperut mom?" Tanya Myli yang tidak mengerti.
Alea dan Bimo terkekeh, bingung juga mau menjelaskan seperti apa.
"Myli, di dalam perut mom. Masih lah caon adik Myli. Dia harus tumbuh dulu dalam perut mom, nanti setelah perut mom jadi besar. Calon adik Myli juga akan ikut tumbuh jadi bayi yang sehat. Setelah waktunya tepat calon adik Myli akan lahir dan jadi adik Myli." Terang Alea. Untunglah Myli juga tak bertanya aneh aneh lagi.
....
Hari hari berlalu dengan damai. Tak ada lagi kerusuhan yang dilakukan oleh Diana. Kabar yang Bimo dengar, Diana meninggal saat kejadian penembakan waktu itu. Dan penjahat yang selama ini mendukung Dianapun tak peduli. Karena selama ini dia membantu Diana hanya sebagai imbalan untuk wanita itu karena telah menyerahkan seluruh hidup juga tubuhnya pada penjahat itu. Dan ketika Diana mati, maka tak perlu ada kepedulian lagi pikirnya.
Hubungan Aril juga Ika semakin tak dapat dipisahkan. Setiap ada kesempatan juga waktu mereka akan menghabiskan waktu itu bersama sama.
"Mas, aku bersedia jika memang kamu ingin segera menikah. Menikah di hadapan penghulu juga keluarga saja tak masalah bukan. Yang penting kita menikah." Ucap Ika dengan penuh keyakinan.
"Kamu yakin? Aku tak ingin kamu mengambil keputusan ini karena paksaan ataupun dorongan dari keluarga. Aku akan menikah denganmu jika memang hatimu sudah siap untuk menikah." Jawab Aril.
"Mas, aku benar sudah siap. Tidak perlu menunggu masalah perusahaan lagi. Sepertinya aku butuh lebih banyak waktu lagi untuk membenahi sistem keuangan perusahaan papa."
__ADS_1
"Baiklah. Segera mungkin aku akan menemui keluargamu untuk membicarakan pernikahan kita. Terima kasih ya." Aril mengelus pipi Ika yang sedang tersenyum.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...