
Baru berjalan sekitar tiga kilometer, di jalan raya yang terlihat sepi karena sebagian besar jalur yang berlawanan di tutup oleh kepolisian karena adanya kecelakaan itu, mobil Imma di hadang oleh satu mobil Avanza hitam yang berisi sekitar empat orang laki-laki berpakaian hitam dan menggunakan senjata Laras panjang rakitan langsung menembak ban mobil dan menggedor pintu mobil bagian depan sebelah pengemudi.
Imma dan pak Rudi kaget dan ketakutan, apalagi mereka mendekati pintu mobil Imma.
"Tok.... tok...ayo keluar cepat" kata salah satu orang laki-laki mengetuk pintu mobil dengan mengacungkan senjatanya.
"Bagaimana ini Bu, aku takut" kata pak Rudi gemetaran.
"Aku juga takut pak, harus bagaimana ini?" jawab Imma dengan gemetaran dan keringat dingin mulai bercucuran di seluruh tubuhnya, badannya mulai menegang dan panas dingin.
"Ayo buka cepat...tok....tok..." Kata orang laki-laki itu dengan suara tinggi.
Dengan terpaksa pak Rudi membuka pintu mobilnya perlahan dengan tangan yang masih gemetar.
"Doooor....." Pak Rudi tumbang dan tewas seketika di samping pintu kemudi yang terbuka lebar tertembak di dada sebelah kanan, posisi peluru persis seperti Faro menembak anak angkat dari Theo Thanapon waktu itu.
"Aaaaaaaak... pak Rudi" pekik Imma memegang kedua telinganya menangis tersedu-sedu dengan keringat panas dingin dan badan menegang.
Salah satu orang laki-laki lainnya membuka pintu belakang dimana Imma duduk, dengan kasar Imma di tarik keluar dari mobil.
"Lepas.... jauhkan tanganmu...lepas" Imma mencoba melepaskan diri dari cengkeraman laki-laki itu dengan sekuat tenaganya.
"Diam lo, ayo ikut aja" bentak laki-laki itu sambil menarik Imma keluar dari mobil.
Salah satu tangan Imma masih bertahan memegang pintu mobil dengan sekuat yang dia mampu, apalah daya kekuatan wanita berumur sekitar empat puluh lima tahun itu di bandingkan dengan laki-laki kekar yang menarik tangannya.
"Tidak...hik.....hik. hik" Imma terus mempertahankan pegangan tangan.
Laki-laki yang masih duduk di mobil Avanza hitam itu berteriak kencang "Cepetan keburu banyak orang dan datang polisi juga".
Karena tidak sabar laki-laki yang menarik tangan Imma tadi memukul tengkuk Imma hingga dia terkulai lemas pingsan tidak berdaya, mobil itu melesat cepat menuju arah jalan tol Jagorawi.
Barulah ada mobil lewat di tempat kejadian itu, langsung di laporkan kepada pihak yang berwajib, sehingga konsentrasi kepolisian jadi terbelah antara dua kejadian yang tidak berbeda jarak dan waktu kejadian.
Datang dengan cepat kepolisian karena adanya laporan ada korban yang tertembak tergeletak di samping pintu kemudi mobil, memberikan police line yang ada di pinggir jalan itu.
"Pak, ini ada satu orang korbannya tertembak di dada sebelah kanan" lapor seorang polisi yang menangani kasus itu.
"Coba cari barang bukti di jok depan atau jok belakang cepat?" perintah komandan polisi yang sedang berdiri disamping mayat pak Rudi.
"Ada tas wanita yang tergeletak di bawah jok pak" teriak salah satu polisi itu.
"Berarti ada seorang wanita yang menghilang dari TKP, coba di selidiki lebih teliti".
"Siap komandan" jawabnya lantang.
Semua anggota polisi yang ada disitu, memeriksa dengan teliti baik sidik jari, bercak darah, barang-barang yang ada didalam mobil itu tanpa terkecuali tas wanita yang ada disana
__ADS_1
Mayat di masukkan ke dalam kantong jenazah dan di masukkan ambulance dan di larikan ke rumah sakit terdekat.
Komandan polisi kemudian mengkonfirmasi dengan cepat kejadian yang jaraknya tidak jauh dari TKP itu, yaitu motor gede yang mengalami kecelakaan tunggal, ternyata korban yang berada disana yaitu dua orang laki-laki juga tertembak peluru persis seperti pak Rudi juga yaitu di dada sebelah kanan.
"Sepertinya ada kaitannya dengan dua korban penembakan yang pertama yang tidak jauh dari sini, karena posisi peluru sama persis" gumam komandan polisi itu sendiri.
_________________
Sudah hampir pukul sepuluh malam Imma belum sampai rumah, saat Faro baru pulang dari kantor masuk kerumah melihat Ken yang begitu gelisah Faro mendekatinya.
"Abi...ada apa, kemana umi, kenapa mondar-mandir begitu?" tanya Faro penasaran dan mengajak Ken duduk di sofa.
"Umi belum sampai rumah, padahal kata Mely dan Marisa katanya sudah pulang dari sana pukul tujuh malam tadi" cerita Ken yang bergetar tangan begitu khawatir.
"Apakah Abi sudah menghubungi umi atau pak Rudi?".
"Handphone umi tidak bisa di hubungi diluar jangkauan, sedangkan handphone pak Rudi tidak ada jawaban walaupun berdering" jawabnya lagi.
"Abi, coba hubungi kedua bodyguard yang mengawal umi atau hubungi om Sandi" perintah Faro lagi.
Ken bergegas menghubungi Sandi menggunakan handphone nya "San, hubungi orang kamu yang mengawal istriku, sampai sekarang belum pulang".
"Ok siap" jawab Sandi dalam dalam suara handphone Ken.
Setelah menghubungi Sandi Ken handphone pak Rudi lagi berkali-kali tanpa henti, tetapi tidak satupun di angkat.
Sesaat setelah Ken mematikan sambungan telepon ke Pak Rudi, Faro mendapatkan telepon dari nomor uminya, Faro bergegas menggeserkan tombol hijau.
"Halo umi.....umi dimana?" tanya Faro cemas.
"Bang...di loud speaker" perintah Ken mendekati Faro.
Faro mengangguk dan menekan tombol loud speaker agar abinya bisa mendengar suara Imma.
"Halo pak kami dari kantor polisi Cibinong, saya bicara dengan siapa ya?" suara dari dalam handphone Faro.
"Saya putranya yang memiliki nomor handphone ini pak, dimana ibu saya pak?" tanya Faro dengan gemetar sudah mulai merasakan ada yang tidak beres yang terjadi dengan uminya.
"Maaf... mas saya Kapolsek Cibinong, kami menemukan handphone ini tergeletak di dalam mobil, tetapi tidak menemukan ibu anda, apakah bisa kesini pak akan kami ceritakan?".
"Ya pak kami segera kesana" jawab Faro singkat.
Faro berlari ke garasi mobil mengeluarkan mobil itu dengan cepat "Abi ayo cepat".
Ken berlari menuju mobil Faro membuka mobil dengan cepat dan berteriak kepada sekuriti untuk mengatakan kepada Fia dan Ezo jika mereka sedang menyusul uminya ke Bogor.
Faro melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Polsek Cibinong, dalam perjalanan Ken menghubungi Sandi dan memerintahkan untuk mengabarkan kepada keluarga jika ada sesuatu yang terjadi dengan Imma.
__ADS_1
Hampir dua jam Faro baru sampai di Polsek Cibinong, Ken lari melesat cepat Sebelum mobil Faro parkir dengan sempurna seperti dahulu.
"Bi, hati-hati... tunggu Abang!" teriak Faro sambil memarkirkan mobilnya sembarang tempat dan membuka pintu berlari menyusul Ken dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di dalam Polsek, kepolisian menceritakan secara singkat dua kejadian yang berbeda tempat dan waktu tetapi menemui kesamaan posisi peluru dari tiga korban, dan tidak di temukannya Imma membuat Faro begitu marah besar, sedangkan Ken lemas terduduk di lantai Polsek itu menangis tersedu-sedu mendengarkan cerita salah satu petugas polisi itu.
Datang Sandi dan Mario di Polsek itu menemui Ken yang sudah lemas dan syok berat karena tidak di temukan istri tercintanya, setelah Sandi mendengar cerita itu, baru dia menjaga Ken atas perintah dari Faro, sedangkan Faro menghubungi jenderal Hendro.
"Jenderal, bisa ke Polsek Cibinong sekarang, umiku di culik, sedangkan sopir dan pengawal di tembak di dada sebelah kanan persis seperti yang aku lakukan dulu" pinta Faro dengan terburu-buru.
"Ok aku otw sekarang" jawab jenderal Hendro.
Jenderal Hendro menyusul Faro dengan menggunakan seragam intelejen dan membawa dua anggota.
Selesai menghubungi jenderal Hendro, Faro mendekati Ken, sandi dan Mario.
"Bagaimana Bang, dimana umimu?" tanya Ken dengan air mata yang menganak sungai.
"Bi, umi belum di temukan tetapi jangan khawatir, semua akan Abang bereskan, jenderal Hendro sudah menuju kesini" jawab Faro sambil memeluk abinya dengan erat
"Maafkan Abang...Bi, sepertinya ini imbas dari apa yang pernah Abang lakukan di masa lalu" kata Faro ikut menangis tersedu-sedu mendekap laki-laki yang berumur setengah abad itu.
"Mario tolong kamu kabari Papi Bastian atau Mami Winda untuk datang ke rumah gue, handle semua pekerjaan mulai dari sekarang" perintah Faro.
"Beres bos, serahkan semua pada gue" jawab Mario tegas.
Saat jenderal Hendro datang di Polsek itu Faro langsung memerintahkan kepada Sandi untuk menjaga Ken.
"Om Sandi, tolong jaga Abi, kalau perlu cari penginapan di sekitar sini, Abang akan menemukan umi, percayalah ok, tunggu kabar dari Abang?" titah Faro dengan di jawab Sandi anggukan dan mengacungkan jempolnya.
"Bang ayo ikut aku" perintah jenderal Hendro berjalan menuju kantor Kapolsek.
Masuk kedalam ruang Kapolsek itu jenderal Hendro dan anggotanya walaupun sudah hampir menjelang tengah malam mereka masih standby di kantor karena adanya kasus penembakan itu.
"Selamat malam jenderal!" kata Kapolres dengan mengangkat tangan kanannya di dahi menghormat kepada jenderal Hendro.
"Selamat malam, coba berikan laporan di dua TKP penembakan itu?" perintah jenderal Hendro.
"Siap jenderal".
Setelah jenderal Hendro memeriksa laporan itu dan meminta salinan laporan itu jenderal Hendro dan anggotanya serta Faro menuju RSUD Cibinong untuk memeriksa ketiga korban yang tewas tertembak di dada sebelah kanan.
Faro berpamitan kepada Sandi dan Ken, akan pergi ke RSUD Cibinong dan kantor intelejen untuk mencari informasi tentang apa yang terjadi dan mencari keberadaan Imma, sedangkan Ken tidak mau beranjak dari Polsek itu di temani oleh sandi, dan Mario pulang menggunakan mobil Faro kembali ke rumah Ken untuk mengabari keluarganya.
Sesampainya di RSUD rombongan jenderal Hendro dan di dampingi oleh Kapolsek dan tiga anggota kepolisian, langsung menuju kamar mayat rumah sakit itu, tetapi sebelumnya masuk kamar mayat mereka memakai baju steril dan masker terlebih dahulu.
Jenderal Hendro dan seluruh anggota langsung memeriksa ketiga korban penembakan itu dengan seksama.
__ADS_1
"Jenderal setelah melihat posisi peluru, sepertinya tersangka memang sengaja mengirim pesan terselubung kepada orang yang telah menembak mati tiga orang laki-laki yang di atas gedung kosong waktu itu" tebak Faro dengan yakin.
Jenderal Hendro hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, kemudian datang pegawai kamar mayat itu mendekati Kapolsek menyerahkan handphone yang masih aktif yang berasal dari jenazah pak Rudi