Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Hari pertama menjadi asisten


__ADS_3

Pagi hari di rumah Alea..


Aril sampai dirumah Alea, dia segera turun dari mobilnya dan menyapa nyonya rumah yang sedang menyiram bunga di halaman.


"Selamat pagi nyonya." sapa Aril.


"Selamat pagi Aril, ada keperluan apa pagi pagi sudah kesini?" tanya mama Alea.


"Sekarang saya jadi asisten tuan Deni, nyonya."


"Oh begitu, masuklah lebih dulu."


"Baik nyonya, saya permisi."


Aril kemudian masuk ke dalam rumah. Dia langsung disambut oleh bi Minah. Aril sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Alea semenjak bekerja di perusahaan papanya Deni. Karena berurusan dengan Deni.


Bi Minah menyuruh Aril duduk di ruang tamu. Aril memainkan ponselnya sembari menunggu Deni.


Alea keluar dari kamar, dia diberitahu kalau Aril sudah menunggu suaminya. Karena Deni belum selesai bersiap jadi Alea disuruh oleh sang suami untuk menemui Aril lebih dulu.


"Ril, sudah lama?" tanya Alea saat sudah di dekat Aril.


"Tidak nyonya, baru juga duduk."


"Haisshh, kau itu formal sekali, ini belum jam kerja." ketus Alea.


"Ayo ikut sarapan lebih dulu. Tidak terima penolakan ini perintah." titah Alea.


Mau tidak mau, Aril mengikuti perintah Alea. Berjalan di belakang Alea menuju ruang makan. Di ruang makan ternyata sudah ada tuan Aran, dia masih bersantai membaca koran paginya.


"Pagi pa." sapa Alea.


"Pagi sayang." tuan Aran langsung menghentikan aktuvitas membaca korannya. Dan melihat ada orang mengikuti putrinya di belakangnya.


"Ada tamu Al?" tanya papanya belum melihat wajah Aril, karena tertutup oleh Alea.


"Selamat pagi tuan." sapa Aril sambil membungkuk hormat.


"Oh Aril, selamat pagi. Ayo duduklah kita sarapan bersama."


"Iya tuan." Aril kemudian ikut duduk.


"Pagi Ril." sapa Deni yang baru datang sambil menepuk pelan bahu Aril.


"Pagi tuan." balas Aril hendak berdiri memberi hormat.


"Sudah duduk saja." Deni mengerti Aril akan berdiri.


Aril belum mengambil apapun, dia merasa sungkan sendiri. Sarapan bersama bosnya membuatnya canggung.


Sedang tuan Aran sudah menyantap roti isi yang sudah disiapkan istrinya. Deni menyantap nasi goreng yang sudah diambilkan istrinya ke piringnya.

__ADS_1


Alea juga mengambil roti dan mengolesi dengan selai kesukaannya. Dan memulai memakannya. Alea memperhatikan Aril yang belum mengambil apapun untuk dimakan.


Alea berinisiatif mengambilkan roti juga mengolesinya dengan mentega saja, karena Alea sedikit banyak tahu kalau Aril tidak menyukai selai.


"Makanlah." Alea meletakan roti itu di piring Aril.


"Terima kasih." jawab Aril kemudian memakan roti itu.


"Dirimu masih mengingat jika aku tidak suka nasi goreng, bahkan juga ingat kalau aku tidak begitu suka dengan selai." bathin Aril.


Deni tersenyum, melihat Alea memperhatikan Aril.


"Bee, hari ini jadwal aku ke dokter kandungan." ucap Alea sambil mengunyah makanannya.


"Iya aku ingat, nanti aku akan pulang untuk mengantarmu ke rumah sakit." jawab Deni.


Alea tersenyum, walau sibuk Deni selalu menyempatkan diri untuk menemaninya kemanapun dia ingin pergi.


"Honey aku berangkat dulu ya." ucap Deni sambil mengecup kening Alea.


"Hati hati." balas Alea.


"Pa, aku berangkat." ucap Deni kepada papa mertuanya. Tuan Aran hanya mengangguk saja karena mulutnya masih mengunyah makanannya.


Aril juga ikut berdiri dan berpamitan pada tuan Aran juga Alea. Setelah membungkuk hormat, Aril mengikuti langkah Deni.


"Mulai hari ini, kau yang menyetir mobilku, biar mobilmu disini saja." kata Deni menyerahkan kunci mobilnya.


Aril segera melangkah lebih dulu, membukakan pintu belakang mobil. Deni masuk dengan senang hati. Setelahnya Aril masuk ke bagian kemudi, dan segera melajukan mobil tuannya itu menuju kantor.


Dalam perjalanan, Deni menjelaskan segala tugas tugas Aril. Aril hanya mengangguk saja tanda mengerti karena fokus untuk menyetir.


....


"Aril, tolong gantikan aku mengatar Alea ke dokter kandungan, rapat ini tidak bisa digantikan. Harus aku sendiri yang datang, karena aku termasuk pemegang saham." perintah Deni. Aril mengangguk setuju, dan segera berangkat untuk menjemput Alea.


Sampai di rumah Alea, Aril segera masuk ke dalam rumah, karena pintu rumah juga terbuka.


"Maaf nyonya, tuan tidak bisa mengantar karena ada rapat direksi. Dan tuan tidak bisa mewakilkan ke orang lain." jelas Aril karena melihat raut wajah kecewa Alea saat melihat dia masuk.


"Tidak apa, ayo berangkat." ucap Alea tidak begitu semangat.


Aril segera berjalan duluan dan membukakan pintu mobil untuk Alea. Kemudian dia sendiri segera masuk dan duduk di bangku kemudi. Sebelum menjalankan mobilnya, Aril sempat melirik Alea melalui spion. Terlihat jelas raut kecewa di wajahnya.


Dua puluh menit perjalanan, mobil telah sampai di rumah sakit. Aril menghentikan mobilnya di depan pintu masuk rumah sakit, agar Alea tak berjalan jauh. Setelah Alea turun, Aril segera memarkirkan mobilnya.


Arik segera menyusul Alea masuk ke rumah sakit. Karena disini tugasnya adalah menjaga Alea.


"Nyonya..." belum Aril melanjutkan kalimatnya sudah disela oleh Alea.


"Jangan memanggilku nyonya, aku belum tua, panggil nama saja."ucap Alea.

__ADS_1


"Tapi.." baru satu kata yang keluar sudah disela lagi oleh Alea.


"Tidak terima penolakan ini perintah." ujar Alea sedikit kesal.


"Iya iya, baiklah Alea. Sudah mengambil nomor antrian?"


"Tidak perlu, langsung ke ruangan dokter Karin saja." jawab Alea yang sudah berjalan lebih dulu. Karena tidak berhati hati, Alea sampai tersandung kakinya sendiri.


"Akhh.." untunglah Aril dengan sigap memegangi tubuh Alea sehingga Alea tidak jadi jatuh.


"Hati hati Al, kamu itu selalu ceroboh." gerutu Aril sambil membantu Alea tegak berdiri lagi.


"Terima kasih, moodku sedang buruk jangan menambahnya dengan omelanmu." balas Alea.


"Iya maaf, kakimu baik baik saja?"


"Baik, tidak perlu khawatir." Alea kembali berjalan menuju ruangan dokter Karin.


Di depan ruangan dokter Karin ada beberapa ibu hamil juga, sepertinya akan memeriksakan kandungan juga.


"Nona Alea sudah datang, mari masuk." ucap salah satu suster yang sebenarnya ingin memanggil pasien selanjutnya, namun karena melihat Alea, dia jadi mempersilahkan Alea unuk masuk terlebih dahulu.


"Tidak perlu, sekarang sus. Biarkan pasien yang sudah mengantri lebih dulu. Lagi pula saya juga tidak ada keluhan tentang kehamilanku. Hanya periksa kesehatan biasa saja." jelas Alea.


"Baiklah kalau begitu nona, saya permisi." ucap suster itu kenudian memanggil nama pasiean berikutnya.


"Alea, kamu tidak pernah berubah. Kebaikan dan kemurahan hatimu selalu kamu utamakan." bathin Aril mengagumi sikap Alea.


Setelah menunggu sekitar satu jam, Alea sedikit pegal duduk. Jadilah dia berdiri untuk merenggangkan tubuhnya. Sedikit berjalan bolak balik di depan Aril.


"Kenapa Al? Apa ada masalah dengan perutmu?" Aril jadi cemas karena melihat Alea terus saja mengelus perutnya.


"Tidak, aku hanya pegal duduk saja."


"Syukurlah."


"Nona Alea, silahkan masuk." panggil suster.


"Baik sus." Alea masuk ke ruang periksa mengikuti suster tersebut.


Aril menunggu diluar, karena tidak mungkin ikut masuk, karena dia bukan suaminya.


☘️☘️☘️☘️


sudah dulu buat hari ini,, lanjut besok lagi upnya..


love you selalu readers setiaku..


tinggalkan jejak kalian ya, like komen kalian aku tunggu..


😘😘😘😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2