
"Ihh kak Bimo, belum jelas ceritanya sudah kabur aja." kesal Ika, lalu mencari keberadaan orang tuanya di ruang makan karena memang sudah waktunya makan malam.
"Pa, Ma." sapa Ika.
"Ka, kok sendirian? Aril sama Myli kemana?" tanya mamanya yang tak melihat seorang pun berjalan di belakang Ika.
"Mas Aril langsung pulang ma, soalnya kasihan Myli sudah mengantuk." jawab Ika lalu ikut duduk di samping papanya.
"Makan gih." titah papanya.
"Nggak pa, sudah makan tadi di mall." jawab Ika hanya duduk menemani kedua orang tuanya yang melanjutkan makan malamnya.
Di kamar Bimo,
"Sayang ini makannya, ayo duduk sini." ajak Bimo duduk di sofa yang berada di sudut kamarnya.
Alea enggan untuk turun dari ranjang, malu dengan pakaian minimnya.
Tak mendapat jawaban dari Alea, Bimo tersenyum mengerti. Bimo lalu mengambil ponselnya, menelfon Ika untuk meminjami Alea piyama.
"Sebentar ya sayang, Ika akan datang kemari membawakan piyamanya untuk kamu."
Senyum Alea mengembang, perhatian Deni tak pernah berubah meski sekarang menjadi sosok Bimo. Selalu mengerti akan kebutuhannya tanpa harus dia mengucapkkan atau meminta.
Tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu, tanpa disuruh masuk dulu seseorang itu langsung diminta pergi oleh Bimo. Setelah Bimo menerima piyama yang dimintanya tadi. Dari suaranya, Alea mengetahui kalau itu adalah Ika.
"Ini pakailah." Biko menyerahkan piyama Ika.
Alea mengangguk dan pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Alea lega akhirnya dia bisa bergerak leluasa. Apalagi pakaian tidur Ika sangat nyaman dengan bentuk atasan juga bawahan yang berupa celana panjang.
Setelah berganti pakaian, Alea ikut duduk Bimo di sofa dan ikut menikmati makanan yang tadi dibawa oleh Bimo.
Alea makan sangat lahap. Dirinya memang sangat lapar, karena tadi siang tak sempat makan, hanya mengganjal perutnya dengan beberapa biskuit juga buah. Memang perut orang Indonesia, kalau belum makan nasi belum lah akan kenyang.
....
Bimo melewati malamnya hanya dengan mendekap tubuh Alea. Walau dia sangat ingin melakukannya lagi, Bimo tak ingin membuat Alea kelelahan. Dan pagi ini Alea sudah bangun terlebih dahulu. Alea memang sudah terbiasa bangun pagi.
Alea menuruni ranjang dengan perlahan, agar teman tidurnya semalam tak terusik. Alea pergi ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan sikat gigi. Alea kemudian pergi ke dapur. Disana sudah ada dua pelayan yang sedang mempersiapkan masakan untuk sarapan.
"Non, untuk apa non ke dapur,? Jika membutuhkan sesuatu panggil saya saja." ucap seorang pelayan saat melihat Alea masuk ke dapur.
"Tidak apa bi. Aku akan membuat teh. Tapi apakah semuanya suka minum teh dipagi hari?"
__ADS_1
"Tidak non, hanya nyonya dan den Bimo yang suka teh di pagi hari. Kalau tuan akan minum kopi, sedang non Ika biasanya akan minum jus buah, semua bersamaan saat mereka sarapan." jawab pelayan itu dengan sopan.
"Oh begitu, baiklah aku akan membuat teh hanya untuk mas Bimo saja dulu." Alea lalu menyeduh teh dan dibawanya ke kamar Bimo.
Ternyata Bimo sudah bangun,
"Sayang dari mana?" Bimo keluar dari kamar mandi lalu menghampiri Alea.
"Ini aku buatkan teh, minumlah." Alea mengajak Bimo duduk di pinggiran ranjang lalu menyerahkan secangkir teh yang dibawanya tadi.
Bimo menikmati teh buatan Alea. Sungguh Bimo ingin segera menikmati kegiatan seperti ini setiap hari. Tidur memeluk Alea, bangun pagi sudah disuguhi wajah cantik Alea dengan menyesap teh buatan Alea.
"Mas, aku pulang pagi ini ya." ucap Alea.
"Kenapa buru buru pulang sih?" gerutu Bimo.
"Mas ingatlah status kita sekarang ini di mata masyarakat. Aku tak ingin ada kabar buruk apapun tentang hubungan kita." Alea mencoba kembali menjelaskan.
"Iya, maafkan aku. Nanti aku antar ya."
"Tidak usah mas, kamu butuh istirahat."
"Jangan menolakku sayang. Sebenarnya kalau bisa aku sudah tak ingin lagi hidup terpisah sama kamu."
Setelahnya Bimo bergegas mandi. Tidak lupa Alea juga menyiapkan baju untuk Bimo. Lalu Alea kembali ke dapur, sekedar ingin membantu memasak untuk sarapan. Tapi namanya juga ada pelayan tetap saja yang utama memasak adalah pelayan. Apalagi nyonya besarnya sudah memperingati kalau Alea adalah calon menantunya, jadi pelayan tak ingin membuat Alea mengerjakan pekerjaan mereka.
Alea yang nerasa tidak begitu dibutuhkan di dapur kemudian mencari kamar Ika yang ssebelumnya sudah ditanyakan kepada pelayan dimana letaknya.
tok tok tok.. Alea mengetuk pintu kamar Ika.
Ika juga sudah bangun, penampilannya juga sudah rapi dengan setelan baju kantor.
"Eh mbak Al, selamat pagi.." sapa Ika dengan senyum ramahnya.
"Pagi Ka. Aku pinjam baju kamu dong. Baju santai saja ya." pinta Alea.
"Tentu, ayo masuk dulu."
Alea mengikuti Ika masuk ke kamar. Alea duduk di sisi ranjang, Ika segera memilihkan beberapa baju untuk diperlihatkan pada Alea.
"Yang mana mbak?" Ika menjejer beberapa baju di ranjang.
"Emm, sepertinya aku pakai ini saja." Alea memilih kaos juga celana jins.
__ADS_1
"Pilihan tepat, mbak Al pasti akan terlihat cantik walau berpakaian simple seperti ini." Ika membereskan kembali bajunya ke dalam lemari pakaiannya.
"Aku turun dulu ya, aku belum mandi." Alea akan beranjak keluar kamar Ika.
"Mbak Al mandi disini saja. Sekaliyan nanti pakai make up aku disini. Jadi mbak Al tidak perlu bolak balik kesini." pinta Ika, Alea membenarkan perkataan Ika.
Alea lalu mandi di kamar Ika.
Saat Alea mandi, Ika ijin untuk berangkat kerja duluan. Karena Aril sudah menjemputnya.
Setelah Alea mandi, dia memakai make up Ika seperlunya saja. Make up natural selalu jadi pilihan Alea, jika tidak berencana pergi kemanapun.
Setelah menyantap sarapan, Bimo mengantar Alea pulang. Tentu dengan syarat Alea tadi yang harus memakai sopir. Selanjang perjalanan tautan tangan keduanya tak pernah terlepas. Bahkan sesekali ciuman mendarat di punggung tangan Alea. Alea yang diperlakukan demikian sudah begitu merasa bahagia.
Sesampainya di rumah Alea, papa dan mama Alea menyambut kedatangan keduanya.
"Pagi pa, ma.." sapa Alea dan Bimo bersamaan.
"Pagi."
"Myli mana ma?" Alea langsung mencari keberadaan Myli, pasalnya kalau sudah lewat jam sarapan pasti Myli sedang main dengan kakek juga neneknya. Dan sekarang ini, Nyli tidak bersama kakek neneknya.
"Myli semalam sudah tertidur di jalan, Aril meminta ijin untuk mengajak Myli menginap dirumahnya. Apalagi dia tahu kalau kamu menginap di rumah tuan Zian. Aril khawatir Myli akan mencarimu." jawab mamanya.
"Oh begitu." Alea manggut manggut.
"Kalian sudah sarapan?" tanya mamanya.
"Sudah ma. Aku langsung pamit pulang saja. Sayang kamu istirahatlah." Bimo mengecup kening Alea.
Alea tersenyum, lalu Bimo pulang setelah pamitan pada semuanya.
....
Beberapa hari kemudian, ketiga keluarga bertemu. Hanya para orang tua saja. Untuk membicarakan pernikahan Alea dan Bimo. Agar juga tak terjadi berita yang tidak benar atas pernikahan dadakan ini. Akhirnya diputuskan, pernikahan akan dilakukan seminggu lagi. Dengan alasan perjodohan karena rekan bisnis. Agar perusahaan juga semakin besar jika bersatu sebagai keluarga. Alasan itu adalah alasan termudah. Apalagi saat tuan Zian menceritakan kalau Bimo sudah berhubungan dengan Alea, maka keputusan untuk menikahkan keduanya secepatnya adalah keputusan terbaik.
"Kita bagi tugas untuk mempersiapkan pernikahan ini." ucap Tuan Malik mengambil keputusan.
Diputuskan yang menyiapkan tempat pernikahan adalah keluarga Sanjaya, juga karena akan diadakan di hotel Sanjaya. Urusan pakaian pengantin dan undangan akan diurus oleh keluarga Wijaya. Dan untuk keluarga Tuan Zian hanya akan mengurusi makanan karena juga sebagai keluarga mempelai pria, tentunya akan banyak keperluan yang butuh dipersiapkan.
Apalagi waktu ke pernikahan hanya satu minggu. Pasti akan sangat sibuk sekali.
Alea dan Bimo tentu sangat bahagia mendengar kalau mereka akan menikah seminggu lagi.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...