
Desahan demi desahan terus keluar dari mulut Imma membuat Ken semakin menggila, melakukan penyatuan keduanya, awalnya perlahan gerakan Ken, cepat terus di percepat sampai keduanya di puncak kenikmatan bersama "honey I love you" baru Ken tumbang di samping Imma dengan tersenyum simpul.
"Sudah hilang pusingnya?" tanya Imma mendongakkan kepalanya memandangi wajah suami mesumnya yang tersenyum manis.
"Terima kasih, sudah berkurang pusingnya" jawab Ken memperlihatkan gigi putihnya dengan senyuman yang mengembang.
Ken memiringkan badannya menghadap kearah Imma dengan tubuh tanpa sehelai benangpun.
"Mungkin kalau tambah satu ronde lagi akan hilang semua pusingnya.
"Mulai lagi modusnya, ayo... makan dulu dan minum obat" titah Imma mencoba berdiri dan memindahkan tangan Ken yang melingkar di pinggangnya.
"Honey....diamlah, barusan Abi sudah dapat obatnya, tetapi satu ronde lagi ya please, biar hilang pusingnya, Abi tidak mau makan nasi, Abi hanya mau makan umi aja".
Imma hanya tersenyum mendengar rengekan Ken yang manja, dan akhirnya Imma harus mengikuti permintaan suaminya mengulangi sekali lagi sampai keduanya di puncak nirwana dunia.
Mandi bersama dengan penuh mesra, berganti baju, kemudian Imma menyiapkan makan siang bersama di kamar itu juga.
Ken dan Imma keluar kamar dengan baju yang berbeda, Imma duduk di sofa sedang asyik dengan handphone nya, Ken mulai duduk di kursi kebesarannya, mengerjakan pekerjaan yang tadi tidak di kerjakan karena pusing, tetapi setelah bertemu dengan istri tercintanya Ken dengan cepat menyelesaikan pekerjaan tanpa mengalami kesusahan.
Sandi masuk ke ruangan Ken, memandangi keduanya dengan baju yang berbeda dari tadi pagi dan rambut yang basah, Sandi hanya menggelengkan kepalanya.
"Bos...bos... setelah mendapatkan obat sakit kepala, baru bisa mengerjakan pekerjaan yang dari tadi katanya susah, ini tinggal di tandatangani saja, sudah aku kerjakan" celoteh Sandi dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya serta mengulurkan tangannya memberikan map berwarna coklat.
"Diamlah, tidak usah syirik" jawab Ken sekenanya.
Setelah Sandi keluar ruangan Ken, Dia melanjutkan sedikit lagi pekerjaan yang harus di lakukan, sudah selesai berdiri mendekati Imma duduk di samping Imma dan memeluk dengan erat.
"Honey... bagaimana dengan tamu kita saat umi tinggal kesini?" tanya Ken.
"Mereka sedang jalan-jalan dari jam sepuluh pagi Abi, sepertinya sore baru pulang" jawab Imma tetap sambil bermain handphone.
"Ya sudah, kita pulang yok, pekerjaan Abi sudah tidak ada lagi, biar Sandi yang melanjutkan" ajak Ken berdiri menggandeng Imma keluar kantor untuk pulang ke rumah.
Sementara di kantor Faro, Tomy Sanjaya mendapatkan laporan perkembangan perusahaan yang di pimpin oleh Faro sangat memuaskan, dalam waktu setahun ini begitu pesat perkembangannya.
"Cucuku memang hebat seperti kedua abinya" puji Tomy Sanjaya.
"Abang masih harus banyak belajar Opa, agar seperti Abi" ucap Faro singkat.
"Ya belajarlah dengan abimu, ataupun dari orang yang lebih berpengalaman" pinta Tomy Sanjaya.
"Ayo Opa, kita makan siang dulu" ajak Faro sambil menutup leptopnya dan merapikan meja kerjanya.
"Tidak Bang, aku mau mengunjungi apartemen sebentar, bisa tolong pesankan mobil online!" titah Tomy Sanjaya.
"Pakai mobil Abang aja Opa, nanti sore Abang ada janji dengan Rendi di kafe, nanti Abang kesana dengan Mario aja".
"Baiklah, aku pulang dulu".
"Ya.. hati-hati Opa, tolong nanti sampaikan Abi, kalau Abang akan pulang sedikit terlambat" pesan Faro dengan mencium punggung tangan Opa Tomy Sanjaya.
Sore harinya setelah pulang dari kantor Faro dan Mario menuju ke kafe yang sudah ditentukan kemarin, sampai di kafe itu Rendi sudah duduk manis sendirian dengan memainkan game di handphonenya.
"Bro... sudah lama?" tanya Mario duduk di samping Rendi dengan mengangkat tangan kanannya untuk tos.
"Gue hampir karatan nunggu elo berdua" gerutu Rendi dengan muka masam.
"Sorry bro...elo kayak kagak tahu jalanan Jakarta aja, dan juga dia nich..bawa mobilnya kayak keong lagi beranak pinak" Faro sambil memukul lengan Mario pelan.
__ADS_1
"Memangnya ada keong beranak, bisa aja lo" jawab Rendi kesal.
Mereka bertiga jadi tertawa lepas, datang waiters untuk mencatat makanan atau minuman yang akan di pesan.
"Gue mau curhat nich" Rendi yang mengawali pembicaraan setelah waiters itu meninggalkan meja mereka.
"Gue juga mau curhat" Faro tidak mau kalah.
"Elu berdua emang ya..., palingan masalah cewek yang akan di bahas" proses Mario dengan santai.
"Emang ... tidak salah lagi" balas Rendi.
"Ok deh elo dulu" titah Faro pada Rendi.
Rendi membetulkan posisi duduknya, tangan di letakkan di atas meja, baru mau ingin membuka mulutnya datang dua waiters mengantar pesanan yang di pesan tadi.
"Selamat menikmati" kata salah satu waiters itu dengan sopan.
"Terima kasih..." jawab Mario mewakili mereka bertiga.
"Ngomong sudah lo, jangan loading" cabik Faro penasaran.
"Bantuin gue lagi dong, deketin si doi, gue kangen berat nich ama dia sudah setahun lebih tidak ketemu" cerita Rendi dengan penuh harap.
"Maksud elo si Erna?" tanya Mario sedangkan Rendi hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Emang elo tahu dimana dia sekarang?" tanya Faro kemudian, tetapi hanya gelengan kepala saja Rendi menjawabnya.
"Gimana sih lo, dasar playboy kampung nggak jelas, sudah tobat lo jadi playboy kampung?" Cabik Mario cengar-cengir.
Faro jadi mengingat Inneke setelah Rendi masih belum bisa move on dengan Erna, sehingga dia memutuskan untuk menghubungi calon makmumnya.
"Sebentar gue hubungi calon makmum, elo berdua diam aja dulu!" titah Faro.
Faro menggeser tombol hijau dengan tulisan calon makmum, menunggu sesaat kemudian mengawali pembicaraan.
"Halo beb, lagi ngapain?".
"Lagi santai Bang, ini ada di kamar baru selesai mandi, Abang lagi ada dimana?".
"Ini Abang lagi bersama Rendi dan Mario di kafe, setelah pulang kerja".
"Oooooo Abang lagi bersama yang ketiga".
"Waduh....Abang lagi bareng setan dong?".
Faro terkekeh diikuti oleh Inneke yang juga ikut tertawa riang, sedangkan Mario dan Rendi menatap horor kearah Faro dengan melempar tisu yang sudah di gulung.
"Abang mau tanya beb, sekarang dimana Erna, soalnya si Rendi tidak bisa move on dari mantan".
"Ya masih seperti dulu Bang, kita masih sering jalan bareng, ada yang bisa aku bantu?".
Faro memandangi Rendi dan Mario minta pendapat dengan goyangan kepada kedepan.
"Ketemuan hari Minggu aja" bisik Mario di telinga Faro.
"Halo...beb, hari Minggu aja ya...kita ketemuan, ajak si Erna biar Rendi CLBK sendiri" pinta Faro lagi kepada Inneke.
"Bisa sih Bang, tetapi bagaimana dengan teman Abang yang satu lagi, kasihan dong nanti tidak ada gebetannya?".
__ADS_1
"Mario, biar aja kalau dia memang jomblo abadi, tidak usah di pikirkan, sudah ya terima kasih, sampai ketemu Minggu besok".
"Ya Bang, nanti kalau Erna setuju aku kabari lagi".
Faro terkekeh melirik Mario, sedangkan Mario mengerucutkan bibirnya karena mendengar dia dijuluki jomblo abadi.
Senyum Rendi langsung mengembang, hatinya terasa hangat, sudah hampir satu tahun ini menahan rindu kepada pujaan hati yang susah di taklukkan.
Akhirnya mereka memutuskan hari Minggu besok janjian ketemuan di sebuah mall ternama yang biasa Faro dan Inneke datangi.
"Sekarang giliran elo bro, mau curhat apa?" Rendi memandang wajah Faro.
"Kalau gue lagi bingung, ternyata bokap kandung gue Sebelum meninggal meninggalkan amanah, katanya gue harus nikah dengan keturunan asisten Anton" Faro bercerita dengan wajah sendu.
"Bukannya mereka kemarin bilang tidak memaksakan tentang perjodohan itu bos?" tanya Mario dengan tegas.
"Itu dia yang membuat gue galau, walaupun mereka tidak memaksakan tetapi gue bingung harus bagaimana, ini amanah bro?" balas Faro dengan sedikit meninggi nada suaranya.
"Emang elo tahu, siapa saja keturunan asisten Anton?" tanya Rendi penasaran.
"Tidak sih, setau gue cuma om Rama yang menikah dengan adik kandung Abi, ya masak gue nikah ama si Ratih adik gue yang sekarang baru SMP, tetapi kalau tidak salah om Rama mempunyai saudara kandung sih katanya" cerita Faro lesu dan tidak bersemangat.
"Kalau elo nunggu Ratih keburu ubanan tuh burung, sebentar bro, namanya keturunan itu kan tidak harus anak atau cucu" protes Rendi cengar-cengir.
"Aaaah elo, ada-ada aja adakah burung beruban" cabik Mario kesal.
Mario mendengar protes dari Rendi, jadi memiliki ide untuk mencari informasi tentang keluarga asisten Anton.
"Begini saja bos, sebaiknya kita selidiki aja dulu, keluarga dari asisten Anton, toh masih ada satu tahun lagi, sambil menunggu calon makmum lulus" usul Mario bijak.
"Betul itu bro kata Mario, sebaiknya kita selidiki dulu aja keturunan asisten Anton" usul Rendi lagi.
"Baiklah...tugas elo aja deh ... Kan elo yang mengusulkan" perintah Faro pada Mario.
"Kok malah gue, gue yang usul gue juga yang mengerjakan, nasib...nasib" gerutu Mario sambil menepuk keningnya.
Ketiganya tertawa bersama-sama, ternyata lebih mudah menyelesaikan masalah jika di musyawarahkan apalagi dengan teman satu perjuangan dari kecil sampai dewasa.
***************
Sementara Ramos Sandara hari ini bertemu dengan tidak sengaja pengacara almarhum Baron Pranoto yang dulu pernah menangani kasus penembakan tiga sniper yang tertembak lebih dari sepuluh tahun lalu.
Pengacara itu memang pengacara yang rela berbuat apa saja demi kliennya memenangkan suatu kasus, sehingga Ramos berani mengeluarkan banyak biaya untuk bisa mengorek informasi tentang siapa penembak jitu saat itu.
Pengacara itu masih menyimpan dua buah lembar foto yang dia ambil dari CCTV dua meter dari TKP waktu itu, yaitu Foto mobil Ken yang Melawati jalan itu, dan foto Ken, Sandi dan Faro yang ada di mobil saat itu, tetapi dalam laporan dalam kejadian itu tidak menyebutkan nama Ken ataupun Faro.
Dengan temuan itu Ramos langsung menghubungi bosnya Theo Thanapon tentang foto yang yang di dapatkan dari mantan pengacara Baron Pranoto.
Ramos Sandara juga menyelidiki sekilas tentang keluarga Kenzie Wiguna beserta keluarganya, karena waktu sudah mepet, besok bosnya Theo Thanapon akan langsung berkunjung ke Indonesia bersama putra angkatnya Decha Thanapon.
_______________________
Ayo semangat say......
jangan lupa, like, vote terbanyak, komentar yang
menarik hadiah terbanyak untuk give away
nanti......
__ADS_1
terima kasih.....
I love you all