
Alea sedang membereskan baju bajunya ke dalam koper, untuk persiapan kepindahannya nanti. Setelah selesai, Alea pergi ke kamar opa Deni.
"Opa.." panggil Alea.
"Iya, ada apa sayang?" tanya Opa.
"" Tidak, hanya ingin mengobrol saja." ucap Alea. "Opa, terima kasih ya selama ini sudah mau menampungku dan ibuku disini, bahkan Opa juga membiayai kuliahku. Opa mempeelakukanku seperti cucu Opa sendiri. Terima kasih." lanjut Alea.
"Opa melakukan semuanya karena opa tahu kalau Deni sangat menyayangimu. Dan lagi setelah bertemu denganmu dan mengenalmu, Opa jadi bisa melihat kebaikan dan ketulusanmu itulah sebab Opa bisa menyagangimu lebih dari Deni cucu Opa sendiri." jawab Opa.
"Opa, aku sangat menyayangimu, setelah pindah nanti aku akan sering sering mampir kesini untuk menjenguk Opa."
"Iya, Opa juga sangat menyayangimu. Pergilah bersiap, bukankah kemarin ayahmu mengajakmu pergi?"
"Ah iya, aku lupa Opa, baiklah aku permisi dulu Opa." kata Alea.
Opa hanya menganggukkan kepalanya. Alea kemudian pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia memilih gaun yang dibelikan Deni waktu itu. Alea memandang pantulan tubuhnya di cermin. Alea terlihat anggun dan cantik. Tak lupa Alea juga meoles make up tipis untuk menambah kecantikannya yang natural.
Setelah selesai, Alea segera turun ke lantai bawah, karena telah ditunggu oleh orang suruhan Papanya. Deni yang sedang duduk di ruang keluarga terpana melihat kecantikan Alea. Sekilas dia tersenyum melihat gaun yang dipakai Alea adalah gaun pilihannya waktu itu. Sangat pas di tubuh Alea, yang terlihat semakin cantik.
Ehemm ..Alea berdehem untuk menyadarkan Deni dari tatapannya terhadap Alea. Deni yang sadar malah melebarkan senyumnya.
Alea bergidik ngeri melihat Deni yang sedari tadi senyum senyum terus.
"Den sadar, kamu kesambet ya. Senyum terus gitu atau kamu sudah mulai gila." ucap Susan perlahan mendekati Deni.
"Ngawur!! Masih waras aku." kesal Deni dengan Alea yang mengatai dia gila.
"Ya habis, kamu senyum senyum terus bikin aku ngeri lihatnya." kata Alea sambil terkekeh pelan. "Ya sudah aku mau pergi dulu, Papa sudah menungguku. Bye."
"Tunggu," ucap Deni menghentikan langkah Alea.
"Ada apa?" tanya Alea.
"Boleh aku ikut. Aku bosan dirumah, hari ini kan libur kuliah."
__ADS_1
"Hah kau ini, sebentar aku tanya dulu orang Papaku." kata Alea melangkah keluar menemui orang Papanya.
"Oke."
Tak lama Alea masuk lagi. "Cepatlah, kalau lama aku tinggal." ujar Alea setelahnya melenggang pergi keluar lagi.
Sepuluh menit kemudian Deni datang, tampilannya membuat Alea terpesona.
"Tak ku sangka dia bisa setampan itu." batin Alea.
Setelah Deni ikut masuk mobil, orang suruhan Papa Alea segera melajukan mobilnya.
Alea di antarkan ke kantor Papanya, Alea takjub dengan gedung perusahaan milik Papanya. Bangunan itu menjulang tinggi, entah ada berapa puluh lantai.
Alea dan Deni turun dari mobil, dan mengikuti orang yang telah menyambutnya. Dia memperkenalkan diri sebagai asisten dari Papa Alea.
"Selamat datang nona, saya Revan asisten tuan Aran. Silahkan nona dan tuan ikuti saya."
Asisten Papanya mengetuk pintu, setelah mendengar jawaban dari dalam, dia membuka pintunya dan mempersilakan Alea dan Deni untuk masuk.
"Papa." ucap Alea mendekati Papanya yang duduk di kursi kebesarannya.
"Sayang kamu sudah sampai, duduklah dulu, sebentar Papa akan menyelesaikan ini." jawab Papa Alea menyahuti anaknya.
Alea mengangguk, dan kemudian duduk di sofa di depan meja kerja Papanya. Deni pun ikut duduk di samping Alea.
"Al, aku tidak menyangka kalau Papa kamu sekaya ini. Aku harap kamu nanti tidak menyombongkan semua yang kamu miliki." ucap Deni.
"Apa aku terlihat akan bertingkah seperti itu?" tanya Alea.
"Tidak, aku hanya mengingatkan saja."
"Semua ini kan milik Papaku, aku tidak akan membanggakan sesuatu yang bukan dari hasil jerih payahku sendiri." kata Alea.
Papa Alea mendengar ucapan putrinya itu, dia merasa bangga karena sikap putrinya yang seperti itu.
__ADS_1
"Alea, ikut Papa. Papa ingin memperkenalkan kamu ke semua karyawan dan rekan bisnis Papa." ucap Aran jalan mendekati Alea.
"Ah, tapi aku malu Pa, nanti pasti aku akan Papa buat jadi pusat perhatian semua orang." keluh Alea. Papanya tersenyum mengerti kalau putrinya itu tidak percaya diri.
"Apa yang perlu kamu malukan, kamu cantik. Sudah ayo, tidak apa apa." ajak Aran.
Alea menghela nafasnya pelan, kemudian mengikuti langkah Papanya keluar. Saat sudah keluar ruangan, Papa Alea balik masuk lagi.
"Den, kenapa kamu masih diam duduk disitu?" tanya Aran di ambang pintu.
"Ehh, Tuan Aran, saya tunggu disini saja." kata Deni.
"Tidak, kamu ikut saya. Dan lagi jangan panggil saya Tuan, kamu itu bukan bawahan saya. Panggil Om saja." perintah Papa Alea.
"Baik Om." ucap Deni berjalan mengikuti Papa Alea dan Alea.
Papa Alea membawa mereka berdua memasuki ruang rapat. Disana banyak sekali orang. Dari sekian banyaknya orang disana, ada seorang yang sepertinya tak asing bagi Alea. Dia merasa pernah melihatnya.
"Selamat siang semuanya. Saya langsung saja, tujuan saya mengumpulkan kalian semua disini, karena saya akan memperkenalkan putri saya yang telah lama menghilang. Ini dia Alea Putri Wijaya. Nona muda keluarga Wijaya. Dan kelak akan menjadi penerus perusahaan ini." ucap Tuan Aran menunjuk Alea yang berdiri di sampingnya. Alea membungkukkan badannya memberi hormat pada semua yang ada disana.
"Dan iya, saya ingin memperkenalkan seorang lagi." Aran menyuruh Deni untuk mendekat.
"Ini adalah Deni Angga Sanjaya, cucu dari tuan Sanjaya, dan putra dari tuan Malik Sanjaya." ucap Papa Alea. Deni membungkukkan badannya memberi hormat pada semuanya." Tuan Malik, kemarilah."ucap Papa Alea, yang mengejutkan Deni. Dia tidak sadar kalau Ayahnya juga ada disini. Ayah Deni menghampiri Papa Alea.
"Tuan Malik bagaimana kalau kita besanan." ucap Papa Alea.
"Kalau saya mau saja, Tuan Aran. Ya tapi terserah mereka saja. Saya tidak ingin memaksakan kehendak saya." jawab ayah Deni.
"Baiklah, bagaimana Deni Alea kalian mau?" tanya papa Alea.
"Papa,." Alea, sudah malu untuk menjawab. Deni kemudian mengeluarkan suaranya.
"Om, biarkan kami menyelesaikan S1 dulu. Biarlah berjalan apa adanya. Bila memang kami berjodoh, nanti kami pasti akan bersatu."
"Tuan Malik, sepertinya aku masih akan menunggu lama untuk bisa menimang cucu." kata Papa Alea sambil tertawa, ayah Deni juga ikut tertawa. Alea merasa malu dengan perkataan papanya, pipinya sudah berwarna merah seperti tomat. Sedang Deni hanya tersenyum saja.
Kemudian Papa Alea mengajak ketiganya untuk mengobrol lagi di ruangannya. Obrolan mereka tak jauh dari bisnis yang mereka jalankan. Sesekali Papa Alea menggoda Alea dan Deni. Membuat keduanya malu malu.
__ADS_1