
Alea merasa degup jantungnya tidak beraturan. Alea sampai memegang dadanya.
"Itu kakakku sudah kesini sama mas Aril."
"Kakak kamu kenapa?" melihat Bimo yang di kursi roda.
"Cidera kakinya belum sembuh, tapi kemarin harus jatuh lagi. Makanya harus pakai kursi roda agar cideranya tidak semakin parah."
"Emm begitu, kasihan sekali."
Aril dan Bimo sudah berada dekat dengan bangku yang di duduki Alea dan Ika.
"Apa yang kalian sedang bicarakan aku?" tanya Aril ikut duduk di bangku. Dia duduk di sebelah Ika, jadi Ika berada di tengah.
"Ihh geer, mana ada kita ngomongin kamu. Nggak penting. Mending kamu tuh yang ngomongin perasaan kamu sama Ika." Alea menggoda Aril.
Aril langsung kikuk, mau menjawab apa. Dia mengalihkan perhatiannya pada Myli yang sudah berpindah ke pangkuannya.
"Myli, ayo main bola lagi." ajak Aril smbil meraih bola plastik yang ada dibawahnya.
Myli langsung mengangguk setuju, namun tangannya meraih tangan Ika.
"Kenapa Myli?" tanya Ika yang melihat tangannya diraih oleh Myli.
"Ayo, tante ikut main." pinta Myli.
"Ayo, dengan senang hati anak manis." Ika menjawab dengan senyumannya.
Aril, Ika dan Myli, asik bermain bola. Alea masih duduk ditemani Bimo disampingnya yang di kursi roda.
"Perkenalkan nama saya Bimo." ucap Bimo memecah keheningan antara keduanya.
" Alea." jawab Akea sambil menerima uluran tangan Bimo.
"Myli umur berapa?" tanya Bimo kemudian.
"Baru dua tahun." jawab Alea masih menatap kebersamaan tiga orang agak jauh di depannya.
"Emm, apa boleh aku bertanya sesuatu?" Bimo mengatakan dengan hati hati.
"Boleh, apa itu?" Alea mengalihkan pandangannya kemudian menatap Bimo. Alea merasakan jantungnya kembali berdebar saat menatap manik mata Bimo. Kemudian dengan segera dia kembali mengalihkan pandangannya ke Myli lagi.
__ADS_1
"Apa kamu mengenal aku? Aku seperti sudah tak asing dengan kamu." Bimo menelisik wajah Alea. Bimo yakin kalau wanita dalam mimpinya itu adalah Alea.
"Tidak,, ini pertama kalinya kita bertemu." jawab Alea tanpa memandang Bimo.
"Tapi aku merasa mengenal matamu. Tatapanmu seperti sudah tak asing lagi bagiku. Padahal kita memang tak pernah bertemu, bahkan baru hari ini aku mengenalmu." lanjut Alea dalam hati.
"Begitukah?" Bimo tak ingin mempercayainya.
"Heem." Alea mengangguk mantap.
"Tapi ini terlihat nyata dan jelas. Kalau wanita itu adalah dirimu. Bahkan suara kamu yang memanggilku terus dalm mimpi itu terdengar sama dengan saat ini kau bicara denganku." gumam Bimo pelan yang hanya mampu didengarnya sendiri.
"Oh iya, aku turut berduka atas hilangnya suamimu. Aku dengar cerita dari Aril tadi." ucap Bimo kemudian.
Wajah Alea kembali terlihat sendu, mendengar ada yang membicarakan suaminya.
"Terima kasih." sahut Alea dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Bimo melihat wajah sedih Alea, jadi merasa bersalah.
"Maaf, sudah membuatmu kembali bersedih."
"Tidak, bukan salahmu. Aku memang tidak bisa walau sebentar tak memikirkan suamiku. Aku sangat berharap dia segera ditemukan." Harapan Alea.
"Ya aku sangat sangat mencintainya. Saat tahu kenyataan bahwa dia tak ada disisiku, aku merasa kalau nafasku hilang. Aku bertahan karena ada Myli disisiku. Entahlah jika tidak ada anakku, mungkin aku sudah menyerah untuk hidup. Walau aku baru tersadar hampir dua bulan lalu. Rasanya sudah seperti setahun hidup tanpanya. Rasanya sangat sepi tanpa ada dirinya." Alea sampai menitikan air mata karena merasakan rindu yang teramat dalam.
Bimo sedih melihat Alea menangis dalam diamnya. Bimo reflek bangun dari kursi rodanya dan berpindah duduk disamping Alea. Bimo menghapus air mata yang menggalir di pipi Alea.
Alea memejamkan matanya, merasakan ada sentuhan hangat yang berada dipipinya. Alea terbuai dengan sentuhan itu hingga dia meraih tangan seseorang itu. Dia merasa dia sedang bermimpi, tangannya seperti memegang tangan Deni.
Secara spontan Alea yang masih menutup matanya, memeluk tangan itu.
"Bee aku merindukanmu. Bee kembalilah padaku." ucap Alea kemudian.
Degg degg degg.
Kalimat itulah yang sering terdengar oleh Bimo dalam mimpinya.
"Alea.." panggil Bimo lirih.
Alea tersadar, dia melihat tangan siapa yang sedang digenggam bahkan dipeluknya dengan erat, ialah tangan Bimo. Alea reflek langsung melepas tangan itu.
__ADS_1
"Maaf.." kata Alea.
"Alea maaf, bukannya aku ingin ikut campur. Tapi aku ingin sekali memastikan sesuatu."
"Apa itu?"
"Kata katamu tadi, sempat kamu memanggil Bi dan Bi. Siapa itu?" Bimo sangat penasaran.
"Itu panggilan kesayanganku pada suamiku, Bee."
"Entah kamu percaya atau tidak, tapi aku hanya ingin menceritakan ini padamu. Hampir setiap malam dua bulan terakhir ini, tepatnya awal mulanya pada tanggal 23 dua bulan lalu. Aku selalu memimpikan kamu dan mengatakan persis dengan apa yang kamu katakan tadi." terang Bimo.
Alea mencoba menerka maksud ucapan Bimo. Dan mengingat tanggal yang diucapkan Bimo itu sama dengan tanggal sehari setelah ulang tahun Myli. Dan saat itu, Alea tahu tentang kematian suaminya. Dan setelah itu Alea selalu menangis setiap malam menjelang tidur, menangisi kerinduannya pada Deni dan akan tertidur saat sudah terlalu lelah menangis.
"Apa maksud semua ini.?" gumam Alea tidak mengerti.
"Kenapa tadi kamu bertanya apa aku mengenalmu? Memang kamu tidak pernah mengingat kalau berkenalan dengan orang??" tanya Alea yang penasaran ingin tahu.
"Aku bukannya tidak mau mengingat, tapi aku benar benar tidak ingat dengan kehidupanku sebelum dua tahun yang lalu." jelas Bimo yang juga bingung.
"Dua tahun lalu?"
Bimo mengerti maksud pertanyaan Alea. Lalu dia menceritakan kehidupannya.
"Dua tahun yang lalu, tepatnya tanggal 22 bulan tujuh aku menghilang. Akupun tak ingat apapun, dan aku ditemukan oleh adikku itu setelah hampir 6 bulan lamanya. Keadaanku lusuh, tubuhku penuh luka, dan juga aku hanya mengingat yang terjadi pada diriku setelah hari itu saja. Apa yang terjadi padaku sewaktu hilang ataupun sebelumnya aku sama sekali tidak mengingatnya."
"Kenapa tanggal itu sama dengan tanggal kecelakaan aku bersama suamiku. Dan juga itu adalah hari kelahiran putriku. Jadi aku selalu mengingatnya, karena hari itu juga terakhir kali aku melihat suamiku. Apa maksud dari semua ini?" ucap Alea dalam hati.
"Apa kamu juga tahu penyebab kamu tidak bisa mengingat apapun?" Alea semakin ingin tahu.
"Kata dokter, ini terjadi karena satu obat yang diberikan padaku sewaktu aku hilang. Ada kemungkinan bahwa aku diculik dan penculik itulah yang meracuniku. Sehingga sel otakku ada yang rusak sehingga membuatku kehilangan memoriku seluruhnya." terang Bimo.
"Aku penasaran dengan semua yang terjadi pada kakaknya Ika ini. Kenapa semua seperri terkait dengan Deni? Aku harus menceritakan semuanya pada papa. Agar aku bisa mencari tahu semuanya." Alea bertekad menyelidiki apa yang terjadi pada Bimo.
Sedang Bimo masih saja terpaku melihat wajah Alea yang terlihat sedang serius memikirkan sesuatu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Terima kasih yang sudah selalu setia membaca karyaku..🙏🙏🙏
Tinggalkan jejak kalian ya, like komen atau..berilah aku bunga kalian👌👌👌
__ADS_1
Bye,,lanjuut!!!