Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Siapa mereka


__ADS_3

Selamat membaca, the readers.!!!


Mobil itu terus mengikuti arah kemanapun mobil Aril melaju.


Aril sempat berfikir kalau itu orang jahat, namun agar lebih pasti fikirnya, Aril bertanya pada Alea.


"Al, kamu lihat lah mobil putih yang berada di belakang mobil ini. Kamu kenal tidak?"


"Aku tidak kenal mobil itu. Memang kenapa?" jawab Alea dan balik bertanya.


"Sepertinya mobil itu terus mengikuti kita, sejak mobil ini keluar dari rumah kamu." jelas Aril.


"Sebentar, akan aku tanyakan dulu pada Deni. Mungkin saja itu bodyguard."


Alea segera menghubungi Deni, namun tak kunjung dijawab juga.


"Tidak dijawab, pasti masih rapat. Coba aku hubungi papa aku dulu."


Alea menghubungi papanya, sebentar saja sudah diangkat oleh papanya.


"Halo sayang, ada apa?"


"Ini pa, apa papa atau suamiku menyuruh bodyguard untuk terus mengikutiku kemanapun aku pergi?"


"Iya sayang. Memang kenapa?"


"Syukurlah. Artinya yang sedang mengikuti aku sekarang ini adalah suruhan kalian. Jadi aku tidak perlu khawatir."


"Ya sudah pa, Alea kini sedang bersama teman. Kami mau ke kampus."


"Iya sayang. Kamu hati hati ya."


"Bye pa."


"Bye."


Alea meletakan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Itu bodyguard Ril, jadi tak perlu khawatir."


Aril hanya mengangguk saja tanda mengerti. Dia fokus pada jalanan kembali.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di kampus.


"Nah ini dia, tempat kuliah aku dulu. Bagus kan kampusnya."


Keyla melihat sekeliling sambil manggut manggut menanggapi Alea. Akea kemudian menyeret Keyla untuk berkeliling.


Sedang Aril terus mengikuti keduanya dari belakang. Dia sudah seperti bodyguard tuan putri. Karena diacuhkan kedua tuan putri itu yang sedang asik mengobrol sambil berjalan melihat lihat kampus ini.

__ADS_1


"Ayo kita ke kafe depan kampus yuk, aku haus." ajak Alea yang sudah kehausan karena terus bicara menjelaskan isi kampus sejak tadi.


"Kenapa harus ke depan lagi sih Al, itu ada kantin." keluh Aril.


"Aku pengennya kesana. Kalau kamu nggak mau ikut ya sudah. Aku akan kesana sendiri. Kamu ikut tidak Key?" tanya Alea sedikit kesal.


"Iya aku ikut kamu kok."


Setelah mendapat jawaban Keyla, Alea langsung membawa Keyla ke cafe depan kampus. Dan terpaksa pun Aril juga ikut, untuk menjaga keduanya.


Sesaat sebelum menyebrang, ponsel Keyla berbunyi. Jadi Keyla berhenti sejenak di pinggir jalan untuk melihat siapa yang menelfonnya. Tetapi Alea terus saja berjalan menyebrang, entah karena terlalu senang keinginannya dituruti atau apa. Mobil yang tadi dikiranya mobil bodyguardnya, melaju kencang ke arah Alea.


"Alea awas." teriak Aril.


Untunglah Aril melihatnya, dengan cepat Aril menarik Alea untuk segera menghindar dari mobil itu.


Alea terkejut dengan sentakan keras pada tangannya. Membuatnya sedikit limbung, dan bersyukur sekali dirinya tidak terjatuh. Karena Aril segera menariknya dalam dekapannya.


"Alea, kamu tidak pa pa?" tanya Aril yang masih mendekapnya erat.


"Aku tidak pa pa. Hanya sedikit terkejut." jawab Alea berusaha mengatur nafasnya yang tersengal sengal.


Aril sadar dengan posisinya, kemudian langsung melepas dekapannya pada Alea.


"Al, kamu nggak pa pa kan. Maaf tadi aku membiarkanmu menyebrang." sesal Keyla.


"Al, tapi mobil yang menabrakmu tadi adalah mobil yang terus mengikuti kita. Yang kamu sangka adalah bodyguard kamu."


"Yang benar kamu Ril?" tanya Akea sedikit takut.


"Iya aku yakin. Lihatlah ke sebelah sana." tunjuk Aril di bawah pohon sebelum jalan masuk kampus.


"Tadi saat kita masuk area kampus, aku melihat mobil yang mengikuti kita tadi berhenti disana. Tapi sekarang sudah tidak ada." lanjut Aril.


Alea menjadi khawatir, setelah sekian lama. Bahaya kembali mengintai dirinya. Kali ini siapa mereka yang berusaha mencelakainya. Apakah Diana lagi?


"Keinginanku untuk ke kafe itu sudah hilang. Ayo kita kembali ke dalam kampus saja." Aril dan Keyla mengikuti permintaan Alea.


Yang Alea butuhkan saat ini adalah suaminya. Hanya Deni yang bisa memberi ketenangan bagi Alea.


Deni sudah selesai rapat, dia menunggu di ruangannya. Untuk memastikan Alea sudah di kampus atau belum, Deni menelfon Alea.


Belum juga tersambung, pintu ruangan Deni dibuka seseorang. Deni tersenyum melihat kedatangan istrinya. Tetapi senyumnya langsung hilang ketika melihat wajah ketakutan dari Alea.


Alea langsung memeluk Deni, berharap kegelisahan dan ketakutannya enyah dengan segera.


"Alea sayang. Ada apa?" tanya Deni dengan lembut. Namun Alea tetap diam.


Deni dengan isyarat bertanya ke Aril. Aril mengisyaratkan untuk diam dulu.

__ADS_1


"Kamu kangen ya honey sama aku. Meluknya erat banget nggak dilepas lepas."


"Iya, aku selalu kangen sama kamu bee. Walau sebentar saja aku nggak mau jauh dari kamu." jawab Alea sedikit melepas pelukannya.


"I love you." bisik Deni ke telinga Alea. Alea akhirnya bisa tersenyum juga.


"Bagaimana Key? Kampusku bagus kan. Jadi kamu mengambil S2 disini?" tanya Deni.


"Sepertinya iya. Tapi nanti aku bicarakan dengan papa ku dulu. Akan aku kabari jika aku jadi mendaftar disini."


"Honey, sebentar ya aku ingin ke kantin dulu. Aku mau cari makanan dan minuman buat kita. Kamu disini saja dengan Keyla."


"Hm." jawab Alea singkat.


"Ayo Ril, temani aku." Aril berdiri mengikuti Deni keluar.


Setelah agak jauh dari ruangan, Deni bermaksud mencari informasi dari Aril tentang Alea yang tadi sempat gelisah dan ketakutan. Aril menceritakan kejadian itu dari awal.


Deni mengepalkan tangannya menahan amarah. Kenapa ada penganggu lagi yang datang saat dirinya sedang bahagia. Dan lagi lagi bahaya mengancam keselamatan Alea.


Siapa mereka? itulah yang difikirkan Deni saat ini.


Deni kembali melangkahkan kakinya ke kantin untuk membeli beberapa minuman dan makanan untuk istri dan temannya. Setelahnya kembali ke ruangannya.


"Honey, minum dulu. Pasti kamu haus kan, dari tadi pasti tidak berhenti mengobrol dengan Keyla." sela Deni.


"Hem, kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan." Alea menenrima minuman yang disodorkan oleh suaminya.


"Oh iya Ril, sudah mencoba menghubungi kantor yang aku berikan kartu namanya dulu itu?" tanya Deni.


"Sudah, dan rencananya besok aku akan datang ke kantor itu. Doakan semoga pekerjaannya cocok untukku." jawab Aril.


"Tentu. Kalau butuh bantuan apapun jangan sungkan bilang padaku."


☘️☘️☘️☘️


Berhasilkah Deni mencari tahu siapa dalang dibalik bahaya ini..


Lanjutkan di episode selanjutnya ya..


tinggalkan jejak kalian setelah membaca karyaku ya...like komen vote pun boleh..


juga tambahkan ke rak buku favorit kalian..


buat yang baca saja, tak masalah aku sangat berterima kasih.


love you, readers setia aku..😊😊😊🤗🤗🤗🤗


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2