Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Sedikit titik terang


__ADS_3

Benar saja, tak sampai sepuluh menit hembusan nafas Alea terdengar teratur. Membuktikan bahwa Alea sudah tertidur. Bimo tetap terjaga, masih ada hal yang harus dia cari tahu.


Bimo menelfon anak buahnya,


"Lepaskan Aril, dan berikan ponselmu padanya!" titah Bimo segera setelah tersambung.


"Baik bos."


"Halo Bim," terdengar sapaan dari Aril.


"Kalau kau ingin aku maafkan, sekarang cari tahu siapa dalangnya. Aku beri satu petunjuk, pelaku menggunakan ponsel Alea untuk mengirimkan aku pesan semalam. Dan ponsel itu masih hilang sampai sekarang."


"Baiklah, terima kasih sudah mau melepaskanku. Aku akan segera mencari pelakunya." ucap Aril nampak bersemangat.


"Hemm," jawab Bimo kemudian menutup telfonnya.


Terdengar ketukan pintu, Bimo segera membukanya. Ternyata makanan pesanannya yang datang.


Bimo sebenarnya tak tega membangunkan Alea. Tapi kasihan juga ini sudah lewat jam makan siang dan perut Alea pasti juga kosong. Terpaksa Bimo membangunkan Alea.


"Sayang..bangun.." ujar Bimo sambil membelai pipi Alea.


"Bee aku ngantuk." sahut Alea masih dengan mata terpejam.


"Memang kamu tidak lapar. Itu makanannya sudah datang. Ayo kita makan." Bimo mencoba memaksa.


"Nanti saja, aku lelah sekali, sepuluh menit saja. Ok."


"Ya baiklah." Bimo akhirnya menyerah. Membiarkan Alea kembali ke alam mimpinya.


....


Aril membersihkan dirinya dahulu, sebelum melaksanakan tugas yang Bimo berikan. Setelah itu dia pertama mencari keberadaan Ika dulu, dia ingat betul kalau semalam Ika pun salah paham.


Setelah mencari tahu keberadaan Ika dari orang tuanya. Aril langsung mendatangi Ika. Ternyata gadis itu masih bersembunyi di hotel Sanjaya. Tak sulit bagi Aril untuk mendapat akses masuk, karena dia di kenal sebagai salah satu orang kepercayaan Tuan Malik.


Aril menerima kunci duplikat dari salah satu karyawan hotel. Untuk jaga jaga kalau Ika tak mau membukakan pintu untuk nya.


Aril segera mencari kamar Ika yang berada di lantai 5. Kamar nomor 80 menjadi tujuannya. Aril mencoba mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. Aril memutar gagang pintu ternyata benar dikunci. Aril langsung memasukan kunci yang dibawanya tadi dan langsung memutarnya.


Ceklek..pintu terbuka. Tak ada suara ataupun satu pergerakan saat Aril memasuki kamar itu. Seperti tak berpenghuni saja. Aril terus melangkah menuju ranjang. Aril melihat ada seorang gadis yang meringkuk di atas ranjang.


Aril memutari ranjang agar bisa melihat wajah gadis itu. Saat melihatnya wajah Aril langsung sendu. Ika terlihat sangat berantakan. Kelopak matanya terlihat bengkak.


"Apa kamu menangis sejak semalam?" gumam Aril.


"Maafkan aku." ucap Aril setelah duduk di tepian ranjang, sambil membenarkan beberapa rambut yang menjuntai menutupi wajah Ika.


Aril ikut berbaring di ranjang itu. Diraihnya pinggang Ika perlahan lalu memeluknya erat dari belakang. Memberikan kenyamanan untuk Ika. Ika bahkan tak terusik, dia malah menikmatinya.


Aril sebenarnya sangat mengantuk, tapi takut untuk tidur. Dia takut kalau Ika terbangun saat dia tertidur, Ika akan kabur saat melihat dirinya.

__ADS_1


Lama kelamaan Ika terusik juga, karena tangan Aril semakin erat memeluknya.


"Uhh kenapa sesak sekali." Ika perlahan meraba perutnya. Dia mendapati sebuah benda melingkar di perutnya. Ika langsung terbelalak kala mendapati sebuah tangan yang melingkari perutnya.


"Siapa kamu?" Ika tak berani menoleh ke belakang.


"Tenanglah, aku tak akan berbuat macam macam." suara bariton yang sangat Ika kenal.


"Mas Aril. Ngapain kamu disini mas? Bagaimana kamu bisa masuk?" teriak Ika.


"Kamu lupa ini hotel siapa yang mengelola? Aku bisa mendapatkan akses semua kamar di hotel ini." ucap Aril dengan tenang.


"Sekarang keluarlah. Aku tidak mau diaentuh olehmu." teriak Ika lagi sambil terus berusaha lepas dari pelukan Aril dengan memukuli tangan Aril.


"Pukulah aku sepuasmu. Aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan. Dan soal semalam, aku pastikan tidak terjadi apapun antara aku dan Alea. Bimo sudah memberikan kepercayaannya padaku untuk mencari siapa dalangnya. Aku mohon maafkan aku yang sampai bisa masuk ke perangkap orang jahat." jelas Aril cukup membuat Ika berhenti memberontak. Aril sedikit mengendurkan pelukannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ika menciba untuk percaya pada Aril.


Aril menceritakan semuanya. kecuali yang hampir saja dia tergoda dengan setiap sentuhan Alea.


"Ka tolong rahasiakan kejadian ini dari orang tua kita. Aku tak ingin Alea dicap sebagai wanita penggoda. Sebelum semua jelas dan pelakunya aku tangkap." ucap Aril.


"Iya mas, aku bersyukur kamu yang dijebak, kamu dapat menahan hasrat kamu. Coba kalau pria lain. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kalau mbak Alea benar benar melakukan hal itu dengan orang lain."


"Ya sudah, sebentar biarkan seperti ini dulu. Aku sebenarnya sangat mengantuk." Aril mengubur wajahnya ke ceruk leher Ika. Ika pun tak menolak. Tak butuh waktu lama, sudah terdengar dengkuran halus dari Aril menandakan kalau dia sudah tertidur pulas.


....


Bimo mengajak Alea pulang ke kediaman Wijaya. Karena dirinya ingin bermain dengan putri kesayangannya.


"Assalamu alaikum..." ucap keduanya saat sudah memasuki rumah.


"Waalaikum salam.." jawaban dari suara sedikit cempreng khas anak kecil.


Myli langsung berlari ke arah keduanya.


"Mommy, daddy.." ucap Myli saat sudah berada di dekapan keduanya.


"Iya sayang. Anak mom yang cantik."


"Mom, dad. Mana adik aku?"


Bimo dan Alea mengerutkan dahinya dan saling melempar pandang.


"Adik?" Bimo memastikan.


"Iya, adik. Tadi pagi kakek bilang kalau mom dan daddy yang tidak ikut pulang semalam karena ingin memberikan Ili adik. Sekarang


mana adiknya."


"Emm, mas gimana jelasinnya?" bisik Alea kepada Bimo.

__ADS_1


"Aku juga bingung sayang." jawab Bimo seenaknya membuat Alea harus berfikir keras bagaimana menjelaskan pada putrinya yang rasa ingin tahunya sangat tinggi itu.


"Myli, adik myli belum diberikan oleh Allah. Mungkin Allah masih belum percaya kalau Myli bisa menjaga adiknya." jelas Alea.


"Tapi Ili bisa menjaga adik mom. Aku akan selalu menyayanginya."


"Tapi Myli sudah berdoa belum sama Allah untuk memberikan Myli adik?"


Myli menggeleng.


"Ya sudah sabar dulu ya sayang. Myli harus sering berdoa sama Allah. Agar Myli cepat punya adik." sekarang Bimo yang menasehatu.


"Myli dimana kakek sama nenek?" tanya Alea kemudian agar mengalihkan pembicaraan Myli tentang adik.


"Tidak tahu mom, sejak aku bangun tidur siang. Aku tak melihat kakek sama nenek."


"Ya sudah sekarang kita main yuk. Daddy kangen sekali sama kamu." Bimo meraih tubuh Myli ke dalam gendongannya.


Mbak Asih tampak tersenyum melihat nonanya tersenyum riang bersama keluarga kecilnya yang kembali utuh.


...


Setelah mengantar Ika pulang, Aril langsung memulai tugasnya. Aril meminta kepada beberapa anak buahnya untuk membantunya menyelidiki masalah ini secara diam diam. Dan juga kepada Revan asisten dari tuan Aran. Orang itu sangat bisa diandalkan untuk menangangi masalah seperti ini.


Aril meminta bertemu dengan Revan untuk membicarakan masalah ini. Karena Revan masih kembur di kantor jadilah Aril menyusulnya ke kantor perusahaan Wijaya.


"Malam tuan Revan." sapa Aril saat memasuki ruangan Revan.


"Hemm, duduklah." Revan berdiri dari kursinya untuk ikut duduk di sifa ruangannya.


"Ada apa?" tanya Revan langsung.


"Begini tuan.."


"Stop memanggilku tuan. Aku ini bukan atasanmu." titah Revan.


"Begini mas, kau sudah tahu masalah semalam kan. Antara diriku juga nona Alea."


Revan mengangguk.


"Aku butuh bantuanmu untuk mencari tahu siapa pelakunya. Mas punya kenalan orang yang ahli di bidang IT?"


"Sepertinya punya, apa tugasnya?"


"Ponsel nona Alea kemungkinan masih dibawa oleh pelakunya. Jadi minta dia untuk mencari tahu keberadaan ponsel Alea. Juga cctv di hotel, suruhlah untuk meretasnya. Karena aku tidak mungkin menyelidiki ini terang terangan. Aku takut masalah ini di ketahui oleh keluarga besar."


"Ok, akan aku katakan padanya nanti. Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Revan kemudian.


"Aku sedang mencari keberadaan Diana. Bukankah dia masih berkeliaran diluar sana. Wanita itu seperti belut. Susah sekali ditangkapnya."


"Aku akan membantumu."

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2