Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Pasangan romantis


__ADS_3

"Kak,, ngagetin aja sih." seru Ika lalu membenarkan duduknya yang tadinya dekat sekali dengan Aril, lalu sekarang agak menjauh.


"Ngapain kalian berduaan disini?" tanya Bimo.


"Emm, kita nggak ngapa ngapain." jawab Ika gugup. Sedang Aril memasang muka datarnya untuk menutupi malunya, karena tadi dia hampir mencium Ika.


"Alea mana?" tanya Aril tenang untuk mengalihkan pembicaraan.


"Istirahat di kamar." Bimo menjawabnya singkat.


"Kalian kalau mau bermesraan jangan disini, banyak orang. Disini kan hotel, masih banyak kamar kosong." lanjut Bimo tanpa beban menngucapkannya.


Ika membulatkan matanya, mendengar ucapan Bimo. Dengan cepat Ika menyambar tas tangannya untuk memukul lengan Bimo dengan keras. Hingga Bimo mengaduh kesakitan.


"Dasar kakak nggak ada akhlak,." gerutu Ika.


Bimo kemudian mengambil kursi dan duduk di tengah tengah Aril dan Ika. Membuat Aril dan Ika mengesah kesal, karena mereka harus menggeser kursi mereka. Dengan gerakan cepat, Bimo mengaitkan lengannya ke leher Ika dan Aril.


"Aduh, apaan nih." jerit Aril dan Ika bersamaan, kaget dengan perlakuan Bimo.


"Kalian cepatlah menikah. Aku tak akan ingin kalian terbawa nafsu hingga melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Mengerti??!!" Bimo lalu melepaskan cekalannya.


"Iya, aku akan menjaga Ika. Aku tak akan melakukan hal itu." jawab Aril.


"Iya kak, tenang saja. Itu tak akan terjadi." Ika meyakinkan Bimo.


"Aku harap kalian bisa menjaga kepercayaanku dan juga orang tua kita." ucap Bimo dengan tegas.


"Baiklah. Aku pergi dulu." Bimo lantas meninggalkan Aril dan Ika.


....


Malam datang...


Alea sudah siap dengan gaun pestanya, Bimo yang juga berada di kamar itu merasa kagum dengan penampilan istrinya. Memakai baju apapun akan selalu terlihat sangat cantik dimatanya.


"Tuan, Nona. semua sudah selesai, saya mohon undur diri." ucap seorang MUA yang merias Alea.


"Iya pergilah. Terima kasih." ucap Alea mempersilakan orang itu pergi.


MUA itu pergi dikuti dengan seorang asistennya.


"Sayang, kamu sudah siap.?" tanya Bimo yang sudah memakai pakaian senada dengan gaun Alea.


"Siap mas," jawab Alea kemudian mengalunkan tangannya ke lengan Bimo.


Keduanya jalan bersama menuju aula hotel, dekorasinya masih tetap sama, hanya penataan meja kursinya yang berubah. Di tengah aula sampai di depan pelaminan dibiarkan kosong, dari pintu masuk sampai ke tengah aula ada gelaran karpet merah.


Bimo dan Alea memasuki aula hotel. Seluruh lampu dimatikan dan sebuah sorot lampu yang mengarah ke keduanya. Semua mata nampak takjub dengan keserasian keduanya dengan senyum yang selalu terpampang di wajah pengantin.


Saat sudah berada di tengah aula, lampu masih tetap tak dinyalakan. Terdengar sebuah suara, yang sangat familiar di telinga keduanya.


"Selamat malam semuanya, malam ini pasangan pengantin baru kita akan mempersembahkan penampilan untuk kita semua. Waktu dan tempat kami persilakan, tuan dan nona."


"Apa ini mas? kita mau tampil apa?" bisik Alea ke telinga Bimo.


"Aku juga nggak tahu sayang. Ika ini mau ngerjain kita nih." Bimo langsung tahu dalangnya, karena jelas sekali tadi yang berbicara adalah Ika.

__ADS_1


Terdengar alunan musik, lagu terdengar romantis. Lagu dari penyanyi Calum Scott dan Leona Lewis, You are the reason.


Bimo perlahan mengeratkan tangannya ke pinggang Alea dengan berdiri saling berhadapan.


"Mas, apa kita akan menari?" Alea bertanya untuk memastikan. Bimo mengangguk lalu tersenyum. Alea menghela nafasnya pelan, lalu membalas senyum suaminya.


"Baiklah, aku percaya padamu mas."


Satu tangan tetap berada di pinggang Alea, satu tangan lainnya memegang satu tangan Alea dan mengangkatnya sebahu. Satu tangan Alea yang bebas diletakkannya di bahu Bimo. Perlahan Bimo menggerakan badan dan kakinya, Alea mengikuti gerakan Bimo.


Seluruh pasang mata mengamati keduanya yang tampak romantis. Apalagi saat setelah memutar tubuh Alea, Bimo menangkap tubuh Alea. Mengangkatnya lalu berputar bersama. Tepuk tangan bergemuruh di penjuru ruangan itu.


Bimo melanjutkan tariannya, Alea juga mulai menikmati gerakannya. Semua dilakukan dengan nalurinya. Bimo kembali mendekap Alea dari belakang tubuh Alea, Bimo mencuri kesempatan dengan mencium bahu Alea yang terbuka. Kemudian kembali melempar tubuh Alea agar berputar. Dan menariknya kembali untuk melakukan gerakan dasar dansa.


Sampai di akhir lagu, Bimo memutar tubuh Alea dan menangkapnya. Memegang satu kaki Alea dan mengangkatnya dan satu tangan menahan berat tubuh Alea, dengan posisi tubuh Alea yang miring ke belakang dan satu tangannya yang mengalung di leher Bimo.


Kembali tepuk tangan riuh terdengar. Alea agak lega saat lagu telah berakhir. Dirinya pertama kali tampil menari di depan banyak orang. Kalau bernyanyi sudah beberapa kali.


Lampu dinyalakan kembali, sehingga seluruh ruangan terang benderang.


"Sayang, kamu pandai juga ya menari." ucap Bimo setelah membenarkan posisi tubuh Alea untuk kembali berdiri di sampingnya.


"Aku sedikit gugup tadi mas. Untungnya ada kamu, jadi aku lebih tenang." jawab Alea.


Beberapa keluarga lalu mendekat ke arah Bimo dan Alea berdiri.


"Kalian sangat romantis saat berdansa tadi. Apa kalian sudah latihan sebelumnya? Mama sangat terkejut dengan tarian kalian tadi." ujar mamanya Alea.


"Tidak ma, ini semua ulah Ika. Kami pun tadi sangat terkejut." jawab Bimo.


"Entahlah, tadi papa lihat terakhir sedang duduk bersama Aril disana. Tapi entah kemana sekarang." jawab Tuan Zian.


Bimo menggeram kesal. Adiknya itu, selalu saja bisa membuatnya kesal, dengan ide ide konyolnya.


"Sudah mas. Nanti juga muncul anaknya. Nggak mungkin kan dia sembunyi terus." Alea mencoba menenangkan suaminya.


Seluruh keluarga kemudian berbincang santai, sambil menemui beberapa kolega bisnis yang menjadi tamu malam ini.


Alea nampak lelah setelah berjalan kesana kemari mengikuti keluarganya menemui tamu. Dia duduk di salah satu bangku kosong ditemani oleh Bimo.


"Tunggu disini ya, aku ambilkan makanan. Kamu belum makan sejak tadi siang." Alea mengangguk kemudian Bimo melangkah pergi ke meja tempat makanan.


Seorang pelayan menghampiri Alea yang duduk sendirian.


"Nona, silahkan." pelayan itu menyodorkan nampan berisi beberapa gelas minuman. Alea yang memang haus mengambil salah satu gelas. Lalu pelayan itu pergi.


Alea langsung menegak habis minuman itu. Lalu meletakan gelas kosong ke meja. Datanglah Bimo dengan sepiring penuh makanan.


"Mas, kamu ambil makanan kayak aku nggak makan seminggu aja sih. Banyak banget." protes Alea.


"Hehe, aku juga lapar sayang. Kita makan berdua ya."


"Hem ya baiklah." Keduanya mulai makan.


Belum juga makanan di piring habis, Alea merasakan ada gejolak di perutnya yang membuatnya ingin muntah.


"Mas, aku ke toilet sebentar ya."

__ADS_1


"Aku antar ya.." Bimo meletakkan piringnya ke meja.


"Tidak usah mas, sebentar saja kok. Tetaplah disini." tolak Alea. Bimo pun mengikuti perkataan Alea.


Bimo menghabiskan makanan itu. Kemudian kembali bergabung dengan keluarganya. Karena asyik berbincang hingga melupakan kalau istrinya belum kembali ke aula. Sampai sebuah pesan masuk ke ponselnya. Bimo langsung membacanya karena tertulis jelas, pesan itu dari istri tercintanya.


"Mas, aku merasa tak nyaman dengan perutku. Aku akan istirahat sebentar dikamar. Aku juga sudah meminta pelayan untuk membawakan aku obat. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan segera kembali."


"Aku temani saja ya." balas Bimo.


"Tidak perlu mas, nanti aku akan kembali kesana."


"Baiklah, hati hati. Jika terjadi sesuatu hubungi aku lagi." balas Bimo lagi.


"Iya mas."


Bimo memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong tuksedo yang dipakainya.


Bimo kembali berbincang dengan papanya. Membahas rencana selanjutnya setelah pernikahan. Bimo akan menjalankan perusahaan papanya sendiri walau tak menampakan dirinya langsung dengan memakai nama Alea.


Revan orang kepercayaan tuan Aran datang menghampiri Bimo, membisikan sesuatu ke telinga Bimo yang membuat Bimo mengernyitkan dahinya.


"Sebebtar ya pa." Bimo meninggalkan papanya.


Revan menunjukkan arah pada Bimo, menemui seseorang. Yang bekerja sebagai anggota keamanan disana.


"Ada masalah apa sampai membawaku kemari." tanya Bimo langsung.


Anggota keamanan itu memberikan sebuah map kepada Revan. Lalu Revan menunjukan pada Bimo.


"Saya melihat beberapa foto didalamnya tadi tuan. Saya merasa perlu menyampaikan ini kepada tuan."


Bimo membuka map itu dan mengeluarkan isinya. Sungguh sangat mengejutkannya. Foto foto itu menunjukan kemesraan Alea juga Aril, bahkan ada yang berpekukan mesra sampai berciuman. Bimo mengeraskan rahangnya menahan emosi.


"Dimana Aril?" tanya Bimo kemudian. Dia tak ingin emosi terlebih dahulu.


"Dari tadi saya tak melihatnya tuan." jawab Revan sedikit gugup.


"Bukankah acara ini juga tanggung jawabnya. Kemana dia pergi." kesal Bimo.


Bimo lalu merapikan foto itu dan memasukannya kembali ke dalam map. Ika datang menghampirinya.


"Kak, mas Aril kemana?"


"Mana aku tahu, dari tadi aku juga mencarinya. Bukannya dari tadi kamu bersamanya?" jawab Bimo sedikit kesal.


"Iya tadi, tapi ada seorang pelayan yang mengatakan kalau Myli mencari mas Aril. Dan dia atas suruhan mbak Alea. Terus mbak Alea dimana? Mungkin dia tahu dimana mas Aril." jelas Ika.


"APA?? Dia tadi bilang akan istirahat di kamar sedang tidak enak badan. Dan Myli, aku lihat dari tadi bersama dengan orang tua Alea jadi tak mungkin mencari Aril. Kamu mungkin..." belum sempat melanjutkan perkataannya. Ponsel Bimo kembali berdering. Ada sebuah pesan masuk. Dari nomor baru,


"Istrimu tak sebaik yang kamu pikirkan." itulah isi pesannya juga terdapat satu video.


Bimo langsung membulatkan matanya saat memutar video itu. Video berdurasi dua puluh detik itu mampu membuat Bimo kembali emosi, dia langsung membanting ponselnya dan berlalu pergi.


Ika sampai terkejut di buatnya. Mau bertanya ada apa pun tak sempat karena Bimo sudah pergi meninggalkannya.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2