Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Kembali bahagia


__ADS_3

"Tidak tahu, dokter belum juga keluar." Jawab Tuan Aran.


"Sebenarnya apa yang terjadi Pa? Sampai dia harus dilarikan ke rumah sakit!!"


Tuan Aran lalu menceritakan semua kejadian di rumah. Bimo langsung berteriak kesal, mengumpati wanita yang selalu jahat padanya juga Alea. Entah bagaimana keadaan Diana saat ini, Bimo tidak peduli. Harapannya, Diana tak lagi muncul membawa masalah.


Ceklek.. seorang dokter keluar dari UGD.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Cecar Bimo langsung.


"Nona Alea dalam keadaan tidak baik tuan."


"Apa maksud dokter?"


"Nona Alea dibawa kesini sedikit terlambat, hipotermianya sudah terlalu parah. Apalagi kondisi nona sedang mengandung. Kandungannya sangat lemah. Kami sudah berusaha untuk menstabilkan kondisi jantung nona Alea yang melemah. Beberapa kali detak jantungnya hampir terhenti. Nona Alea sepertinya tak memiliki semangat untuk hidup. Dan sekarang walau sudah stabil namun kondisinya masih sangatlah lemah. Kami tim dokter khawatir jika kandungan nona tak bisa bertahan."


"Lakukan yang terbaik dok. Apa saya boleh masuk?"


"Silakan tuan, satu orang saja. Setelah itu Nona Alea dipindahkan ke ruang ICU."


Bimo langsung berlari masuk ke dalam, melihat kondisi istrinya yang sangat lemah. Bimo sampai menitikan air mata.


"Maafkan aku sayang. Aku tak bisa menjaga dirimu dengan baik. Seandainya sejak awal aku bicara kebenaran ini padamu. Pasti kamu tidak akan bertindak hal bodoh seperti ini." Bimo menggenggam erat jemari lemah Alea.


Hari berganti malam, Bimo tak beranjak dari samping Alea sejak dipindahkan ke ruang perawatan.


"Sayang, aku mohon bertahanlah. Ada baby kita disini." Ucap Bimo sembari mengusap perut Alea.


"Percaya padaku, video itu tidak benar. Kamu tidak melakukan itu, sayang. Bangunlah, aku dan Myli merindukan kamu. Myli semalam bahkan tak ingin pulang dari sini. Dia tak berhenti menangis melihatmu seperti ini. Aku mencintaimu. Cepat sadar ya, demi calon anak kita." Bimo menggenggam erat tangan Alea.


Sejak kemarin siang, Alea masih belum sadar. Bimo tak beranjak sedikit pun dari samping Alea.


"Selamat pagi Tuan. Saya periksa nona Alea ya." Ucap seorang dokter wanita yanv memang sudah ditunjuk khusus oleh Bimo untuk menangani Alea. Dia tak ingin ada dokter pria yang menyentuh Alea walau hanya untuk memeriksa. Posesifnya tetap ada dari dulu.


"Silahkan dok." Jawab Bimo tanpa mengalihkan pandangannya dari Alea.


Dokter itu pun mengerti, dan tak ingin mengusik Bimo. Dia melakukan tugasnya saja dengan baik.


"Kenapa istriku belum sadar juga?" Tanya Bimo.


"Seharusnya semalam sudah sadar tuan, tapi sepertinya nona Alea sekarang ini hanya tertidur, bukannya tidak sadar."

__ADS_1


"Tapi dari tadi aku mengajaknya bicara, kenapa dia tidak terusik?" Bimo tak mengerti.


"Tuan bersabarlah. Kondisi nona Alea saat ini sangat lemah jadi wajar jika tidurnya sangat lelap. Tapi jika 2 atau 3 jam lagi nona Alea belum bangun juga, mohon segera hubungi saya."


"Baik dok, saya mengerti."


"Kalau begitu saya permisi Tuan. Selamat pagi." Ucap dokter itu kemudian meninggalkan ruangan Alea.


"Syukurlah jika kondisimu sedikit membaik sayang. Bangunlah, aku menantimu."


Bimo merasakan genggaman tangannya terbalas, Bimo yang tadinya menunduk lansung mendongak melihat wajah Alea. Perlahan pupil mata Alea bergerak, namun belum membuka matanya. Wajahnya terlihat gelisah. Lalu mata Alea langsung terbuka lebar, nafasnya naik turun seperti habis mimpi buruk.


"Sayang akhirnya kamu bangun juga. Kamu tahu kalau aku sangat mengkhawatirkan kamu."


Alea melepas tangan Bimo yang menggenggamnya erat. Lalu memalingkan wajahnya enggan melihat Bimo.


"Sayang ada apa?" Tanya Bimo heran dengan sikap Alea.


"Pergilah." Ucap Alea lirih.


"Kenapa sayang?"


"Pergii!!" Teriak Alea. Dan itu mengejutkan Bimo. Seketika Bimo teringat dengan video itu. Alea langsung terisak. Bimo berdiri lalu meraih bahu Alea agar menghadapnya.


"Hei, tenanglah. Jangan menangis. Dengarkan aku." Setelah dirasa Alea sudah cukup tenang, Bimo mendudukan dirinya di ranjang Alea.


"Dengar, apa kau mencemaskan video yang kamu lihat kemarin?"


Alea terkejut, dia langsung menatap Bimo.


"Video itu tidak benar sayang. Memang yang diawal adalah dirimu, tapi selanjutnya bukan. Kamu tak sampai melakukan hubungan intim dengan pria lain." Jelas Bimo.


"Benarkah.?" Alea rasanya tak percaya kalau Bimo tahu segalanya.


"Percayalah. Waktu itu kamu dalam pengaruh obat, syukurlah lelaki itu tak tergoda dengan kamu. Dia malah mencoba untuk membantumu."


"Siapa lelaki itu?" Alea juga penasaran, karena video yang kemarin dilihatnya sangat tidak jelas wajahnya.


"Aril, sudah jangan difikirkan lagi. Semua sudah berakhir, jangan bahas itu lagi. Ok!! Yang penting sekarang, kamu harus tahu sesuatu yang penting." Bimo meraih satu tangan Alea dan diletakkan di perut Alea.


"Disini ada calon baby kita.."

__ADS_1


Alea diam, mencoba mencerna ucapan suaminya. Dia terlalu bahagia hingga tak mampu berkata kata.


"Mas..?" Alea meraba perutnya yang masih rata.


"Iya sayang. Adik untuk Myli." Jawab Bimo meyakinkan Alea.


Bimo segera memeluk tubuh Alea yang masih lemah. Mereka tertawa bahagia.


"Doa Myli terkabul. Aku sangat bahagia. Aku bahagia mas." Tapi tiba tiba Alea mengurai pelukannya.


"Sebentar mas, masalah yang tadi. Aku ingin bertanya lagi."


"Apa lagi sayang? Jangan bahas itu lagi. Kau tidak ingin aku menghajar Aril lagi kan."


"Satu pertanyaan saja. Jawablah. Apa semua keluarga sudah tahu hal ini, mereka semua mengerti yang sebenarnya terjadi padaku saat itu?"


Bimo menghela nafasnya pelan,


"Iya, mereka sudah tahu. Dan mengerti. Sudah jangan bahas lagi. Masalah itu sudah selesai."


"Baiklah. Aku percaya kamu suamiku. Kamu selalu bisa meneyelesaikan masalahku." Alea kembali tersenyum manis.


"Sekarang kamu makan ya, aku suapi." Bimo meraih makanan dari rumah sakit, yang diletakan di atas nakas.


Alea menerima suap demi suap dari tangan Bimo.


....


Sudah hampir satu minggu Alea terbaring di ranjang rumah sakit. Karena kandungannya yang lemah, dokter menyarankan untuk tidak boleh banyak bergerak. Dan Bimo menjadi super protektif dan menjadi ayah siaga. Bimo menjaga Alea 24 jam.


Tapi alea yang dibuat kesal, setelah dia kembali berbaring di ranjang. Pasti tidak akan boleh bergerak sedikitpun. Alasan kehamilannya selalu membuatnya tidak bisa membantah apapun yang dikatakan suaminya.


Dan hari ini Alea sudah boleh pulang.


"Mas, aku jalan saja ya. Aku sudah kuat kok." Alea menolak duduk di kursi roda.


"Pakai kursi roda atau aku gendong sampai mobil."


"Aiiihh..mas." dengan terus menggerutu tidak jelas, Alea akhirnya memilih duduk di kursi roda ketimbang harus digendong.


Bimo selalu gemas, jika melihat wajah Alea yang menggemaskan saat cemberut seperti itu. Bimo mencuri satu kecupan dari bibir Alea. Alea yang terkejut langsung memukul bahu Bimo.

__ADS_1


Bimo pun tertawa puas. Lalu mulai mendorong kursi roda istrinya, untuk keluar rumah sakit.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2