
Alea mencoba untuk menghubungi rumah sakit. Dan memang ternyata suaminya sedang berada disana. Alea lega mendengar penjelasan dari resepsionis rumah sakit.
Alea menunggu kepulangan suaminya di ruang tamu. Alea sedikit heran, makin hari suaminya semakin sibuk. Padahal sudah tidak kuliah lagi. Hanya bekerja di kantor atau pergi ke rumah sakit.
Mungkin papa mertuanya memang memberi tanggung jawab yang besar pada suaminya, makanya suaminya jadi sibuk. Begitulah yang ada dalam fikiran Alea.
"Sayang, kamu makan dulu saja. Kasihan bayinya jika waktunya makan tapi kamu malah menundanya." ucap mama Alea.
"Sebentar lagi ya ma, aku masih mau nunggu Deni dulu. Kalau belum pulang juga, aku akan segera makan."
"Baiklah, mama tinggal ya. Mama sama papa makan dulu."
"Iya ma." jawab Alea sambil tersenyum.
Mama Alea kemudian pergi ke ruang makan, untuk makan malam bersama suaminya.
...
"Tuan, anda harus segera dirawat intensif. Kalau tidak infeksinya akan semakin menyebar. Ini sudah tidak bisa diatasi hanya dengan pil obat yang saya berikan." ucap dokter.
"Tidak bisa, aku masih harus menyelesaikan sesuatu sebelum terlambat."
"Tapi tuan.."
"Ini lebih penting dari hidupku. Jangan menghalangiku." dengan menatap tajam dokter itu tak berani berkata lagi.
...
Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya yang di tunggu pulang juga.
"Bee, kenapa nggak ngabarin aku sih.?"
"Aku khawatir tau." Alea langsung menyambut suaminya yang baru menasuki rumah.
"Maaf, tadi ponselku mati honey. Habis baterainya. Kamu sudah makan?"
"Belum, nungguin kamu."
"Memang anak aku bisa nahan lapar hon?" tanya Deni dengan menatap tajam istrinya.
"Maaf aku nggak selera makan, karena khawatir kamu belum pulang." Alea menunduk karena tau dirinya salah telah membiarkan anaknya lapar.
__ADS_1
"Ya sudah, tidak apa. Ayo sekarang makan, aku temani." Deni memilih untuk bersikap lembut lagi terhadap istrinya. Salahnya juga tidak memberi kabar sama sekali.
...
"Pagi anak daddy, sehat sehat ya kamu di dalam perut mommy. Nanti kalau kamu sudah lahir dan tumbuh besar, jadilah anak yang baik, dan selalu jadi kebanggaan daddy dan mommy. Jagalah mommy kamu setelah daddy tiada nanti." Deni terus mengusap dan mengecup perut Alea. Tidur Alea jadi terusik.
"Bee, kamu sudah bangun. Jam berapa ini?" tanya Alea masih menahan kantuknya.
"Iya, aku terbangun tadi. Masih terlalu pagi buat kamu bangun. Tidurlah lagi." ujar Deni kembali berbaring di samping Alea.
"Kamu juga bee." Alea memeluk erat Deni. Dengan mudahnya Alea kembali terlelap.
"Al, maafkan aku. Mungkin kita tak akan bisa menua bersama. Waktuku tak banyak lagi. Namun aku bahagia bisa bersama denganmu selama ini. Tak pernah sedikit pun aku menyesal setelah mengambil keputusan untuk bersanding denganmu. Aku mencintaimu, sangat. Semoga kamu masih bisa bahagia walau tidak ada aku suatu saat nanti. Aku hanya bisa berharap bisa melihat wajah malaikat kecil kita saat lahir ke dunia." gumam Deni dalam hati.
Deni kalut memikirkan masa depan anak dan istrinya kelak. Saat matahari mulai menampakan diri, Deni baru saja terlelap. Bahkan sama sekali tak terganggu dengan sinar matahari yang masuk melalui celah celah kain horden. Sedang Alea sudah terbangun, mengamati wajah suaminya.
"Bee, kamu pasti baru tidur. Kamu kenapa? Apakah sedang ada masalah? Kamu terlihat sibuk sekali dan lelah di wajahmu tidak bisa kamu sembunyikan." ucap Alea pelan.
Alea beranjak ke kamar mandi, menunaikan hajatnya yang rutin setiap pagi dilakukannya.Setelahnya dia pergi ke dapur.
"Pagi ma.."
"Mama ih, tahu saja kalau aku mau masak. Tapi kali ini ijinin ya ma. Aku ingin buatkan masakan spesial buat suamiku. Mumpung juga hari ini hari libur. Aku ingin memanjakan suamiku yang akhir akhir ini selalu sibuk. Dia kelihatan letih sekali ma." ucap Alea memohon.
"Ya sudah boleh, tapi tetap mama bantuin ya."
"Siap ma."
"Kamu mau masak apa?" tanya mama Alea.
"Aku akan buatkan sup ayam saja ma."
"Bagus, itu bagus untuk kesehatannya juga."
Alea memulai masak supnya. Dia memasak dengan sepenuh hati. Tiga puluh menit sudah dirinya berkutat dengan alat dapur. Akhirnya sup yang dibuatnya telah matang. Alea segera menghidangkannya di mangkuk dan langsung membawanya ke kamar.
"Bee, bangun yuk. Sudah siang lho."
"Sebentar honey, aku masih mengantuk." jawab Deni malas dan masih menutup matanya.
Alea kemudian mendekatkan masakannya ke depan wajah Deni. Asap dari sup yang masih mengepul menggelitik hidung Deni untuk menghirupnya. Deni dengan segera membuka matanya, ketika aroma sedap dari sup masuk ke indra penciumannya.
__ADS_1
"Kamu masak apa hon? Baunya enak sekali." ucap Deni sambil memposisikan diri untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Aku masak sup ayam. Ayo cuci muka dulu baru makan supnya." pinta Alea.
Deni dengan segera melakukan yang di pinta oleh istrinya.
"Hem, enak sekali honey. Aku habisin ya." Deni meraih mangkuk sup yang tadinya di pegang Alea, kemudian memakannya sendiri dengan lahap.
Alea tersenyum bahagia melihatnya. Suaminya selalu menikmati apa pun yang Alea masak untuknya.
"Bee, kamu terlihat lelah sekali. Apa ada masalah di kantor atau di rumah sakit?" tanya Alea setelah Deni menghabiskan supnya.
"Tidak honey, semua baik baik saja. Aku sedikit sibuk karena mengurus proyek hotel barunya papa. Mungkin karena sering bepergian mengecek proyeknya jadi aku kelelahan." jawab Deni dengan tenang.
"Oh iya, hari ini kan aku libur. Kamu mau pergi ke suatu tempat? Nanti aku yang akan mengantar." lanjut Deni.
"Tidak ada rencana apa pun bee. Lagian mumpung kamu libur, kamu harus istirahat saja di rumah." jawab Alea.
"Istirahatnya di kamar saja ya hon, ditemani kamu." Deni berkata sambil menaik turunkan alisnya memberi isyarat dengan senyum menggodanya.
"Bee, kalau di kamar terus bukannya capeknya hilang malah tambah.. Sudah ah, aku mau bawa ini ke dapur dulu." Alea menyudahi obrolan yang akan menjurus ke intim. Ini masih terlalu pagi untuk membahas yang seperti itu pikirnya. Jadi lebih baik dia segera kabur.
Deni yang melihat Alea keluar dari kamar mereka, terlihat bernafas lega. Namun tak menghilangkan ringisan kesakitan yang dia tahan dari tadi. Deni segera mencari obat yang selalu disembunyikannya. Setelah menemukan obat itu, Deni langsung menelan pilnya. Dan segera menyembunyikan lagi sisa obatnya.
"Aku harus kuat, demi Alea." gumam Deni saat dia sudah bisa mengatur nafasnya. Rasa sakit di dalam dadanya juga sedikit berkurang. Peluh terlihat membasahi dahi Deni.
"Bee, kamu kenapa? Kenapa berkeringat dingin seperti ini?" seru Alea saat mendapati suaminya yang terpejam seperti menahan sakit. Apalagi sampai berkeringat.
☘️☘️☘️☘️☘️
Bagaimana?? Apa Deni akan berterus terang pada Alea??
tunggu di episode selanjutnya ya..
🙏🙏🙏
terima kasih yang sudah setia selalu membaca cerita ini.
tinggalkan jejakmu, spya aku jg thu pndpatmu tntang kryaku..
love you readers setiaku😊😊😊😘😘😘🤗🤗🤗
__ADS_1