
"Ya Abi, ada apa dengan umi?" tanya Faro mendekati tempat tidur ukuran big size milik kedua orang tuanya.
Faro memandangi wajah Imma yang sedikit pucat bersandar di pinggir tempat tidur dengan meluruskan kakinya dan di peluk oleh Ken dengan mesra serta kaki Ken yang menindih kaki Imma.
"Apa Abang di suruh melihat Abi dan umi yang sedang bermesraan, tega banget sih, mata Abang jadi tidak suci lagi" cabik Faro pura-pura merajuk dan mengerucutkan bibirnya duduk di sofa panjang yang ada di pojok kamar itu.
Ken dan Imma terkekeh melihat Faro mengikuti kebiasaan uminya yang sering mengerucutkan bibirnya jika sedang kesal.
"Umi tidak bisa tidur, katanya ingin ngobrol sama Abang, bukan bermaksud pamer kemesraan" jawab Ken sambil tersenyum tetapi tidak melepaskan pelukannya.
Faro bangun dari sofa itu mendekati umi dan abinya naik tempat tidur dan duduk di samping Imma.
"Awas kalau gitu, Abang yang akan peluk umi, Abi tidak usah" cabik Faro dengan sedikit manja.
"Eee Abi peluk umi aja tidak apa-apa, Abang mau rebahan di pangkuan umi, umi mau ngobrol apa, Abang dengerin?" ucap Faro lagi merebahkan tubuhnya dengan kepala di pangkuannya dengan nyaman.
Sebetulnya niat Imma ingin bercengkerama tentang banyak karena sudah lama tidak cerita dari hati ke hati seperti dulu.
Sambil mengusap dan mengelus rambut Faro belum sempat terucap kata-kata yang keluar dari mulut Imma, bahkan belum sampai lima menit Faro sudah tertidur pulas dengan mengeluarkan dengkuran halus.
"Sayang... belum sempat cerita atau tanya dia sudah ngorok" kata Imma menyenggol lengan Ken.
Akhirnya Ken dan Imma tertawa lepas melihat Faro tertidur pulas di pangkuan Imma tanpa terganggu oleh tawa mereka berdua.
Hampir setengah jam Faro tertidur pulas, Ken dan Imma bercerita tetapi Faro tidak bangun juga, takut kesemutan kaki Imma Ken langsung mengambil bantal untuk menggantikan pangkuan Imma, dengan hati-hati Imma bergeser dan di ganti bantal untuk menyangga kepala Faro.
Imma dan Ken ikut merebahkan tubuhnya di samping Faro tertidur kembali sampai pagi menjelang dan di bangunkan oleh Ezo yang masuk ke kamar ke dua orang tuanya mengajak untuk sarapan.
"Abi, umi ayo sarapan---!" ajak Ezo tidak melanjutkan ucapannya karena melihat abangnya ikut tidur bertiga di tempat tidur.
"Abang... bangun kenapa tidur disini, apa Abang takut minta tidur ama Abi dan umi?" Ezo membangunkan Faro dengan menggoyangkan badannya.
Faro menggeliat, mengumpulkan nyawanya sejenak seakan lupa dia tidur dimana, memandangi umi dan abinya juga baru bangun dan menatap Ezo dengan sendu.
"Emang gue tidur dimana?" tanya Faro dengan suara yang serak khas orang yang baru bangun tidur.
"Abang lupa tadi malam tidur dalam pangkuan umi?" cabik Ken dengan memukul lengan Faro gemas dengan kelakuan putranya yang sudah besar tetapi tetap aja manja jika bersama uminya.
"He he iya, maaf umi, Abang ngantuk banget, habis enak banget di pangkuan umi, Abang mandi dulu deh" Faro keluar kamar menarik Ezo dan mengacak rambutnya yang sudah klimis dan rapi berbau pommed.
"Abang, gue udah sisiran rapi jangan di acak-acak nanti tidak ada cewek desa yang melirik" protes Ezo merapikan rambut kembali dengan tangan sampai rapi.
__ADS_1
"Elo tuuuh, cewek aja yang ada dalam otak, belajar dulu yang betul, dasar playboy cabe-cabean" kata Faro sekenanya masuk kamar untuk membersihkan badannya.
Jadwal hari ini Ken dan Imma akan pergi ke makam uthi Sumi kembali, di kawal oleh dua orang suruhan Opa Tomy, sedangkan Ezo dan Fia sudah janjian akan di jemput oleh Mama Meera untuk pergi ke mall dan ke butik milik Mama Meera.
Sedangkan Faro hanya di rumah mengerjakan pekerjaan kantor lewat online, meeting pun dilakukan melalui online, baik bersama Mario ataupun dengan klien.
Saat sore hari semua berkumpul di rumah termasuk keluarga Tomy Sanjaya, bercengkerama dengan riang, Opa Tomy dan Faro ijin keluar untuk bertemu tamu yang datang dari Surabaya yaitu detektif dan putranya di Conan.
Berjanji bertemu di kediaman Opa Tomy mereka bertemu di ruang kerja Opa yang lama tidak terpakai, walau begitu masih terlihat rapi dan bersih, dokumen dan buku tebal tertata rapi disana.
Ternyata yang di panggil di Conan Indonesia itu masih seumuran dengan Faro tepatnya hanya berbeda dua tahun lebih tua dari Faro.
"Sore bos, apa kabar, sudah lama kita tidak bertemu, ini putraku panggil saja dia Conan" kata detektif ayahnya Conan.
"Aku sehat, halo Conan apa kabarmu?" jawab Opa Tomy bersalaman bergantian antara mereka.
"Apakah dia anak yang selalu bos perjuangkan saat itu?" tanya ayah Conan sambil memeluk Faro dengan erat.
Tomy Sanjaya hanya mengangguk, mengajak ayahnya Conan untuk keluar dari ruang kerja, sengaja meninggalkan Faro dan Conan agar mereka lebih leluasa bernegosiasi tanpa ada rasa sungkan.
"Baiklah bos apa yang saya bisa bantu?" tanya Conan mengawali pembicaraan.
"Baiklah, ini tugas pertamamu" jawab Faro sambil memberikan data tentang Ramos Sandara.
Dan tidak lupa Faro menceritakan dari awal siapa sebenarnya Faro dari lahir sampai sekarang termasuk hobinya menembak, hanya satu yang Faro sembunyikan yaitu menjadi anggota intelejen.
"Saya juga sudah mendengar sebagian tentang anda bos, rahasia aman di tanganku, baik berikan aku waktu satu bulan untuk mencari informasi tentang target" tegas si Conan meminta waktu hanya satu bulan.
"Oya bos, bolehkah aku mengajak kerjasama dengan anda?" tanya si Conan dengan sedikit ragu.
"Tentang apa itu Bang?" tanya Faro penasaran, melihat wajah Conan yang sedikit misterius.
"Begini bos tetapi ini rahasia ya, bahkan ayahku sendiri tidak tahu, tetapi entahlah setelah bertemu dengan bos, aku sangat yakin bahwa bos bisa mendukung penelitian ku" Conan meyakinkan Faro dengan penuh keyakinan.
Conan menceritakan bahwa dia sedang mengembangkan penelitian yang awalnya menemukan sebuah kapsul yang akan di pakai seorang laki-laki yang pernah di tangkapnya untuk bunuh diri karena tertangkap oleh polisi.
Conan terkendala karena tidak adanya dana, dan tidak adanya patner yang bisa dia percaya walaupun dia banyak menemui orang dengan profesi yang sama yaitu detektif swasta yang berkembang pesat pada beberapa tahun terakhir ini.
"Dikembangkan seperti apa maksudnya?" tanya Faro begitu tertarik dengan tawaran si Conan.
Kemudian Conan menceritakan bahwa kapsul itu di teliti baik dari bahan, komposisi, efek samping dan manfaat dari kapsul itu, dan saat ini Conan sedang mengembangkan isi kapsul itu menjadi sebuah suntikan yang tidak akan menimbulkan efek samping seperti yang ada pada kapsul itu, hanya saja dana yang di perlukan tidak mencukupi.
__ADS_1
"Baiklah aku yang akan mendanai penelitian ini, tetapi aku bisa menggunakan jika suatu saat nanti memerlukannya, dan harus di catat benar-benar aman tanpa ada yang menuntut ataupun yang balas dendam" balas Faro dengan tegas dan mantap.
"Aku jamin dengan nyawaku bos, tenang aja" Conan menjawab dengan menggerakkan tangannya di leher seolah akan memotong lehernya sendiri.
"Dimana penelitian itu Abang lakukan?" tanya Faro lagi, karena begitu tertarik dengan penelitian itu.
"Di Jakarta bos, setelah dari sini, kami langsung kesana" jawab Conan begitu bahagia karena mendapatkan patner yang tepat untuk penelitian gila menurut Conan sendiri.
Sepulangnya Conan dan ayahnya, Faro pulang ke rumah sudah hampir pukul delapan malam bersamaan dengan keluarga itu makan malam, Faro dan Opa Tomy jadi ikut bergabung makan malam bersama.
Ternyata Mama Meera membawa banyak barang untuk semua keluarga, banyak kemeja beragam warna untuk Faro, gaun cantik untuk Fia, kaos dan celana jeans untuk Ezo, serta baju coople untuk Ken dan Imma.
"Mama Meera, kenapa banyak sekali baju yang di ambil dari butik, nanti kalau tidak ada untungnya gimana butik Mama?" tanya Faro memeluk Mama Meera dari belakang.
"Abang, memang Mama kerja untuk siapa, untuk anak-anak mama kan?, Abang, kakak, adik itu anak mama Meera tau?" Celoteh Mama Meera mengusap lembut rambut Faro dengan penuh kasih sayang.
"Ada mbak Lia dan mbak Nia juga Ma?" Protes Fia dengan melirik mana Dini yang duduk di samping Imma menikmati hidangan dengan nikmat.
"Kalau untuk mereka, nanti aja kalau anaknya sudah lahir" jawab Mama Meera dengan penuh antusias.
Sudah sekitar lima dan tiga tahun lalu Putri dari Mama Dini menikah tetapi baru tahun ini mereka di karuniai keturunan itupun di tahun yang sama hanya bedanya mbak Lia yang anak pertama dari Mama Dini tinggal menunggu hari kelahiran atau lebih tepatnya satu atau dua Minggu lagi, sedangkan mbak Nia umur kandungannya baru menginjak lima bulan kehamilan.
"Mama Dini baby mbak Lia nanti cowok atau cewek?" tanya Fia berdiri memeluk Mama Dini.
"Katanya sih di USG kemarin cowok, memangnya kenapa to kak?" tanya Mama Dini membalas pelukan Fia.
Fia melepaskan pelukan Mama Dini berpindah memeluk Imma dengan cengar-cengir "Takut aja kayak anak umi yang bungsu itu ya mi, kecil-kecil hobinya gandeng cewek cabe-cabean, mana pingin nyosor lagi sama cabe-cabean itu".
Imma hanya mengelus pipi Fia yang halus, tersenyum manis, hatinya begitu hangat berkumpul dengan keluarga yang saling mendukung dan saling menyayangi.
"Yeee kebiasaan, anak Sultan maah bebas, kakak jangan syirik" cabik Ezo melempar kaos miliknya sampai menutupi wajah Fia.
"Abi bukan Sultan adik, tetapi---" canda Ken melirik Imma tidak melanjutkan ucapannya.
"Tetapi anak apa Bi?" tanya Ezo dan diikuti oleh semua penasaran dengan jawaban Ken menengok kearah Ken semua.
"Raja saham Wiguna yang tampan" jawab Ken sekenanya, dan Imma hanya terkekeh mendengar celotehan Ken yang asal.
"Abi dan Ezo sama aja terlalu pede, tampan dari puncak gunung lihatnya" jawab Fia tersenyum memandangi wajah Ken Ezo bergantian.
"Eee betul kak, kalau Abi tidak tampan mana bisa umi jadi klepek-klepek jatuh cinta sama Abi, iya kan mi?" tanya Ken mengedipkan matanya kearah Imma dengan mesra.
__ADS_1
"Iihh, Abi sudah pindah ke Abang dan adik gantengnya, tidak usah GR" protes Imma tidak mau kalah.