Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Kepulangan Aril.


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, Aril kini tengah berada di dalam pesawat perjalanan ke Indonesia. Aril tentu saja ditemani oleh Fiko.


Setelah beberapa jam di udara, pesawat akhirnya mendarat. Aril merasa senang karena akhirnya dia dapat pulang. Seperti saran Fiko, Aril merahasiakan kepulangannya dari ayah dan bundanya.


"Ko, nak taksi aja ya. Langsung ke rumah lo." ucap Aril.


"Ok," jawab Fiko.


Fiko dan Aril masuk ke taksi yang tadi kebetulan berhenti di depannya setelah mengantar satu penumpang. Fiko langsung menyuruh supir taksi itu ke sebuah alamat.


"Ko, lo tau universitas AS dimana?"tanya Aril.


" Oh itu gak jauh kok dari rumah gue. Emang kenapa?"


"Susan kuliah disitu. Kayaknya gue dimudahin buat nyari dia, ternyata kampusnya satu kota sama rumah lo. Makasih Ko, udah bantu gue."


"Santai aja bro, kita kan sohib." kata Fiko menepuk pelan lengan Aril.


Satu jam kemudian taksi telah sampai di depan rumah Fiko. Aril segera memberi uang pada supirnya kemudian mengikuti Fiko yang telah jalan duluan.


"Assalamu alaikum.." ucap salam Fiko sambil mengetuk pintu rumahnya.


"Waalaikum salam, Ko kamu pulang. Kenapa nggak ngasih tau mama. Mama kan jadi bisa jemput kamu ke bandara." kata mama Fiko.


"Gak pa pa kok ma, lagian juga dadakan pulangnya.Ini juga cuma sebentar ma seminggu lagi aku balik ke Jepang lagi." kata Fiko." Oh ya kenalin ma, ini Aril teman aku saat di Jepang. Dia boleh ya ma nginep sini?" lajut Fiko.


"Tentu saja boleh. Kenalkan saya Erna, mamanya Fiko, panggil aja tante Erna. Ya sudah mari masuk, kalian istirahat ya."


"Iya ma, ayo Ril. Ke kamar gue." kata Fiko yang berjalan duluan dikuti oleh Aril.


"Ril, kita istirahat dulu aja hari ini. Besok baru mulai nyari cewek lo." pinta Fiko.


"Iya, gue juga mau cari informasi dulu."


"Ok deh." jawab Fiko.


Sesampainya dikamar,


"Ril, gue mau mandi dulu. Oh ya taruh aja baju lo di lemari, pakai yang paling kanan itu kosong." ucap Fiko melenggang ke kamar mandi.


Aril menata bajunya di lemari, sesuai kata Fiko. Setelahnya dia membaringkan tubuhnya ke kasur.


Aril membayangkan wajah Susan yang sangat ia rindukan.


"Sayang aku datang. Aku akan mencarimu besok." gumam Aril.


"Woy, mandi sana, ngelamun aja lo." kata Fiko yang baru keluar dari kamar mandi.


"Iya." jawab Aril kemudian bergegas mandi.

__ADS_1


...


Di kampus Alea dan Deni sedang bersama makan di kantin.


"Al ikut ke rumah yuk, Opa udah kangen kamu katanya." kata Deni.


"Jangan sekarang deh, tadi papa nyuruh aku ke kantornya." jawab Alea.


"Ya sudah terserah kamu lah bisanya kapan. Nanti aku antar aja ke kantor papamu."


"Boleh."


"Em iya Al. Aku mau bicara serius."


"Ada apa?"


"Aku sudah bicara dengan papaku untuk segera melamarmu. Katanya minggu depan kami akan ke rumahmu."


"Iya, aku akan memberitahu papa nanti."


"Biar aku saja yang memberi tahu papamu nanti di kantor. Aku ingin meminta ijinnya langsung."


"Em iya baiklah." ucap Alea disertai senyum manis di bibirnya.


Mereka menghabiskan makanannya. Setelah itu, mereka kembali ke kelas karena masih ada satu mata kuliah lagi.


Tak berapa lama mereka telah sampai di depan gedung kantor milik papa Alea. Mereka masuk dan disambut oleh security yang ada di depan pintu masuk.


"Selamat siang nona muda dan tuan muda." ucap security itu.


"Siang pak." ucap mereka berdua bersamaan.


Beberapa karyawan yang melihat mereka juga menunduk hormat ketika melihat Alea dan Deni. Mereka sudah tahu kalau yang berjalan melewati mereka adalah pewaris perusahaan keluarga Wijaya.


Alea berjalan menuju resepsionis.


"Mbak, saya mau bertemu papa. Apa beliau ada?" tanya Alea pada resepsionis itu.


"Nona muda langsung saja ke atas, tuan ada diruangannya." resepsionis itu menjawab dengan senyuman ramah. Di bathinnya merasa kagum ternyata nona mudanya sangat baik dan sopan.


"Baiklah, terima kasih mbak."


"Sama sama nona. Anda tidak perlu sungkan pada saya."


Alea dan Deni kemudian naik lift menuju lantai teratas. Sesampainya di depan ruangan papa Alea, Alea mengetuk pintu. Setelah ada jawaban, Alea dan Deni pun masuk.


"Papa, aku datang." ucap Alea menghampiri papanya yang masih duduk di kursi kebesarannya.


"Sayang, sebentar ya, papa menyelesaikan ini dulu. Duduklah." jawab papa Alea.

__ADS_1


"Iya pa, Deni juga ikut kesini pa." mendengar ucapan putrinya, ia mengedarkan pandangannya mencari Deni.


"Duduklah dulu Den, Om selesaikan pakerjaan om dulu." ucap papa Alea.


"Iya om, silahkan."


Alea dan Deni duduk berdampingan di sofa.


"Bagaimana kuliah kalian?" tanya papa Alea sembari duduk di hadapan Alea dan Deni.


"Lancar Om." jawab Deni singkat. Dirinya merasa sangat gugup untuk mulai bicara tentang keinginannya. Alea yang mengerti keadaan Deni mencoba mengalihkan perhatian papanya.


"Pa, ada apa papa nyuruh aku kesini. Ada hal pentingkah?" tanya Alea.


"Iya penting tapi bukan urusan kantor ini masalah hubungan kalian. Kemarin papa sudah di telfon oleh papanya Deni. Bagaimana Deni kamu benar ingin menuju hubungan yang lebih serius?"


"Iya Om, saya serius. Saya ingin menikahi Alea secepatnya. Saya berfikir kalau tidak mau berlama lama dengan hubungan tanpa status ini om. Karena anak om sendiri yang mengatakan kalau tidak ingin berpacaran. Maka dari itu ijinkan saya untuk segera melamarnya om." ucap Deni dengan penuh keyakinan.


"Kalau om sama sekali tidak keberatan kalian menikah muda, om malah senang. Tapi Alea apa kamu siap?"


"Kalau papa tidak keberatan, Alea siap pa." jawab Alea dengan senyum merekah dibibirnya.


"Baiklah kalau begitu, om tunggu kedatanganmu minggu depan."


"Terima kasih om."


Obrolan masih berlanjut antara merka bertiga. Membahas acara minggu depan, acara akan dilangsungkan sederhana saja dirumah Alea. Nanti kalau menikah barulah digelar pesta besar besaran.


Sudah menjelang sore, Alea dan Deni pamit untuk pulang. Dan papa Alea melanjutkan pekerjaannya.


Denipun mengantar Alea sampai depan rumahnya. Alea mengajak Deni untuk mampir. Deni menyetujuinya. Mereka masuk ke rumah bersama.


"Bentar ya Den, aku ambilin minum dulu."


Deni mengangguk saja kemudian duduk di sofa ruang tamu.


Sesaat kemudian Alea kembali membawa dua minuman kaleng di tangannya.


"Nih,." Alea menyodorkan minuman itu kepada Deni.


"Den, aku ingin mempercepat kuliahku. Aku ingin bisa wisuda tahun depan. Bagaimana menurutmu?" tanya Alea sambil menenggak minuman di tangannya.


"Aku juga ingin itu. Baiklah kalau begitu, kita berusaha bersama."


Alea senyum manis mendengar Deni juga menginginkan hal yang sama.


"Ya sudah aku pulang ya, takut opa khawatir."


Alea mengangguk saja. Saat Deni beranjak dari duduknya, dia mencuri sebuah ciuman pada bibir Alea. Setelah itu dia langsung kabur sebelum Alea tersadar akan perlakuannya. Dan benar saja, saat Deni menyalakan motornya, Alea baru sadar dari keterkejutannya. Ya Alea hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang akan menjadi calon suaminya nanti.

__ADS_1


__ADS_2