
Setelah keluar dari pemakaman Opa Tomy di komplek perkebunan, seluruh keluarga besar Ken pindah mengunjungi makam Uthi Sumi yang berada diluar perkebunan.
Keluar dari pemakaman setelah hampir satu jam berdoa, mampir dirumah ibu lestari dan Mami Winda hanya sebentar menjelang sore kembali ke rumah utama perkebunan.
Fia yang dari awal berangkat badan kurang enak badan sampai di rumah Mama Dini masuk kamar mandi mual dan muntah, Jasson yang melihat istrinya berlari ke kamar mandi langsung menyusul dengan cepat.
"Sayang... Apakah pusing, tadi malam harusnya tidak usah ikut kalau kurang enak badan" Jasson membantu dengan memijit tengkuknya perlahan.
Sampai keluar cairan putih kental dan mulutnya terasa sangat pahit, Fia berkumur dan berjalan gontai dibantu oleh Jasson masuk kamar.
Jasson meminta air putih hangat kepada bibi yang berada di dapur dan berlari kembali masuk kamar.
"Minum air hangat dulu sayang, ayo Abang bantu duduk" Jasson dengan memeluknya membantu Fia duduk dan memberikan air hangat untuk diminum.
"Sudah Bang, aku mau tidur sebentar ya terima kasih" Fia kembali membaringkan tubuhnya meringkuk miring sambil menutupi tubuhnya dengan selimut yang tebal sampai leher.
Jasson keluar kamar mencari Abi atau umi untuk menanyakan klinik atau dokter yang bisa memeriksa kondisi Fia.
Umi, Abi Apakah disini ada klinik terdekat atau dokter mungkin?" tanya Jasson setelah bertemu dengan umi dan Abi yang berada di teras sedang bermain dengan Rafael.
"Siapa yang sakit nak?" tanya Ken cepat.
"Fia barusan muntah muntah, kepalanya pusing katanya, dari kemarin sebenarnya badannya kurang fit, tetapi tadi malam dia tetap ingin ikut kesini" Jasson bercerita duduk disamping Imma dengan khawatir.
Ken dan Imma saling pandang seolah keduanya tahu apa yang terjadi pada putri kesayangannya.
"Apakah badannya panas Jasson?" bertanya lagi dan Jasson hanya menjawab dengan gelengan kepala saja.
"Ayo ke kamar coba umi lihat" Imma dan Jasson bergegas berjalan menuju kamar, sedangkan Ken menggendong baby Rafael mencari Inneke untuk menyerahkan Rafael.
Imma langsung memegang dahi Fia untuk mengecek suhu tubuhnya, tetapi tidak panas, mukanya pucat, merasa ada yang memegang dahinya Fia terbangun dan membuka matanya.
"Ada apa umi?" suara serak Fia terdengar lirih dan lemas.
"Apakah badanmu lemas sayang, apa yang dirasakan?" Imma menjadi cemas setelah melihat putrinya lemas dan pucat.
"Jangan khawatir umi, hanya lemas dan mual saja, istirahat sebentar paling nanti juga membaik" Fia duduk dan meluruskan kakinya bersandar di dastbor tempat tidur.
"Oya sayang, terakhir haid kapan, apakah ingat?" tanya Ken saat baru datang dan masuk ke kamar mendekati Fia dan Imma.
"Apa maksudnya Abi, kok tanya tentang datang bulan?" Jasson yang penasaran karena seorang ayah menanyakan tentang haid.
"Biar dijawab istrimu dulu, nanti baru umi yang menjelaskan" Ken duduk dipinggir tempat tidur disamping Fia bersandar.
"O iya harusnya awal bulan haidnya, ini akhir bulan tetapi belum haid, emang kenapa umi?" Fia jadi ikut penasaran kenapa abinya menayangkan tentang hal yang sering dialami oleh wanita.
"Siapa tahu sudah ada Jasson Junior di perutmu sayang" Imma tersenyum sambil mengelus perut rata Fia.
Jasson mendekati Fia langsung memeluknya dengan erat menciumi seluruh wajah istrinya dengan mesra dan mengusap perutnya yang datar.
"Ada kami jangan mesum Jasson ini baru prediksi umi dan Abi, sana ke apotek beli tespack untuk mengetahui pastinya?" cabik Ken menepuk pundak Jasson yang posisinya memunggungi Ken.
Jasson terkekeh dan cengar-cengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Maaf Abi, lupa kalau ada Abi dan umi disini" Seloroh Jasson bercanda.
"Dasar kau ini, sana berangkat" cabik Ken tersenyum defil.
__ADS_1
"Bang tunggu, jangan sekarang, tidak enak sama Mama Meera dan Mama Dini, disini sedang berduka kan?" Fia menarik tangan Jasson untuk duduk kembali di sampingnya.
"Betul juga ya, nanti aja kalau kita pulang ke Jakarta" Ken menimpali permintaan Fia.
Walaupun ada rasa kecewa dihati Jasson, tetapi Jasson mengangguk tanda setuju memang situasinya tidak memungkinkan menunjukkan kebahagiaan kepada keluarga yang sedang berduka gumamnya dalam hati.
"Abi, umi bolehkah kakak pulang duluan malam ini?" pinta Fia dengan sendu menggenggam erat tangan Jasson.
"Apakah ini ngidam pertamamu sayang, Abi, Umi boleh ya kita pulang duluan please, kita periksa di Jakarta saja" Jasson dengan senyum mengembang dan memeluk istrinya dengan mesra.
"Baiklah sebentar Abi bicarakan dengan Bang Faro dan Mario dulu" Ken keluar kamar diikuti oleh Imma mencari Faro yang sedang beristirahat di kamarnya.
Ternyata setelah bicara dengan Faro, Mario dan Rendi memang berniat pulang hari ini karena mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan di kantor yang menumpuk.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke Jakarta, yang tinggal hanya Faro, Inneke, baby Rafael dan bibi Jum saja, dengan dua kali penerbangan helikopter menjemput keluarga besar Ken malam itu juga.
Rencana Faro akan tinggal di perkebunan sampai hari ketujuh setelah kirim doa, setelah itu baru akan meninggalkan perkebunan.
Sampai di Jakarta rombongan pertama Jasson tiba hampir pukul tiga pagi, dijemput oleh Gio asistennya di hanggar helikopter bersama Ken dan Imma, sisanya ikut Pak Min yang menjemput mereka.
Saat melewati apotek yang buka 24 jam Jasson meminta Gio untuk berhenti sejenak, sedangkan istri dan kedua mertuanya terlelap tidur dengan nyenyak.
"Gio tunggu sebentar, gue mau membeli sesuatu" Jasson berbisik agar Istri dan mertuanya tidak terbangun.
Dengan berlari kecil Jasson bergegas membuka pintu sambil mengeluarkan dompetnya.
"Mas bisa tolong minta tespect untuk pemeriksaan kehamilan?" pinta Jasson kepada seorang penjaga apotek.
"Yang merk apa mas, mau berapa pisc?" jawabnya cepat.
"Memang ada berapa merk, saya minta satu dalam setiap merk-nya ya mas soalnya saya tidak faham harus beli berapa dan apa merk-nya?" jawab Jasson dengan gugup dan bingung.
"Baiklah, ini ada lima jenis merk yang sering di cari orang yang akan mengecek kehamilan" petugas laki-laki memberikan lima tespect dengan berbagai macam merk.
Dengan cepat membayar harga biaya tespect dan langsung berlari naik kembali masuk mobil yang sedang parkir didepan pintu apotek.
Hampir setengah jam berkendara dan jalan raya yang lengang mereka sampai di rumah dengan selamat.
"Abi...Abi , sudah sampai rumah ayo bangun" Jasson menepuk pundak Ken perlahan agar umi dan Fia tidak terbangun.
Ken mengerjap membuka matanya perlahan duduk kembali dan memandang wajah istri dan putrinya masih terpejam, setelah terkumpul nyawanya Ken tidak membangunkan Imma melainkan menggendongnya bridal masuk ke dalam rumah menuju kamar.
"Gio mau pulang atau nginap disini" tanya Jasson sambil membuka lebar pintu mobil.
"Gue nginap disini aja bos, ini sudah hampir menjelang pagi" Gio membantu para sekuriti menurunkan koper dan membawanya ke rumah.
Jasson juga menggendong bridal Fia masuk rumah menuju kamar yang ada di lantai dua dengan bergumam sendiri jangan kalah dengan Abi ayo semangat.
Sampai di kamar, di baringkan nya perlahan, dicium kening dan pipinya, membuka sepatunya dan menyelimuti tubuhnya sampai leher.
Membersihkan diri di kamar mandi dengan cepat dan berganti baju tidur dan mendekati Fia ingin berbaring di samping istri tercintanya.
Baru Jasson mau naik ditempat tidur, dengan tiba-tiba Fia bangun dan turun dari tempat tidur menutup mulutnya berlari ke kamar mandi dengan cepat.
"Sayang hati-hati" Jasson berlari mengikuti Fia ke kamar mandi.
__ADS_1
Huwek...... .....huwek........huwek" Fia memuntahkan makanan yang ada di dalam perutnya, sampai keluar cairan putih kental keluar dari mulutnya.
Jasson memijat tengkuk Fia dengan lembut, melihatnya berkumur dan mencuci mukanya yang pucat.
"Bang, kenapa pusing sekali kepalaku" Fia memegangi kepalanya, dengan cepat Jasson menggendong bridal Fia dan membaringkannya di tempat tidur.
"Ini minum dulu biar tidak terlalu pahit mulutnya" memberikan air putih yang diambilnya dari nakas kecil yang selalu tersedia disana.
"Apakah masih pusing, Abang pijitin sebentar ya" memijit pelipis dan kepala Fia dengan lembut dan pelan.
"Bagaimana sudah enakan, sayang?"
"Sudah Bang terima kasih, aku ingin buang air kecil dan ganti baju Bang".
Dengan cepat Jasson mengambil handuk yang ada dibelakang pintu, tidak lupa membawa tespack yang tadi malam dibelinya.
"Ayo sayang kita ke kamar mandi" Jasson menggendong bridal Fia kembali.
"Abang aku bisa jalan sendiri, jangan digendong terus" Fia meronta ronta menggerakkan kaki naik turun.
"Sudah diam, nanti Abang makan di kamar mandi mau?" goda Jasson mencium bibirnya tetap sambil menggendongnya kearah kamar mandi.
"Tega banget sih, kepalaku masih pusing Bang" Fia mengerucutkan bibirnya sambil cemberut.
Jasson hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang menggemaskan, didudukkan diatas closed.
"Ini sayang sebelum mandi, gunakan tespack terlebih dahulu" Jasson mengeluarkan benda kecil itu dari kantong celananya.
"Kenapa ada lima Bang, seharusnya satu aja sudah cukup, kapan Abang belinya?".
"Tadi malam saat kita perjalanan pulang dari kampung, kata penjaga apotek ini kualitasnya berbeda-beda, tidak apa-apa kita pakai semua".
Ditampungnya urine botol kecil yang sudah dipersiapkan oleh Jasson sebelum Fia terbangun tadi, setelah kelima tespack sudah terkena urine dan ditunggu beberapa saat, hati yang berdegup kencang keduanya melihat tespack itu tanpa berkedip.
Dari lima tespack ada tiga yang bergaris dua, satu bergaris dua tetapi samar samar dan satu lagi hanya bergaris satu.
"Bang, kok beda beda, aku jadi bingung bagaimana ini?".
"Iya sayang, Abang juga bingung tetapi ini sepertinya positif deh lebih banyak yang bergaris dua, tapi kita tanya umi aja nanti, sekarang sayang mandi dulu ya" Fia mengangguk setuju.
Di buka baju dan rok panjang Fia disiram badannya menggunakan shower di gosok menggunakan sabun setelah itu dibilas, dililitkan handuk pada badan Fia kembali digendong bridal dan di dudukkan dipinggir tempat tidur.
Membantu mengenakan pakaian rumah yang nyaman baru keluar kamar dengan membawa tespack yang tadi telah digunakan.
"Umi, ini tespack nya kita bingung mana yang betul beda beda soalnya hasilnya?" tanya Jasson duduk disamping Imma dan Ken yang sedang bercengkerama menunjukkan kelima tespack itu.
_____________________
Jangan lupa like vote dan komentar
serta hadiahnya untuk semangat
dan selalu juga kesehatan shobat.
terima kasih.
__ADS_1