Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
extra 2


__ADS_3

Deni dan Alea bergabung unruk sarapan di meja makan. Disana sudah duduk Tuan Aran dan istrinya juga Myli.


"Pagi mom, dad." Sapa Myli.


"Pagi sayang." Jawab Deni dan Alea bersamaan.


Deni memundurkan satu kursi untuk duduk Alea. Dengan perlahan Deni membantu Alea duduk.


"Aku ambilkan makanannya." Ujar Deni lalu mengangkat piring Alea.


"Makasih bee." Alea tersenyum manis.


"Sudah bee, jangan banyak banyak." Cegah Alea saat melihat Deni akan mengambilkan lauk lainnya lagi.


"Kamu harus makan yang banyak." Pinta Deni namun dia lalu meletakan piring itu di depan Alea.


"Iya aku tahu, tapi kalau sekaligus banyak akan membuat perutku sesak. Dan itu rasanya sangat tidak nyaman." Jelas Alea.


"Iya Den, lagi pula, sudah beberapa hari ini Alea mengurangi porsi makannya dalam satu piring. Tapi jangan kaget kalau kamu tahu berapa kali istrimu itu makan." Mama Alea ikut menimpali.


"Masa sih ma. Memang sampai berapa kali?" Tanya Deni penasaran.


"Tanya istrimu saja. Lihat tuh mulutnya udah manyun." Jawab Mama Alea.


Deni langsung menoleh ke arah Alea yang makan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya, makannya pelan pelan." Ucap Deni lembut sembari mengusap rambut Alea.


Deni ikut sarapan juga.


"Ma, titip Myli iya. Nanti setelah sarapan kami akan ke rumah sakit untuk periksakan kandungan Alea." Deni meminta ijin.


"Kandungan kamu kenapa Al?" Tanya mamanya khawatir.


"Tidak apa kok ma. Ini kan sudah bulan terakhir jadi ingin memastikan kesehatan saja." Jawab Alea menenangkan mamanya.


"Ya sudah, tidak apa. Yang penting kalian hati hati di jalan."


"Iya ma." Jawab Deni dan Alea bersamaan.

__ADS_1


"Mom, dedeknya nggak pa pa kan?" Kali ini Myli yang bersuara.


"Tidak apa apa. Doakan adik kamu disini sehat ya." Jawab Alea sambil mengusap perutnya.


"Tentu dong mom." Myli mengangguk.


Semua melanjutkan makannya dengan tenang. Selesai sarapan, Myli langsung bermain dengan mbak Asih.


"Ma, Papa berangkat dulu." Tuan Aran mengecup kening istrinya.


"Kalian hati hati di jalan. Kalau butuh apapun segera hubungi papa." Pesan tuan Aran.


"Iya pa." Jawab Deni dan Alea bersama.


Tuan Aran kemudian berangkat ke kantor. Deni juga bangkit dari duduknya.


"Al, kamu langsung ke depan saja iya. Aku akan kembali ke kamar sebentar." Pinta Deni. Alea pun mengangguk.


"Ma, kami berangkat dulu iya." Pamit Alea.


"Iya kalian hati hati. Jaga kandungan kamu." Pesan Mamanya sambil membereskan meja makan.


"Myli, mom pergi dulu iya. Ingat jangan nakal dan menyusahkan mbak Asih."


"Iya mom."


Deni sudah muncul dari dalam rumah. Dia juga berpamitan pada Myli.


"Daddy pergi dulu ya sayang." Deni mengecup pipi Myli.


"Ok dad."


Alea dibantu Deni berjalan mendekat ke mobil. Lalu Deni membukakan pintu mobilnya untuk Alea. Setelah memastikan Alea nyaman pada posisinya, Deni membantu memasangkan sabuk pengaman. Deni lalu mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi. Mobil mulai berjalan peelahan keluar dari halaman rumah.


Di rumah sakit,


Tadi pagi, Deni sudah membuat janji dengan dokter kandungan Alea. Sehingga sesampainya dirumah sakit tidak perlu mendaftar atau pun mengantri lebih dulu. Apalagi ini rumah sakit keluarga Sanjaya. Tentu saja Alea diistimewakan. Meskipun begitu, Alea tak pernah lupa untuk berbuat baik. Setiap kali dia periksa kandungan, ibu ibu yang juga sudah mengantri akan bebas dari biaya pemeriksaan saat itu. Dan tentunya sebelum dia diperiksa, dia memastikan kalau tidak ada kondisi ibu hamil yang urgent sedang mengantri. Kalau ada, dia akan mendahulukan ibu hamil itu, sebelum dirinya di periksa.


Ibu hamil yang mendapatkan gratisan itu tentu sangat senang. Apalagi mereka kadang tak hanya sekali mendapatkannya. Setiap mereka periksa bersamaan dengan Alea, mereka merasa sangat beruntung.

__ADS_1


"Mari nyonya Alea, berbaringlah dulu." Pinta dokter Karin.


"Apakah ada keluhan? Karena seingat saya baru beberapa hari lalu nyonya datang kesini."


"Iya dok. Tadi pagi saya merasakan sakit di bagian bawah perut saya. Sebentar datang sebentar hilang." Jelas Alea.


"Oh begitu sebentar ya, saya periksa dulu."


Dokter Karin mulai memeriksa Alea. Deni memperhatikan dokter yang sedang bekerja itu. Setelah dokter selesai, Alea merapikan kembali pakaiannya.


"Bagaimana dok?" Tanya Deni tidak sabar.


"Yang dialami nyonya Alea ini adalah kontraksi sebelum melahirkan. Dan menurut pemeriksaan tadi baru pembukaan 3, menurut perkiraan saya masih butuh waktu hingga 5 sampai 9 jam untuk sampai pembukaan 10. Dan barulah saat itu waktunya untuk melahirkan." Jelas Dokter.


"Dok bukankah perkiraan lahirnya masih minggu depan?" Ganti Alea yang bertanya.


"Itu wajar, tanggal tersebut hanyalah perkiraan. Hari melahirkan bisa maju ataupun mundur. Tergantung dengan kondisi bayinya. Dan tadi saya lihat , kondisi bayi nyonya baik, juga posisinya sudah tepat untuk dilahirkan. Saya sarankan anda segera dirawat disini, untuk persiapan melahirkan nanti." Saran dokter Karin.


"Baik dok, segera siapkan semua untuk istri saya." Pinta Deni menyetujui saran dokter Karin.


Alea meminta Deni menghubungi seluruh keluarga, untuk menyampaikan kabar gembira ini.


Alea diminta untuk duduk ke kursi roda, saat keluar dari ruang periksa yang mengantri disana terkejut melihat Alea dusuk di kursi roda.


"Nyonya, kandungannya baik baik saja kan?" Seorang ibu hamil memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak apa, sudah waktunya saya melahirkan bu." Terang Alea, membuat raut khawatir tadi menjadi kelegaan.


"Syukurlah, semoga Nyonya selalu sehat dan dilancarkan hingga ke persalinan nanti. Dan anak yang Nyonya lahirkan juga sehat dan sempurna." Doa salah seorang ibu hamil lainnya.


"Amin.." Alea dan Deni mengamini doa baik itu.


"Baiklah, kami permisi dulu." Pamit Deni sembari mendorong kursi roda Alea.


Deni terus mendorong kursi roda Alea menuju ruang VIP diikuti olleh seorang suster. Di sana Alea diminta untuk tiduran di ranjang.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2