Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Alea dalam bahaya


__ADS_3

Semenjak penjagaan Alea diperketat sebulan lalu, tak pernah ada gangguan lagi. Namun Deni tak ingin lengah, karena sampai saat ini pengendara mobil yang ingun mencelakai Alea waktu itu masih belum tertangkap.


Deni tak berhasil melacak mobil itu, karena ternyata plat mobil yang terlihat dalam cctv adalah palsu.


Deni masih tak mengijinkan Alea berkeliaran sendirian di luar rumah. Walau merasa bosan Alea tetap mmengikuti peraturan dari suaminya itu. Itu demi keselamatan dirinya sendiri juga untuk anaknya.


"Bee, hati hati ya. Selalu kabarin aku." ucap Alea saat mengantar Deni keluar rumah akan berangkat ke kantor.


"Iya, kamu juga kalau ada apa apa hubungi aku."


"Iya bee."


Deni mengecup kening Alea, dan tak lupa juga mengusap perut istrinya untuk menyapa calon anaknya.


Deni menuju mobilnya, setelah membuka pintu kemudi Deni kembali ke Alea. Memeluknya erat seperti enggan untuk pergi.


"Kenapa bee?"


"Aku merasa hatiku nggak tenang ninggalin kamu sendiri di rumah."


"Aku nggak sendiri bee, kan ada bi Minah juga para penjaga. Kamu jangan khawatir. Lagi pula akhir akhir ini juga tak terjadi apapun kan."


"Kalau tidak ada masalah mendesak di kantor aku tak akan pergi sekarang."


"Sudah pergi sana, nanti setelah masalah kantor teratasi cepat pulang. Ok?"


"Iya honey, kamu jangan pergi kemana mana."


"Iya suamiku tercinta."


Deni memeluk Alea sekali lagi, kemudian berangkat ke kantor.


Alea kemudian kembali ke dalam rumah. Melakukan aktivitas sendirian di rumah sungguh membosankan. Biasanya selalu ada mamanya yang menemani.


Namun dari kemarin mamanya harus ikut pergi sang papa untuk menghadiri acara rekan bisnis papanya di luar kota.


Alea menonton drama kesukaannya, sambil tiduran di ranjang kesayangannya.


Tak berapa lama, Alea malah ketiduran. Terlalu nyenyaknya sampai tak mendengar ponselnya yang berdering. Telfon itu dari Deni, untuk memastikan keadaan Alea yang baik baik saja.


Deni kemudian beralih menghubungi telefon rumah, sebentar saja bi Minah langsung mengangkatnya.


"Bi, dimana istriku? Dari tadi telfonku tidak diangkatnya." sergah Deni ketika telfon tersambung.


"Dari pagi nona Alea tidak keluar kamar tuan, akan saya cek ke kamarnya sekarang."


"Iya bi, saya tunggu."


"Iya sebentar tuan." bi Minah tanpa menutup telfonnya segera ke kamar tuannya.


Untunglah kamar tidak di kunci, sehingga bi Minah bisa langsung mengecek keadaan di dalam kamar. Bi Minah tersenyum, ketika tahu kalau nonanya sedang tidur nyenyak di ranjangnya.


Bi Minah kembali menutup pintunya perlahan agar tidak mengganggu tidur nonanya.


"Halo tuan."


"Iya bi. Bagaimana?"


"Sepertinya nona tadi ketiduran saat menonton tv tuan. Dan sekarang pun masih tertidur nyenyak sekali."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah bi, biarkan istriku tidur."


"Baik tuan."


Panggilan terputus. Bi Minah kembali melanjutkan pekerjaannya.


...


Alea bangun dari tidurnya, kemudian mengecek ponselnya, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya.


Alea kemudian menelfon kembali suaminya, namun tak di jawab. Setelah mencoba beberapa kali pun tetap tak ada jawaban.


Alea jadi cemas, setelah menunggu beberapa menit. Alea kembali menghubungi Deni, namun tetap sama tak ada jawaban. Bahkan setelah beberapa kali mencoba, nomor Deni malah tidak aktif.


Alea semakin cemas dan khawatir. Alea kemudin menghubungi kantor.


"Halo Mel. Ini saya Alea." saat panggilannya sudah diangkat oleh sekertaris Deni.


"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Suamiku ada di kantor? karena nomornya tidak bisa dihubungi."


"Tuan Deni sedang keluar nona. Karena tadi ada telfon dari proyek kalau disana sedang ada masalah darurat, sehingga mengharuskan tuan sendiri yang harus mengeceknya."


"Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau dia sudah kembali, katakan untuk segera menghubungi ya Mel."


"Baik nona akan saya sampaikan."


Alea menutup telfonnya. Tentu saja masih cemas karena belum dapat kabar pasti dari suaminya.


Tak berapa lama kemudian ada telfon masuk. Sedikit ragu untuk mengangkatnya, karena dari nomor tidak dikenal. Namun diangkatnya juga, takutnya itu telfon penting.


"Maaf nona, kami dari rumah sakit ingin mengabarkan bahwa suami anda sekarang ada di rumah sakit. Beliau mengalami kecelakaan mobil dan kondisinya saat ini sedang kritis."


"Apa?" Alea begitu terkejut.


"Dimana alamat rumah sakitnya? Saya akan segera kesana."


"Rumah sakit P M, jalan Xx nona."


"Terima kasih."


Alea segera berangkat menuju rumah sakit. Diantar oleh sopir tentunya. Melihat nonanya pergi memakai mobil, para bodyguard segera mengikutinya.


Di dalam perjalanan Alea tak hentinya menangis. Ingin segera melihat keadaan suaminya. Alea menyuruh sopirnya untuk sedikit mengebut agar cepat sampai.


Namun dalam perjalanannya harus terganggu karena ada mobil yang mencegatnya tiba tiba.


"Itu siapa pak?" tanya Alea ke sopirnya.


"Saya juga tidak tahu nona. Nona tolong jangan keluar. Apapun yang terjadi. Sepertinya itu orang jahat."


Alea mencari cari bodyguard yang selalu mengikutinya tanpa di perintah. Namun tak ada mobil bodyguardnya di belakang.


Alea menyesal pergi keluar rumah begitu saja, dengan mudahnya dia percaya telfon dari nomor tidak di kenal itu.


"Pak, jangan keluar. Aku akan telfon bantuan." Alea mencari ponselnya.


"Ah sial, ponselku ketinggalan. Pak cepat telfon bantuan." perintah Alea cepat karena melihat beberapa orang berpakaian preman keluar dari mobil yang mencegatnya.

__ADS_1


"Maaf nona, tapi ponsel saya pulsanya habis." jawab sopirnya dengan ketakutan.


Alea semakin ketakutan saat kaca mobilnya berusaha untuk dipecahkan para preman tersebut.


Dengan beberapa kali percobaan, preman berhasil memecahkan kaca mobil Alea dan membuka pintu belakang mobil.


Salah satu preman menarik paksa keluar Alea. Sopir Alea mencoba menyelamatkannya, namun karena hanya seorang diri tentu saja kalah ketika dihajar tiga preman sekaligus.


Sopir Alea langsung terkapar, sedang Alea masih mencoba untuk melawan. Gerakannya tentu tidak bisa leluasa karena sedang hamil.


"Ahh." akhirnya Alea tersungkur karena dipukul bagian kepala belakangnya. Seketika itu juga Alea pingsan dan di masukan mobil para preman itu.


Suara telefon rumah yang berdering memecah kesunyian rumah Alea.


Bi Minah segera mengangkat telfon itu.


"Halo."


"Halo bi, Alea dimana?"


"Tuan Deni? Ini benar tuan Deni?"


"Iya bi, ini saya. Alea mana? Saya tellfon dari tadi tidak dijawab."


"Tuan, tadi nona Alea pergi setelah mendapat kabar kalau tuang kecelakaan dan sedang di rawat di rumah sakit dengan kondisi yang kritis."


"Apa? Saya tidak kecelakaan bi. Alea pergi dengan siapa?"


"Tadi diantar sopir tuan dan sepertinya tadi juga diikuti oleh para bodyguard."


"Semoga tidak terjadi apa apa. Ke rumah sakit mana mereka pergi bi?"


"Tadi saya dengar nona Alea menyebut nama rumah sakit PM di jalan Xx tuan."


"Cepat bibi hubungi siapa saja yang pergi bersama istri saya. Kalau dapat kabar apapun cepat hubungi saya."


"Baik tuan."


Deni mengakhiri telfonnya, dia segera keluar ruangannya.


"Mel, ponsel saya mati habis baterai. Saya pinjam ponsel kamu cepat. Ini darurat."


Melani, sekertaris Deni segera menyerahkan ponselnya segera tanpa banyak bertanya karena melihat wajah panik bosnya.


Deni mengeluarkan kartu sim ponsel Melani dan menggantinya dengan kartu sim miliknya.


Tanpa pamit, Deni langsung pergi begitu saja. Melani bingung dengan tingkah bosnya.


"Kenapa si bos? Semoga tak terjadi apa apa?" gumam Melani kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


☘️☘️☘️☘️


jumpa lagi..jangan bosan baca ceritaku ya...


Bagaimana nih apakah Deni berhasil menemukan Alea dan menyelamatkannya..


terus baca kelanjutannya di episode selanjutnya..


love you readers setiaku..😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2