
Pagi hari ini adalah hari kedua Inneke menginap di rumah sakit, saat dokter Rianti visit mengatakan boleh pulang hari ini tetapi sore hari.
"Diperiksa dulu ya Bu" kata dokter Rianti.
Sebelumnya di catat tensi darah, suhu tubuh, detak jantung semua normal dan sehat, dokter Rianti juga memeriksa dengan teliti.
"Baiklah semua sudah sehat, hari ini boleh pulang tetapi tidak sekarang sore saja" dokter Rianti memutuskan dengan cepat karena Inneke sudah sehat.
"Apakah boleh pagi ini saja pulangnya dok?" tanya Inneke antusias ingin cepat pulang ke rumah.
"Tunggu pemeriksaan dan persetujuan dari dokter anak dulu ya Bu, mungkin sebentar lagi akan visit juga" keterangan dokter Rianti kemudian.
Satu jam setelah dokter Rianti visit datang dokter anak memeriksa kesehatan baby Rafael dengan teliti, karena baby-nya juga sehat akhirnya dokter anak juga menyetujui boleh pulang sore hari ini.
Faro langsung menghubungi Umi dan Abi, jika sore nanti akan pulang, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak ke rumah sakit, tetapi berkumpul di rumah Faro karena kebetulan pas hari libur.
Selepas keluarnya dokter anak dari ruang rawat inap Inneke datang Mario dan Conan berkunjung ke rumah sakit, selain untuk menyelesaikan administrasi Mario juga sudah janjian dengan Conan untuk laporkan tentang menyelidikan pak Basiran seorang cleaning servis yang bekerja di perusahaan Faro yang katanya orang kepercayaan dari Thora Thanapon.
"Ini bos laporannya" Conan menyodorkan map dan tidak lupa mengirim juga melalui pesan WA vedio aktivitas pak Basiran diluar jam kerja.
Faro membaca laporan itu dengan seksama, pak Basiran, laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun lahir di Bogor memiliki tiga anak yang masih sekolah dan kuliah, hidup pas-pasan di sebuah kontrakan kecil yang tidak jauh dari perusahaan, istrinya bekerja sebagai ART di seorang pengacara bernama Felix Siregar.
Pak Basiran sangat tergantung pada Felix Siregar karena dia pernah menanggung biaya pengobatan anak pertamanya saat mengalami tabrakan dengan patah tulang kaki, sehingga keluarga Basiran mau menjadi mata-mata dan selalu melaporkan kejadian yang ada di perusahaan Faro, anak pertama pak Basiran juga sekarang kuliah pada semester akhir di biayai oleh Felix Siregar dengan syarat setelah selesai kuliah ikut organisasi yang dipimpin oleh Theo Thanapon, putra dari pak Basiran inilah calon ketua mafia yang ada di Indonesia.
Putra Pak Basiran itu bernama Agus Martono, di didik keras oleh Felix Siregar bahkan sekarang setelah hampir selesai kuliahnya Agus sudah menjadi asisten Felix dan sering melakukan pekerjaan ilegal yang di kelola oleh Felix.
Pribadi Agus hanya sebelas dua belas dengan Thora, kaku, dingin dan tidak mengenal belas kasih kepada siapapun bahkan kepada ayah kandungnya sendiri, sebenarnya pak Basiran tidak setuju dengan jalan yang ditempuh putranya Agus, tetapi ketidak berdayaan dengan hutang yang menumpuk dengan majikan istrinyanya membuat dia setuju saja apa yang diperintahkan oleh Agus dan Felix.
Selesai membaca laporan itu Faro membuka handphone melihat vedio yang dikirim oleh Conan, yaitu rumah kontrakan kecil yang di tinggali oleh keluarga pak Basiran serta keseharian mereka melakukan aktivitas sehari-hari.
"Mario sebaiknya elo melakukan pendekatan dengan pak Basiran, sepertinya dia orang jujur, tidak usah buru-buru agar tidak curiga" perintah Faro setelah selesai melihat vedio keluarga pak Basiran di handphonenya.
"Ok siap bos" Mario menjawab tegas.
"Bang Conan apakah elo kenal Felix Siregar?" tanya Faro kepada detektif nyentrik itu.
__ADS_1
"Sangat kenal bos, bisa di bilang dia rival bebuyutan gue dan sebagian besar detektif swasta di Indonesia" cerita awal Conan.
"Maksudnya Bang?" tanya Mario kemudian, mencondongkan badannya mendekati Conan karena penasaran.
Conan bercerita Felix adalah pengacara dan detektif swasta yang sanggup melakukan apa saja bahkan dengan cara ilegal demi memenangkan suatu kasus, dia juga pengacara kepercayaan sekaligus anak buah Theo Thanapon sedari muda.
Sedang asyik bercerita terdengar suara tangisan baby Rafael yang melengking tinggi membuat Mario dan Conan berhenti bercerita, sedangkan dari tadi Inneke istirahat tertidur di atas brankar tempat tidur, Faro dan bibi Jum berlari kecil bersamaan mendekati box bayi.
"Ada apa sayang apakah haus?" tanya Faro mengelus pipinya.
Seperti ingin merespon papinya baby Rafael mengurangi suara tangisannya.
"Baiklah, papi bangunin mami ya tunggu sebentar" ucap Faro lagi dan baby Rafael berhenti menangis, di gendong oleh bibi Jum.
Faro mendekati Inneke yang sedang tertidur pulas tanpa mendengar suara baby Rafael yang menangis tadi.
"Sayang, ayo bangun...sayang itu baby El haus nangis minta *****" dengan lembut membangunkan Inneke sambil dicium pipinya.
Mengerjap matanya sambil menguap Inneke duduk dengan dibantu Faro "Apakah tadi baby El menangis Bang?" dijawab anggukan Faro Inneke duduk dan meluruskan kakinya bersiap-siap memberikan ASI pada putranya.
Bibi Jum meletakkan baby Rafael di pangkuan Inneke yang sebelumnya diberikan bantal tipis di pangkuan Inneke.
Mario dan Conan terkekeh karena diusir oleh Faro untuk segera keluar ruangan.
"Baiklah, gue sekalian pulang aja, Bu bos selamat ya, semoga baby Rafael tumbuh menjadi anak yang Sholeh, pintar seperti papinya" pamit Conan melipatkan kedua tangannya di dada dan keluar ruangan.
"Gue juga sekalian pamit juga, da...da..baby Rafael, I love you" Mario mentowel pipinya yang menggemaskan.
"Ya terima kasih Bang, hati-hati" jawab Inneke singkat.
Faro mengantar mereka sampai pintu, Inneke mulai memberikan ASI eksklusif setelah tamunya keluar, bibi Jum juga ijin keluar untuk ke kantin untuk makan siang dan membelikan makanan untuk bara bodyguard yang menjaga diluar.
Saat Inneke sedang memberikan ASI eksklusif, Faro menyuapi Inneke menu makan siang yang disediakan oleh rumah sakit.
"Abang sepertinya belum kenyang kalau menunya cuma segitu, ini baby Rafael kuat banget ***** nya" pinta Inneke dengan suara manja.
__ADS_1
"Masih kurang ya, baiklah Abang hubungi bibi Jum untuk menambah membeli makan untuk kita" Faro mengambil handphone dari kantong celananya dan menghubungi bibi Jum.
Selesai menyusui baby Rafael dan dia tertidur pulas di box bayi dengan tenang, makanan yang dibeli bibi Jum juga sudah datang, bertiga menikmati makan siang dengan lahap.
Sementara di rumah Faro sudah mulai ramai dari keluarga, sahabat datang satu persatu Sebelum Faro tiba di rumah, bahkan hari ini Mama Meera dan Mama Dini beserta keluarga besar datang juga dari kampung untuk menyambut pulangnya baby Rafael.
Rumah di hias sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan baby Rafael terutama kamar baby, dengan warna biru dan putih menambah suasana menjadi semakin cerah dan menawan.
Sedangkan yang di dapur sibuk membuat menu makanan untuk makan malam bersama dan camilan untuk para tamu yang datang di bantu oleh bibi yang bekerja di rumah Ken dan bunda.
Umi mendapatkan kabar jika Faro sudah dalam perjalanan pulang, semua keluarga dan sahabat sudah bersiap-siap menyambut datangnya baby Rafael.
Setelah setengah jam berlalu Faro tiba di rumah, semua sudah siap menunggu di teras rumah, bibi Jum turun dengan menggendong baby Rafael, Faro turun dan memutari mobil membantu Inneke turun dan berjalan, bunda dan umi berlari kecil menjemput mereka.
"Bibi Jum, sini baby Rafael sama grandma" umi mengambil baby Rafael dari gendongan bibi Jum, dan bunda membantu Faro memapah Inneke masuk rumah.
Satu persatu memeluk Inneke dan cipika-cipiki mengucapkan selamat atas kelahiran baby Rafael, termasuk Mama Meera dan Mama Dini.
"Selamat sayang, semoga sehat selalu baby dan Mami nya" doa Mama Dini memeluk Inneke dan tak lupa cipika-cipiki.
"Selamat nak, terima kasih sudah membuat putraku bahagia memberikan keturunan yang sangat tampan seperti papanya" Mama Meera sampai meneteskan air matanya karena melihat sekilas wajah baby Rafael mengingatkan kepada almarhum suaminya Dona Sanjaya, karena wajah Faro juga mirip dengan papa kandungnya.
"Kenapa Mama Meera malah menangis?" Faro langsung mendekati Mama Meera dan memeluknya dengan erat.
"Mama teringat Papa kandungmu nak, seandainya beliau masih ada bersama kita, mungkin beliau pasti akan sangat bahagia" Mama Meera meneteskan air matanya tanpa henti.
"Sudahlah nak, semua sudah takdir ilahi, jangan ditangisi, almarhum Dona Sanjaya sudah bahagia disana, kita hanya bisa berdoa semoga Dona diterima disisi Allah SWT Aamiin" nasehat Tomy Sanjaya dengan bijak.
"Ya Papa maaf aku malah menjadi cengeng disaat kita menerima cucu laki-laki yang ganteng" Mama Meera mengusap air matanya dan bergegas mendekati Imma yang sedang memangku baby Rafael dan di kelilingi oleh keluarga.
"Waduh ini kenapa cucu Oma Meera jadi idola dadakan ya, ayo minggir gantian dong" Mama Meera duduk disamping Imma dan minta ijin untuk memangku bayi menggemaskan itu, ikut bergabung Mama Dini duduk jongkok di depan Meera, tetapi setelah Mama Meera dan Mama Dini memandangi wajah baby Rafael keduanya saling memandang dan berkaca-kaca tanpa terasa air matanya menganak sungai tanpa bisa dibendung lagi pada keduanya.
Mama Meera dan Mama Dini berada di pemikiran masing-masing, apalagi Mama Dini yang sedari kecil menghabiskan waktu kecilnya bersama kakaknya Dona seperti melihat album foto lama dimana ada foto-foto Dona Sanjaya saat masih bayi, bayi yang ada di depan matanya kini persis seperti yang ada di album foto itu, dari mulut, pipi hidung bahkan rambutnya pun persis seperti Dona Sanjaya terlahir kembali dihadapannya, hanya satu perbedaannya yaitu sorot matanya yang tajam seperti mata Inneke bahkan alis dan bulu mata yang lentik sama seperti foto yang ada di album lama yang ada di kampung halaman.
Demikian Mama Meera, walaupun dia tidak pernah tahu bagaimana Dona Sanjaya tumbuh saat kecil, tetapi dia sering membuka album foto dimana Dona Sanjaya baru lahir sampai dia menjadi suaminya dulu, seolah olah di sedang membuka album foto itu saat sedang memangku baby Rafael.
__ADS_1
"Ini Mama berdua mengapa menangis lagi, coba lihat semua memandangi Mama dengan heran?" celoteh Faro mengusap air mata mereka berdua bergantian.
"Kami menangis karena bahagia Bang" jawab Mama Meera dan Mama Dini bersamaan.