
Berangkat kerja dari rumah sendiri ternyata lebih membanggakan, di antar istrinya sampai pintu mencium bibir Inneke Sebelum berangkat, menjadi hal yang menambah semangat untuk bekerja.
Tetapi baru sampai kantor Faro mendapatkan pesan dari si Conan jika ingin bertemu, sehingga Faro meminta Conan datang ke kantor, tidak sampai setengah jam Conan datang di kantor, Sebelum masuk kantor Faro, Conan menarik Mario untuk menemani bertemu bosnya.
"Pagi bos" kata Conan dan Mario bersamaan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Pagi, ada apa pagi-pagi sudah ingin bertemu?" tanya Faro penasaran.
Conan membetulkan duduknya, mengeluarkan map dan membuka handphone untuk mengirim pesan WA sebagai bukti tentang apa yang akan di laporkan.
"Ini bos silahkan di baca dulu laporan gue" Conan menyodorkan map coklat.
Faro mulai membuka map itu membaca dari lembaran pertama, seorang Andrew Hidayat adalah calon menantu Theo Thanapon, tetapi putrinya yang dulu kuliah di USA sudah selesai dan menolak di jodohkan karena Andrew Hidayat adalah seorang casanova di Malaysia.
Akhir akhir ini Andrew Hidayat berada di Singapura membantu Decha Thanapon mengelola bisnis ilegal yang sering bermasalah, apalagi di Thailand sering terjadi perebutan kekuasaan dengan orang-orang yang berasal dari Eropa dan Amerika.
"Apakah paket honeymoon ke Singapura sudah di pakai bos?" tanya Conan saat Faro sudah selesai membaca laporan dari Conan.
"Gue masih belum minat, elo awasi saja sampai akhir bulan ini, nanti akan gue pertimbangkan lagi" cabik Faro dengan penuh kesal jika mengingat sosok laki-laki yang baru di ketahui identitasnya itu.
Pada siang harinya Faro berniat pulang untuk makan siang beserta istri tercintanya, pulang dengan dengan hati yang riang, mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah dimana istri tercinta sudah menunggu untuk makan siang.
Faro mengemudikan mobil melewati jalan pintas agar cepat sampai rumah, melewati jalan setapak samping pasar yang agak terlihat sepi, dan tidak banyak yang berlalu lalang melewati jalan itu karena memang jalan sedikit becek jika ada hujan.
Ada seorang gadis yang menggunakan pakaian hitam-hitam, menggunakan masker dan topi berlari mendekati mobil yang sedang Faro kendarai, tetapi sayangnya gadis itu memegang pistol senjata otomatis ada di tangan kanannya.
Faro meraih pistol yang ada di bawah jok yamg dia duduki dengan segera setelah mengerem mobilnya agar tidak menabrak gadis itu karena dia datang dari arah depan, ternyata ada sekitar sepuluh laki-laki yang mengejarnya dari tiga arah yang berbeda.
"Bang Faro, anda kah itu, bisa tolong aku Bang" kata gadis itu membuka sedikit maskernya agar Faro mengenalinya.
"Elo Ara bukan?" tanya Faro kaget melihat sosok gadis itu ternyata pacar dari asistennya sendiri, bersamaan dengan suara dua senjata berbunyi "dor.....dor".
Dua ban mobil Faro tertembak peluru dari arah orang yang mengejar Ara, dengan spontan Faro turun dari mobil memegang senjata otomatis juga dan menarik tangan Ara ke belakang mobil Faro untuk berlindung.
"Maaf Bang, aku jadi melibatkan anda dalam masalah pribadiku" ucap Ara sambil mengintip lawan yang sedang mengendap-endap mencari posisi dimana mereka berada.
Faro yang ada di samping Ara juga mengawasi lawan yang bergerak maju, tetapi naas bagi orang yang berhadapan langsung dengan Faro karena mereka tidak siapa sebenarnya yang mereka lawan.
"Dor.....dor.....dor....dor....dor".
Dalam sekali bidik Faro sudah menumbangkan separuh dari lawannya, mereka sengaja di tembak oleh Faro hanya mengenai kakinya saja,
"Aaaaah, ..aduh...aaaach"
__ADS_1
Teriakan mereka menggema di gang, sebagian yang belum tumbang langsung menarik temannya berlindung di balik mobil yang terparkir tidak jauh dari mobil Faro.
"Dor...dor...dor"
Ada suara tembakan lagi kearah kaca depan mobil Faro sehingga menjadi pecah berantakan bertebaran dimana-mana bahkan sampai mengenai lengan Ara dan kaki Faro.
"Dor....dor.."
Kembali Faro menumbangkan dua lawan dengan dua kali tembak dan tepat sasaran, sama persis seperti kelima lawan yang baru saja tumbang tadi.
"Siapa sebenarnya anda Bang, anda melebihi spinner yang pernah aku lihat?" kata Ara dengan tidak percaya apa yang baru saja dia lihat barusan.
Faro tidak menjawab pertanyaan Ara, hanya menatapnya dengan tatapan mata yang tajam, sepertinya memang ada yang di sembunyikan Ara tentang identitas aslinya.
Ara dari awal sudah heran mengapa bos dari pacarnya itu bisa memiliki senjata otomatis, apalagi sekarang dengan mata kepalanya sendiri melihat Faro membidik sasaran lawan semua persis tepat di kaki mereka tanpa ada yang melesat sedikitpun.
Sudah hampir sepuluh menit Faro dan Ara menunggu dari gerakan lawan, sepertinya mereka sudah mundur.
"Bang, sepertinya mereka sudah mundur" kata Ara sambil masih mengawasi mereka orang yang mengejarnya.
Setelah dirasa aman dan mereka tidak berada di balik mobil untuk berlindung Faro keluar dari balik mobilnya sendiri.
"Siapa mereka yang mengejarmu?" tanya Faro setelah mencabuti serpihan kaca yang ada di tangannya.
"Sebaiknya jujur pada kami tentang siapa sebenarnya keluarga kandung elo" Faro mengatakan itu dengan suara tegas sambil mengeluarkan handphone dari kantong jasnya mengubungi Mario.
Setelah menekan tombol hijau tertera nama Mario dan menempelkan handphone itu ditelinga.
"Jemput gue sekarang, gue share lokasi sekarang" perintah Faro tanpa menunggu jawaban dari Mario langsung mematikan handphone dan mengirim share lokasi sekarang juga.
Kemudian Faro kembali membuka kontak dan mencari nama istri tercinta dan menghubungi dengan menekan tombol hijau.
"Yang, tolong jemput Abang sekarang, Abang share lokasi ya, jangan bawa mobil sendiri, sopir aja yang mengantar kesini" perintah Faro dengan nada yang sedikit melunak.
Hanya dalam waktu seperempat jam Mario tiba di lokasi Faro yang dikirimnya tadi, dengan sangat kaget karena Faro berdua dengan Ara yang duduk di samping Faro dengan beberapa luka memar di dahi dan kakinya, sedangkan Faro tangannya juga berdarah.
"Apa yang terjadi bos, kenapa bisa kalian seperti ini?" tanya Mario setelah mendekati mereka berdua.
"Tanya sendiri pada pacar elo sendiri, kenapa bisa seperti ini?" cabik Faro kesal karena sepertinya Mario tidak tahu siapa sebenarnya Ara.
"Maaf Bang, semua ini karena salahku" jawab Ara mendekati Mario dan duduk disebelahnya.
Ara akhirnya bercerita jika kemungkinan besar ayah atau kakak angkatnya sudah menemukan persembunyian dirinya, bahwa Ara lari dari ayahnya yang akan menjodohkan dirinya dengan orang kepercayaannya, hampir tiga tahun ini dia bersembunyi dari mereka, disamping itu ayahnya tidak setuju jika Ara ingin memeluk agama Islam, hanya ibunya saja yang mendukung Ara saat ini.
__ADS_1
Ibunya Ara saja yang tahu dimana Ara bersembunyi, ibunya juga tahu jika Ara mempunyai pacar asli orang Indonesia, hanya ibunya saja yang merestui hubungan antara dirinya dan Mario.
Ara sudah menjalankan syariat Islam sebelum bertemu dan berpacaran dengan Mario, hanya KTP dan identitas belum sempat di ubahnya karena memang harus kembali ke Singapura untuk menggantinya.
Hampir dua tahun ini Ara belum pernah mengunjungi negaranya, hanya sekali bertemu ibunya satu tahun lalu itupun di Singapura saat ibunya itu mengunjungi kakak angkatnya yang tinggal disana.
Ara memang gadis yang sangat tertutup, bahkan pacarnya sendiri tidak tahu siapa nama lengkapnya, hanya teman sekaligus orang kepercayaannya Jelita yang mengelola bisnis restauran saja yang mengetahui siapa sebenarnya Ara.
Selesai panjang lebar bercerita kepada Mario dan Faro seperempat jam kemudian Inneke datang ditemani oleh seorang sopir dan dua pengawal yang menggunakan motor gede.
"Abang, ada apa ini, kenapa Abang dan kak Ara terluka, mobil Abang juga pecah kacanya?" tanya Inneke mendekati Faro dengan sedikit khawatir.
"Abang tidak apa-apa Yang, sini duduk samping Abang, tunggu ya Abang akan menghubungi jenderal Hendro terlebih dahulu agar bisa mengirimkan orangnya untuk datang" balas Faro dengan mengelus lembut pipi Inneke.
Faro menghubungi jenderal Hendro dengan menggunakan handphone nya, karena kantor polisi tidak jauh dari TKP hanya dalam lima menit datang tiga orang petugas yang mengurus semuanya termasuk membawa mobil Faro ke kantor polisi terdekat dan akan membawa mobil itu ke bengkel.
"Mario, antar Ara pulang, yang lain nanti gue yang membereskan, Yang ayo kita pulang" Faro mengulurkan tangannya untuk menggandeng Inneke masuk kedalam mobil dan pulang kerumahnya bersama sopir dan kedua bodyguard.
Sedangkan Mario mengantar Ara pulang ke apartemen tetapi Ara menolaknya untuk kesana.
"Bang, boleh aku tinggal di rumah Abang untuk sementara?" tanya Ara ragu-ragu.
"Apa elu sudah gila, memang tidak mempelajari ajaran agama Islam bagaimana hubungan antara dua orang yang bukan muhrim?" jawab Mario dengan tegas sambil tetap fokus menyetir mobil.
"Tau sih Bang, sekarang aku harus bagaimana aku tidak ingin ayah atau Kakakku mengetahui keberadaanku saat ini" jujur Ara sambil menundukkan kepalanya.
"Gue antar ke rumah Jelita saja ya, nanti setelah pulang kerja gue antar mencari apartemen di daerah pinggiran kota saja?" saran Mario dengan bijak disertai anggukan Ara pasrah dengan saran Mario.
Setelah sampai rumah Faro duduk di ruang keluarga dan Inneke berteriak memanggil bibi Jum.
"Bibi Jum tolong ambilkan kotak P3K" panggil Inneke dengan sedikit berteriak.
"Ya tunggu sebentar" jawab bibi Jum dan berlari mengambil kotak P3K mendekati mereka di ruang keluarga.
"Ini kotaknya neng, waduh kenapa sampai terluka begini Bang apa yang terjadi?" Khawatir bibi Jum yang sedari kecil merawat Faro seperti putranya sendiri.
"Ini hanya terkena pecahan kaca bibi, tidak usah khawatir" balas Faro sambil tersenyum.
Inneke membersihkan tangan Faro dengan sedikit alkohol dan memberikan obat agar tidak terjadi infeksi pada lukanya.
"Aduh perih Yang pelan-pelan" Faro meringis menahan pedih.
"Maaf Bang, ini sudah pelan-pelan kok, sudah selesai, Abang disini aja, aku ambilkan makan siang!" perintah Inneke meninggalkan Faro menuju meja makan.
__ADS_1
Walaupun makan siangnya agak terlambat akhirnya Faro kenyang habis satu piring disuapi oleh Inneke, dan beristirahat di kamar, tidak berniat untuk kembali ke kantor.