
"Bee kamu kenapa? Kamu sampai berkeringat dingin seperti ini." seru Alea.
Deni yang mendengar suara Alea langsung tersadar.
"Tidak apa apa, perut aku hanya mulas, karena sedikit kekenyangan jadi aku nggak langsung ke kamar mandi. Sekarang aku ke kamar mandi dulu ya." ucap Deni, kemudian dia bergegas masuk ke kamar mandi.
Deni segera mengunci pintu kamar mandi, dia kemudian duduk di closet. Nafasnya agak sesak karena tadi panik. Takut kalau Alea sampai tahu kondisi kesehatannya yang sedang tidak baik.
Deni mulai mengatur nafasnya kembali. Setelah normal, dia lalu mandi.
tok...tok..
"Bee, aku sudah siapkan baju ganti kamu. Aku ada di taman belakang jika nanti kamu mencariku. Aku ingin berjalan jalan." seru Alea dari balik pintu kamar mandi.
"Iya honey, hati hati." Deni sedikit berteriak menjawab istrinya.
Alea kemudian menuju ke taman belakang rumahnya. Disana sudah ada papa dan mamanya yang sedang berolahraga juga.
Alea melepas alas kakinya. Berjalan di atas rerumputan tanpa alas kaki terasa nyaman bagi Alea. Dia terus berjalan sambil membaca buku tentang kehamilan.
Dia harus menyiapkan segala kebutuhan nanti untuk melahirkan. Lahir bathinnya harus siap karena waktu kelahiran semakin dekat.
"Honey.." bisik Deni setelah memeluk Alea dari belakang.
"Bee, kaget aku. Untung aku lagi hamil. Kalau nggak sudah aku banting kamu karena kaget."
"Segitunya sama suami. Masak mau dibanting."
"Ya kan kalau aku nggak tahu kalau itu kamu bee. Makanya jangan biasain langsung main peluk aja." keluh Alea.
"Iya honey. Bagaimana kabar anak daddy hari ini?" tanya Deni sambil mengusap sayang perut buncit Alea.
"Baik daddy. Aku sudah makan kenyang tadi dad." jawab Alea menirukan suara anak kecil. Deni tersenyum mendengar suara Alea, dia pun mengecup pipi Alea berkali kali. Deni kemudian menemani Alea berjalan.
"Honey, inginnya kamu nanti saat melahirkan ingin normal atau operasi saja?"
"Aku sih inginnya normal bee, kalau bisa. Karena aku ingin merasakan seutuhnya perjuangan seorang ibu." jawab Alea.
"Iya, aku mendukung apapun keputusan kamu. Kesehatan kamu harus kamu jaga terus ya, biar lancar pas melahirkan nanti."
"Iya bee. Kamu juga harus selalu jaga kesehatan kamu."
"Iya honey. Sudah yuk, kita masuk ke dalam. Ini sudah terlalu terik buat kamu berjemur disini." ajak Deni.
"Baiklah," Alea mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah.
...
__ADS_1
Seharian Deni benar hanya menemani istrinya diam dirumah. Menghabiskan waktu dengan menonton film terbaru dari aktor kesukaan Alea.
"Bee, kayaknya enak nih kalau makan bakso. Nyari bakso yuk." pinta Alea.
"Boleh, tapi kamu dirumah aja ya. Biar aku saja yang keluar."
"Aku pengen makan di tempatnya bee..Aku ikut ya..ya?" Alea memasang wajah terimutnya.
"Ok ok..Kamu memang selalu membuat aku nggak bisa nolak kamu kalau kamu sudah sangat menggemaskan seperti ini." ucap Deni sambil mencubit pelan hidung Alea.
"Hi hi hi.. Ayo berangkat sekarang." ajak Alea dengan senyum bahagia.
"Pamit dulu sama papa mama." Deni menggandeng Alea mencari orang tuanya.
Didapati keduanya sedang bersantai di teras rumah.
"Pa ma, kita mau keluar sebentar nih mau cari bakso. Papa mama mau tidak? nanti dibungkusin." ucap Alea.
"Nggak usah sayang. Masakan mama lebih enak." jawab papa Alea sambil mencolek dagu istrinya.
"Ihh papa bucin sama mama." seru Alea.
"Biarin sama istri sendiri nggak pa pa dong." jawab papanya lagi.
"Iya iya, sudah Alea sama Deni pergi dulu ya pa ma."
"Iya ma."
Deni segera mengeluarkan mobil dari garasi. Dia memakai mobil papa mertuanya, karena mobilnya masih dibawa oleh Aril.
Setelah Alea masuk ke mobil, Deni segera melajukan mobilnya ke jalan raya yang terlihat sedikit ramai di hari minggu ini.
"Kamu mau bakso yang dimana hon?" tanya Deni.
"Emm, dimana ya bee. Aku pengen bakso urat nih."
"Bakso urat ya, kayaknya aku pernah lihat ada warung bakso urat di jalan dekat kantor. Mau kesana?"
"Iya bee, aku sampai ngeces nih bayangin bakso urat."
Sekitar dua puluh menit, mobil Deni sudah sampai di warung bakso yang di maksud tadi. Setelah mobilnya terparkir, Alea dengan segera masuk ke dalam warung bakso itu.
Terlihat dari luar seperti warung kecil, ternyata di dalamnya sudah seperti rumah makan. Konsumennya juga lumayan banyak. Hampir semua tempat duduk ada orangnya.
Alea segera duduk di tempat yang masih kosong. Sedang Deni menuju ke penjualnya untuk memesan bakso yang di inginkan.
Tak berapa lama bakso pesanan Deni sudah di antar oleh pelayan.
__ADS_1
"Hemm,, baunya wangi bee. Sepertinya lezat." Alea segera mencicipi kuah baksonya lebih dahulu.
"Bagaimana?" tanya Deni.
"Iya bee, enak banget." jawab Alea kemudian segera memakan bakso tanpa menambahkan bahan pelengkap apapun.
Denipun mengikuti gaya makan Alea yang tidak menambahkan saos ataupun sambal. Ternyata begitu saja sudah enak rasanya.
Setelah menghabiskan satu mangkok, Alea meminta tambah. Namun hanya meminta baksonya saja tanpa kuah dan mie.
Setelah merasa kenyang Alea meminum es jeruknya.
"Ahh, aku kenyang bee." ucap Alea sambil mengelus perutnya.
Deni tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Baginya itu sangat menggemaskan.
"Ayo kita pulang." ajak Deni, setelah memanggil pelayan untuk membayar semua makanannya.
Alea menyambut uluran tangan Deni. Lalu keluar dari warung bakso itu. Seperti biasa Deni selalu membukakan pintu mobil untuk Alea, setelahnya baru dia akan masuk ke kursi kemudi.
Deni mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melewati jalan yang sama dengan saat dia berangkat tadi. Namun terjadi kemacetan.
Deni mencoba bertanya pada salah satu pejalan kaki.
"Permisi pak, didepan ada apa ya kok macet?"
"Tadi sepertinya baru ada kecelakaan mas."jawab bapak bapak itu.
"Terima kasih pak." ucap Deni. Si bapak hanya mengangguk kemudian melanjutkan jalannya.
Mumpung belum terlalu rapat. Deni memilih untuk keluar jalur dan putar balik. Takut kalau terjebak macet dan akan lama, pikirnya.
Deni mencari jalan lain untuk menuju rumah. Sedikit lebih jauh karena harus memutar. Alea juga tak masalah jika lebih jauh. Di jalan, saat Alea melihat sebuah toko buah. Alea meminta Deni untuk berhenti.
Alea ingin makan buah apel yang segar, Deni membantu Alea memilih buah apel yang masih segar. Setelah jumlahnya cukup segera Alea membayar buahnya itu.
Alea dan Deni kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulangnya. Deni merasa bahagia bisa menuruti semua keinginan istrinya hari ini. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah istrinya, sungguh membuat Deni tak rela jika harus pergi dari sisi Alea. Deni ingin bisa selamanya bersama istri tercintanya itu.
☘️☘️☘️☘️
Hai hai..episode kali ini nggak ada konflik dulu ya..
lanjut episode selanjutnya..terima kasih yang sudah baca karyaku ini..
tinghalkan jejak kalian ya.like komen terserah kalian biar aku tahu gimana pendapat kalian tentang karyaku..
love you readers setiaku..😊😊😊🤗🤗😘😘
__ADS_1