
"Kamu pagi pagi sudah sampai sini? Ada apa sayang?"
"Bee, kamu sudah sempat sarapan?"
"Ah iya, aku sampai lupa. Karena tadi aku datang langsung membantu papa untuk menyiapkan berkas berkas untuk meeting."
Alea beranjak dari duduknya mengambil rantang makanan yang tadi dibawanya.
"Ini kamu sarapan dulu. Tadi aku kesini, bawa makanan. Takut kamu gak sempat sarapan, nyatanya benar kamu sampai lupa sarapan."
Bimo langsung menyambut makanan yang di bawa Alea.
"Terima kasih ya sayang. Tapi lain kali, kamu jangan pergi sendiri ke sini. Suruh supir saja yang mengantar makanannya. Aku nggak mau kamu kenapa napa tanpa aku disampingmu. Oke." Ucap Bimo yang khawatir jika Alea bepergian sendiri.
"Iya, tidak apa kok. Lain kali aku akan tetap dirumah jika kamu sedang tidak bersamaku. Tapi aku kesini sendiri tadi juga karena ada alasannya." Alea berubah masam wajahnya.
"Hei kenapa wajahmu seperti itu?"
"Salah siapa yang tadi pagi pergi tanpa pamit. Tanpa bangunin aku dulu." Alea masih memasang wajah cemberut.
"Ah iya, aku minta maaf ya sayang. Aku sangat buru buru. Aku tidak tega bangunin kamu sepagi itu. Tidur kamu lelap banget." Bimo langsung merengkuh Alea dalam pelukannya. Dan mengecupi wajah Alea. Membuat si empunya jadi kegelian.
"Ah sudah bee. Geli ah." Alea mendorong wajah Bimo agar menjauh.
"Senyum donk, jangan cemberut."
Alea lalu menarik sudut bibirnya agar terlihat senyumnya.
"Gitu donk. Nanti kamu tunggu disini saja ya. Aku masih ada meeting. Tadi break sebentar. Nanti jam makan siang aku atar kamu pulang." Jelas Bimo sambill melahap kembali sarapannya.
"Biar aku pulang sendiri aja bee. Pak supir juga masih nungguin di bbawah kok. Lagi pula kamu juga sibuk kan."
"No sayang. Aku yang akan antar kamu. Tunggu disini, kalau butuh apapun panggill sekertaris papa. Dan jangan membantah." Tegas Bimo.
"Oke. Oke. Sekarang aku akan suruh pak supir pulang." Alea segera mencari ponselnyandi tas kecilnya yang tadi diletakan di meja.
Lalu Alea mengirim pesan pada supir, untuk menyuruhnya pulang saja.
Bimo sudah kembali ke ruang meeting. Alea kembali membaca buku yang tadi sempat terhenti. Lama lama Alea bosan juga. Ah dia punya ide jahil. Mengganggu pasangan yang pastinya lagi mesra mesraan pasti seru pikirnya.
Alea mengambil ponselnya, memilih video call pada kontak Aril.
Lama sekali tidak segera tersambung. Alea semakin semangat mengganggu, dapat dipastikan Alea kalau mereka yang lagi jauh disana sedang olahraga pagi di ranjang.
Panggilan yang kedua masih diabaikan. Alea tak putus asa. Dia kembali menekan ikon video call. Tak sampai lima detik langsung tampak wajah Aril yang tampak berantakan.
"Ha ha ha ha." Alea tak dapat menahan tawanya.
"Apaan sih Al? Awas aja kalau nggak penting." Kesal Aril.
"Aha haha memang sengaja, aku mau gangguin kalian lagi indehoy.. ha ha ha." Alea tak dapat berhenti tertawa apalagi melihat wajah Aril yang masam.
__ADS_1
"Kenapa sih kamu kalau lagi hamil tingkat nyebelinnya meningkat. Dasar bumil ngeselin." Ketus Aril.
"Hei yang sopan kalau ngomong. Sekarang kamu adik ipar aku. Mana coba Ika. Aku mau lihat. Aku udah kangen tahu." Kilah Alea.
Aril langsung membulatkan matanya. Aril seperti melihat ke arah lain. Lalu terdengar suara berisik.
"Hei..kabur." Alea seolah tahu. Kalau Ika memang tadi langsung berlari ke kamar mandi saat mendengar Alea ingin melihatnya.
"Udah deh keponya. Udah tahu juga kan orangnya kabur."
"Haish..iya iya. Have fun ya. Jangan lupa oleh olehnya. Bye."
"Bye." Aril menutup ponselnya lebih dulu.
Alea puas sudah mengganggu pasangan baru itu.
Alea kembali ke bosannya. Lalu Alea memilih untuk berbaring di sofa. Untunglah baju yang dia kenakan agak panjang jadi tidak terlalu mengekpos kaki mulusnya. Alea memainkan ponselnya. Dari pada bosan dia mendownload game masak masak dan memainkannya.
Karena lelah juga, Alea akhirnya ketiduran. Dengan masih berbaring di sofa. Sampai Bimo sudah selesai meeting. Bimo tak sampai hati membangunkan Alea. Terlihat sekali ponsel Alea masih menyala, itu artinya Alea baru saja terlelap. Bimo mengambil ponsel itu lalu menyimpannya di meja. Lalu melepas jas nya untuk dijadikan selimut Alea.
Bimo kembali keluar ruangan menyuruh sekertaris papanya untuk memesankan makanan untuknya juga untuk Alea yang khusus untuk ibu hamil. Setelah itu dia kembali ke dalam.
Bimo sedikit pusing, walau hanya membantu. Tapi masalah perusahaan sungguh pelik. Sudah terjadi korupsi di bagian keuangan. Tapi untunglah tak sampai membuat keuangan perusahaan goyah.
Semua masalah ini pasti akan cepat selesai jika Ika sudah kembali dari hoeymoonnya. Tapi Bimo dan papanya tak ingin mengganggu. Menunggu beberapa hari saja pasti tak akan masalah. Sementara kegiatan di bagian keuangan dibekukan. Jadilah beberapa pekerjaan harus tertunda.
Bimo mencoba melihat kembali laporan keuangan yang menjadi masalah tadi saat di ruangan meeting. Terdapat banyak selisih dengan dengan bagian perencanaan. Bimo masih belum bisa menentukan siapapun yang bersalah.
"Iya, tidurlah lagi. Aku masih mengecek laporan ini dulu." Bimo kembali fokus membaca berkas ditangannya setelah melihat Alea sekilas.
Alea bangun lalu duduk di samping Bimo. Ikut nimbrung baca berkas yang sedang di pegang Bimo. Bimo pun membiarkannya, karena dia juga tak merasa terganggu.
Alea lalu mengambil berkas yang di meja. Membacanya sendiri.
"Bee, coba pinjam yang kamu pegang." Alea meletakan berkas yang dibacanya lalu meminta yang di baca Bimo.
Bimo tanpa bertanya lalu menyerahkan berkas yang ada di tangannya. Bimo lalu menyandarkan punggungnya. Capek tentunya. Pusing masih melandanya.
"Bee, pinjam pulpen donk." Pinta Alea tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas yang sedang dibacanya.
Alea dengan santai membaca bergantian kedua berkas itu. Mulai mencorat coret kertas kertas itu tanpa bicara.
Terdengar ketukan pintu, ternyata makanan yang dipesan oleh Bimo sudah sampai. Alea tak mengalihkan perhatiannya, dia sangat serius sekali dengan dua berkas itu.
Setelah beberapa saat, Alea menutup berkas itu lalu merapikannya di meja.
"Sayang, aku belum selesai mengeceknya." Ucap Bimo menyela Alea saat merapikan berkas berkasnya.
"Sudah selesai bee. Kamu jangan terlalu serius bekerja. Apalagi mengurus semuanya sendiri. Berkasnya sudah aku tandai. Mana saja yang bermasalah. Nanti saja kamu bacanya." Ujar Alea lalu meraih kepala Bimo di arahkan ke pangkuannya. Alea dengan perlahan memberi pijatan lembut pada kepala Bimo. Hingga memberi sedikit ketenangan juga mengurangi pusingnya.
"Sudah sayang. Ayo makan setelah itu aku antar pulang. Kamu pasti tadi bosan kan karena sendirian disini." Bimo lalu bangkit, dan kembali duduk.
__ADS_1
"Iya sedikit, tapi tadi aku ada sedikit hiburan." Ucap Alea buat Bimo penasaran.
"Apa.?"
"Aku tadi sempat ganggu pengantin baru. Hi hi hi." Jawab Alea sembari tertawa kecil.
"Lagi enak enaknya kali pas aku video call. Kelihatan sekali mukanya Aril asem banget." Lanjut Alea.
"Kamu nih, ada ada saja. Kasihan tahu kalau lagi nanggung gitu. Sakit pastinya." Sahut Bimo.
"Ha ha ha. Aku puas banget." Alea berhenti cerita lalu memulai makannya. Melihat kotak makanan yang dibukakan suaminya membuatnya langsung ingin melahapnya.
"Enak bee. Minta alamat restonya bee sama sekeetaris papa. Kapan kapan kita mampir ke restonya langsung."
"Iya. Cepat habiskan. Setelah itu kita pulang." Bimo juga memakan makanannya dengan lahap. Dan memang rasa masakannya sangat enak.
Setelah makanan habis, keduanya langsung pulang ke rumah. Namun di perjalanan ada yang menghambat, apalagi kalau bukan kemacetan. Membuat keduanya jenuh melihat ke depan, karena mobil tak dapat bergerak sama sekali.
Bimo nampak membuka kaca mobilnya. Bertanya pada seseorang yang lewat.
"Pak, di depan ada apa ya? Kok nggak bisa jalan sama sekali." Tanya Bimo.
"Didepan ada kecelakaan mas. Ada mobil yang hilang kendali jadi nabrak pembatas jalan." Jawab orang itu.
"Oh, makasih pak." Bimo kembali menaikan kaca mobilnya.
"Sayang kita ikut putar balik aja iya. Di belakang banyak yang putar balik tuh. Kayaknya ada jalan pintas." Ucap Bimo membuat Alea seperti dejavu.
Alea ingat kecelakaan mengerikan itu. Seketika, Alea keringat dingin. Dengan gemetar, Alea menghentikan pergerakan tangan Bimo yang akan memundurkan mobilnya.
"Kenapa sayang?" Lalu Bimo menyadri tangan Alea yang menjadi dingin. Bimo melihat juga keringat yang mengucur di pelipis Alea.
"Sayang kamu kenapa?" Bimo jadi khawatir.
"Aku teringat kecelakaan kita dulu. Seperti ini. Ada kecelakaan lalu kamu pilih untuk putar balik dan mengambil jalan lain. Dan kita kecelakaan di jalan itu. Aku nggak mau itu terulang lagi. Lebih baik kita menunggu disini saja ya." Pinta Alea.
"Ya ampun sayang. Maaf iya. Sudah kamu jangan khawatir lagi. Iya kita stay disini saja. Sudah kamu tenang. Ada aku disini." Bimo terkejut dengan penuturan Alea, lalu dengan segera di rengkuhnya tubuh Alea dalam pelukannya.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
Like komen like komen like komen like komen
Like komen like komen like komen like komen
Like komen like komen like komen like komen
Like komen like komen like komen like komen
Like komen like komen like komen like komen
jangan lupa ya..dukungannya.. slalu stay in novel aku..
__ADS_1
love you readers setiaku..😘😘😘😍😍😍😍🤗🤗🤗🤗