Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Kerinduan


__ADS_3

"Ma, ayolah kasihin ponselnya aku. Mama nggak kasiahan nih sama aku yang udah menahan rindu dari kemarin. Kasihan jjuga ma calon mantu mama itu pasti juga merindukan putri mama yang cantik ini." rayuan Alea yang ditujukan pada mamanya.


"Tidak sayang, jangan membantah. Ini sudah adatnya. Kamu jangan melanggar." tegas mama Alea, kemudian meniggalkan Alea sendiri.


"Ahh, mama nggak asik nih." Alea kesal. Sudah sejak pagi dirinya mencoba membujuk rayu mamanya namun tidak berhasil juga. Alea yang sedang kesal duduk sendiri di sofa ruang keluarga melihat papanya melintas jadi terbersit satu ide. Alea melihat papanya naik ke lantai dua rumahnya menuju ruang kerja. Dia segera bergegas menyusul papanya.


"Papa.." ucap Alea sambil melongokkan kepalanya saja ke dalam ruang kerja papanya.


"Ada apa sayang? Masuklah." jawab papanya yang sudah duduk di kursi keejanya sembari tersenyum.


"Pa, tolongin aku ya, bujukin mama buat.." belum sempat melanjutkan bicaranya sudah dipotong dulu oleh papanya.


"Sudah sayang kamu jangan membantah mama. Itu sudah adat istiadat keluarga mamamu. Jadi jangan mencoba untuk melanggarnya."


Alea tak patah semangat, dirinya segera bergelayut manja di bahu papanya.


"Pa, kasihanilah aku. Aku sudah menahan rindu pada calon mantu papa itu. Dari kemarin kami tidak ketemu. Aku sudah terbiasa dengan dirinya disisiku setiap hari pa." Alea sedikit mendramatisir kerinduannya dengan pura pura terisak pelan.


"Jangan drama Al, papa tahu yang terjadi semalam di kamarmu." Alea yang terkejut langsung berdiri tegak di samping papanya.


"Jadi papa tahu dia datang tadi malam?" tanya Alea sedikit takut.


"Iya." jawab papanya singkat.


"Apapun yang terjadi di rumah ini papa tahu sayang." lanjut papa Alea.


"Jadi jangan bantah aturan mamamu. Menurutlah." lanjutnya lagi.


"Tapi pah, kalau aku seharian ini tidak memberinya kabar. Dia akan datang lagi nanti malam." jelas Alea yang kepalang tanggung juga karena sudah ketahuan jadi dia ceritakan saja.


"Biarkan saja dia, papa ingin lihat apa bisa nanti malam dia bisa menginjakkan kakinya lagi di halaman rumah papa."


"Pa, Alea pinjam ponsel papa dong."

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Mau telfon Deni pa, Alea beneran rindu." ucap Alea dengan senyum manis dan wajah memohonnya.


"Alea." ucap papa Alea datar namun tatapannya tajam ke arah putri kesayangannya itu.


"Bercanda pa. Alea cuma bercanda kok." jawab Alea sambil nyengir tanpa dosa.


Alea kemudian mencium pipi papanya lalu beranjak keluar dari runag kerja papanya.


Alea frustasi usahanya gagal lagi. Alea memutuskan untuk pergi ke taman belakang untuk menyegarkan otaknya.


Brukk..


Terdengar benda jatuh, sangat keras. Sepertinya bendanya besar pikir Alea. Alea langsung mencari sumber suara tadi. Karena sekarang terdengar suara berisik.


Dilihatnya pohon yang ada di samping rumah telah roboh, dan beberapa pekerja memotong batangnya agar jadi potongan kecil agar mudah memindahkannya.


"Mang kenapa ditebang itu pohonnya?" ucap Alea tiba tiba yang berdiri di samping tukang kebunnya itu yang bernama Joko.


"Tidak tahu nona, ini perintah dari tuan besar langsung tadi pagi."


"Eh..kenapa itu pohon diluar rumah juga roboh mang?" tanya Alea sedikit bingung kenapa bisa bersamaan dengan pohon yang di rumahnya ditebang.


"Itu juga ditebang nona. Sesuai perintah dari tuan besar." jawab mang joko.


"Apa tujuan papa menebang pohon itu?"gumam Alea pelan. Kemudian dia memilih pergi ke kamarnya untuk bersantai.


☘️☘️☘️


Malam berlalu, tanpa kehadiran Deni yang menyelinap masuk ke kamarnya. Alea bingung juga biasanya Deni tidak pernah main main dengan kata katanya. Seharian ini dirinya sama sekali tidak memberi kabar pada calon suaminya itu, seharusnya malam ini Deni datang. Entahlah Alea tak mengambil pusing kenapa Deni tidak datang. Dirinya memilih untuk tidur.


Di lain tempat, tepatnya di luar pagar rumah Alea. Deni sedang menggeram kesal. Pasalnya pohon yang kemarin digunakan untuk melewati pagar rumah Alea sudah tumbang. Begitu juga yang ada di dalam pagar.

__ADS_1


"Siaaalll.. kenapa bisa? Apa semalam kemarin ketahuan?" Deni bergumam sendiri. Dengan kekesalannya dia kembali mengendarai motornya untuk kembali ke rumah besar opanya.


Sesampai di rumah, Deni berjalan gontai tanpa semangat menaiki tangga akan menuju kamarnya. Namun sebuah suara menghentikan langakahnya.


"Tidak berhasil ya kamu." ucap opa sedikit berteriak karena posisinya yang sedikit jauh.


"Maksud opa?" Deni mengeryitkan dahinya tidak mengerti ucapan opanya. Namun dia tersadar ketika mendengar tawa opanya.


"Jadi opa tahu?" tanya Deni.


"Calon papa mertua kamu, cerita semuanya pada opa. Tentang kamu yang malam malam menyelinap masuk ke kamar putri kesayangannya itu." opa mendekat ke Deni kemudian memukul kepala Deni.


"Awww opa, sakit." pekik Deni. yang merasakan sakit di belakang kepalanya.


"Kau ini, makanya jangan coba coba melanggar adat. Jadi terima saja aturan ini. Tunggu sampai lima hari lagi."


Deni tidak menyahut perkataan opanya karena opanya juga kemudian berlalu menuju kamarnya.


Deni jadi tersenyum sendiri, mengingat beberapa hari lagi akan menjadikan Alea sebagai istrinya.


☘️☘️☘️


Empat hari berlalu, besok adalah hari kebahagiaan yang ditunggu oleh Alea dan juga Deni. Selain acara pernikahan tentunya juga karena kerinduan yang semakin menumpuk karena tidak bisa bertemu ataupun bicara.


Alea sedikit teralihkan karena dirinya hari ini mendapat perawatan dari beberapa orang salon kecantikan. Mereka datang atas permintaan mama Alea. Agar esok hari penampilan Alea sebagai pengantin akan terlihat lebih segar dan menawan.


Kalau Deni sedikit sibuk dengan urusan tempat pernikahannya nanti yang akan diadakan di hotelnya. Persiapannya sudah hampir selesai, dekorasi sudah hampir semuanya tepasang tinggal bunganya saja. Karena bunga yang akan dipakai bunga asli jadi akan dipasang tengah malam nanti agar esok pagi bunganya masih segar.


☘️☘️☘️☘️


Inilah penampakan tempat pernikahan Alea dan Deni.


__ADS_1


__ADS_2