
Deni diantar Alea ke kamar tamu, untuk ganti baju.
"Al, ambilin baju aku donk di bagasi mobil ada." pinta Deni. Alea mengangguk saja kemudian pergi.
"Makasih honey." ucap Deni saat menerima bajunya dari Alea.
"Hm, cepat ya. Aku tunggu dimeja makan." kata Alea dan menutup pintu kamar itu kemudian menjuju ke ruang makan.
Disana papa dan mamanya sudah duduk manis sesekali mengobrol.
"Pa, Ma." sapa Alea kemudian duduk disamping mamanya.
"Iya sayang." sahut papanya.
"Oh iya pa, tadi mama bilang kalau opa mau kesini. Ada urusan apa?" tanya Alea yang ingin tahu.
"Tentang pernikahan kamu." jawab papa Alea tapi papanya itu mengisyaratkan untuk diam dengan jari telunjuk menutup mulutnya. Alea mengerti mungkin yang mau dibicarakan tentang keselamatan dirinya yang mulai terusik.
"Oh gitu, ma minggu depan aku fitting baju sekaliyan foto pre wed. Enaknya foto prewednya di studio aja kali ya ma. Kan jadi menghemat waktu." jelas Alea.
"Mama setuju saja. Asal kamu bahagia." jawab mamanya sembari tersenyum.
"Makasih mamaku yang cantik."
Tak lama Deni menyusul ikut duduk di ruang makan.
"Malam Om." sapanya.
"Malam Den, ya sudah mari kita mulai makannya." jawab papa Alea kemudian mereka memulai makan malam mereka.
Setelah selesai makan malam mereka mengobrol ringan di ruang keluarga sembari menunggu opa Sanjaya.
"Malam semuanya." terdengar suara berat opa Sanjaya.
"Malam tuan, mari duduk sini." ucap mama Alea.
"Tidak usah, ayo kita bicara langsung saja Ar." pinta opa Sanjaya yang dimengerti oleh papa Alea kemudian langsung beranjak pergi dan mengajak opa Sanjaya ke ruang kerjanya.
Deni sedikit bingung, kenapa opanya berbicara berdua dengan calon mertuanya saja.
__ADS_1
"Bentar ya, mama mau nyiapin minum untuk mereka." ucap mama Alea kemudian pergi ke dapur.
"Honey, memang ada urusan apa opaku kesini? Karena aneh sih bicaranya kok berdua saja." tanya Deni yang penasaran.
"Kayaknya masalah teror teror misterius mengenaiku deh. Soalnya tadi pas aku tanya papa pas ada mama, papa sepertinya tidak ingin kalau mama tahu. Jadi kamu jangan tanya mama. Ok." jelas Alea sedikit berbisik agar mamanya tidak mendengar percakapan mereka.
"Oh gitu." Deni jawab sambil manggut manggut.
Mama Alea melintas membawa nampan berisi minuman, saat akan naik tangga Alea menyela.
"Ma, biar Alea aja. Alea ingin menyapa opa. Tadi langsung saja naik tanpa menyapaku dulu. Aku kangen, sudah beberapa hari ini aku tidak berkunjung." pinta Alea dengan wajah memelas. Mamanya pun mengijinkan.
Alea bergegas ke lantai dua untuk ke ruang kerja papanya. Namun saat akan masuk, terdengar pembicaraan mereka dari luar karena pintunya terbuka sedikit.
"Ar, sepertinya memang dia orangnya. Apalagi setelah melihat rekaman cctv itu. Bagaimana langkah selanjutnya? Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya opa Sanjaya.
"Sepertinya dia memang bermuka dua. Aku dengar hari ini dia mendekati putriku seakan akan tidak terjadi apa apa. Aku harus lebih hati hati sekarang." ucap Aran.
Alea yang mendengar pembicaraan antara opa dan papanya, segera masuk ke ruang kerja papanya.
"Opa, Papa, boleh aku ikut bergabung?" tanya Alea sembari meletakkan minuman di meja.
"Iya opa. Lagipula aku sudah mengetahui tentang masalah ini jadi kalian tidak perlu merahasiakan apapun dariku." jawab Alea kemudian duduk disamping papanya.
"Nak, kamu fokuslah untuk acara pernikahanmu saja. Tidak perlu ikut memikirkan masalah ini, serahkan saja pada opa dan papamu." kata opa Sanjaya menatap calon cucu menantunya itu.
"Tidak opa, aku harus tahu. Jadi aku bisa menjaga diriku sendiri juga dan tidak mengandalkan orang lain saja. Kalau aku tidak tahu mana yang musuh, aku bisa masuk ke perangkapnya dengan mudah dan mencelakaiku." jelas Alea.
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Orang yang berusaha mencelakaimu kemarin di dekat danau itu adalah Diana. Jadi kamu harus waspada padanya." jawab opa.
"Iya sayang, papa kemarin sudah memastikan semuanya." lanjut papa Alea.
"Alea mengerti, ya sudah Alea turun dulu. Takutnya nanti mama nyusul kesini. Papa kalau ada informasi terbaru beritahu aku ya. Opa aku permisi dulu." ucap Alea seraya berdiri dan meninggalkan ruang kerja papanya.
"Iya sayang." sahut opa Sanjaya.
Alea menuju ke ruang keluarga, bergabung kembali dengan mamanya dan Deni.
"Nak, apa yang mereka bicarakan?" tanya mama Alea setelah melihat Alea duduk disampingnya.
__ADS_1
"Tentang pesta pernikahanku ma, dan tadi lanjut membiacarakan masalah perusahaan." jawab Alea dengan tenang agar mamanya tidak tahu kalau dia sedang berbohong.
"Oh ya sudah, kalian mengobrolah. Mama sedikit lelah hari ini, jadi mama mau istirahat lebih dulu." ucap mama Alea, Alea hanya mengangguk saja dan tersenyum.
"Deni, tante tinggal ya." sembari melangkah pergi ke kamarnya.
"Iya tan, selamat istirahat." jawab Deni.
Setelah mama Alea sudah tak terlihat lagi. Deni pindah tempat duduk disebelah Alea.
"Al, apa yang mereka bicarakan?"tanya Deni sambil menatap Alea.
Alea yang mengerti apa yang ditanyakan Deni pun menjawab sejujurnya.
" Masalah Diana. Ternyata benar dia yang berusaha mencelakaiku."
"Mulai sekarang kamu harus waspada ya dengannya. Bersikaplah biasa agar dia tidak curiga kalau kita sudah mengetahui kejahatannya." ucap Deni sedikit khawatir dan membelai rambut Alea.
"Iya." Alea tersenyum manis, yang membuat Deni jadi gemas. Deni mendekatkan wajahnya ke wajah Alea. Alea yang melihatnya kemudian memejamkan matanya. Namun tak juga merasakan Deni menciumnya. Alea membelalakkan matanya ketika merasa hidungnya ditarik.
"Sakittt..Kamu ini. Kenapa hidungku ditarik?" ucap Alea kesal sambil mengelus hidungnya karena masih terasa sakit.
"Abis kamu gemesin, apalagi kamu tadi pengen banget ya aku cium sampai merem gitu." ujar Deni sambil terkekeh pelan. Alea seketika merona pipinya saat mendengar ucapan Deni.
"Mana ada." Alea mencoba mengelak, kemudian memalingkan wajahnya yang menahan malu.
Melihat Alea yang malu, membuat Deni jadi tertawa.
"Sudah pikiranmu itu jangan mesum, mesumnya nanti aja kalau sudah jadi istriku. Aku akan membuat kamu puas." bisik Deni didekat telinga Alea. Alea jadi kesal mendengar ucapan Deni, kemudian dengan cepat dia meraih bantal sofa. Dan memukulkannya ke Deni bertubi tubi. Deni reflek melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Ampun, ampun Al. Sudah donk." pinta Deni yang masih mendapat serangan dari Alea.
Alea kemudian menghentikan aksinya. Dia mengerucutkan bibirnya karena masih kesal. Deni menahan ketawanya melihat ekspresi Alea yang cemberut.
"Jangan manyun gitu, jadi tambah gemas aku. Nanti beneran aku cium lho." ucap Deni dengan senyum menggoda.
Alea langsung berdiri hendak meninggalkan Deni ke kamarnya. Melihat tangannya masih memegang bantal sofa, langsung melempar ke arah wajah Deni. Karena Deni belum siap dengan serangan dadakan itu, kenalah bantal itu ke wajahnya.
Alea langsung berlari menuju kamarnya dengan tertawa riang.
__ADS_1