Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Harus ditutupi dulu


__ADS_3

"Ayah? Mom? Maksudnya apa?" Alea nampak bingung. Aril juga takut ingin menjelaskan. Harus dia mulai darimana. Belum sempat Aril membuka mulutnya, semua keluarga datang dan berhamburan mendekati Alea.


"Alea sayang." ucap mamanya langsung memeluk dengan penuh kasih.


"Papa akan telfon dokter dulu." ucap Tuan Aran berlari kembali keluar.


"Ma, suamiku mana?" tanya Alea setelah melihat semuanya tidak nampak wajah suaminya.


"Emm," Nyonya Kartika bingung mau menjelaskan takut Alea akan syok.


"Nek, Ili juda lindu mom. Mau peyuk mom." Nyonya Kartika menyingkirkan tangannya, agar cucunya bisa memeluk momnya.


"Ayah dak lindu tama mom? tenapa dak peyuk mom juda?" ocehan Myli membuat Alea bingung.


Anak ini apa anakku? tapi kenapa panggil Aril dengan sebutan ayah. Deni kemana? Kenapa aku tak melihatnya? ucap Alea dalam pikirannya.


Aril tak menghiraukan perkataan Myli. Dia memilih untuk keluar dari ruangan itu, agar Alea tak terus bingung.


Tak lama, datanglah dokter yang dipercayakan untuk merawat Alea selama ini.


"Selamat siang semuanya," sapa dokter tersebut.


"Siang dokter."


"Mohon keluar sebentar ya, saya akan periksa keadaan Nyonya Alea."


"Myli ayo ikut nenek dulu. Biar Pak Dokter periksa mommynya Myli dulu." ajak Nyonya Kartika.


"Dak mau nek. Pak Dokter Ili mau di tini aja, temenin momnya ili." ucap Myli dengan memohon pada Dokter.


"Ya sudah, Myli cantik duduk diam saja disitu ya. Tidak papa Nyonya, tinggalkan saja. Myli kan anak pintar, pasti tidak akan mengganggu."


"Baiklah Dokter, saya keluar."


"Myli, jangan ganggu pak Dokternya ya?" ujar Nyonya Kartika memperingati cucunya. Myli mengangguk tanda mengerti.


Setelah yang lain keluar, Dokter mulai memeriksa Alea.


"Selamat datang Nyonya. Apa Nyonya Alea merasakan ada yang sakit?"


"Tidak dok, hanya lemas saja."


"Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan, besok saya akan kembali untuk memeriksa anda lagi."


"Dok, berapa lama saya tidur?" tanya Alea penasaran.


"Nyonya sudah koma selama dua tahun. Nyonya lebih baik anda jangan memikirkan hal yang berat berat dulu. Istirahat cukup dan makan bergizi akan segera memulihkan tenaga anda." nasihat sang Dokter.


"Pak Doktel, mom ili tudah tembuh kan?" tanya Myli dengan polosnya.


"Iya, momnya Myli sudah sembuh. Jagain mommy ya, pak Dokter mau keluar."


"Tiyap doktel." jawab Myli dengan gaya centilnya.


Dokter itu kemudian keluar dari kamar Alea.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Alea sekarang dok?" Tuan Aran bertanya lebih dulu ketika melihat dokter keluar.


"Nyonya Alea baik baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya lemas saja, mungkin efek dari tidur panjangnya. Pasti ototnya butuh perenggangan dulu. Ini resep obatnya, mohon diminumkan secara teratur samapi habis." Dokter itu memberikan secarik kertas resep obat.


"Syukurlah, terima kasih dok." ucap Tuan Aran.


"Oh iya, tolong untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jangan membuatnya banyak pikiran."


"Baik dok. Jadi apa perihal kematian Deni lebih baik di sembunyikan dulu?" tanya Tuan Aran memastikan.


"Lebih baik seperti itu. Kalau begitu saya permisi." Dokter membungkukan sedikit badannya lalu pergi.


"Sebentar, kita harus sepakat dulu. Apa yang akan kita katakan ke Alea perihal Deni." saran Tuan Aran.


"Menurutmu apa Malik?" lanjut Tuan Aran.


"Aku juga bingung." jawab Tuan Malik.


"Mas, bagaimana kalau Deni sedang dalam perjalanan bisnis keluar negeri. Kita katakan saja kalau perusahaan kita diluar sedang bermasalah jadi diharuskan Deni sendiri yang berangkat. Karena kamu sudah tidak mungkin bepergian gitu." ucap istrinya.


"Bagaimana menurutmu Ar?" Tuan Malik bertanya pada Tuan Aran.


"Oke, sepertinya meyakinkan."


"Ya sudah ayo kita masuk." ajak Mamanya Alea.


Kedua orang tua Alea dan Deni masuk ke kamar Alea.


"Bagaimana sayang? Mau makan?" tanya mertuanya.


"Deni sedang perjalanan bisnis keluar negeri sayang. Kamu jangan terlalu banyak bicara dulu. Tenaga kamu belum pulih."


"Baik ma."


Alea menuruti nasehat mertuanya. Dia mengistirahatkan tubuhnya lebih dulu.


"Myli, ikut nenek yuk. Biar mom istirahat dulu." ajak mama Alea. Myli menurut.


Setelah semua keluar, mereka kembali ke ruang tamu. Terlihat hanya ada Opa Sanjaya dan Aril. Yang lainnya sudah diminta untuk pulang oleh Opa.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Opa.


"Sudah membaik Pa, hanya lemas saja. Kata dokter tidak ada yang mengkhawatirkan, hanya saja." Tuan Malik menghela nafasnya pelan.


"Kita harus sembunyikan berita kematian Deni, agar Alea tidak syok." lanjut Tuan Malik.


"Lalu apa yang kalian katakan pada Alea?"


"Kami sepakat, mengatakan Deni sedang perjalanan bisnis keluar negeri."


Myli yang tadi di gendongan neneknya, turun dan segera berhambur ke ayahnya.


"Tuan Nyonya, maaf saya menyela. Tadi Alea beberapa kali mendengar Myli memanggil saya dengan sebutan ayah, dan memanggilnya mom. Dia terlihat bingung, bahkan sebelum kalian masuk ke kamar, Alea sudah bertanya kepada saya untuk menjelaskannya."


"Bagaimana ini pa.?" Mama Alea cemas.

__ADS_1


"Sepertinya memang kita tak bisa terlalu lama membohongi Alea. Tidak mungkin juga kita melarang Myli bertemu dengan momnya. Besok atau lusa, jika kondisi Alea semakin membaik. Kita harus menjelaskan kebenarannya." jawab Tuan Aran.


"Tuan Nyonya, sebaiknya juga saya tidak berkunjung kemari beberapa hari. Demi kesehatan Alea." ucap Aril yang disetujui semuanya yang berada disitu.


"Myli, jaga mom ya. Ayah mau pulang dulu." Aril mengecup kening Myli.


"Iya ayah." jawab Myli dengan sayang.


"Tuan Nyonya saya permisi dulu." Aril sedikit menunduk memberi hormat kepada semuanya.


"Hati hati kamu Ril." Tuan Malik.


"Baik Tuan." Aril beranjak pergi.


...


Menjelang makan malam, Myli menghampiri momnya di kamar.


"Mom, makan yuk." ajak Myli.


Alea tersenyum, mendengar anaknya begitu perhatian padanya.


"Sayang kesini.!" pinta Alea karena melihat putrinya hanya diam dipintu.


Myli mendekat ke sisi ranjang Alea. Setelah tadi siang Alea mau makan. Tenaganya sedikit terisi. Alea duduk dan bersandar ke bantal.


"Myli sayang, sini naik peluk mom."


Myli dengan senang hati naik ke ranjang Alea.


"Mom nanti saja makannya. Myli sudah makan?" tanya Alea sambil mengusap puncak kepala Myli. Myli hanya mengangguk.


"Myli, sudah berapa hari daddy pergi?"


"Dad dak pelgi mom. Dad ladi tidul." jawab Myli dengan kepolasannya.


"Tidur dimana? Kenapa daddy nggak kesini sayang?" tanya Alea yang merasa bingung dengan jawaban putrinya itu.


"Dad tidul di dalam tanah mom. Ayah bilang dad tudah di tulga."


Alea syok mendengar pernyataan putrinya. Alea langsung berteriak teriak.


"Tidak, ini nggak mungkin. Suamiku masih hidup. Ma..Mama..Papa.!!" teriakan Alea langsung di dengar oleh kedua orang tuanya.


"Ada apa sayang?" tanya Papanya kaget melihat anaknya berteriak bahkan sudah menangis.


"Pa, Myli bilang kalau dadnya sudah di surga. Apa maksudnya? Suamiku masih hidup kan??"


☘️☘️☘️☘️☘️


🙏🙏🙏 terima kasih yang sudah mau setia membaca ceritaku..


lanjut ya ke part selanjutnya...Mau tahukan bagaimana reaksi Alea setelah mendengar kebenarannya..


love you forever readers..😁😁😁🤗🤗🤗😭😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2