
Alea segera masuk ke kamarnya, meninggalkan Deni yang bersungut kesal karena kena bantal tadi. Tak lama Opa Sanjaya dan Papah Aran keluar dari ruang kerja. Mereka mendengar Deni yang sedang menggerutu tidak jelas.
"Ada apa Den?" tanya papah Aran.
"Enggak papa Om, tadi itu si Alea iseng terus maen kabur aja." jawab Deni sambil senyum.
"Ya sudah, ayo pulang. Sudah malam juga." ajak Opa Sanjaya.
"Iya Opa. Om, Deni pulang dulu ya." pamit Deni sambil mencium tangan papah Aran.
"Iya, kalian hati hati." jawab Aran.
Opa dan Deni melenggang keluar rumah menuju mobil masing masing. Mobil mereka berjalan beriringan menuju rumah Opa Sanjaya.
....
Keesokan harinya, sepulang kuliah Alea jadi ikut Deni ke kantor papanya.
"Honey, aku nggak tahu lho kalau nanti lama atau tidak urusanku dengan papa. Yakin kamu mau nunggu di kantin aja?" tanya Deni memastikan.
"Iya gak papa kok, nanti kalau aku bosan aku nyusul ke atas. Ok?" jawab Alea sembari senyum.
"Ya sudah, kalau butuh apa apa, telfon aku ya." ucap Deni kemudian menuju lift yang akan membawa ke lantai teratas gedung ini yang tak lain adalah ruangan papa Deni yang menjabat sebagai CEO di perusahan ini.
Alea melambai melihat tunangannya bergerak masuk ke dalam lift, setelah tak terlihat lagi oleh Alea, Alea berjalan ke kantin. Ini pertama kalinya dia masuk ke gedung perusahaan papanya Deni. Gedung ini lumayan besar juga, sama besarnya dengan gedung perusahaan papanya sendiri. SANJAYA CORP itulah tulisan yang terpampang jelas di depan gedung ini.
Alea mengikuti petunjuk yang diberikan Deni tadi perihal letak kantin perusahaannya. Tak sampai lima menit Alea sudah sampai dikantin.
Alea segera membeli kopi dan beberapa makanan ringan setelah mendapatkannya Alea segera duduk di salah satu bangku kosong.
__ADS_1
Kantin memang masih sepi karena belum masuk jam istirahat. Alea menyesap kopinya, sambil memainkan pada ponselnya. Iseng iseng Alea membuka akun medsosnya yang sejak kejadian itu tidak pernah dibukanya kembali. Alea melihat profil dan postingan postingan teman temannya. Kemudian dia beralih ke medsos Deni. Dia penasaran apa yang sering diposting calon suaminya itu.
Dilihatnya foto foto yang di post kebanyakan saat tengah bersamanya. Seulas senyum tercetak jelas dibibirnya. Ternyata calonnya itu begitu mencintainya hingga tak sungkan lagi menguploadnya ke sosmed.
Saat tengah asik memainkan ponselnya, ada seorang laki laki yang duduk didepannya. Sontak itu membuat Alea terkejut.
"Hai, kamu Susan bukan?" tanya laki laki itu.
"Ah iya, siapa ya?" tanya Alea yang memang merasa tidak mengenal laki laki yang ada dihadapannya ini.
"Aku Nino, temannya Aril. Yang waktu itu ketemu di kantin sekolah aku."
"Oh iya aku ingat." jawab Alea sedikit tidak bersemangat ketika mendengar nama itu lagi.
"Ngapain disini?" tanya Nino.
"Honey, ayo ke atas. Papah pengen ketemu." ucap Deni sedikit menekankan panggilannya terhadap Alea.
"Kamu bilang kalau aku ikut?" Deni mengangguki pertanyaan Alea. Alea kemudian berdiri dan berpamitan pada Nino.
"Maaf ya No, aku duluan." ucap Alea sembari tersenyum tipis.
"Ah iya tidak apa apa kok." jawab Nino dengan segudang pertanyaan tentang Susan yang dikenalnya itu sebagai kekasih dari temannya dan sekarang berada disini sedang bersama entah siapa dan sepertinya mereka dekat.
Alea dan Deni segera menuju ke ruangan Papa Deni.
"Tadi siapa Al?" tanya Deni saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Dia teman Aril sekolah dulu." jawab Alea masih dengan mode tidak suka kembali mengingat yang sudah coba untuk dia lupakan.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Deni namun dia mempererat pelukan tangannya di tubuh Alea. Dia tahu jika calon istrinya itu masih saja tidak senang jika mendengar nama mantannya itu.
Ting...
Suara lift yang sudah mencapai lantai gedung yang dituju. Begitu pintu lift terbuka, Deni segera menggandeng tangan Alea memasuki ruangan CEO.
"Siang Om," sapa Alea pada calon mertuanya itu.
"Siang Al, kenapa tadi nggak ikut kesini."
Yang ditanya langsung tersenyum dan menjawab dengan lembut. "Takut mengganggu pekerjaan Deni om."
"Tidak, kenapa berfikir seperti itu. Om kan juga senang kalau calon menantu om yang cantik ini mau berkunjung kesini." ucap Papa Deni yang membuat Alea tersipu.
Setelah sedikit berbincang dengan calon ayah mertuanya itu, Alea diajak pamit oleh Deni karena ada janji fitting baju. Papa Deni pun tidak keberatan.
Deni dan Alea berjalan beriiringan keluar gedung kantor Sanjaya corp. Deni mengajak Alea untuk mampir ke cafe terdekat untum makan siang dulu. Setelahnya mereka akan langsung ke butik.
Fitting baju berjalan lancar, tidak ada perubahan dalam ukurannya. Dan nanti H-3 pemilik butik menyarankan untuk sekali lagi fitting, karena untuk menghindari baju yang kelonggaran atau kesempitan saat hari H.
Seminggu berlalu, kini Alea dan Deni tengah berada di studo foto. Karena Opa dan Papah Alea tidak menginginkan hal buruk terjadi, jadi lebih aman jika berfoto di studio saja.
Alea mengikuti arahan sang fotografer, tentu saja Alea jadi malu saat harus berpose romantis dengan Deni. Tidak seperti Deni yang terlihat biasa biasa saja. Bahkan saat disuruh berpose untuk berdiri berhadapan dan dekat, Deni dengan cepat menarik pinggang Alea sehingga tubuh mereka merapat tanpa ada celah. Wajah mereka dekat seperti akan berciuman namun hanya saling menatap. Alea terpaku dengan tatapan Deni dan terhanyut dalam pikirannya sendiri. Detak jantungnya sudah tak beraturan, rasanya sulit untuk bernapas.
"Honey..?" panggil Deni, karena melihat Alea yang melamun menatapnya. Namun tak ada jawaban, dilihatnya tubuh Alea yang tegang bahkan tidak merasakan nafas Alea. Deni kemudian menyeringai jahil.
Deni mendekatkan bibirnya ke telinga Alea dan berbisik, "Bernafaslah.". Kemudian mengecup telinga Alea. Alea sontak terkejut dan mendorong pelan badan Deni, Alea mengatur nafasnya, dia menundukkan wajahnya yang merona.
Itupun tak luput dari pandangan Deni yang semakin gemas pada calon istrinya itu.
__ADS_1