
Deni mengkhawatirkan keadaan Alea. Karena masih saja ponselnya gelap tak ada gambar.
"Al..Alea.!!" teriak Deni memanggil Alea.
Hanya terdengar krasak krusuk saja.Karena tak kunjung mendapat jawaban. Deni memutuskan untuk mematikan video callnya dan menelfon calon papa mertuanya.
Tuuuttt.. tuutt...
Panggilan langsung terhubung dan sebentar saja sudah dijawab oleh papa Alea.
"Halo Den." jawab papa Alea.
"Om Alea dalam bahaya, cepat cari om. Tadi dia sedang dijalan kembali setelah membeli minuman." ucap Deni cepat. Papa Alea langsung bereaksi.
"Ok, om cari dulu." papa Alea langsung mematikan panggilannya.
"Ada apa pa??" tanya mama Alea yang melihat kecemasan pada suaminya itu.
"Kata Deni Alea dalam bahaya ma, kita harus segera menemukannya."jawab papa Alea.
"Oh tidak. Pa aku nggak mau terjadi apapun pada Alea. Ayo cepat kita cari." ucap mama Alea.
Keduanya langsung berlari ke jalanan mencari Alea.
Sedang kini Alea yang tadi telah terjatuh, segera bangun. Dia melihat mobil yang hampir menabraknya tadi berhenti. Seseorang yang mengemudikannya akan turun, terlihat olehnya kakinya memakai heels jadi dapat dipastikan pengemudi itu adalah wanita.
Perhatian Alea teralihkan saat mendengar suara yang memanggil namanya.
"Alea,, Alea sayang kamu tidak papa kan?" tanya papanya. Sedang mamanya langsung memeluk Alea erat dengan sedikit terisak.
"Nggak papa kok pa, mama kenapa nangis?" tanya Alea.
"Mama takut terjadi hal yang buruk sama kamu sayang."ucap mamanya dengan mata yang basah karena air mata. Mendengar ucapan mamanya Alea jadi teringat pengemudi tadi. Alea melihat ke arah mobil tadi berhenti ternyata mobilnya sudah tidak ada.
"Kamu nyari apa sayang?" tanya papanya yang melihat anaknya itu seperti mencari sesuatu.
__ADS_1
"Itu pa, mobil yang mau nabrak aku tadi berhenti disitu. Tapi sekarang sudah menghilang." jawab Alea.
"Ya sudah ayo kembali ke mobil. Nanti kamu ceritakan semuanya." ajak papanya.
"Iya pa." Alea berdiri mengikuti kedua orang tuanya. Untunglah Alea sama sekali tidak terluka.
Mereka kembali ke mobil, setelah masuk mobil mama Alea masih memeluk anaknya seakan takut akan ditinggalkan.
Alea mengerti, ia juga ingat kejadian yang dulu yang pernah mamanya ceritakan. Mamanya pasti trauma.
Alea kemudian menceritakan kejadian yang tadi menimpanya. Papa Alea mengerti, dan menduga kalau memang ada yang ingin mencelakai Alea.
Karena kejadian tadi, mereka memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, mama Alea diam saja tapi tak pernah melepas pelukannya pada Alea.
Saat telah sampai rumah, Alea mengajak mamanya untuk beristirahat. Setelah beberapa saat mamanya terlihat sudah tidur dengan masih memegang Alea. Perlahan Alea turun dari ranjang kemudian keluar kamar untuk menemui papanya.
Terlihat olehnya papanya sedang ada di ruang keluarga, duduk sambil memainkan ponselnya.
Saat sudah menuruni anak tangga terakhir, Alea terkejut karena tiba tiba ada yang memeluknya erat. Alea sadar kalau itu Deni, karena aroma parfumnya yang sudah familiar dihidungnya.
"Syukurlah tidak terjadi apapun sayang, aku khawatir sekali. Tadi aku akan menyusul kesana tapi setelah mendapat kabar dari papamu kalau kalian sudah pulang. Aku langsung kesini, aku belum tenang kalau belum melihatmu langsung dalam keadaan yang baik baik saja." jelas Deni panjang lebar sebab kedatangannya.
"Pa." panggil Alea.
"Gimana mamamu?" tanya papanya. Deni sedikit bingung karena yang tadi dalam bahaya kan Alea, tapi yang dikhawatirkan kok malah mamanya. Namun Deni tetap diam dulu untuk mengetahui ceritanya.
"Mama sudah tidur pa. Aku khawatir pa, bagaimana cara menghilangkan trauma mama? Bukankah kejadian seperti tadi pernah terjadi saat aku kecil." ucap Alea khawatir.
"Iya papa tahu, tadi papa sudah menghubungi dokter keluarga kita. Dan dia menyarankan untuk memanggil dokter yang bisa terapi hipnotis. Jadi mamamu bisa menerima kejadian yang telah lalu tanpa ada ketakutan lagi. Nanti dokter itu akan datang." jelas papa Alea.
Denipun tanpa bertanya jadi tahu keadaan calon mama mertuanya itu.
Setelah berbincang tentang keadaan mamanya, Alea ingat tujuannya tadi saat akan menemui papanya tadi.
"Pa, sepertinya kejadian tadi ada hubungannya dengan bunga mawar yang dikampus waktu itu." kata Alea.
__ADS_1
"Sudah kamu tidak perlu memikirkan itu, serahkan semuanya sama papa." jawab papanya.
"Tidak pa, aku harus tahu dengan apapun yang sebenarnya terjadi. Aku tidak ingin kejadian tadi terulang lagi karena aku tidak waspada, coba kalau tadi Deni tidak memperingatkanku, pasti aku tidak ada disini sekarang pa."
"Baiklah, papa kira kamu wanita yang lemah, ternyata dugaan papa salah. Kalau begitu, ceritakan saja Den apa hasil dari penyelidikanmu." mendengar perkataan papanya Alea langsung menatap Deni dengan tatapan menyelidik.
"Baik Om. Begini, menurut cctv di kampus yang memberi bunga itu adalah salah satu teman Alea. Tapi untuk alasannya masih belum diketahui om." jelas Deni.
"Siapa?" tanya Alea.
"Diana, apa kamu pernah punya masalah dengannya?"
"Aku merasa tidak punya masalah dengan dia." Alea mencoba mengingat semua tentang diana dengannya. Hingga dia ingat kejadian satu tahun yang lalu.
"Den, apa dia mengetahui hubungan kita sekarang?"
"Iya, sekitar seminggu yang lalu. Diana menyapaku di kampus, dan menanyakan perihal kedekatan kita. Dan aku jawab saja kalau kita sudah tunangan."
"Kamu ingat kejadian setahun yang lalu, aku coba untuk menjodohkan kamu dengan dia. Dia terlihat senang sekali waktu itu karena dia memang suka sama kamu. Apa mungkin dia masih menyukaimu sampai sekarang." kata Alea sedikit takut kalau itu benar.
"Apa iya ya karena sebelum aku menceritakan hubungan kita. Dia pernah sesekali mendekatiku saat aku tidak bersamamu. Oh iya saat kejadian tadi apa kamu melihat pengemudinya?"
"Aku tidak melihat wajahnya karena dia memakai topi dan masker. Tapi dapat ku pastikan kalau dia wanita, karena sesaat setelah gagal menabrakku dia akan turun dari mobil dan aku melihatnya memakai heels. Tapi saat mama papa datang, dia langsung pergi." jelas Alea.
"Papa rasa, mulai sekarang kamu jangan pernah lagi pergi sendirian sayang, sebelum pelakunya tertangkap. Papa nggak mau kamu celaka." ucap papa Alea khawatir.
"Iya Pa, aku mengerti. Pa panggilkan aku guru taekwondo ya, aku ingin memperdalam ilmu bela diriku. Siapa tahu bisa digunakan disaat saat genting." pinta Alea. Deni mengkerutkan keningnya, tidak menyangka kalau tunangannya bisa beladiri.
☘️☘️☘️☘️
Tinggalkan jejak kalian ya, like komen vote pun sangat boleh.
Aku terima kasih buat yang sudah mau membaca karyaku ini. jangan lupa tambahkan ke rak buku favorit kalian ya..
aku minta dukungan yang positif dari kalian, jadi aku akan selalu semangat buat nulis..
__ADS_1
love you readers setiaku..😊😊😊🤗🤗
lanjut ke part selanjutnya...