
Alea yang sudah kelar mandi, segera keluar kamar mandi. Alea mendapati suaminya sudah terridur lelap.
"Bee.. bangun bee. Mandi gih.!" Alea mencoba untuk membangunkan Deni.
Deni hanya melenguh malas. Alea jadi gemas dibuatnya. Isengnya tiba tiba muncul. Dipencetnya hidung Deni hingga kehabisan nafas dan terbangun. Deni cemcerut karena dibangunkan dengan cara itu.
"Makanya bee, jangan susah banget kalau dibangunin. Mandi gih, kamu mau tidur pakai baju gini? Emang nggak gerah apa." perkataan Alea menghilangkan kekesalannya. Yang konek di otaknya hanya kalimat kamu mau tidur pakai baju gini yang dia artikan kalau Alea ingin Deni tidak pakai baju.
Pikiran Deni sudah membayangkan hal hal yang akan terjadi nanti.
"Bee, malah ngelamun sih. Mandi.." belum sempat Alea melanjutkan kalimatnya, Deni sudah melompat dari kasur dan bergegas masuk ke kamar mandi. Alea sampai terkaget dengan gerakan tiba tiba dari suaminya itu.
Setelah memakai baju tidurnya, tidak lupa juga Alea menyiapkan baju untuk suaminya. Alea segera merebahkan tubuhnya di kasur. Tak lama Alea sudah menjelajahi alam mimpinya.
Deni keluar kamar mandi hanya dengan melilitkan handuknya di pinggang. Dia mendapati istrinya sudah lelap tidur. Hilang sudah bayangan bayangan indahnya malam ini, yang ada hanya akan tidur saja.
Deni menghela nafasnya kasar, kemudian memakai baju yang sudah disiapkan Alea tadi. Setelahnya Deni ikut merebahkan tubuhnya di kasur bersama sang istri. Direngkuhnya tubuh Alea, Alea yang sedikit terusik kemudian memiringkan tubuhnya memunggungi Deni. Deni malah mempererat pelukannya dan mengecupi tengkuk Alea. Deni memang ingin membalas perbuatan Alea tadi.
Terdengar suara lenguhan keluar dari mulut Alea, jelas saja Alea semakin terusik tidurnya karena selain bibir Deni yang tidak beranjak dari tengkuk Alea. Tangan Deni pun tidak berhenti menjelajahi tubuh Alea dibalik baju tidurnya.
Mendengar suara Alea, tangan Deni semakin gencar menyusuri setiap inchi tubuh Alea bagian atas.
Alea yang sudah tidak tahan dengan sentuhan Deni segera membalikkan tubuhnya jadi berhadapan dengan Deni.
"Bee.."panggil Alea lembut sambil menatap manik mata Deni.
"Aku ingin.. boleh.?" tanya Deni lirih.
Alea hanya mengangguk saja mengijinkan suaminya meminta haknya. Dan selanjutnya yang terjadi tentu saja seperti yang dibayangkan Deni sebelumnya. Dia berhasil melakukan malam pertama sebagai pengantin yang sesungguhnya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Deni akhirnya tumbang juga, setelah bertempur hampir empat jam. Dan itupun sudah pelepasan yang kedua. Sebenarnya melihat tubuh polos istrinya Deni masih ingin lagi. Tapi melihat wajahnya yang sudah kelelahan membuatnya mengurungkan niatnya.
"I love you honey, makasih." ucap Deni sambil mengecup pipi Alea.
"Love you too bee." balas Alea dengan mata tertutup dan langsung saja terlelap dalam tidurnya.
Mereka tidur sambil berpelukan.
☘️☘️☘️
Mentari pagi sudah menjulang tinggi. Namun dua manusia yang bertubuh polos ini masih terlelap dalam tidur. Hingga ketukan di pintu kamarnya, membuat tidur mereka terusik.
"Siapa sih.." dengan mata yang masih setengah terpejam. Alea mencoba bangun namun Deni menahannya.
"Kenapa bee? aku mau bukain pintu."
" Kamu nggak akan bisa bangun. Lagian lihat tuh tubuh kamu polos gitu masak mau bukain pintu. Udah biar aku aja." ucap Deni segera memakai baju tidurnya yang berceceran di lantai. Tak lupa juga memunguti baju Alea.
Deni segera membuka pintu. Ternyata yang di balik pintu adalah orang tuanya.
"Paling cepet nanti siang pa, terserah Alea nanti maunya gimana." jawab Deni.
"Oh ya pa, seperti keinginan Alea sebelumnya. Setelah menikah kami akan tinggal dulu dirumah orang tuanya." lanjut Deni.
"Iya papa ngerti. Ya sudah papa pergi."
"Hati hati pa ma."
Papa Deni hanya mengangguk tersenyum saja. sedangkan mamanya mendekat dan memeluknya.
"Den, segera kasih mama cucu ya." bisik mamanya pelan setelahnya pergi meninggalkan dirinya. Deni hanya mengacungkan jempolnya pada mamanya.
__ADS_1
"Siapa bee??" tanya Alea setelah melihat Deni masuk kembali ke kamar.
"Papa sama mama aku. Pamit mau pulang." Deni mendekati Alea. Segera disibaknya selimut yang masih menutupi tubuh Alea tadi. Dengan sigap Deni langsung menggendong Alea.
"Bee..!!" pekik Alea kaget dengan tindakan Deni yang tiba tiba.
"Ayo mandi. Aku yakin kamu nggak bisa jalan kan." Deni mengucapkan itu sambil mengedipkan sebelah mata. Alea jadi merona dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
Di dalam kamar mandi, Deni menurunkan Alea untuk duduk dulu di closet. Kemudian mengisi bath up dengan air hangat setelahnya kembali mengangkat tubuh Alea dan meletakkan tubuh Alea ke dalam bath up.
Deni juga segera melepaskan seluruh pakaiannya dan ikut masuk ke dalam bath up. Karena kamar ini kamar paling istimewa di hotel ini maka bath upnya pun luas. Namun walau luas tetap saja Deni mepet terus ke Alea. Bahkan membuat alea untuk duduk diatasnya. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk mengulangi kegiatan panas mereka tadi malam.
Setelah acara mandi yang seharusnya mengurangi lelahnya, justru malah menambah lelahnya. Alea menghempaskan tubuhnya ke kasur lagi. Terlihat sekali wajahnya yang letih.
Deni berinisiatif untuk memesan makanan agar istrinya itu segera mengisi perutnya yang sejak pagi belum di isi. Dan sekarang sudah menjelang jam makan siang.
Setengah jam kemudian, makanan telah datang.
"Honey, ayo bangun makan dulu." Alea yang mendengar kata makan langsung bangun walau masih setengah mengantuk.
Deni dengan sabar menyuapi istrinya. Setelah dirasa Alea sudah kenyang baru dirinya makan. Alea terlihat lebih segar setelah makan.
"Honey mau pulang sekarang atau nanti sore saja?"
"Nanti saja bee. Aku masih ingin istirahat dulu, masih capek. Kamu sih nggak kira kira."
"Hehe, maaf. Abis kamu seksi." Alea mengerucutkan bibirnya.
"Udah jangan cemberut gitu, makin gemes tahu nggak. Jadi pengen lagi."
"Beeee..!!!" pekik Alea.
__ADS_1
"Nggak sayangku. Honey aku bercanda, sudah kamu tidur."
Alea mencebikkan bibirnya kesal. Tapi dia juga menuruti perintah suaminya untuk segera tidur.