Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
41. Mendadak Lamaran Jasson


__ADS_3

Bolehkah Abang tahu alasannya mengapa Fia tidak ingin pacaran Sebelum menikah?" tanya Jasson mengawali pembicaraan serius dengan gadis yang di sukai nya walau baru beberapa kali di jumpai setelah sekian lama tidak bertemu.


"Karena pacaran menurut aku, lebih banyak ruginya daripada untungnya apalagi bagi pihak wanita, aku hanya ingin menjaga agar semua hanya khusus untuk suami aku kelak, tanpa ternoda oleh laki-laki yang pernah menjadi mantan pacarnya" jawab Fia mantap tanpa ada yang ditutup tutupi sedikitpun.


Jasson awalnya merasa aneh, masih ada wanita modern yang memiliki pikiran teguh seperti dia, tetapi dia malah semakin tertarik dan tidak ingin melepaskan gadis impiannya itu.


"Baiklah kalau begitu, di tempat ini dan saat ini juga Abang melamarmu, Will you marry me?" pinta Jasson dengan senyum mengembang di tatapnya wajah gadis itu lekat-lekat.


"A.....a..aku aku. !" Fia langsung gelagapan mendengar lamaran Jasson yang tiba-tiba di siang bolong yang sangat terik.


"Tidak usah di jawab sekarang, Abang tunggu sampai Fia bisa membuat keputusan, oya jangan lupa bilang sama kedua orang tuamu dan Bang Faro juga, dan satu lagi tanyakan kapan kami bisa datang ke rumahmu untuk melamar mu secara resmi" kata Jasson lagi dengan tegas dan terus terang.


Flashback off.


"Begitu umi, Abi, kakak jadi bingung harus bagaimana?" Setelah Fia bercerita memeluk Imma dengan erat.


"Waaah ternyata Putri Abi sudah dewasa ya, sudah ada seorang pemuda yang melamarnya.


"Sebaiknya Abang Faro dulu yang menikah ya kak, setelah itu baru kakak boleh menikah, paling tidak setelah satu tahun kakak kuliah ya" pendapat Ken dengan tegas.


"Iya Bi, nanti kakak bilang Bang Jasson keputusan Abi" Fia ikut keputusan kedua orang tuanya, karena merekalah yang akan membuat anak bahagia dengan restu orang tua akan membuatnya bahagia juga.


"Ya sudah kakak ke kamar ya Bi, terima kasih umi" Fia berlari naik tangga menuju lantai atas menuju kamarnya.


"Bagaimana kita mulai menanyakan kepada Abang kapan dia akan melamar calon makmumnya itu?" saran Ken kepada Imma setelah Fia sampai lantai atas.


"Atau kita lanjutkan aja rencana perjodohan itu saja sayang?" balas Imma berharap semua akan lancar dengan amanah dari Abi Dona Sanjaya dan Anton Sahroni.


Tanpa mereka sadari datang Faro, Ezo dan Opa Tomy masuk rumah dan mendengar ucapan Imma dengan jelas.


"Perjodohan siapa umi?" suara bas Faro yang mengagetkan umi dan abinya.


Belum sempat Imma menjawab Ezo berlari mengejar Fia yang terlihat sedang berlari menuju lantai atas.


"Kakak tunggu, adik mau ngomong" Ezo berlari tanpa memperdulikan Abi dan yang lain menatapnya tajam.


Akhirnya di ruang keluarga itu duduk berempat saling berhadapan.


"Tentang perjodohan itu, bagaimana menurut Abang?" tanya Imma kemudian menggenggam tangan Faro dengan erat.


"Oooo itu, atur aja mi, Abang ikut aja, kapanpun pernikahan itu di laksanakan, Abang akan setuju" jawab Faro mantap tanpa ada keraguan sedikitpun.


"Tapi bagaimana dengan si calon makmum itu Bang?" bisik Ken ke telinga Faro.

__ADS_1


"Abang sudah hampir satu tahun yang lalu putus ama dia Bi, dia kembali ke Malaysia dan katanya dia memilih untuk di jodohkan oleh kakeknya yang diamanahkan satu Minggu sebelum meninggal dunia" cerita Faro berterus-terang tanpa ditutup tutupi.


Ken, Imma dan Opa Tomy saling pandang, selama ini karena tidak adanya komunikasi antara anak dan orang tentang masalah asmara, membuat mereka jadi terpisah.


"Kalau begitu hari Minggu ini kita pulang bareng, umi akan atur semuanya untuk Abang, tetapi Bang jodoh itu---!" kata Imma tidak di lanjutkan karena di senggol oleh Ken lengan Imma dengan menggelengkan kepalanya.


"Iya umi atur aja, Abang percaya pasti umi dan Abi akan melakukan yang terbaik buat Abang, kalau begitu Abang pesan tiket pesawat untuk hari Minggu besok di kamar aja karena baterai handphone Abang hampir habis" balas Faro berdiri dari sofa melangkah menuju ke lantai atas.


"Aku juga ikut Bang, sekalian belikan tiket" perintah Opa Tomy tanpa ragu.


"Opa yakin, nanti kalau kecapean bagaimana?" tanya Faro khawatir menghentikan langkahnya sejenak.


"Yakin seyakin-yakinnya, mana bisa aku melewatkan kesempatan melihat cucu tersayang akan menikah, kalau perlu sampai hari H Opa tidak akan meninggalkan Abang" janji Opa Tomy dengan penuh keyakinan.


"Baiklah Abang pegang janji Opa ya awas kalau ingkar" ancam Faro kembali melangkah ke tangga menuju lantai atas ke kamarnya.


Setelah Faro sampai lantai atas dan mendengar pintu kamar Faro tertutup baru Imma bertanya kepada Ken.


"Kenapa tidak boleh cerita kalau calon makmum dan gadis yang di jodohkan itu orang yang sama sih Bi?" protes Imma kesal.


"Nanti aja honey, kalau sudah mendekati hari H, biar surprise" jawab Ken jahil berniat mengerjai putranya yang patah hati.


"Aku juga setuju, nanti saja kalau undangan sudah di cetak, baru di ceritakan pada Abang" timpal Opa Tomy dengan yakin.


"Bang, maaf saat ini aku ada di kampung, sudah cerita ke nyokap dan bokap, kata beliau Abang harus menunggu satu tahun lagi, karena tahun ini Bang Faro yang akan lebih dahulu menikah" tulis Fia dalam pesannya.


Tidak sampai satu detik pesan itu di baca dan di balas oleh sang Arjuna yang menunggu jawaban pujaan hati.


"Kenapa lama sekali, apakah tidak bisa di kurangi sedikit" balas Jasson dengan cepat.


"Maaf Bang, keputusan orang tua adalah mutlak adanya, karena itu yang terbaik menurut aku" jawab Fia lagi dalam tulisan pesan itu dengan tersenyum manis.


"Kalau begitu kapan Fia pulang, berarti Abang menyimpulkan Fia sudah menerima lamaran Abang, kami akan segera datang melamar mu, kita bertunangan aja dulu, Abang tidak akan memberi kesempatan kepada siapapun mendekati Fia" tulisan tegas Jasson membuat hatinya berdebar tidak menentu.


"Jangan Bang, kalau mau ke rumah bersama keluarga nanti setelah Bang Faro menikah, itu keputusan aku, sebaiknya kita rahasiakan terlebih dahulu, kalau memang Abang percaya ikuti ini, tetapi kalau Abang ragu lebih baik mundur dari sekarang" ancam Fia tegas tanpa memperdulikan bagaimana perasaan orang yang ada di jauh sana.


"Abang percaya Fia, tetapi mengapa begitu lama, yaaah baiklah sesuai titah sang ratu, Abang bersedia menunggu sampai Abang Faro menikah? " balas Jasson dalam pesannya.


Fia tersenyum membaca pesan dari Jasson, rupanya dia tidak main-main dengan niatannya ingin segera menikahinya tanpa menjawab pesan dari Jasson lagi.


"Kapan sampai Jakarta lagi?" ada lagi pesan masuk dari Jasson karena Fia tidak membalas pesan yang terakhir tadi.


"Belum tahu Bang, maaf jangan sering menemuiku ya nanti sampai ada ikatan apapun diantara kita!" tulis Fia lagi dengan tegas.

__ADS_1


"Kenapa begitu, kalau Abang kangen bagaimana?" protes Jasson dalam tulisan itu.


"Apa Abang sudah lupa kalau aku tidak ingin pacaran Sebelum menikah, sudah ya Bang, aku di panggil nyokap, daaaa" Fia mengakhiri tulisan pesan dengan sedikit berbohong, walaupun sebenarnya hatinya sedang berbunga-bunga.


"Baiklah daaaa, sampai nanti calon istri yang Sholehah" Jasson mengirim pesan dengan sedikit merayu.


Fia semakin senyum mengembang karena rayuan Jasson yang receh tetapi membuat hatinya menghangat dan bahagia.


Lain lagi di kamar sebelah, Faro selesai memesan tiket pesawat untuk hari Minggu untuk semua keluarga di tambah Opa Tomy dan Mama Meera yang akan ikut juga karena barusan mengirim pesan jika minta di belikan tiket sekalian.


Faro hanya terlentang di atas tempat tidur menatap kearah langit-langit kamar dengan pandangan yang kosong, inilah akhir dari penantian dan harapan jika Inneke tidak akan kembali padanya, merajut cinta kasih bersama tetapi nyatanya harus terhalang oleh perjodohan pada keduanya yang sebenarnya siapa jodohnya itu.


Akhirnya Faro hanya ingin membahagiakan uminya yang begitu antusias ingin melaksanakan amanah dari Abi Dona Sanjaya, tanpa perduli dengan perasaan sendiri, tanpa perduli siapa yang akan di jodohkan olehnya kelak.


Niat Faro hanya satu yaitu membuat uminya tersenyum bahagia karena selama hidupnya umi selalu mengorbankan jiwa dan raganya untuk kebahagiaan dirinya.


Faro tidak akan tega menolak perjodohan itu, karena tadi saat uminya mengatakan itu, wajah umi begitu berseri-seri, begitu bahagia senyum selalu mengembang di bibirnya, Faro juga akan berkorban apapun demi uminya bahagia walaupun harus mengorbankan perasaan dan cintanya yang sudah tidak terbalas.


Lamunan Faro berhenti setelah Ezo masuk tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu, membuat Faro kaget.


"Adik, bikin gue kaget, coba ketuk pintu dulu!" cabik Faro kesal karena ulah Ezo yang ceroboh.


"Abang melamun, gara-gara yang umi katakan tadi ya?" goda Ezo mendekati Abangnya yang sedang rebahan di tempat tidur.


"Elo nguping tadi ya" jawab Faro sambil menjewer telinga Ezo dengan keras.


"Auw...auw... sakit Bang, adik cuma mau tanya kapan kita jalan-jalan, adik sudah tidak sabar" celoteh Ezo dengan mengusap telinga yang sakit.


Hari ini waktu dihabiskan hanya berkumpul dan bercengkerama bersama dua keluarga, termasuk Lia, suami dan putra kecilnya, Nia dengan perutnya yang sudah membuncit berserta suami tercinta tentunya, Mama Dini dan Papi Edi Darmawan juga ada disana sampai tengah malam tiba.


Keesokan harinya mereka menghabiskan waktu berwisata di daerah perkebunan yang dulu pernah di bangun oleh Ken dan Opa Tomy saat Faro masih kecil.


Baru kali ini Ken melihat secara langsung bagaimana pesatnya destinasi wisata alam itu hingga sekarang, pantas saja pundi-pundi rupiah yang masuk dalam rekening Ken dan Faro begitu besar karena memang pariwisata yang begitu pasat.


Selama ini Ken hanya mengecek rupiah itu masuk setiap tahunnya, tetapi jarang menanyakan tentang hal itu kepada Opa Tomy ataupun Papa Edi Darmawan karena rasa sungkan jika ingin menanyakan masalah itu, sekarang Ken bisa menyaksikan sendiri secara langsung betapa ramainya pengunjung apalagi hari ini adalah hari Sabtu, hari libur bagi sebagian orang.


_______________________


Masih semangat kan shobat


menunggu up-nya tiap hari


tetapi jangan lupa like vote dan komentar

__ADS_1


serta hadiahnya terima kasih


__ADS_2