
"Baby..ayo cepat tinggalkan tempat ini" Mario langsung menarik tangan Ara keluar dari gang berlari sambil bergandengan tangan menuju jalan raya, sampai di jalan raya ada taksi melintas di berhentikan oleh Ara, Mario dan Ara menaiki taksi tersebut menuju hotel.
Bibir Mario ada sedikit berdarah dan tangan kanan yang sedikit memar akibat perkelahian satu lawan empat tadi, tiba di hotel membayar taksi dengan uang pas Mario dan Ara berjalan beriringan menuju kamar mereka, sedangkan Faro dan Inneke juga baru datang membuka pintu kamar hotel setelah seharian berkunjung di rumah Oma Cecil.
Faro dan Inneke melihat Mario datang tergesa-gesa dan muka yang memar langsung memanggil mereka.
"Mario, Ara ada apa, kenapa mukamu seperti itu?" tanya Faro tidak jadi membuka pintu kamar mendekati Mario dan masuk ke kamar Mario berempat.
Ara menceritakan tentang kejadian yang baru saja di alaminya setelah mereka duduk di sofa kamar Mario dan mengambil kotak obat P3K yang ada di laci lemari hotel, mengobati Mario dengan hati-hati.
"Gue hubungi Bang Conan sebentar untuk kesini" kata Faro dengan ucapan yang serius.
Faro dengan cepat mengambil handphone yang ada di dalam kantong celananya, menghubungi Conan untuk bisa datang di kamar Mario, tidak sampai lima menit Conan sudah datang karena kebetulan Conan sedang berada di kamarnya yang ada di depan Mario.
Conan melihat wajah Mario yang memar jadi khawatir, karena ini ada di negara orang.
"Kemungkinan siapa yang mengejar kalian?" tanya Faro setelah Ara mengobati luka Mario.
"Sepertinya kakak angkat aku Decha Thanapon sudah mengetahui jika aku ada disini" jawab Ara merasa bersalah.
"Kok bisa kak Ara menyimpulkan seperti itu?" tanya Inneke penasaran yang duduk disamping Faro.
Ara menarik nafas dalam-dalam, mengerutkan keningnya berpikir sejenak hanya membayangkan saja sudah bisa menyimpulkan jika saudara angkatnya itu sangat menguasai dunia hitam yang ada di Singapura pasti mengawasi ibunya dengan siapa dia bertemu.
"Karena kami setelah dari kantor pemerintahan langsung bertemu dengan ibu di sebuah restauran seafood tadi, kemungkinan kakak angkat aku mengawasi gerak-gerik ibu selama di Singapura" keterangan Ara dengan jelas.
"Bang Conan bagaimana langkah selanjutnya, gerakan kita pasti tidak leluasa setelah Ara di awasi oleh kakaknya" Faro meminta pertimbangan.
Saat Conan ingin menjawab pertanyaan Faro ada suara ketukan pintu yang sangat keras dari samping kamar hotel Mario.
"Sepertinya ada yang mengetuk kamar aku, Bang Rio" Ara memandangi wajah Mario yang sangat khawatir.
"Sebentar gue aja yang melihatnya, kalian jangan keluar" kata Conan.
Conan keluar dari kamar Mario, membuka pintu perlahan, ada seorang laki-laki berwajah campuran mengetuk pintu kamar Ara dan Conan sangat mengenali sosok laki-laki itu karena hampir dua Minggu ini dia mengikutinya yaitu Andrew Hidayat.
'Tok...tok....tok .."
'tok...tok....tok...".
Tanpa henti laki-laki itu mengetuk pintu kamar hotel Ara dengan tergesa-gesa dan sedikit emosi.
"Permisi pak, sepertinya penghuni kamar ini tidak ada di dalam, tadi pagi saya melihat seorang wanita keluar dari kamar" ucap Conan dengan sopan.
__ADS_1
"Terima kasih..." jawab Andrewi lalu meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru.
Conan masuk kembali ke kamar menutup pintu dan mendekati Faro serta yang lainnya.
"Bos yang mengetuk pintu itu Andrew Hidayat, sepertinya Ara benar, kakaknya sudah mulai mencari keberadaan dirinya" cerita Conan setelah duduk kembali bersama mereka kembali.
"Bang Conan, sebaiknya tukaran kamar dengan Ara, untuk menghindari mereka sementara" perintah Faro memberikan inisiatif yang masuk akal.
"Baiklah, gue persiapkan terlebih dahulu" Conan keluar kamar menuju kamar yang ada di depan kamar Mario.
"Mario beristirahat aja dulu nanti malam kita berkumpul kembali di kamar gue aja" Faro juga berpamitan dan mengajak Inneke keluar kamar.
Akhirnya Ara dan Conan bertukar kamar dengan cepat, tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu ke pihak resepsionis.
Mario akhirnya terlelap setelah semua keluar dari kamarnya sampai senja dan matahari menghilang di balik mega.
Pukul tujuh malam datang lagi Andrew Hidayat mengetuk pintu kembali dengan tergesa-gesa.
"Tok...tok...tok..".
Conan adalah detektif yang sangat handal dia tahu harus berbuat apa, menggunakan wig dan kacamata tebal untuk menerima tamu yang baru saja mengetuk pintu.
"Selamat malam tuan ada yang saya bantu" tanya Conan dengan suara sedikit di perbesar.
"Maaf tuan saya tidak tahu, saya baru masuk kamar ini satu jam yang lalu, memangnya siapa gadis itu tuan?" tanya Conan lagi penasaran tetapi tidak begitu terlihat oleh Andrew Hidayat.
"Dia tunangan saya pak, maaf mengganggu terima kasih" balas Andrew Hidayat tersenyum dan meninggalkan kamar dengan sopan.
Setelah Andrew Hidayat pergi bergegas Conan mengetuk pintu kamar hotel Faro yang ada di sebelah kamar Mario.
"Bos, sebaiknya kita berkumpul lagi untuk membicarakan langkah selanjutnya karena baru saja Andrew Hidayat mengetuk kamar gue barusan" ucap Conan tergesa-gesa setelah duduk di sofa.
Faro memanggil Mario dan Ara untuk berkumpul di kamar hotelnya seperti yang telah di sepakati tadi sore, tetapi sayangnya Ara keluar dari supermarket dekat lobi hotel saat Andrew Hidayat ingin keluar dari hotel.
"Ara......kamu masih disini, ayo ikut aku sebentar?" Andrew menarik tangan Ara paksa keluar dari lobi hotel dan menariknya di parkiran dekat mobilnya.
"Apa mau kamu, jangan ganggu aku?" cabik Ara melepaskan tangannya dari genggaman Andrew.
"Kami mencari kamu kemana-mana, kamu ini tunangan aku, ayo kita ke rumah kak Decha?" Andrew tetap ingin menarik tangan Ara dan membuka pintu mobil.
"Tidak aku tidak mau, dari dulu aku tidak mau di jodohkan denganmu, aku juga tidak ingin bertemu dengan kakak, permisi" jawab Ara berlari meninggalkan parkiran keluar dari area hotel dengan cepat, bukan ke jalan raya tetapi masuk di daerah pertokoan yang ada di samping hotel.
Andrew menyusul Ara dengan membawa mobilnya dengan cepat berharap dia masih ada di depan hotel berdiri mencari taksi, tetapi sayangnya Andrew tidak melihatnya, memarkirkan mobilnya di pinggir jalan di depan hotel, mencari Ara dengan berjalan kaki ke sekitar hotel tetapi sepertinya dia kehilangan jejak, akhirnya Andrew meninggalkan lokasi hotel dengan melajukan mobilnya pulang.
__ADS_1
Sedangkan di kamar hotel, Mario yang lainnya kebingungan mencari Ara tidak ada di kamarnya, di hubungi menggunakan handphone juga tidak menjawab, membuat mereka sangat khawatir.
Setelah dirasa aman Ara bergegas menuju hotel, tetapi untungnya Ara membawa dompet sehingga bisa membeli jaket dan topi untuk di kenakan agar tidak di kenali oleh anak buah Decha Thanapon jika masih mengawasi area hotel.
Sampai di kamar hotel Ara mengetuk pintu kamar Faro dimana mereka menunggu Ara dengan sangat khawatir.
"Bos, Bang... tolong buka pintunya cepat tok...tok.." Ara mengetok pintu dengan tergesa-gesa sambil sesekali menengok kebelakang takut ada yang mengikutinya.
Saat pintu terbuka Ara langsung masuk kamar hotel Faro dan berlari memeluk Mario sambil menangis tersedu-sedu.
"Baby ada apa, kenapa menangis, dari tadi gue menghubungi elo kenapa tidak diangkat?" cecer Mario bertanya kepada Ara dengan sangat khawatir.
"Bang tadi aku ketemu Andrew Hidayat di depan lobi, dan ingin memaksaku untuk menemui Kakakku, tetapi aku melarikan diri" cerita Ara dengan masih menangis.
"Bos sebaiknya, Ara pindah dari hotel ini secepatnya, tidak aman baginya untuk tinggal disini" nasehat Conan bijak.
Faro berpikir sejenak dengan mengerutkan keningnya, apa sebaiknya yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini.
"Gue punya dua solusi untuk menghadapi ini, Ara dan Mario pulang ke Indonesia malam ini juga tetapi menunda untuk mengurus ijin pernikahan atau tetap tinggal disini dengan resiko di kejar oleh kakaknya tetapi tinggal sementara di rumah Oma Cecil yaitu Omanya Jasson.
Kedua pilihan itu sepertinya sangat sulit dan sama sama memiliki resiko yang sangat tinggi, tetapi jika mengingat keselamatan Ara dan tidak mementingkan ego lebih baik Ara dan Mario pulang ke Indonesia dan menunda ijin menikah untuk sementara waktu.
"Begini saja, sebaiknya gue dan Ara pulang saja dulu, lebih baik gue menikah setelah Fia dan Jasson, baby apakah elo setuju jika kita menunda pernikahan kita" Mario memberikan pendapat yang masuk akal.
"Ya Bang, aku setuju lebih baik kita pulang sekarang" Ara setuju dengan pendapat Mario.
"Betul juga, pakai saja identitas kak Ara yang baru, pasti kakaknya tidak bisa melacaknya nanti" gantian pendapat Inneke yang disetujui oleh semuanya.
Malam ini juga Mario memesan tiket pesawat dengan nama Amara Khotijah untuk Ara, waktunya tidak kurang dari satu jam lagi mereka harus berangkat sehingga Ara dan Mario masuk ke kamar masing-masing untuk packing.
Malam itu juga Ara dan Mario cek-out dari hotel, agar tidak di ada yang mengawasi dan di curigai Ara dan Mario keluar dari hotel sendiri-sendiri dan hampir seperempat jam bedanya antara Ara dan Mario.
Agar tidak ada yang mencurigai oleh kakak angkat Ara, Mario dan Ara menggunakan wig dan meminta Jasson untuk mengantar mereka berdua ke bandara Changi Singapura, dengan senang hati Jasson mengantarkan mereka.
Ara juga dengan terpaksa hanya menghungi ibunya melalui pesan singkat WA jika dia meninggalkan Singapura malam ini juga, Ara juga menceritakan jika setelah bertemu dengannya di restauran seafood kemarin langsung di kejar oleh anak buah Decha Thanapon, serta bercerita jika bertemu dengan Andrew Hidayat juga di hotel dimana Ara menginap.
"Bang, sekarang buka saja wignya sudah tidak ada yang mencurigai lagi" Jasson berkata itu sambil tetap menyetir mobil dengan konsentrasi.
"Oya terima kasih Jasson mau menolong kami" ucap Mario tulus.
"Kita ini keluarga Bang, tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku" celoteh Jasson dengan tersenyum.
Tiba di bandara Changi Singapura Ara dan Mario langsung cek-in dan menunggu di pintu keberangkatan menuju Indonesia masih menggunakan wig tanpa ada yang mencurigai, tetapi Ara dan Mario tetap waspada pada sekeliling dimana mereka duduk, dan aman sampai mereka terbang kembali ke Jakarta
__ADS_1