Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
My Little Princess


__ADS_3

Seminggu sudah setelah kecelakaan, Alea masih setia untuk tertidur dengan nyamannya di tempat tidur rumah sakit. Setiap hari juga Aril menjenguknya. Sekedar memberi semangat, meski masih belum mendapat respon.


Saat ini, semua keluarga telah berkumpul atas permintaan pengacara keluarga Sanjaya. Disana sudah ada Opa Sanjaya, Tuan Malik beserta istrinya juga, Tuan Aran yang datang sendiri karena istrinya tak mau meninggalkan putrinya sendirian di rumah sakit. Dan tentu saja sesuai perkataan pengacara tempo hari, Aril pun turut hadir disana.


"Baiklah karena sudah semua berkumpul. Saya ingin menyampaikan pesan terakhir dari mendiang mas Deni."


Pak Doni membacakan surat yang dituliskan Deni untuk keluarganya. Isi surat itu menjelaskan tentang penyakit yang di deritanya. Infeksi pada paru paru akibat luka tembakan saat Alea diculik oleh Diana. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan, jalan satu satunya adalah donor paru paru. Tapi tentu tidak mudah mendapatkan paru paru yang cocok dalam waktu singkat.


Karena Deni merasa waktu hidupnya tidak lama lagi, jadi dia sudah mempersiapkan segalanya untuk masa depan istri dan anaknya. Deni meminta keluarga menyetujui menjodohkan Alea dengan Aril. Di dalam surat itu juga menjelaskan masa lalu yang pernah di jalani Aril dan Alea. Deni juga meminta keluarga menyetujui pemindahan kepemilikan saham di perusahaan sebagian untuk Aril.


Mama Deni sangat bersedih, dirinya tak menyangka jika anaknya begitu menderita. Karena harus menahannya sendirian tanpa ingin memberi tahu orang lain tentang keadaannya.


Deni sudah mempersiapkan segalanya, walau kenyataannya dia tidak meninggal karena sakitnya. Bahkan lebih cepat Allah mengambil nyawanya melalui kecelakaan itu.


"Bagaimana menurut kamu Aril?" tanya Tuan Aran.


"Saya tidak bisa mengambil keputusan ini sendiri Tuan, apalagi Alea juga masih dalam keadaan koma. Dan untuk kepemilikan saham, saya tak menginginkannya tuan. Biarlah itu tetap atas nama Alea atau anaknya saja. Saya tidak pantas memilikinya." ucap Aril dengan tegas.


"Baiklah, jika itu keputusanmu. Kami tidak mungkin memaksamu. Dan memang lebih baik menunggu kesadaran Alea." sambung Tuan Malik.


"Kalau aku boleh berpendapat, nak Aril. Aku ingin kamu jadi sosok ayah untuk cicitku, walau kamu tidak mau menikah dengan Alea nanti. Berikan perhatianmu selayaknya ayah kepada cicitku, apalagi ibunya masih koma seperti ini." pinta Opa Sanjaya.


"Tentu tuan, itu sama sekali bukan masalah. Saya akan menyayangi putri Deni dan Alea dengan sepenuh hati."


"Terima kasih." ucap Opa.


"Baiklah karena mas Aril menolak, jadi tugas saya mesti tertunda dulu. Menunggu nona Alea sadar." ucap Pak Doni kemudian berdiri akan pergi.


"Ya sudah saya permisi dulu."


"Terima kasih pak."


...


Aril pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Alea dan bayinya. Aril melihat dulu bayi Alea yang masih dirawat di ruang bayi.


Terlihat olehnya bayi Alea sedang ditimang oleh seorang perawat sambil meminumkan susu formula.

__ADS_1


"Suster, apa saya boleh menggendongnya?" tanya Aril.


"Boleh mas, tapi sebentar saja ya." jawab Suster itu kemudian menyerahkan bayi Alea ke dekapannya.


"Hai sayang, om datang lagi. Mulai sekarang om akan jadi ayah untukmu. Doakan ibumu ya, semoga dia segera bangun dari tidurnya." Aril mengecup kening bayi Alea dengan sayang.


"Terima kasih ya sus, saya pergi dulu." Aril menyerahkan bayi Alea ke suster. Aril mengusap pipi bayi mungil itu.


"Ayah pergi dulu, ingin melihat keadaan ibumu."


Aril meninggalkan ruang bayi itu. Segera pergi ke ruang rawat Alea.


"Selamat sore nyonya." sapa Aril pada mamanya Alea.


"Sore Ril,"


"Apa ada perkembangan pada Alea nyonya?"


"Belum ada sama sekali." jawab mama Alea dengan nada putus asa.


"Aril, jaga Alea ya, saya ingin keluar sebentar." lanjut mama Alea.


Setelah mama Alea keluar, Aril duduk di samping Alea.


"Al, Sampai kapan kamu akan terus tidur? Apa kau tidak ingin melihat putrimu? Kau tahu aku sudah menggendongnya setiap hari. Apa kau tidak ingin menggendongnya juga?"


Tidak ada respon apapun dari Alea. Aril menghela nafasnya pelan.


"Alea, cepatlah bangun. Aku membutuhkanmu. Anakmu membutuhkanmu. Semua membutuhkanmu."


"Putrimu yang cantik itu belum kamu namai kan? Kamu ingin memberi nama siapa? Semua menunggu kamu bangun untuk memberinya nama."


Aril menyerah, Alea tak memberi respon apapun.


...


Setelah sebulan koma, keluarga memutuskan untuk merawat Alea di rumah saja. Untuk memudahkan merawat Alea dan bayinya bersamaan. Karena bayinya juga sudah dibawa pulang oleh sang nenek. Setiap hari, setelah Arill pulang dari bekerja, dirinya akan selalu mampir ke rumah Alea untuk menjenguknya.

__ADS_1


Seperti sore itu.


"Halo, my little princess. Ayah belikan boneka buat kamu." Aril melakukan semua itu dengan senang hati. Walau anak itu bukanlah anaknya, namun kedua orangtuanya sudah seperti saudaranya. Makanya Aril sangat menyayangi putri Deni dan Alea.


"Ril, kamu itu. Myli umurnya dua bulan saja belum genap sudah kamu belikan boneka. Memang bisa maininnya." sahut Mama Alea yang baru datang kembali dari dapur.


"Tidak apa apa nyonya, karena kebutuhan Myli sudah semua tercukupi. Saya jadi bingung ingin membelikan hadiah apa untuk Myli, jadilah saya belikan boneka ini." jawab Aril sambil menggoda Myli yang di pangku oleh baby sisternya di depan Aril.


"Cukup perhatian kamu sebagai ayahnya itu sudah cukup Ril." ujar Mama Alea ikut duduk di dekat Myli. Aril menanggapinya dengan senyuman.


"Sini mbak, saya mau gendong." pinta Aril.


Aril membawa Myli berjalan jalan di taman belakang rumah Alea.


"Sayang, lihatlah. Kakek sedang berkebun, kita ganggu yuk."


"Selamat sore kakek," suara Aril menirukan suara anak kecil, yang mengagetkan Tuan Aran yang sedang sibuk merawat tanamannya. Tuan Aran langsung menoleh.


"Wah cucu kakek, sudah cantik sudah wangi. Senang ya di gendong ayah ya." ucap Tuan Aran melihat wajah mungil cucunya selalu nampak tersenyum di gendongan Aril. Kemudian dia membersihkan tangannya dahulu yang penuh tanah.


Aril duduk di gazebo, masih dengan bercanda dengan Myli. Tuan Aran menghampirinya.


"Bagaimana pekerjaanmu Ril?"


"Lancar Tuan, bahkan keuntungan hotel bulan ini meningkat. Mungkin karena musim liburan, jadi kamar hotel sering penuh."


"Syukurlah jika lancar, saya turut senang."


"Terima kasih Tuan, ini mungkin memang rezeki buat Myli. Iya kan nak, ayah akan dapat bonus besar dari kakek Malik, kalau hotel memberi keuntungan besar, jadi ayah bisa memberi banyak hadiah buat Myli."


Myli terus tersenyum mendengar ocehan Aril. Tangannya bahkan tak berhenti bergerak seolah ingin meraih sesuatu.


☘️☘️☘️☘️


Otak lg agak ngeblank, nulisnya jadi gak fokus.. maaf kalau nggak dpt feel di part ini.


Semoga besok bsa lbh fokus lagi. jangan bosan untuk membaca ya,. tinggalkan jejak, like komen, vote juga boleh banget.

__ADS_1


Pokoknya buat pembaca love you forever😊😊😊😘😘


__ADS_2