
Deni : Kau benar bisa nyaman disana tanpa aku??
Alea : Tentu saja, tidak akan ada yang menggangguku. Pastilah aku nyaman.
Deni : Tunggu saja, aku akan segera datang untuk mengganggumu lagi.
Alea : Ok, aku tunggu.
Deni : Oh ya besok pagi aku jemput, berangkat kuliah bareng.
Alea : Ok, tapi kalau telat aku tinggal.
Deni : Tega, ninggalin aku.
Alea : Bodo amat.
Setelah balasan itu, Deni tak membalas lagi. Mungkin kesal pikir Alea. Alea senang bisa membuat Deni kesal, jarang sekali dia bisa buat Deni kesal yang ada juga dia terus yang dibuat kesal.
Alea memejamkan matanya, ingin istirahat sebentar. Namun ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Alea segera membuka pintu dan melihat siapa yang mencarinya. Dilihatnya seorang bibi yang sudah berusia lanjut.
"Maaf nona, saya mengganggu. Ini koper nona, ijinkan saya membereskannya." ucap bibi itu.
"Tidak perlu bi, biar saya sendiri saja. Lagi pula hanya sedikit. Nama bibi siapa?" tanya Alea.
"Saya Minah nona. Baiklah kalau begitu, saya permisi nona. Kalau nona butuh apapun, panggil saja saya nona dengan menggunakan telfon yang ada di dekat tempat tidur nona. Angka 1 langsung terhubung dengan kamar tuan Aran, sedangkan angka 5 terhubung dengan telfon dapur di rumah ini. Namun dimanapun saya bisa mengangkat telfon anda." jelas Bibi.
"Ya sudah, saya mau istirahat saja dulu. Bibi boleh pergi."
"Iya nona, saya permisi."
Alea melanjutkan istirahatnya. Saat sore menjelang, Alea bangun. Dia segera bangkit dan menyegarkan diri di kamar mandi. Tiga puluh menit sudah, Alea keluar dari kamar mandi. Setelah berganti pakaian, dia keluar kamar menuju dapur. Dilihatnya sang ibu sedang memasak, Alea menghampirinya.
"Mama mau masak apa?" tanya Alea.
"Mama?" ucap Ibu Alea.
"Iya mamaku, ku panggil begitu biar serasi sama panggilan papa."
"Ohh, ni mama masak ayam goreng sama sayur capcay."
"Aku bantuin goreng ayamnya ya."
"Tidak usah non biar saya saja." sela bi minah.
"Nggak pa pa bi, biarkan Alea yang goreng. Bibi kerjakan yang lain saja." perintah mama Alea.
"Baik nyonya." jawab bi minah, kemudian pergi meninggalkan dapur.
Alea dan mamanya asik masak, karena sudah biasa melakukan kegiatan itu bersama. Mereka dikejutkan oleh Papa Alea.
"Wah, tuan putri papa bisa masak ya."
"Iya donk pa, aku kan cewek jadi harus bisa masak." jawab Alea.
"Pa, tunggu aja di meja makan. Sebentar lagi selesai kok." kata mama Alea.
"Iya sayang." ucap papa Alea, sembari mencium kening mama Alea.
"Ehemm ehemm.." Alea bersuara agar kemesraan yang terpampang didepannya segera berakhir.
__ADS_1
"Al papa cuma cium kening mama juga." protes papanya. Papa Alea sadar putrinya yang protes, hingga dia juga segera meninggalkan dapur.
Sepuluh menit kemudian, semua masakan sudah tersaji di meja makan. Alea dan keluarga makan malam dengan tenang.
"Pa, Alea sudah selesai. Alea ke kamar dulu ya, mau belajar."
"Iya sayang, jangan terlalu larut ya tidurnya."
"Iya pa," ucap Alea dan pergi ke kamarnya.
Alea memulai belajarnya. Belum lama, terdengar nada dering ponselnya.
Deni video call, Alea segera menjawabnya.
Deni : Al, belajar bareng yuk.
Alea : Ni aku lagi belajar.
Deni : Iya, biarkan telfonnya. Aku ingin lihat kamu belajar.
Alea : Ok.
Alea meletakkan ponselnya di meja belajar, dengan kamera masih mengarah padanya.
Mereka melanjutkan belajarnya.
Terdengar ketukan di pintu kamar Alea. Alea beranjak membuka pintunya. Ternyata itu papanya.
Papa Alea masuk ke dalam kamar Alea, dilihatnya ponsel Alea yang masih video call. Terlintas ide jail pada Deni yang terlihat serius belajar. Alea juga tak bisa menahan papanya.
"Al, coba panggil dia biar dia nengok." bisik papa Alea. Kemudian papanya duduk di kursi belajar Alea dan mendekatkan wajahnya ke kamera hingga wajah papa Alea memenuhi layar ponselnya.
Alea mendengus kesal dengan tingkah papanya itu. Tapi dengan berar hati dia melakukan yang diminta papanya.
"Hmm.." jawab Deni sambil mengangkat mukanya ke arah kamera. Betapa terkejutnya dia saat dilihat wajah tuan Aran yang memenuhi layar ponsel dengan mata melotot, hingga dirinya terjungkal ke belakang dengan kursinya.
Papa Alea yang melihat reaksi Deni saat melihatnya langsung tertawa terbahak bahak. Alea hanya tersenyum saja melihat Papanya, merasa kasihan juga pada Deni yang jatuh karena ulah papanya.
Setelah puas tertawa, papa Alea keluar dari kamar putrinya.
"Ya sudah, papa keluar ya. Lanjutin belajar kamu." kata papa Alea.
"Iya pa." Alea kembali duduk untuk belajar.
Papa Alea sudah keluar kamar dan menutup pintunya kembali.
Alea menatap ponselnya. Terlihat Deni sudah bangkit dan duduk kembali.
Alea : Den..
Deni : Iya..
Alea : Kamu nggak pa pa?
Deni : I'm okay. Om Aran lucu juga ya bisa ngerjain aku gitu.
Alea : Iya maaf ya, kamu kaget jadi jatuh deh.
Deni : Its okay. Lanjut belajar lagi yuk.
Alea : Hm.
__ADS_1
Setelah hampir dua jam, mereka Alea mengakhiri aktivitas belajarnya.
Alea : Udahan Den aku capek. Aku ngantuk.
Deni : Iya udah bobok aja, aku lanjut sebentar lagi.
Deni : Semoga mimpi indah. Selamat tidur my princess.
Alea tersenyum mendengar ucapan Deni kemudian Alea beranjak ke kasurnya, video call juga masih berlangsung. Alea memegang ponselnya sembari berbaring. Tak butuh waktu lama Alea sudah memasuki alam mimpinya.
Deni melihat ponselnya. Alea sudah tertidur, dia juga memutuskan untuk tidur. Keduanya kini telah berada di alam mimpi masing masing.
....
Setelah membersihkan badannya pagi ini. Deni bergegas untuk sarapan.
Opanya yang masih bersantai membaca koran heran kenapa masih pagi begininsudah bersiap.
"Den, tumben pagi sekali?" tanya sang opa.
"Ah iya aku mau jemput Alea dulu opa. Baru setelahnya berangkat ke kampus bersama." jawab Deni setelah meneguk jusnya hingga tandas.
"Hati hatilah." ucap opa.
"Iya opa, aku berangkat dulu." pamit Deni menyalami opanya.
Deni segera menaiki mobilnya menuju rumah Alea. Tak sampai dua puluh menit, mobilnya sudah masuk ke pekarangan rumah Alea. Karena masih pagi, jalanan masih lenganng s
jadi Deni bisa memacu kecepatan mobilnya hingga bisa lebih cepat sampai di rumah Alea.
Ting tong.. bunyi bel rumah Alea yang ditekan oleh Deni.
Seorang asisten rumah tangga datang dan menanyainya.
"Maaf tuan ingin menemui siapa?"
"Saya ingin menjemput Alea, kami akan ke kampus."
"Oh begitu. Silahkan masuk tuan." si asisten rumah tangga itu mempersilahkan dirinya masuk.
"Akan saya panggilkan nona dulu. Silahkan duduk." ucapnya lagi.
"Iya, tidak usah di panggil. Dia sudah tahu kalau saya datang." jawab Deni sambil duduk di kursi ruang tamu.
"Ah baiklah. Saya permisi ke belakang lagi tuan." ucap pelayan itu kemudian pergi menjauh.
Tak berapa lama Alea turun dari kamarnya. Dari tangga sudah terlihat jelas kalau ada tamu. Setelah lebih dekat, terlihat olehnya Deni yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.
"Den, pagi banget. Aku belum sarapan loh." ucap Alea.
"Ya sudah sarapan dulu lah. Aku tunggu disini. Aku sudah sarapan tadi."
"Siapa juga yang nanya kamu sudah sarapan apa belum." ucap Alea sambil berlalu pergi.
Deni tersenyum kecut mendengar jawaban Alea.
☘️☘️☘️☘️
Tinggalkan jejak kalian ya...like komen vote tips ..apapun juga boleh. baca saja juga boleh..
baca terus kelanjutannya..
__ADS_1
love you Readers setiaku..😊😊😊🤗🤗🤗