
Dengan suara sirine yang sangat kencang meninggalkan tempat itu, didalam ambulance itu Faro tetap memeluk Imma dengan erat, dan Jenderal Hendro ikut duduk di samping Faro dengan sangat khawatir.
Saat baru berjalan dua ratus meter dari arah berlawanan mata elang Faro melihat mobil yang pernah melintas di rel kereta api saat itu dan ada dua orang laki-laki duduk di depan, disamping sang sopir adalah sosok wajah yang tidak asing bagi Faro yaitu Ramos Sandara.
"Jenderal....itu....itu Ramos Sandara" tunjuk Faro dengan tangan kirinya.
Jenderal Hendro bergegas menghubungi pak kumis untuk berlari ke jalan raya karena ada Ramos Sandara melewati jalan raya di bawah kuburan yang tidak jauh dari TKP.
Pak Kumis menerima telepon dari Jenderal Hendro menarik Uda Padang mengajak berlari ke jalan raya dengan masih menempelkan handphone di telinga.
Saat Pak kumis dan Uda Padang hampir sampai jalan raya awalnya mobil Ramos hampir berhenti tetapi karena melihat ada kerumunan masyarakat di sekitar dekat kuburan karena waktu hampir subuh, mobil itu melesat pergi dengan kecepatan lumayan ngebut bersamaan dengan datangnya pak kumis dan Uda Padang.
"Sial.... sepertinya mereka menyadari keberadaan kita jenderal, dia langsung melesat pergi ke arah berlawanan dengan anda" cerita pak Kumis sambil terengah-engah berdiri di pinggir jalan.
"Siapa sebenarnya yang kita kejar pak?" tanya Uda Padang.
"Ramos Sandara dan satu anak buahnya" jawab pak kumis masih mengatur nafasnya.
Akhirnya mereka kembali bergabung dengan polisi yang masih menyelidiki TKP dimana Imma di sembunyikan, dan kepolisian membawa tersangka yang tertembak dan satu tersangka yang sudah tewas kerumah sakit.
Ambulance yang membawa Imma, Faro dan Jenderal Hendro tiba didepan pintu UGD rumah sakit, Faro langsung turun dari ambulance itu tetap menggendong Imma yang masih pingsan.
Sandi dan Ken yang mengikuti ambulance dari belakang seperti perintah Faro malam itu, setelah sampai parkiran langsung menyusul Faro yang menggendong Imma secara bridal.
"Bang, bagaimana dengan umimu?" tanya Ken khawatir.
Masuk dalam UGD dengan sedikit berlari ikuti oleh jenderal Hendro, Ken dan Sandi, di baringkan di brankar tempat tidur UGD.
"Kami periksa dulu ya pak,, silahkan di tunggu di luar, dan salah satu mendaftarkan di lobi depan UGD" kata dokter jaga.
Kaki dan tangan Imma terlihat ada luka memar, tengkuk juga ada memar dan bengkak akibat di pukul menggunakan gagang pestol milik tersangka penculikan itu.
Faro dan Ken menunggu di depan pintu UGD dengan gelisah, Faro memeluk Ken yang berlinang air mata tanpa henti, tubuh yang seperti letih tanpa bertenaga itu seakan rapuh kehilangan separuh dari nyawanya.
Menunggu hampir dua puluh menit, baru Imma sadar dari pingsannya, mata mengerjap, melihat sekeliling dengan tangan kiri di pasangi infus.
Ada sekuriti lewat di sebelah Imma yang menggunakan seragam hitam, membuat Imma menjadi kaget dan merasa takut.
"Aaa tolong.... Abang....bibi.... Ibu...Abi.!!!!" rancu Imma dengan keluar keringat dingin mulai bercucuran dalam tubuhnya, meringkuk di brankar tempat tidur itu mengakibatkan tangan tertarik dan infus terlepas dan darah keluar dengan deras dari tangannya.
"Mendengar suara jeritan Imma, Ken dan Faro berlari mendekati Imma tanpa memperdulikan keadaan sekitar, diikuti oleh dokter jaga dan beberapa suster.
"Honey.... honey...Abi disini, umi sudah aman sekarang" ucap Ken dengan naik brankar tempat tidur memeluk Imma dengan erat.
Suster langsung memasang lagi infus yang sempat terlepas, saat Imma tenang dalam pelukan Ken, dan suster juga membersihkan darah yang menetes di kulit tangan Imma
"Bi...ada bodyguard yang mau mengambil adikku yang masih dalam perut ibu Lestari" kata Imma menangis berderai air mata dengan memeluk erat tubuh Ken.
"Bibi Sumi dimana Bi, apakah di tertangkap?" Imma masih meran,cu tidak karuan.
Ken memandangi wajah Faro yang pucat pasi, Ken langsung mengingat peristiwa awal mereka bertemu, saat Imma mengalami depresi saat Faro baru berumur tiga tahun.
__ADS_1
"Bang... sepertinya depresi umi saat Abang masih kecil, mulai muncul lagi" kata Ken tetap memeluk istrinya dengan erat.
Dokter jaga yang ada di sebelah Faro mengamati keadaan pasien dan mendengarkan interaksi mereka.
"Honey... dengarkan Abi, mereka sudah di tangkap oleh polisi, para bodyguard itu, sudah tidak bisa mengejar umi lagi" kata Ken sambil mengusap pipi Imma yang basah karena air mata.
"Honey lihat Abi, semua sudah aman, lihatlah anak yang ada di perut ibu Lestari sudah ada di depan kita, dia sudah besar".
Imma melepaskan pelukannya menangani wajah Faro yang berada di depannya tersenyum walau air mata masih mengalir deras.
"Abang.... syukurlah kau selamat" Imma memeluk Faro dengan erat.
"Semua baik-baik saja umi" jawab Faro lembut.
Selesai memeriksa Imma yang masih dalam pelukan Ken, dokter meminta salah satu dari mereka menemui dokter di ruangannya, karena Faro masih memeluk Imma dengan erat, Ken turun dari brankar tempat tidur, mengikuti dokter juga ke ruangannya.
"Begini pak, istri anda sepertinya mengalami depresi yang menyangkut kehidupan pada masa lalunya, apa sebenarnya yang terjadi?" tanya dokter setelah duduk di ruangannya duduk berhadapan.
"Iya dok, dulu awal kami menikah, memang pernah mengalami depresi, mungkin masih ada dokumen di rumah sakit ini, karena waktu itu juga di rawat sini" jawab Ken dengan sendu.
"Baiklah pak, di pindahkan aja di ruang rawat inap, nanti baru dokter ahli yang menangani istri anda" titah dokter jaga itu.
"Terima kasih dok" Ken langsung keluar ruangan dokter jaga kembali ke UGD untuk menemui Imma dan Faro, diikuti Sandi yang baru selesai mengurus administrasi.
"Bagaimana keadaan umi, Bang?" tanya Ken.
"Ini habis di berikan obat suntik obat tidur Bi, biar pikiran rileks kata dokter".
Ada dua suster datang akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap, sedangkan Ken, Sandi dan Faro mengikuti suster itu dari belakang.
Di pindahkan ke brankar ruang rawat inap oleh Faro dan Ken, Imma masih tertidur lelap.
Datang dokter ahli masuk ke ruang rawat inap di ikuti oleh dua suster di belangnya.
"Pagi pak" kata dokter mendekati mereka bertiga.
"Pagi dok" jawab mereka kompak.
"Begini pak, untuk sementara jangan banyak menerima tamu terlebih dahulu ya, khusus keluarga inti saja yang boleh besuk pada pasien, karena akan mengganggu pasien nanti kedepannya.
"Baik dok, kami akan menjaganya" jawab Ken dengan tegas.
Dokter memeriksa dengan teliti keadaan Imma, dari detak jantung, suhu tubuh, nadi, dan tekanan darah, setelah selesai dokter berpamitan untuk pindah ke kamar rawat inap lainnya.
"Om bagaimana dengan yang di rumah?" tanya Faro kepada Sandi.
"Mario masih di rumah bersama bos besar, kita setiap saat saling mengirim kabar, tenang aja" balas Sandi.
"Kalian istirahatlah, aku yang pulang untuk mengambil ganti baju, sekalian mengabarkan jika kita sudah baik-baik saja" nasehat Sandi keluar ruangan rawat inap untuk pulang sejenak, dan mengistirahatkan tubuh karena semalaman belum sempat tidur.
Sepulangnya Sandi, di ruang rawat, Faro mulai menceritakan semua penemuan dan penyelidikan yang Faro dapatkan bersama jenderal Hendro, tetapi belum 100% penyelidikan itu.
__ADS_1
_______________________
Hari ini Kemmy berkunjung ke rumah ibu mertuanya ibu Intan Ariyani dengan muka yang di tekuk, sedih karena kakak iparnya mengalami musibah yang begitu mengenaskan, padahal sudah satu bulan yang lalu janjian akan mengantarkan ibu Intan ke rumah kakaknya Ken Minggu besok untuk membicarakan tentang perjodohan yang selama ini di amanah kan oleh Anton Sahroni dan Dona Sanjaya.
"Nak, apakah jadi Minggu besok kita ke rumah kakakmu untuk membicarakan tentang amanah almarhum ayahmu?" tanya ibu Intan saat mereka duduk di ruang tamu.
"Maaf Bu, sepertinya kita undur dulu deh ya, soalnya kakak Imma sedang mengalami musibah berat tadi malam" jawab Kemmy sedih.
Kemmy menceritakan peristiwa tadi malam yang menimpa kakak iparnya kepada ibu Intan dan kakaknya Tiara.
"Tidak apa-apa nak, kita tunda saja sampai kakakmu sehat seperti sedia kala terlebih dahulu" kata ibu Intan kepada Kemmy.
"Maaf ya Bu, sepertinya akan lama proses sembuhnya kakak ipar" kata Kemmy menunduk sedih.
"Tidak apa-apa dik, nanti biar aku yang bilang sama Keke jika perjodohan akan di undur" balas Tiara mengusap lembut punggung Kemmy untuk memberikan dukungan.
Datang Inneke dari salon dengan anggun masuk ke rumah, melihat mobil aunty Kemmy berlari mendekatinya di ruang tamu.
"Aunty disini, apa kabar?" tanya Kemmy dengan mencium punggung tangan nya dan cipika-cipiki.
"Baik sayang, Keke dari mana?" tanya Kemmy lagi.
"Dari salon aunty" jawab Inneke singkat.
"Sayang perjodohan kemungkinan diundur minimal enam bulan kedepan ya?" kata ibunya Inneke lembut.
Justru Inneke tersenyum manis, karena mendengar pengunduran waktu perjodohan itu, Inneke pun tidak menanyakan penyebab di mundurkan nya perjodohan itu.
"Terserah bunda aja, aku ngikut, oya Bun, tetapi boleh ya..aku sementara kembali ke Malaysia?" pinta Inneke hati-hati.
"Ada apa kembali ke Malaysia lagi?" tanya Ibu Intan kaget.
"Itu, kemarin aku mendapat panggilan kerja disana, kontraknya cuma enam bulan kok Bun" jawab Inneke dengan antusias.
"Bunda sih terserah kamu saja, tetapi kamu harus ijin dulu sama ayah ya" jawab ibunya Inneke sambil tersenyum.
"Terima kasih Bun, aku mau mandi dulu, aunty ke kamar dulu ya" Inneke mencium pipi bundanya berlari ke lantai atas dengan tersenyum bahagia.
Selesai membersihkan diri Inneke merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, antara bahagia dan rindu menjadi satu, bahagia karena di mundurkan nya perjodohan itu, rindu yang mendalam kepada pujaan hati yang hampir dua bulan ini tidak di temui nya, Inneke hanya ingin menghindar menyibukkan diri ke Malaysia untuk sekedar pencari pengalaman kerja tanpa di hantui rasa bersalah karena memutuskan sepihak hubungannya dengan Faro dan lebih memilih perjodohan yang di amanah kan oleh kakeknya sendiri yaitu Anton Sahroni.
_______________
Faro Sanjaya Wiguna saat ke kantor.
Faro saat bersama anggota intelejen.
__ADS_1
Faro saat berlatih karate.