
"Bee, hari ini kamu nggak ke kantor?" mereka kini sudah berada di dalam mobil menuju rumah keluarga Wijaya.
"Nanti agak siangan hon, aku mau ke kampus dulu. Yah sekarang aku kemana mana sendirian dong. Kamunya sudah nggak kuliah." keluh Deni.
"Emangnya kenapa? Kamu mau aku ikutin kamu terus?" tanya Alea sedikit kesal dengan manjanya Deni.
"Nggak kok hon, bercanda. Kamu mesti istirahat, siapkan diri kamu buat honeymoo kita." ucap Deni sambil menaik turunkan alisnya mencoba menggoda Alea.
"Ishh mesum mulu yang dipikiran kamu, bee." jawab Alea dengan pipi yang memerah.
Deni pun tertawa puas karena berhasil menggoda istri kesayangannya itu
☘️☘️☘️
Rencana honeymoon Deni dan Alea membuat kedua keluarga senang dan bahagia. Akhirnya yang ditunggu tunggu akan segera terwujud. Kaarena sama sama anak tunggal membuat keduanya menjadi kesayangan keluarga.
"Al, rencana kalian mau honeymoon kemana?" tanya mama Deni.
"Belum tahu ma, kita belum mutusin mau kemana."
Mama Deni pun tersenyum lega, karena dirinya sudah menyiapkan tiket honeymoon untuk anak dan menantunya itu. Merogoh tasnya, mengambil sebuah amplop dan menyerahkan itu pada menantu kesayangannya itu.
"Ini apa ma?" tanya Alea ketika menerima amplop itu di tangannya.
"Bukalah, itu hadiah dari mama."
Dibukanya amplop itu. Sungguh Alea benar benar terkejut. Itu adalah tiket honeymoon ke jepang. Alea merasa senang dan sedih secara bersamaan.
Alea senang dengan perhatian mama mertuanya itu. Tapi kejutannya yang membuatnya sedih, kenapa harus Jepang. Jepang mengingatkan dirinya akan seseorang yang memberi kenangan buruk dalam hidupnya. Kalau mengingat itu hatinya masih terasa sakit.
Alea bingung harus bagaimana mengekspresikan perasaannya. Tiba tiba saja Deni sudah ikut duduk disampingnya dan meraih tiket yang dipegang oleh Alea karena melihat Alea yang diam saja. Deni melihat kertas itu, betapa terkejutnya melihat tujuan tiket honeymoon itu adalah Jepang. Deni mulai berspekulasi sendiri, melihat ekspresi istrinya. Apakah selama ini Alea masih belum bisa melupakan Aril? Apakah sebenarnya Alea masih mencintai Aril? Apakah ini alasan sebenarnya Alea menunda kehamilan? Begitulah pertanyaan yang muncul dalam benak Deni.
Deni menggenggam tangan Alea. Alea menoleh baru menyadari kehadiran Deni disampingnya. Alea kemudian tersenyum lebar ke arah Deni.
"Makasih ya ma, Alea suka hadiahnya."ucap Alea masih menatap suaminya.
Deni tidak ingin berlama lama dengan pikirannya sendiri. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya yang dipikirkan istrinya itu. Deni mencari alasan untuk bisa berbicara berdua dengan istrinya.
__ADS_1
"Al, kemarin jam tangan aku kamu simpen dimana ya? kok aku cari nggak ada sih." tanya Deni.
"Masak sih, aku taruh di tempat biasa kok. Coba deh cari lagi." jawab Alea.
"Ayo kamu cari saja kalau memang kamu yakin ada disana." perintah Deni. Alea pun segera melangkah menuju kamarnya.
"Ma aku tinggal sebentar ya." ucap Deni menyusul Alea masuk ke kamar.
"Iya sayang." jawab mamanya.
Di dalam kamar, Alea tahu kalau Deni hanya mencari alasan agar bisa bicara berdua dengannya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan bee?" ucap Alea ketika melihat suaminya masuk ke dalam kamar.
"Eh, kamu tahu." Deni kaget Alea mengerti maksudnya.
"Aku cerdas bee. Kamunya aja yang kurang pintar bohong. Jam tangan lagi kamu pakai kamu tanyain. Untung tadi mama nggak lihat." Alea tersenyum meledek suaminya.
"Duduklah sini, apa yang kamu ingin tahu?" ucap Alea pada intinya dan sekarang wajahnya berubah serius.
Deni mengikuti keinginan istrinya untuk duduk disampingnya.
"Bee, aku nggak tahu apa aku masih mencintainya atau tidak. Yang jelas sekarang aku sudah tak pernah memikirkannya, aku tadi terkejut karena tiket itu aku jadi mengingat kenangan buruk itu lagi. Aku ingin menolak, tapi kenapa aku harus menghindar kalau aku sudah setahun ini tak mengingatnya. Dan sekarang yang ada di dalam pikiranku, hatiku juga hidupku hanya tentang kamu dan hanya kamu bee. Aku mohon percayalah kepadaku." ucap Alea sambil mengelus pipi Deni.
Deni meragukan yang dikatakan istrinya. Tapi dia juga tak menolak untuk mempercayainya.
"Aku mencintaimu Al, sungguh aku tak akan membiarkanmu terluka atau tersakiti. Jika hadiah dari mama membuatmu tidak nyaman aku akan menolaknya."
"Tidak bee, justru dengan ini aku akan membuat hatiku jadi lebih kuat. Dengan tidak menghindari ini, aku ingin mencoba berdamai dengan masa laluku. Agar suatu hari nanti jika aku bertemu dengannya, tidak ada lagi sakit yang aku rasakan. Aku mohon bee, ijinkan aku melakukan itu."
"Baiklah jika itu keputusanmu, katakan padaku jika kamu mulai merasa tidak nyaman."
"Makasih bee, I love you." ucap Alea sambil memeluk Deni.
"I love you more honey." Deni pun membalas pelukan istrinya.
Sesaat kemudian, keduanya keluar kamar menemui mama Deni yang masih menunggu di ruang keluarga tadi. Dan ternyata sudah ditemani oleh mama Alea. Keduanya nampak berbincang sambil bercanda. Karena terdengar tawa disela obrolan mereka.
__ADS_1
"Lagi bahas apa sih ma? Seru banget kayaknya." tanya Alea yang sudah duduk di samping mamanya.
"Ini kita lagi ngebayangin kalau nanti sudah punya cucu yang pertama, pasti kamu nggak akan ada waktu buat bersama dia." ucap mamanya.
"Kok gitu sih, aku kan mamanya jadi aku bakalan ada disampingnya terus dong ma, dan aku akan selalu ada waktu buat anakku ma." jelas Alea.
"Hahaha, maksud kami, kamu nggak akan ada waktu bersama dia karena kami akan selalu berebut untuk mengasuhnya. Dan kamu nggak akan ada kesempatan." kini giliran mama Deni yang menjelaskan.
Mereka bertiga tertawa bersama. Dan itu tidak luput dari perhatian Deni. Sungguh dia sangat bahagia melihat orang orang yang disayangi bisa tertawa bahagia seperti itu. Tanpa ingin menggannggu kebersamaan mereka, Deni meninggalkan ruang keluarga tanpa pamit. Dia akan pergi ke kampus. Senyumannya kini selalu menghiasi wajahnya.
"Alea itu kan jadwalnya minggu depan. Kita belanja yuk buat kebutuhan kamu disana." ajak mama Deni.
"Boleh juga ma, bentar ya ma, aku ijin Deni dulu."
"Kamu tuh, pergi juga sama mama pakai ijin Deni dulu." gerutu mama Deni.
"Bukan gitu ma. Kemana pun aku pergi aku selalu ijin sama suami. Aku nggak mau dia khawatir kalau nggak tahu aku dimana." jelas Alea.
"Ya, ya sudah cepet." ucap mama Deni.
Alea mencari Deni di kamar tapi tidak ada. Kemudian diraihnya ponsel di atas meja riasnya. Dia menelfon suaminya.
"Assalamu alaikum bee."
"Waalaikumsalam hon. Ada apa? Baru ditinggal sebentar sudah telfon. Kangen ya??"
"Apaan sih bee.. Aku cuma mau bilang kalau aku mau pergi sama mama. Mau belanja keperluan buat kita peegi ke Jepang nanti. Boleh?"
"Iya boleh kok, tapi nggak perlu banyak banyak hon, nanti kita beli disana saja. Hati hati ya."
"Iya bee.Assalmu alaikum."
"Walaikum salam."
Alea mengganti bajunya, selanjutnya menyambar tas kecilnya dan pergi keluar kamar.
"Ayo ma berangkat." ucap Alea menghampiri kedua mamanya.
__ADS_1
"Ayo."jawab keduanya bersamaan.