
Happy reading!!!
"Aku akan selalu ada kapanpun kamu butuh Al, aku janji."
"Ril, jangan berjanji apapun. Aku takut kamu akan terbebani akan janjimu itu suatu saat nanti." tolak Alea.
"Nggak Al, aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri. Aku tetap berjanji akan selalu berada disampingmu dimanapun dan kapanpun kamu membutuhkan aku." Aril meyakinkan Alea.
Aril dan Alea saling menatap dan tersenyum bersama. Kemudian Aril kembali menjalankan mobilnya.
....
Di tempat lain,,
Karena besok week end, Ika sepulang kerja langsung pulang ke rumah orang tuanya.
"Aku pulaaang..!!!" teriak Ika dengan lantang saat memasuki rumahnya.
Tak ada jawaban, Ika langsung saja ngeloyor masuk.
"Apa sih dek, kamu tuh kalau pulang pasti teriak teriak." ucap seorang lelaki yang keluar dari sebuah kamar. Jalannya dibantu dengan sebuah tongkat karena kakinya yang cidera.
"Kak Bimoo..!! Aku kangen sama kakak. Gimana terapinya?" Ika langsung menghambur ke pelukan lelaki yang dipanggilnya kak Bimo itu.
"Alhamdulillah, berjalan dengan baik. Tidak lama lagi kakak akan bisa berjalan dengan normal kembali. Ah iya, gimana kerjaan kamu?" Bimo mengajak Ika duduk di sofa.
"Lancar kak, selama ini tidak ada masalah apapun di kantor."
"Papa sama mama mana kak?" tanya Ika selanjutnya.
"Papa belum pulang, kalau mama tadi bilang katanya mau ke supermarket sebentar. Mama tahu kalau kamu mau pulang jadi belanja bahan makanan buat masakin makanan kesukaan kamu." Bimo mengacak rambut Ika.
"Sudah bersihin dulu gih badan kamu, asem tahu.!" ledek Bimo dengan menutup hidungnya.
"Ih mana ada, aku selalu wangi tahu." Ika menciumi bau keteknya sendiri, kemudian beranjak ke kamarnya.
Di kamarnya, Ika langsung menyambar handuk dan segera mandi.
__ADS_1
Tak berapa lama kedua orang tua Ika pulang. Bimo masih duduk di sofa tadi, melihat orang tuanya yang pulang bersama jadi membuat Bimo berfikir aneh.
"Ma Pa, kalian habis pacaran lagi ya??" Bimo menatap penuh selidik. Orang tuanya pun terkekeh mendengar pertanyaan yang lolos dari mulut putranya.
"Papa kan dari kerja." papanya mengelak lalu menemani Bimo duduk.
"Cih, alasan. Paling tadi papa nyusulin mama di supermarket. Kalau cuma belanja aja nggak akan sampai berjam jam. Waktu dan hasil belanjaannya aja nggak sebanding." Bimo menatap mamanya yang hanya membawa satu kantong plastik yang berukuran besar.
"Ah ya sudah lah nggak penting juga. Aku juga senang kalau papa sama mama selalu mesra tapi jangan sampai aku punya adik lagi ya." anacm Bimo.
"Eh, kenapa? Mama suka tahu sama baby. Mama pengen ngurus anak kecil lagi." ucap mamanya.
"Makanya kalau memang kamu nggak mau adik lagi. Cepat kasih kita cucu." timpal papa yang semakin membuat Bimo jengkel.
"Buatnya sama siapa pa? Pacar aja nggak punya, tuh Ika aja nikahin tuh sama pacarnya. Biar bisa cepet cepet kasih mama dan papa cucu." Bimo yang merasa tersindir menyeret nama adiknya.
"Emang adik kamu sudah punya pacar?" tanya mamanya penasaran. Pasalnya selama ini Ika tidak peenah bercerita sedang dekat dengan pria manapun.
"Eh mana ada. Jangan ngaco deh kak." Ika yang baru selesai mandi mendengar kegaduhan dari luar. Makanya dia langsung keluar setelah memakai pakaiannya.
"Ka, benar yang kakak kamu bilang?" sekarang papanya menatapnya dengan tajam berharap kejujuran yang keluar dari mulut putri kesayangannya itu.
Ika yang telah melihat papanya seperti itu tak berani untuk berbohong. Dengan menunudukan wajahnya, dia menganggukan kepalanya membenarkan apa yang diucapkan kakaknya.
"Ha ha ha..Papa senang akhirnya kamu jatuh cinta. Sepertinya Aril juga anak yang baik. Papa setuju dengan pilihan kamu." Papa sangat sumringah melihat pengakuan putrinya itu.
Bimo dan Ika terkejut melihat reaksi papanya. Bimo berfikir papanya akan marah karena Ika susah mencintai seseorang yang bahkan Bimo sendiri belum peenah bertemu dengannya. Sedangkan Ika tidak menyangka jika papanya menyukai mas Arilnya.
"Pa, mama nggak ngerti deh?" Mama yang sama sekali tidak tahu menahu tentang kedekatan Ika dan Aril.
"Jadi gini ma. Beberapa hari yang lalu, papa pernah pergokin Ika lagi makan berdua dengan Aril. Dan papa juga kenal dengan Aril, dia adalah orang kepercayaan Tuan Malik. Dia yang menjadi penanngung jawab pembangunan rumah kita di Blok S." jelas Papa sehingga mama mengerti.
"Tapi pa, jangan bilang dulu ya aku siapa? Dia hanya mengenalku sebagai wanita biasa." Ika memohon.
"Iya, papa selalu dukung keputusan kamu. Dengan begitu, kamu jadi tahu kan mana yang benar benar tulus sama kamu atau tidak." Papanya mendukung Ika.
Kehangatan dalam keluarga mereka selalu terjalin dengan baik. Apalagi disaat Ika berada di rumah. Suasana rumah semakin ramai dibuatnya.
__ADS_1
Mamanya berkutat dengan alat alat masak didapur, walaupun sebagai nyonya besar di rumah ini dia tidak ragu melakukannya sendiri. Mama Ika selalu dengan senang hati menyiapkan sendiri makanan untuk keluarganya.
Sedang papanya membersihkan diri dulu setelah seharian bekerja. Bimo dan Ika bercanda bersama sambil menonton tv.
"Kak, kenapa sih kakak nggak pernah mau keluar rumah kecuali ke rumah sakit? Kakak emang nggak mau ya punya pacar?" tanya Ika yang tiduran dipangkuan Bimo sambil nyemil.
"Malas banget keluar." akhir akhir ini Bimo memang selalu menghabiskan waktunya sendiri di kamar. Entah apa yang dilakukannya di dalam kamar. Karena semua anggota keluarga pun dilarangnya untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ihh nggak boleh gitu donk kak. Dokter Tya kayaknya suka tuh sama kakak, kasih kesempatan donk buat dia." oceh Ika.
"Masak sih." Bimo menanggapinya dengan tidak serius.
"Beneran deh kak. Kalau aku yang temenin kakak terapi, aku sering lihat Dokter Tya senyum senyum sambil mandangin wajah tampan kakak." Ika berkata sesungguhnya.
"Bodoh amat lah dek. Kakak nggak ada perasaan apapun sama dia." Bimo cuek dengan apa yang dikatakan adiknya itu.
"Dek, seingat kamu. Kakak dulu pernah dekat tidak dengan seorang wanita?" tanya Bimo penasaran.
"Memang kenapa?" Ika penasaran.
"Ditanya malah balik tanya. Seriusan ini dek kakak pangen tahu." Bimo jengkel dengan tingkah adiknya yang selalu menutupi masa lalunya.
"Nggak pernah kak, memang kenapa? Kakak mengingat seseorang?"
"Aku nggak ingat apapun. Tapi beberapa hari terakhir ini, aku selalu memimpikan seorang wanita. Dia begitu cantik, tatapannya yang teduh juga senyumnya yang manis. Di dalam mimpiku dia terus memanggilku Bi..Bi..Bi.." kata Bimo.
"Itu artinya dia mengenalku kan." lanjut Bimo.
"Eemm, aku tidak tahu kak." Ika menjawabnya pelan.
☘️☘️☘️☘️☘️
terus baca ceritaku ya.. jangan lupa tinggalkan jejak kalian..like komen dan vote juga boleh banget.👌👌👌🙏🙏🙏
beruntung jika kalian mau menebarkan bunga untukku😄😄😄 aku akan sangat sangat beeterima kasih..
👏👏👏👏
__ADS_1