
"Jadi bagian mana yang ingin dirubah Pak?" tanya Aril.
Aril memperlihatkan desain rumah yang sebelumnya sudah disetujui oleh Pak Zian.
"Untuk lantai dua mas, anak saya menginginkan ada ruangan yang luas untuk dirinya. Dan dibuat kedap suara. Saya juga tidak tahu mau dijadikan apa ruangan itu. Jadi mas Aril hanya membuat ruangan yang itu saja biarkan kosong nantinya akan diisi furniturnya sama anak saya sendiri." jelas Pak Zian.
"Letakan ruangan itu di paling ujung sini, dan dua kamar utama disampingnya. Untuk yang lainnya sesuai desain yang sebelumnya tidak perlu ada yang dirubah lagi." lanjut Pak Zian sambil menunjuk gambar desain.
Aril langsung mengubah desainnya sesuai dengan yang diinginkan oleh Pak Zian.
"Seperti ini Pak hasilnya, bagaimana?" Aril menunjukan laptopnya dengan desain yang telah diubahnya.
"Ya mas Aril, ini sudah sesuai keinginan anak saya. Terima kasih sudah meluangkan waktunya. Maaf ya merepotkan mas Aril lagi untuk mengubah desainnya." ucap Pak Zian ramah.
"Ah jangan sungkan Pak, ini kan memang sudah tugas saya untuk membuat yang sesuai dengan keinginan klien." Jawab Aril sembari merapikan laptopnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu mas Aril." ucap Pak Zian.
"Ah iya Pak. Silakan."
Pak Zian beranjak dari duduknya, bersalaman dulu dengan Aril dan Nino kemudian pergi. Sebelum meninggalkan tempat Aril, Pak Zian menoleh ke Ika, disambut dengan anggukan dari Ika.
"No, pulang gih. Buruan di kirim itu desainnya ke bagian perencanaan." titah Aril.
"Yee.!! Alasan kerjaan lo pakai, bilang aja lo mau ngusir gue!! Mau berduaan kan lo sama tuh cewek?" Nino sewot, dirinya bahkan tidak ditawari pesan makan dulu sudah diusir. Minuman yang tadi dipesan saja belum habis.
"Nggak usah ngambek lo." Aril menoyor kepala Nino pelan.
"Pesen deh makanan apa aja, gue traktir. Gue mau nyamperin Ika dulu." Aril berdiri menghampiri Ika.
Nino langsung bersemangat lagi, dia segera memanggil pelayan dan memesan makanan. Mumpung ditraktir dia pesan agak banyak agar perutnya kenyang, sekaliyan ngerjain bosnya satu itu. Nino tertawa dalam hati.
Tampak Aril juga sudah pesan makanan. Tak berapa lama makanan yang dipesan sudah datang. Nino makan dengan lahapnya, Aril tak melihat sebanyak apa makanan yang ada dimeja Nino. Dia hanya fokus pada wanita cantik yang sedang menikmati makanannya. Sesekali Ika tersenyum saat bertemu tatap dengan Aril disela makannya.
"Ka, bagaimana kerjaan kamu?" tanya Aril saat sudah menghabiskan makanannya.
"Lancar mas, alhamdulillah." jawab Ika.
"Ka, boleh tanya hal pribadi tidak?" Aril menatap Ika dengan intens.
"Kalau bisa aku jawab akan aku jawab." Ika ikut menatap Aril dengan wajah serius.
"Emm, kamu sudah punya pasangan?"
__ADS_1
"Pasangan? Maksudnya?" Ika tak mengerti.
"Ya misal pacar, tunangan atau mungkin suami gitu." jelas Aril.
"Oooh nggak ada mas." jawab Ika dengan santainya.
Aril senang sekali mendapat jawaban dari Ika. Walau masih belum tahu pasti akan perasaannya ke Ika. Seutas senyum nampak di wajah Aril.
"Kalau mas Aril gimana?" tanya Ika kemudian.
"Aku juga jomblo." jawab Aril singkat dengan wajah yang sumringah. Ika mengernyit heran.
"Mas, baru sekali ini aku lihat. Orang jomblo bangga." ucapan Ika menyadarkan Aril. Aril hanya nyengir saja sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ril, gue cabut duluan. Nih kunci mobil lo. Aku duluan ya Ka." Nino datang berpamitan.
"Oke, hati hati lo." jawab Aril dan menerima kunci mobilnya.
"Iya mas Nino." balas Ika.
"Jangan lupa bayarin tuh makanan gue." ucap Nino sambil ngeloyor pergi.
"Siaap." Aril mengacungkan jempolnya.
"Eh nggak usah mas. Aku pesan taksi online saja." tolak Ika.
"Sudah jangan menolakku. Sekaliyan juga aku ingin tahu dimana rumahmu." kekeh Aril kemudian memanggil pelayan untuk meminta billnya.
Seorang pelayan datang membawa dua bill. Aril terkejut dengan nominalnya.
"Mas beneran nih, ini bill teman saya. Dia cuma satu orang loh mas.!! Masak bayarnya tiga kalinya saya yang berdua." Aril menggeleng tidak percaya.
"Beneran mas, teman mas tadi pesannya banyak juga yang termahal di cafe ini." jelas pelayan itu.
"Baiklah saya bayar,.." Aril menyerahkan kartu debitnya untuk digesek namun dicegah oleh Ika.
"Mas Aril, biar aku yang traktir. Gantian." ucap Ika.
"Jangan sekarang gantiin traktirnya. Keenakan Nino kalau ikutan kamu traktir. Biar aku saja yang bayar. Ini mas." Aril menyerahkan kembali kartunya.
Ika terlihat pasrah, niat hati ingin mentraktir gagal lagi.
Pelayan sudah kembali lagi dan menyerahkan kartu Aril.
__ADS_1
"Ini mas kartunya, terima kasih akan kedatangannya." si pelayan menunduk hormat.
Aril dan Ika kemudian pergi meninggalkan cafe itu. Dengan menaiki mobil Aril, Ika akan diantar pulang lebih dulu.
"Ka rumah kamu di daerah mana?" tanya Aril masih fokus pada jalanan.
"Daerah pasar baru mas. Tahukan?" jawab Ika.
"Iya tahu. Kasih arahan nanti kalau sudah dekat dengan rumahmu. Oh iya,. tingal sama siapa kami?" tanya Aril lagi.
"Iya mas. Aku sendirian, aku tinggal di tempat kos." jawab Ika.
"Oh begitu, memang kamu keluarga ada dimana?"
"Mereka tinggal di pinggiran kota ini, makanya saya ngekos untuk menghemat waktu dan juga uang untuk tranport."
"Eemm begitu. Ini sudah mendekati pasar baru. Kemana kosan kamu?" Aril bertanya lagi.
"Oh iya, lurus saja terus mas. Nanti ada perempatan belok kanan ya."
"Oke." jawab Aril masih melihat jalanannya.
Setelah mencapai perempatan, sesuai petunjuk Ika. Aril langsung membelokan mobilnya ke arah kanan.
"Nah itu didepan kosan aku mas. Itu yang bercat biru." tunjuk Ika pada satu rumah.
Aril menghentikan mobilnya di dekat gerbang tempat kos Ika.
"Aku masuk dulu ya mas?"
"Apa aku tidak diajak mampir dulu??" Aril menaik turunkan alisnya menggoda Ika.
"Nggak boleh mas, ini kosan isinya cewek semua. Jadi mas Aril tidak akan diijinkan untuk masuk ke dalam." tukas Ika.
"Iya iya, ayo masuk gih." pinta Aril.
"Terima kasih ya mas sudah mau mengantarku." ucap Ika saat sudah turun dari mobil Aril.
"Iya sama sama. Sampai jumpa lagi." ucap Aril lalu melambaikan tangannya. Ika juga membalas lambaiannya.
Aril melajukan mobilnya lagi membelah jalanan yang mulai sepi karena sudah mulai petang. Hari ini hati Aril serasa berbunga bunga setelah bertemu dengan Ika.
"Ya Allah, jika memang Ika adalah wanita yang Engkau takdirkan untuk mengisi hatiku kembali. Aku mohon selalu dekatkanlah kami. Namun kalau memang aku tidak berjodoh dengan dia, aku mohon jauhkanlah. Sebelum rasa ini terlalu besar untuknya ya Allah. Hambamu ini belum siap jika harus kehilangan kembali." doa Aril dalam hati.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️