
Setelah bertemu dengan Pak Doni, Aril kembali ke ruang operasi. Untuk mencari tahu kodisi Alea, seharusnya sekarang operasinya sudah selesai.
Tepat sekali saat Aril sampai di depan ruang operasi, sang dokter keluar.
"Maaf Tuan, operasinya berjalan lancar. Namun kondisi nona masih kritis, jadi harus dirawat di ICU." ucap dokter.
"Terima kasih dokter, kami mohon lakukan yang terbaik." balas Tuan Aran.
"Baiklah saya permisi. Nona Alea akan segera dipindahkan. Setelah dipindahkan nanti sudah diperbolehkan untuk menjenguk, tapi hanya satu orang saja yang boleh di dalam nanti." terang dokter lagi.
"Iya dok."
Dokter kembali masuk ke ruang operasi.
"Tuan Nyonya, saya minta maaf. Saya tidak bisa lebih lama disini. Saya harus pulang." ucap Aril.
"Iya tidak apa apa Ril. Terima kasih ya." kata Tuan Aran.
"Saya permisi Tuan, selamat malam." pamit Aril kemudian beranjak pergi dari rumah sakit.
Dalam pikirannya masih kalut akan permintaan Deni padanya. Dia harus bagaimana.
Sesampianya di rumah, Aril segera masuk. Sang bunda sudah menyambutnya dengan khawatir melihat tampang anak semata wayangnya yang berantakan dengan baju yang juga penuh noda darah yang sudah kering.
"Ril, cepat mandi gih. Habis itu langsung makan ya. Bunda panasin makanannya dulu."
"Iya bun." jawab Aril kemudian segera pergi ke kamarnya.
Aril segera melepas pakaiannya yang kotor karena darah Alea yang menempel saat digendongnya tadi. Dalam ingatannya masih jelas, raut wajah Deni yang masih saja mencemaskan kondisi Alea. Padahal dirinya sendiripun sedang kesakitan.
Di kamar mandi, Aril menguyur tubuhnya di bawah shower. Mencoba mendinginkan otaknya agar sedikit lebih tenang. Setelah mandi, Aril segera keluar menemui sang bunda.
"Bun,." panggil Aril.
"Makanlah, kamu pasti tidak sempat makan apapun kan di rumah sakit."
"Iya bun, nanti akan aku makan. Aku ingin cerita dengan bunda dan meminta pendapat bunda."
"Apa itu? Ceritakanlah, bunda siap mendengarkan." jawab bunda Aril.
"Bun, tadi di rumah sakit. Pengacara keluarganya Deni menemuiku, setelah mendapat kabar kalau Deni meninggal dalam kecelakaan tadi siang. Beliau mengantarkan surat titipan dari Deni sebelum meninggal."
__ADS_1
"Isi suratnya tentang permintaannya untuk menggantikan dirinya disisi Alea, Bun. Ternyata sebelum kecelakaan terjadi pun, Deni sudah sakit parah yang kemungkinan kecil bisa bertahan hidup. Makanya dia menulis surat itu. Menurut bunda aku harus bagaimana? Aku turuti permintaan terakhir Deni atu aku tolak saja?"
"Sebenarnya bun, hatiku masih terpaku pada Keyla, walau aku sudah ikhlas akan kepergiannya."
"Kalau begitu, tunggulah Alea sampai sadar dan tanyakan pendapatnya. Atau kalau tidak begitu diskusikan dengan keluarganya. Karena menurut bunda tidak masalah jika kamu menerima kalau Alea mau. Dulu kalian juga pernah saling mencintai bukan. Itu artinya tak kan sulit untuk menumbuhkan cinta lagi di antara kalian." jawab bunda Aril.
"Sudah sekarang kamu harus makan. Pikirkan masalah ini lagi nanti setelah makan. Nanti kalau ayah sudah datang mintalah pendapatnya." pinta bunda.
"Bun, tidak ada gunanya bertanya pada ayah. Aku sudah tahu akan seperti apa jawaban ayah. Dia akan selalu mementingkan egonya sendiri untuk mendapatkan kekuasaan dan harta." tukas Aril.
Aril kemudian memakan masakan bundanya dengan lahap. Menghilangkan sejenak semua masalah dalam fikirannya, dengan menikmati masakan bundanya.
...
Keesokan harinya. Di kediaman keluarga Sanjaya.
Setelah jenazah disholati, jenazah langsung dibawa ke pemakaman dengan menggunakan ambulans.
Tampak semua keluarga ikut ke pemakaman kecuali mama Alea yang tidak mungkin meninggalkan putrinya sendirian di rumah sakit.
Terdapat juga para klien dari perusahaan Sanjaya ataupun Wijaya yang akrab. Bahkan orang tua Keyla juga datang. Aril juga beserta orang tuanya pun turut hadir.
Setelah dimakamkan, satu persatu orang pergi setelah mengucapkan bela sungkawanya terhadap keluarga.
"Sudah melewati masa kritisnya, namun masih belum sadar juga. Dan belum tahu apa yang terjadi, harus menunggu hasil pemerikasaan dulu. Tadi saya tidak sempat menunggu hasilnya keluar karena harus segera datang kemari." jawab Tuan Aran.
"Boleh saya ikut ke rumah sakit Tuan? Saya ingin menjenguk Alea."
"Tentu Ril, ayo semobil dengan saya saja."
"Terima kasih Tuan, saya ingin pamit dulu ke orang tua saya." jawab Aril kemudian mendekat ke orang tuanya yang sedang menunggunya di dekat mobilnya sendiri.
"Ayah, bunda, Aril tidak langsung pulang. Aril ingin ke rumah sakit." ijin Aril.
"Ya sudah hati hati." jawab bundanya.
....
Di rumah sakit.
"Sayang bangunlah nak, apa kamu tidak ingin melihat putri cantikmu?" Mama Alea mencoba untuk terus mengajak bicara putrinya itu.
__ADS_1
"Malang sekali nasibmu nak," Mama Alea tak sanggup bicara lagi. Mengingat musibah yang menimpa putrinya.
"Ayo bangunlah, pasti suamimu juga menginginkanmu sembuh. Anakmu juga sangat membutuhkan kamu sayang." ucap Mama Alea lagi.
Tak tahan dengan tangisannya, Mama Alea segera keluar. Dia tak ingin Alea mendengarnya menangis terus. Itu akan berdampak buruk untuk kesehatan Alea.
Tuan Aran bersama Aril sudah sampai di rumah sakit. Alea sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa, karena sudah melewati masa kritisnya. Namun masih belum lega karena Alea dinyatakan koma.
"Kenapa mama di luar?" tanya samg suami.
"Mama nggak tahan di dalam pa, aku terus meratapi kondisi putri kita sekarang. Akui keluar karena aku tak mau Alea mendengar mama menangis. Sampai kapan Alea kita akan tertidur." ucap Mama Alea masih terisak tangisannya.
"Sabar ma, ini ujian dari Allah. Kita harus kuat untuk Alea. Dan untuk cucu kita juga."ucap Tuan Aran sambil mengusap punggung istrinya yang berada dalam pelukannya.
"Maaf Tuan Nyonya, boleh saya menjenguk Alea?" tanya Aril menyela kebersamaan mereka.
"Iya Ril, masuklah. Saya juga mau menemui dokter dulu. Tolong jaga Alea sampai saya kembali." pinta Tuan Aran.
"Iya Tuan."
Aril kemudian masuk ke ruang rawat Alea. Aril melihat kondisi Alea yang masih lemah. Banyak bekas luka yang berada di sekujur tubuhnya.
Aril duduk di kursi samping tempat tidur Alea.
"Al, kamu harus berjuang ya. Demi anak kamu, kamu harus segera sadar dan sembuh." Aril menatap Alea sendu.
"Al, kamu ingat waktu aku mengantarmu ke rumah sakit untuk periksa kandunganmu. Aku tebak anak kamu cewek, ternyata benar kan. Pasti nanti kalau dia sudah tumbuh besar akan bawel sepertimu." sindir Aril, berharap Alea membalas perkataannya. Namun Alea tak merespon sedikit pun.
"Kalau kamu terus tertidur seperti ini, bagaimana bisa aku meminta pendapatmu tentang permintaan terakhir Deni." ucap Aril dalam hatinya.
☘️☘️☘️☘️
Sabaar ya, Alea mau tidur dulu..capek katanya
Biarlah Aril menunggu😁😁😁
Lanjuuut...
Oh ya, ..jangan lupa like komen dan vote juga bila brkenan.. tmbahkan ke fav km y..
Aku sangat berterima kasih pada kalian yang sudah mau membaca novel pertama aku ini. Maaf ya bila masih banyak kesalahan. Mohon kritik dan sarannya yang membangun.
__ADS_1
Love you readers setiaku..😘😘😘😊😊🤗🤗