
Ika terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Mencari keberadaan Alea. Aril segera mengikuti jalan sang kekasih.
"Mbak Al kemana sih? Main kabur aja." gerutu Ika.
"Tenang aja yang, ntar juga balik. Kita tunggu di depan kamar mas Bimo aja." bujuk Aril.
"Mas kamu nggak dengar tadi ancaman mas Bimo. Mas Bimo tuh nggak pernah main main dengan kata katanya walau sedang emosi gitu. Kita harus segera nemuin mbak Al. Jangan sampai mbak Al pulang." ucap Ika.
"Ya sudah kita cari saja ke bawah." Aril mengalah demi restu dari seorang Bimo.
Aril dan Ika jalan bersama bergandengan tangan. Saat akan menuruni tangga, sebuah suara menghentikannya.
"Ciee yang baru jadian, susah banget lepasinnya. Lengket teruus.." goda Alea sambil terkekeh dari ujung tangga bawah lalu berjalan mendekati Ika dan Aril.
Ika tersipu malu mendengarnya, sedang Aril tak berpengaruh sama sekali.
"Darimana sih Al? Kita cariin dari tadi." tegur Aril.
"Nih, cari minuman hangat diluar." Alea menunjukan kantong plastik yang dibawanya.
"Mbak Al, mas Bimo ngambek tuh gara gara mbak Al pergi. Buruan balik yuk." ajak Ika.
"Makanya jangan digodain. Lagi sensi." jawab Alea santai.
"Al, gimana ceritanya sih kok bisa masuk rumah sakit? Bukannya tadi siang kalian jalan jalan ya?" tanya Aril kemudian.
Alea bercerita sambil berjalan ke arah kamar Bimo. Alea juga memberitahu pada Aril jika Bimo sebenarnya adalah ayah Myli. Dan sekarang Bimo sudah mengetahui kenyataan itu walau tak bisa mengingatnya sama sekali.
"Makanya, sekarang hubungan kami akan berjalan seperti seharusnya. Tapi yang aku khawatirkan adalah identitasnya. Dia harus sebagai siapa? Jika sebagai Deni, dia tidak mengingat apapun, wajahnya juga berbeda. Jika sebagai Bimo, apa pantas kami hidup bersama karena dimata masyarakat kami bukan pasangan menikah. Menurut kalian bagaimana?" Alea berhenti berjalan dan menatap Ika dan Aril bergantian.
Ika mengutarakan pendapatnya.
"Mbak Al, menurut aku sebagai kak Bimo saja. Itu lebih mudah untuk kalian. Tinggal kalian menikah lagi saja."
"Benar begitu Al, kalau sebagai Deni. Aku pikir akan sulit, apalagi kemungkinan besar ingatan Deni pun tak akan kembali. Jadi untuk menyakinkan orang lain bahwa dia Deni hanyalah dengan mengubah wajahnya kembali seperti Deni dulu. Itu akan memakan waktu lama. Lagi pula, hidup sebagai Bimo juga tak ada ruginya. Malah kamu akan membahagiakan banyak orang dengan wajah Deni sekarang. Ika memiliki kembali kakaknya, juga tuan Zian dan istrinya mendapatkan kembali putranya." jelas Aril.
"Ya kau benar Ril. Aku akan bicarakan ini dengannya nanti jika kondisinya sudah benar benar stabil. Ayo masuk." Alea akan membuka pintunya.
"Al, kita pulang saja. Lagian ini juga sudah malam. Aku tak mau mengganggu istirahat Deni." Aril menolak masuk.
"Iya mbak Al. Aku titip kak Bimo ya.." ucap Ika.
"Baiklah, kalian hati hati."
Aril dan Ika kemudian segera meninggalkan rumah sakit. Alea masuk ke ruang rawat Deni.
"Mas, sudah tidur?" Alea berjalan mendekati ranjang.
Deni menoleh, karena memang belum tidur. Gelisah menunggu kedatangan Alea.
"Kamu kemana saja?" tanya Deni.
"Ini tadi aku beli minuman juga sedikit makanan kecil." jawab Alea.
"Kamu lapar?"
"Sedikit." jawab Alea sambil manampilkan deretan giginya.
"Cepatlah makan, setelah itu temani aku tidur disini." titah Deni.
"Iya." Alea segera duduk di kursi samping ranjang. Memulai memakan makanan yang dibelinya juga minumannya.
"Mas mau?" tanya Alea ingin menyuapi Deni.
"Tidak, kamu saja yang makan. Aku masih kenyang." jawab Deni terus mengamati Alea makan.
Alea menghabiskan semua makanannya juga minumannya. Memang tidak dapat dipungkiri, dirinya sangat lapar sebenarnya. Tidak ingin pergi terlalu jauh juga lama, Alea tadi menghampiri penjual makanan terdekat dan adanya hanya camilan saja. Terpaksalah Alea hanya membeli itu dan segera kembali.
"Sebentar ya mas, aku ke toilet sebentar."
Deni mengangguk saja.
Setelah dari toilet, Alea langsung mengunci pintu ruang rawat Deni. Untuk jaga jaga agar kejadian saat Ika masuk tadi tidak terulang.
__ADS_1
Bimo tersenyum melihatnya. Alea kemudian ikut menyusul berbaring diranjang.
"Sayang, boleh tidak aku melanjutkan yang tadi terpaksa berhenti.?" Deni menatap manik mata Alea.
"Apa mas?" tanya Alea dengan wajah polosnya.
Deni tidak menjawab, tangannya langsung meraih tengkuk Alea. Perlahan namun pasti, wajah Deni mulai mendekat.
Cup..kecupan sekilas mendarat di bibir merah Alea. Keduanya terdiam saling menatap. Tampak sekali Deni menginginkan lebih dari kecupan. Alea mengerti, dia langsung memejamkan matanya. Deni menempalkan kembali bibirnya ke bibir Alea. Tak hanya menempel, lidahnya menerobos masuk ke rongga mulut Alea. Saling memagut mesra.
Tangan Deni mulai tak bisa diam. Menyelusup masuk ke dalam baju Alea. Meraba punggung juga area depan tubuh atas Alea dengan lembut.
Alea merasakan desiran aneh, yang menimbulkan gairah. Setiap sentuhan yang diberikan Deni semakin membuat tubuhnya panas. Menginginkan lebih dari yang sedang terjadi.
"Maas..aahh..stop.!!" ucap Alea mencoba menghentikan kegiatan Deni saat ciumannya terlepas.
"Kenapa?" tanya Deni masih melanjutkan kegiatan bibirnya yang sedang mengabsen setiap inchi kulit leher jenjang Alea.
"Ini di rumah sakit, setelah lebih dari dua tahun kita berpisah. Masa kamu mau kita melakukannya disini? aku ingin kita melakukannya di kamar kita. Dengan kondisi kamu yang sehat betul. Bukan seperti ini." rengek Alea. Yang sebenarnya dia hanya beralasan seperti itu, karena takut kalau mereka melakukan penyatuan disana. Keesokan paginya Alea tidak akan bisa berjalan dengan normal, pasti akan sangat memalukan kalau besok pagi ada yang datang dan melihat keadaannya. Ini yang pertama setelah dua tahun, Alea takut sakitnya seperti saat pertama kali.
Deni nampak menghela nafasnya, mengatur ritmenya untuk mengendalikan nafsunya.
"Baiklah, memang tidak pantas kita melakukannya disini. Aku tak akan melakukannya. Ayo tidur." ajak Deni kemudian.
"Kamu tidak marah kan mas?"
"Tidak, sudah ayo tidur. Biarkan aku tidur seperti ini." Deni memeluk tubuh Alea erat juga menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alea.
Alea membiarkan Deni, dia juga membalas pelukan Deni. Keduanya terdiam juga mulai memejamkan mata.
...☘️☘️☘️...
Keesokan paginya, Alea terbangun lebih dulu. Alea merasakan berat di perutnya, ternyata tangan Deni melingkar dengan erat disana. Posisinya sudah berubah. Alea tidur membelakangi Deni dengan Deni yang memeluknya dari belakang.
Perlahan Alea melepaskan pelukan Deni, karena dirinya sudah ingin ke toilet. Tak lupa juga dia membuka kunci pintunya.
Alea bergegas mengambil baju ganti yang kemarin dibawakan oleh mamanya. Alea ingin sekalian mandi.
"Selamat pagi bee." ucap Alea pelan lalu mengecup kening Deni yang masih terlelap.
Alea melangkah ke arah jendela. Disingkapnya perlahan korden, namun tak sampai terbuka semua karena akan mengganggu tidur Deni. Hanya sedikit agar cahaya mentari pagi dapat masuk.
Alea tak ingin meninggalkan Deni sendirian maka ia lebih memilih untuk dibuatkan makanan dari rumah. Alea menelfon mamanya untuk dibawakan sarapan.
Belum selesai dia bicara dengan mamanya, ternyata mamanya Ika telah datang dengan membawa rantang yang diyakini Alea itu isinya makanan.
"Assalamu alaikum Alea." sapa mama Ika.
"Waalaikum salam tante." Alea langsung meraih tangan mama Ika dan mencium punggung tangannya.
"Telfon siapa?"
"Mama tante, mau dikirimkan sarapan dari rumah." jelas Alea.
"Tidak usah sayang, ini tante bawakan untuk kamu. Kita sarapan sama sama." Mama Ika menunjukan rantang makanannya.
"Wah makasih tante. Tante masuk saja dulu. Aku akan bicara dengan mama sebentar."
Mama Ika langsung masuk ke dalam ruang rawat.
"Ma, tidak jadi bawakan sarapan. Ini tante Salma mamanya Ika sudah ada disini. Tadi juga membawa sarapan."
"..."
"Baiklah, assalamu alaikum."
Alea menutup telfonnya kemudian menyusul masuk ke dalam.
Ternyata Deni sudah bangun dan sedang mengobrol dengan tante Salma. Terlihat sekali kalau tante Salma sangat menyayangi Deni. Walau dia tahu Deni bukanlah anaknya. Alea mendekat.
"Al, sarapan dulu gih. Bimo biar tante yang suapin."
"Iya tante." jawab Alea sama sekali tak keberatan jika tante Salma mau mengurus Deni.
__ADS_1
Alea kemudian duduk di sofa dan mulai menikmati makanan yang dibawakan oleh tante Salma. Baru juga masuk dua suap, terdengar ketukan pintu. Yang datang adalah kedua orang tua Deni.
"Mama, papa. Masuklah." Alea ingin beranjak dari duduknya namun sudah dicegah oleh mama mertuanya.
"Sudah kamu lanjutkan saja makannya. Mama ke Bimo dulu ya."
Dengan sedikit khawatir, mulai mendekat ke ranjang Deni. Ingin segera memeluk tubuh anak semata wayangnya yang sangat dirindukan namun takut akan membuat Deni syok. Namun sebuah panggilan yang terucap dari mulut Deni menghilangkan kekhawatiran mamanya.
"Mama Papa." panggil Deni.
"Kamu ingat dengan mama sayang."
Namun Deni menggeleng.
"Tidak apa apa. Jangan dipaksakan untuk mengingat. Cukup dengan kamu tahu bahwa kami orang tuamu. Kami sudah bahagia. Kami sangat menyayangimu." ucap papa Deni.
"Boleh mama peluk kamu?" pinta mamanya. Deni mengangguk.
Mamanya langsung memeluk dengan erat tubuh Deni. Air mata kerinduan meleleh membasahi pipinya.
Setelah pertemuan yang lumayan mengahrukan. Semuanya mengobrol ringan. Sampai ada kunjungan pagi dari Dokter. Dokter langsung memeriksa kondisi Deni.
"Bagaimana Dokter?" tanya Alea.
"Semuanya sudah membaik. Rasa sakit di kepala tuan Bimo bisa diobati dengan rawat jalan. Jadi hari ini pun sudah boleh pulang. Namun tetap satu yang perlu diperhatikan. Jangan biarkan tuan Bimo berfikir terlalu keras." jawab Dokter tersebut.
"Baik Dok."
"Ini resep obat yang harus ditebus juga dikonsumsi nanti saat di rumah."
Alea menerima resep obat tersebut.
"Terima kasih Dokter.
"Sama sama, saya permisi dulu untuk melanjutkan tugas saya. Selamat pagi semuanya."
"Pagi Dok." jawab semuanya serempak.
"Mas, nanti kamu pulang ke rumah tuan Zian ya." pinta Alea. Membuat wajah kedua orang tua Deni sedikit masam. Juga Deni cemberut. Lain halnya dengan tante Salma yang tampak sumringah.
"Kenapa sayang?" Aku ingin pulang bersamamu. Ke tempat tinggalmu."
"Begini mas, mas sekarang ini hidup sebagai Bimo, anak dari tuan Zian. Di pandangan masyarakat, mas Deni ku sudah meninggal. Mereka akan menganggap kita berbuat zina jika tinggal bersama tanpa ikatan. Walau sebenarnya kita adalah pasangan suami istri. Untuk sementara seperti ini saja ya mas. Aku akan sering datang kesana nanti juga dengan Myli. Dia pasti akan senang, bisa bermain dengan daddynya." terang Alea yang sedikit bisa membuat mengerti semua pihak.
"Baiklah, aku ikuti keputusanmu. Semoga ini yang terbaik. Kita mulai dari awal. Aku ingin memulai hidup baru bersamamu. Bersama ankak kita." Deni meraih tubuh Alea ke dalam dekapannya.
Pancaran kebahagiaan tampak pada semua wajah yang berada di ruangan itu.
...☘️☘️☘️...
Siang harinya.
Deni diantarkan puang ke rumah tuan Zian. Ternyata disana sangat ramai. Keluarga Sanjaya, Wijaya dan juga anggota keluarga tuan Zian. Tak ketinggalan juga Aril.
Semuanya menyambut kedatangan Deni dengan bahagia. Terutama si kecil Myli. Melihat Deni masuk ke dalam rumah, Myli langsung berlari menghambur ke pelukan Deni. Deni begitu bahagia melihat semua keluarga berkumpul.
"Sayang turun dulu yuk. Om Bimo kan baru sembuh."
"Maaf mom.." Myli langsung melorot turun lalu mengandeng tangan Alea dan menyeretnya masuk.
Deni juga ingin segera mengikuti langkah Alea dan Myli namun terhenti kala ada tangan seseorang melingkar erat ke perutnya dengan erat.
"Bim, aku merindukanmu." terdengar sebuah suara yang jelas adalah seorang wanita.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
Jangan bosen bosen ya nunggu up aq yang lagi super lemot...👍👍👍👍
aku selalu tunggu jempol.kamu
👋👋👋👏👏👏👏😘😘😘🤗🤗🤗
love you readers setiaku..
__ADS_1