
Selama beberapa hari Aril sangat disibukan dengan pekerjaan juga tugasnya untuk menangkap pembuat onar. Setelah bekerja di kantor, dia akan mengganggu Revan di kantornya.
"Bagaimana mas hasilnya? Apa di cctv itu ada petunjuk?" tanya Aril setelah mendudukan dirinya di sofa.
"Ini, lihatlah sendiri!!" Revan menyodorkan laptopnya yang sudah terpangpang rekaman cctv yang sedang berlangsung.
Aril sangat serius melihat satu per satu rekaman cctv itu.
"Mas Revan apa mengenali wanita ini? Setelah dia mengambil ponsel Alea dengan menyamar jadi pelayan hotel, dia kembali ke kamarnya. Wajahnya disini terlihat jelas, namun aku tak mengenalnya. Aku pikir yang melakukan semua ini Diana, si wanita belut itu."
"Perbesar gambarnya." perintah Revan. Lalu Revan memfoto wajah wanita itu dan mengirimkan ke sesorang.
Tak lama ponsel Revan bergetar, sebuah pesan masuk.
"Wanita itu namanya Ratya Hanumsari bertempat tinggal di apartemen DX no flat 5 di lantai 10. Dia seorang Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi. Bekerja di rumah sakit Harapan. Pasiennya sangat banyak, tapi ada satu nama yang sangat kita kenal. Tuan Bimo adalah salah satu pasiennya dulu." jelas Revan.
"Oke, sepertinya akan lebih mudah menangkapnya. Aku akan mencarinya sekarang juga." Aril bergegas keluar dari ruangan Revan tanpa menunggu Revan menjawabnya. Revan hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat semangat menggebu Aril.
Aril begitu semangat dalam perjalanan menuju gedung apartemen DX. Aril segera memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen. Lalu bergegas masuk lift dan menekan nomor 10.
Ting..pintu lift terbuka saat sudah sampai di lantai 10. Suasana sepilah yang terlihat. Aril menyusuri koridor mencari pintu no 5. Belum sempat mengetuk pintu ponselnya berdering.
Revan.
Itulah yang tertulis di layar ponselnya, segera dia menggeser ikon hijau, untuk menjawab panggilan itu.
"Halo, ada apa mas?"
"Kau dimana?"
"Di apartemen DX, ini sudah di depan pintu flat wanita itu."
"Pulanglah, kau tidak akan menemukan apapun disana!!"
__ADS_1
"Maksud mas??"
"Wanita itu tidak ada di flatnya. Dia sudah pergi sejak dua hari lalu dari flat itu. Dan belum kembali sampai saat ini."
"Apa??!!" teriak Aril.
"Hei, kupingku masih normal!! tidak perlu kau berteriak seperti itu!!!" teriak Revan tak kalah keras dari suara Aril tadi.
"Maaf mas, sia sia saja aku datang kesini." gerutu Aril.
"Makanya, dengarkan orang bicara itu sampai tuntas. Jangan main menyela dan langsung pergi begitu saja!"
"Iya mas. Maaf. Sekarang mas tahu dimana keberadaan dokter itu??"
"Carilah di rumah orang tuanya. Aku akan kirim alamatnya lewat pesan. Ingat satu hal. Jangan buat keributan saat membawanya pergi.!"
"Baik mas."
Telfon terputus. Aril segera kembali ke mobilnya. Baru akan menyalakan mesin mobil, ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk.
Aril tak ingin ceroboh lagi. Kali ini Aril tak pergi sendirian. Aril meminta beberapa anak buah juga menuju alamat rumah itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Tidak mungkin kalau dokter itu dibawa di jam segini tanpa menimbulkan keributan. Maka Aril dan anak buahnya memutuskan untuk bermalam di mobil dan besok pagi akan melakukannya.
...
Pagi menjelang.
Seseorang mengetuk kaca pintu mobil Aril.
Aril mengerjabkan matanya, mendengar ketukan itu. Aril segera menurunkan kaca mobil setelah yang dilihatnya adalah salah satu anak buahnya.
"Bos, orang di dalam rumah itu hanya tiga orang. Seorang gadis juga kedua orang tuanya. Tadi kedua orang tuanya pergi menggunakan sepeda motor, sepertinya akan ke pasar karena membawa tas belanjaan yang biasa digunakan ibu ibu yang biasa di pakai ke pasar.
__ADS_1
"Baiklah, sebaiknya sekarang saja kita bawa wanita itu."
Aril segera keluar dari mobilnya. Sedikit merapikan pakaiannya. Lalu berjalan dengan tegak ke arah rumah Dokter Tya.
Beberapa kali Aril mengetuk pintu akhirnya si penghuni membukanya. Dokter Tya nampak terkejut dengan kedatangan Aril ke rumahnya. Raut kegugupan langsung terbaca oleh Aril.
"Ikutlah denganku tanpa ada keributan atau keluargamu juga akan malu jika tahu dirimu aku bawa pergi dengan aku seret. Kau pasti sudah tahu tujuanku datang kesini untuk apa." ucap Aril dengan tegas.
"Aku mohon jangan bawa aku pergi. Aku melakukan itu untuk melindungi orang tuaku. Aku akan menjelaskan segalanya. Namun jangan bawa aku pergi. Atau wanita itu akan melakukan sesuatu hal yang buruk pada keluargaku." Dokter Tya bahkan langsung berlutut di hadapan Aril. Iya, dia langsung menyerah apalagi perbuatannya sudah di ketahui.
"Tetaplah kau harus ikut denganku. Kau tenang saja aku akan meninggalkan anak buahku disini untuk menjaga orang tuamu. Sekarang ayo pergi."
Dokter Tya mengikuti perintah Aril. Dia percaya Aril tak akan membohonginya. Dalam perjalanan Tya terus mengeluhkan dirinya sendiri. Betapa bodohnya, mengiyakan ajakan kerja sama oleh wanita yang tidak dikenalnya. Meracuni pikirannya, dengan pemikiran buruk tentang Alea sehingga dia mau untuk di ajak kerja sama wanita jahat itu guna menjebak Alea dengan mantan kekasihnya.
Aril membawa Tya ke suatu tempat terpencil. Yang sudah dia beritahukan ke Bimo agar Bimo sendirilah yang menginterogasi wanita itu.
Tya dibiarkan di dalam ruangan kamar sendiri. Dengan penjagaan dari anak buah Aril. Tak ingin ada kesempatan untuk Tya bisa lari.
Saat Tya sedang duduk termenung merenungi nasibnya. Pintu kamar terbuka lebar. Bimo sudah berdiri di pintu menatap tajam wanita yang selama ini dikenalnya baik.
"Apa alasanmu melakukan semua ini?" tanya Bimo tegas. Tya yang melihat kedatangan Bimo langsung beringsut ke hadapan Bimo. Tya pun berlutut.
"Bim maafkan aku, aku melakukan semua ini karena aku termakan rayuan wanita yang bernama Diana. Dia selalu menjelek jelekan Alea. Dan aku percaya, makanya aku ikuti ajakan kerja sama untuk menjebak Alea. Aku mohon maafkan aku. Sebenarnya sebelum pernikahanmu aku mengetahui kebaikan calon istrimu itu. Dan aku memutuskan untuk menghentikan rencana itu. Tapi aku salah, orang tuaku malah dalam bahaya jika aku menghentikannya. Aku terpaksa melakukannya. Bahkan hingga kemarin dia masih mengancamku jika aku berani buka mulut. Aku mohon lepaskan aku. Hanya aku yang dimiliki orang tuaku. Aku ingin menjaga mereka." jelas Tya dengan tersedu.
"Dimana wanita jahat itu.?" Bimo bahkan enggan menyebut nama itu karena sudah begitu muak dengan segala kejahatannya yang tiada henti mengusik dirinya juga Alea.
"Aku tidak tahu dimana dia, tapi ini. Dia selalu menghubungi aku dengan nomer ini." Tya menyerahkan ponselnya dengan menunjukan nomor dari Diana.
Bimo segera bertindak. Dia mengirimkan nomor Diana ke Revan untuk dilacak dimana keberadaannya.
"Baiklah, kembalilah ke rumah orang tuamu. Dan pastikan jika kau tidak akan pernah mengusik kehidupanku lagi apalagi dengan kerja sama dengan wanita itu. Aku dapat pastikan aku tidak akan mengampunimu walau kamu bersujud sambil menangis darah sekalipun." tegas Bimo.
"Terima kasih Bim. Terima kasih."
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...